
Minggu yang cerah, setelah melepas penat habis perjalanan jauh. Mesikpun hanya istirahat satu jam saja, karena terganggu dengan teriakan Anisa. Fatih sudah terlihat rapi dengan pakian santai, acara jalan-jalan bersama keluarga Anisa untuk pertama kali. Sesuai janjinya kemarin dia tidak tahu tujuannya kemana. Fatih masih terdiam sambil menunggu istrinya bersiap, pikirannya masih mengganjal tentang perasaan Anisa. Apakah istrinya merindukannya atau tidak, apa kata “tidak jadi” yang di maksud Anisa. Harusanya menangis sambil memeluk Fatih kan. Tapi mengapa tidak dilakukan.
Berkumpul di meja makan, seperti kebiasaan yang mereka lakukan di hari libur
“Bagaimana perjalanannya” Tanya Ibu pada Amir
“Sukses Bu, Alhamduillah. Semuanya lancar. Tinggal nunggu pelaksanaan proyeknya saja” Jelasnya pada ibu. Memasukkan potongan buah ke mulut. kebiasaan Amir sebelum makanan utama karena Asam lambung yang pernah membawanya harus terbaring lemah di ICU.
Ibu sibuk menghidangkan berbagai menu sarapan. Dibantu Syafira dan Mbak Mina.
“Syukurlah, Ibu ikut bahagia” Senyum tulus dengan tatapan teduh pada Amir.
“Sampai jam berapa tadi malam?” Tanya ibu lagi.
“Sekitar jam satu kalau tidak salah, sebenarnya masih lelah. Tapi sudah janji sama Rania kalau hari ini mau ngajak dia jalan-jalan” Tangannya mengambil piring yang berisi nasi dari tangan Syafira.
Semua mata tertuju pada pasangan yang baru keluar kamar, wajah Anisa tak lagi di tekuk seperti kemarin. Lebih berbinar. Mengambil duduk di apit oleh ibu dan Fatih. Sedangkan di depannya Amir bersama Syafira dan kedua anaknya.
“Masih capek Bang?” Tanya Ibu, membuat panggilan yang sama dengan Anisa, karena kedua orang tua dan adik Fatih juga memanggil dengan sebutan Itu. dia bertanya karena melihat wajah letih dengan mata yang masih merah.
“Sedikit Bu, tapi tidak apa-apa. Tadi sudah istirahat” Jawabnya dengan senyum tulus menatap ibu. senyuman itu berbalas. Tidak ada hal lain yang mereka bicarakan.
Sebagai seorang ibu dia hanya berharap anak dan menantunya mendapatkan kesuksesan. Itu lebih dari cukup untuk membuatnya bahagia. Bukan hanya perkara materi ukuran kesuksesan bagi keluarga mereka, tapi kehidupan rumah tangga yang hangat penuh cinta serta kedekatan satu sama lain tidak luput dari tolak ukur sebagai pencapaian yang sempurna.
“Nggak di pijit dik, kasihan dia nyetir lho kemarin” Nisa hampir saja mengeluarkan isi mulutnya mendengar kata yang meluncur dari mulut laki-laki yang sialnya adalah kakak kandungnya. Nisa terbatuk, wajahnya memerah. Dia tersedak, air yang seharusnya masuk kedalam saluran pencernaan harus nyasar masuk ke saluran pernafasan karena ketika menelan dan menarik nafas bersamaan. Yang disebabkan oleh gerakan refleks. Anisa terkejut, tidak siap dengan pertanyaan abangnya.
Fatih mengambil minuman di gelasnya, menyodorkan pada sang istri tangannya mengusap punggung Anisa lembut. Tatapan mereka beradu, Anisa menunduk. Dia malu, tidak mungkin mengakui didepan Abangnya kalau hubungan mereka belum sejauh pasangan lain.
“Amir, makan jangan banyak pertanyaan. Lagian yang ditanya aneh banget” Ibu kesal, Amir menahan senyum melihat wajah Anisa yang memerah.
__ADS_1
Semua diam, sampai makanan mereka tandas. Duduk di ruang keluarga, Fatih dan Amir masih sibuk membicarakan proyek besar yang mereka menangkan kemarin. Ada Rania sama Adam yang bermain di karpet bawah. Yang lain sibuk membereskan sisa makanan. Walaupn ada Mbak Mina tidak semua di bebankan pada wanita yang sudah puluhan tahun mengabdi di keluarga mereka.
“Aku kembalikan” menyerahkan kartu segi empat berwarna silver ke depan Amir.
“ATM Anisa kenapa di kembalikan?” Tanyanya heran, tangannya masih diam. Tatapan bingung dengan dahi berkerut.
“Anisa istriku, kewajibanku menafkahinya. Sejak aku menggenggam tanganmu waktu itu, tanggung jawab adikmu ada ditanganku. Ibarat kata, kita bertukar peran sekarang” Fatih menatap wajah Amir tak kalah serius.
“Tanpa dijelaskan pun semua orang tahu kalau kamu suami Anisa, apa memang niat mau pamer?” Sindirnya dengan tatapan mengejek.
“Ambillah, kau tidak perlu memberikan apapun pada istriku, aku yang menanggung semua kebutuhannya. Dan aku mampu kalau kamu lupa” Memaksa Amir, mengambil kartu itu.
“Cih, sombong sekali rupanya adik iparku ini. aku memberikan ini karena dia adikku satu-satunya. Sejak kepergian Ayah dia adalah tanggug jawabku. Kembalikan ketempatnya”
“Sekarang menjadi tanggung jawabku, ambillah” tangannya masih terulur.
“Kenapa wajahmu, atau jangan-jangan Anisa tidak tahu kamu melakukan ini” Amir menagkap wajah cemas Fatih walau hanya samar.
“Ada aku, suaminya yang akan memenuhi semua kebutuhnnya” ucapnya dengan menaikkan sedikit suara.
“Mencegah kemungkinan buruk terjadi, laki-laki punya kemungkinan besar untuk berpaling. Apalagi yang sudah mapan sepertimu”
“Cih, curhat. Jangan samakan level brengsekku dengan kau. kita tidak sama, Anisa adalah kebahagiaanku. Dia akan menjadi bagian dari hidupku satu-satunya sampai kapanpun. Aku akan melindunginya sekalipun nyawa dan harga diri adalah taruhannya”
“Bagus, aku pegang kata-katamu. Sekali kamu menyakiti Anisa, selamanya dia tidak akan aku ijinkan untuk kembali padamu. Bahagiakan dia” Menarik nafas sejenak “Satu kali kau membuat airmatanya menetes. Sepuluh kali lipat aku akan membalasnya. Ucapanku tidak main-main dan aku percaya kamu pasti mampu melakukan itu” Tatapan mereka beradu. Tatapan sebagai seorang laki-laki yang memberikan harapan besar bahwa dia mampu di limpahi tanggung jawab besar. Dan tatapan penuh keyakinan bahwa dia adalah orag yang tepat untuk mengemban tugas.
“Satu lagi, kamu belum mengenal Anisa dengan baik, dia hanya dewasa di usia, pemikiran dan tingkah lakunya masih jauh dari itu. Aku hanya mengingatkan bahwa, ketika wanita jatuh cinta sangat merepotkan” Fatih membalikkan badan menghadap sang kakak Ipar.
“Tapi aku yakin kamu bisa mengatasinya. Umur kalian terpaut terlalu jauh, atau lebih tepatnya kau terlalu tua saat menikah” Kurang ajar, gumam Fatih mana bisa dia mengeluarkan sumpah serapah dengan kata kotor begitu di hadapan Amir.
__ADS_1
Seberapapun dekatnya mereka tapi mengumpat di hadapan keluarga dan anak kecil bukan pilihan yang tepat.
“Aku membuang waktu mendengar wejangan sampahmu, kalau ahirnya kau menghinaku” menghadap ke arah TV meskipun acaranya tidak menarik, paling tidak lebih menarik dari wajah Amir yang menyebalkan.
“Bagaimana tadi malam?” Tanyanya dengan wajah serius. Pada ahirnya dia mengambil kartu ATM yang disodorkan dihadapan Amir dari tadi.
“Apanya?” Masih tatpan lurus pada layar di depannya.
“Jangan pura-pura bodoh, waktu kalian bertemu apa yang terjadi” Amir tersenyum dengan mengangkat kedua alisnya. Dia menggoda Fatih dengan pertanyaan itu.
“Adikmu sudah tidur, memang apa yang akan terjadi” Tatapan datar Fatih mengarah pada layar lebar yang menyala, menayangkan kartun anak-anak.
“Setidaknya kalau tahu kau datang dia akan bangun terus bilang “kok lama” sambil meluk kalau perlu nangis” Seharusnya itu yang terjadi, nyatanya jauh dari bayangannya.
“Iya, dia bilang begitu. Tapi tidur lagi. Tanganku di buat bantalan, terpaksa aku tidur di sebelahnya. Setelah sadar dia marah. Katanya aku melanggar janji?” Menarik nafas, bebannya terlalu berat. Memikirkan perasaan Anisa butuh tenaga lebih.
“Apa janji yang kau langgar, atau jangan-jangan...” Kalimat Amir menggantung. Dia mencoba menebak arah pikiran Fatih.
“Mengapa harus kamu yang jadi Iparku. Selain menyebalkan kau juga sok ikut campur urusan orang” Kesalnya, Fatih tidak ingin Amir tahu janjinya untuk tidak satu ranjang dengan sang istri. Belum saatnya semua orang mengetahui hubungan sebenarnya mereka ketika di dalam kamar. Bisa-bisa Anisa mendapatkan wejangan panjang lebar dari Ibu.
“Dari awal aku tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga adikku. Karena kamu yang jadi suaminya. Itu sah-sah saja” Tuhan, kendalikan emosi Fatih melihat wajah Amir dengan senyum yang sangat menjijikkan menurutnya.
“Tahu begini, aku biarkan kau berjuang sendiri mendapatan istrimu dulu, aku yakin kamu akan berahir seperti Andara. Di RSJ” dengan penekanan kata yang di buat se pelan mungkin.
“Ah iya, Idemu waktu di bandara boleh juga di pakai buat Anisa, aku mendukungmu jangan lama-lama membuat adiknya Adam takut keluar nanti dia memanggilmu Opa” Fatih menatap tajam Amir, dia menggeram menahan amarahnya. rahangnya mengetahui, giginya saling beradu. Ingatkan Fatih untuk tidak melayangkan tinju pada iparnya.
“Ngomongin apa sih, serius banget. Sudah siap. Kita berangkat sekarang?” suara Fira yang tiba-tiba muncul dari belakang menghentikan percakapan mereka.
Tatapan tajam masih Fatih hadiahkan untuk Amir. dia tidak habis pikir bagaimana iparnya bisa se usil itu.
__ADS_1
Amir berjalan santai di depan Fatih menggendong Adam keluar rumah.