MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
TERSIRAM AIR PANAS


__ADS_3

Nisa melihat wajah Mbok Sa yang ketakutan ketika tadi dia menjerit kesakitan. Semua orang di rumah utama panik. Bahkan Mbok Sa hampir memanggil dokter keluarga kalau saja Nisa tidak mencegahnya.


“Ini parah Nisa, tidak bisa dianggap sepele” Fatih meneliti dengan seksama. Punggung tangan yang hampir melepuh itu terlihat mengkilap karena olesan salep luka bakar yang diberikan Mbok Sa. “Dimana yang lain, kenapa membiarkan kamu sampai begini” Amarahnya membuncah. Fatih merasa sia-sia mempekerjakan orang bahkan menjaga istrinya satu saja mereka tidak bisa.


“Mbok Sa…!‼” Suaranya menggema mengisi sudut setiap rumah utama. Cukup satu panggilan lantang wanita tua itu datang tergopoh dengan wajah pucat.


“Nggak perlu panggil mereka Bang, Nisa nggak apa-apa. Sebentar lagi juga sembuh” Bujuknya, dia tidak tega melihat wanita tua itu dari tadi ketakutan. Itulah alasananya Anisa membuat puding mangga, agar Fatih tidak mempermasalahkan lukanya.


Sebenarnya dia tidak tahu seperti apa kemarahan suaminya, karena setelah menikah Nisa belum pernah melihat laki-laki itu marah di hadapannya. Tapi melihat wajah cemas para pekerja yang menolongnya tadi, Nisa sedikit mendapat gambaran.


“Luka sebesar ini kamu bilang tidak apa-apa.. !!!” Suaranya meninggi matanya menyala. Tangannya masih mencekal erat pergelangan tangan istrinya. “Saya mempekerjakan kalian disini untuk melayani istri saya. Mengapa sampai kalian lalai. Mbok Sa yang paling bertanggung jawab. Sekarang katakan. Bagaimana kalian bisa membiarkan istri saya tangannya melepuh. Katakan…‼!” Keluar sudah semua amarahnya. Matanya menggelap. Mambayangkan anisa kesakitan ketika air mendidih itu mendarat di punggung kecil tangan istrinya. Matanya terpejam erat, Fatih bisa merasakan rasa perih dalam bayangannya.


Tidak ada jawaban, bahkan empat pelayan wanita yang berdiri berjejer tidak mampu mengeluarkan suara. Wajah mereka tertunduk ketakutan. Jangan lupakan tangan yang terlihat gemetar. Nisa tidak tega melihatnya. Bukan kesalahan mereka, ketika kejadian tadi tidak ada seorangpun di dapur hanya ada dirinya dan Mbok Sa.


“Lepaskan tangan NIsa Bang, sakit” Menarik tangan yang dalam genggaman dengan paksa. Perihnya tidak seberapa karena salep yang menempel memberikan efek dingin menenangkan. Tapi ketakutan para pelayan menjadi tanggung jawab dirinya. “Seorang istri lelah masak sampai harus tersiram air panas bukannya di makan malah dapat kemarahan. Inikah penghargaan Abang terhadap jerih payah Nisa memasak berjam- jam di dapur. Kalau tahu begini buat apa Abang pulang. Balik lagi sana...!!” Wajahnya di buat sedemikian sedih.

__ADS_1


Empat orang yang sedang menunduk dalam, mengangkat wajahnya bersamaan. Mereka saling bertatapan bingung. Melihat Anisa seberani itu menentang Fatih ketika kemarahannya meledak.


Mbok Sa, yang paling tahu rencana nya. Dia pikir Anisa tidak akan seberani itu bahkan ketika melihat wajah Fatih memerah, dengan rahang yang mengeras.


“Abang bukan marah sama kamu, Abang marah sama mereka karena lalai” Berusaha memegang tangan istrinya kembali. Tapi Nisa menepis dengan kasar, untuk saat ini dia sedang memperjuangkan nasib Mbok Sa. Entah mengapa Fatih begitu banyak berubah ketika sampai di rumahnya. Berbeda dengan sosoknya ketika masih pulang kampung. Tidak ada seorang Fatih yang sok kuasa. Dia hanya laki-laki biasa dengan sikap rendah hati.


“Tapi di depan Nisa, kan. Bahkan Nisa mendengar teriakan Abang dengan jelas. Selama Nisa hidup belum pernah ada satu orangpun yang membentak NIsa. Lebih baik sekarang abang kembali kekantor. Tidak usah pulang sekalian” Mendorong dada suaminya yang mulai mendekat.


“Abang pulang karena pengen ketemu kamu, masa harus balik lagi. Bela-belain macet sampai dua jam demi ketemu istri” Tidak ada suara meninggi penuh amarah lagi.


“Siapa yang Abang panggil istri, wanita yang barusan Abang bentak?” Jawaban Nisa tak kalah tinggi. Walaupun nada suaminya merendah tapi NIsa tahu bahwa kemarahan Fatih belum reda.


“Dengerin Nisa” Berbicara tepat di hadapan Fatih tatapan mereka beradu “Luka ini tidak ada hubungannya dengan mereka. Nisa kesiram sendiri karena kelalaian NIsa. Apa susahnya menikmati hasil masakan Nisa. Duduk manis ambil sendok terus puji masakan istri. Se sulit itukah melawan ego laki-laki. Nisa tidak minta apapun dari Abang. Se sederhana itu Bang” Duduk menangkupkan tangannya ke wajah. Ini langkah terahirnya agar suaminya bisa meredakan amarahnya.


“Abang minta maaf, tapi a…”

__ADS_1


“Minta maaf harus pakai tapi. Itu namanya tidak tulus” Belum selesai kalimatnya, Nisa sudah memotong dengan cepat. Dia tahu kelanjutannya. Suaminya tetap akan menyalahkan pelayan.


“Okeh,,,Abang minta maaf. Abang menyesal sudah marah-marah” Manarik nafas panjang. Fatih menengadahkan kepalanya. Amarah itu masih menggumpal di kepalanya sambil menutup kelopaknya rapat, meredam segala amarah yang tak bisa terlampiaskan. Membayangkan istrinya kesakitan tanpa dia tahu itu adalah penyesalan terbesarnya. Berjongkok di bawah kursi yang di duduki sang istri.


“Nisa maafin. Jangan di ulang lagi” Ahirnya, semua pelayan tersenyum lega. Nisa berdiri memeluk suaminya. rentangan tangan itu di sambut senyum bahagia.


Fatih memeluk Anisa dengan erat. Posisinya yang membelakangi pelayan memudahkan Anisa memberi kode pelayan untuk meninggalkan mereka.


Mbok Sa, dan keempat temannya membungkuk sebelum berlalu. Ucapan terima kasih mereka di sampaikan hanya dengan gerak bibir tanpa suara. Nisa memberi kode dengan mengangkat jempol.


“Abang mau sholat dulu apa langsung makan” ucapnya setelah pelukan mereka lepas. Senyum bahagia itu bukan pura-pura. Melihat wajah bahagia pelayan setelah lepas dari kemarahan tuannya.


“Istriku hebat, bahkan mendapat dukungan pelayan untuk bersandiwara di depan suaminya” Fatih tersenyum melihat wajah pucat istrinya.


“Siapa yang bersandiwara, Abang terlalu buruk sangka” Walaupun rencananya sudah tertebak, tapi Nisa sudah lega paling tidak suasana rumahnya kembali tenang.

__ADS_1


“Hukumannya adalah, Abang tidur peluk Nisa sampai pagi, tidak boleh mengeluh. Tidak ada kata sesak nafas, tidak boleh bilang tangan Abang berat. Karena Abang sudah memaafkan mereka, harus ada imbalannya bukan?” walaupun hatinya masih marah, tapi Fatih berusaha lebih tenang setelah melihat istrinya tidak kesakitan lagi. Nisa hanya bisa pasrah. Dia mengiyakan hukuman suaminya.


Asalkan semua pelayan tidak mendapatkan hukuman Nisa rela mengabulkan permintaan suaminya.


__ADS_2