
Anisa lebih dulu meninggalkan acara, masuk kedalam kamar dan melepas semua atribut yang melekat. Air matanya tidak bisa dibendung lagi. Dia yang berpura-pura tersenyum, pura-pura santai sepanjang acara. Sekarang semua ke pura-pura an itu sudah selesai. Tidak peduli berapa kali keluarganya meminta untuk tinggal sebelum kerabat benar-benar pulang. Beralasan capek, Nisa tidak bohong. Dia memang benar-benar capek. Menyaksikan pemandangan di depannya.
Laki-laki yang beberapa menit yang lalu sah menjadi suaminya memeluk wanita lain di depan matanya, bukan hanya itu mereka berpelukan didepan keluarga besarnya.
Air matanya tumpah, harga dirinya tercoreng sebagai wanita. Walaupun dari awal dia tahu pernikahan itu hanya kedok. Tidak bisakah laki-laki itu menemui kekasihnya diluar. Tidak masuk kedalam rumah hadir di tengah-tengah mereka. Air mata kecewa merasa dipermalukan.
Beranjak ke kamar mandi, membersihkan wajah. Menatap dirinya di cermin. Mengenaskan. Bahkan dia menangis di hari pertamanya menjadi istri, dipermalukan dan di injak harga dirinya hingga tak bersisa .
Wisnu, orang yang sudah dianggapanya sahabat ternyata rela menikamnya dari belakang. Dia tahu hubungan Fatih dengan wanita itu, dan apa katanya tadi, menjemput dari bandara. Mengingat itu semua, kembali air matanya tumpah. Wisnu sengaja ingin mempertemukan mereka, sungguh sangat kejam.
“Bajingan, aku benci laki-laki itu, sampai kapanpun” umpatnya menatap bayangan dirinya yang berurai air mata di dalam cermin. Nisa bingung tidak tahu harus bagaimana. Menceritakan semuanya sama chika rasanya tidak mungkin, ini masih hitungan jam. Apa pendapat chika kalau tahu nasibnya begitu tragis, diselingkuhi laki-laki yang berstatus suami didepan mata.
“Dek, kakak boleh masuk?” Suara kakak iparnya mengetuk pintu, Nisa mengusap wajahnya. Duduk di tepi ranjang. Menormalkan dirinya. Nisa tidak menjawab, suaranya pasti terdengar parau tidak ingin kakak iparnya curiga. “Maaf kakak masuk, kamu nggak jawab” Syafira membuka pintu, kepalanya muncul lebih dulu sebelum badanny mengikuti.
“Nggak apa-apa” Mengusap wajah, mencoba menyembunyikan wajah sembabnya.
“Matamu kenapa, nangis?” Tatapan Syafira curiga, di tatapnya wajah adik iparnya intens, sesekali matanya memicing.
“capek banget kak, kaki Nisa pegel?” mengalihkan tema, dia tidak ingin kakaknya tahu bahwa keadaannya tidak baik-baik saja.
“Mau kakak pijat Nggak, Abangmu suka kalau kakak yang pijat” Tawarnya.
__ADS_1
“makasih tapi sudah mendingan” Mengulurkan tangan ke bawah, memijat kakinya agar wanita ibu dua orang anak ini tidak curiga.
“Kamu nggak kenalan sama cewek itu, anaknya humble. Sifatnya mirip sama kamu. kakak yakin kalian pasti cocok” Tema yang sama sekali tidak ingin Nisa dengar, setelah apa yang mereka lakukan padanya. Mencoreng mukanya di depan keluarga besar.
“Nggak penting juga kan Kak” Anisa kesal, bisa-bisanya kakak iparnya menyuruh berkenalan, dan apa katanya tadi, humble. Oh, tentu saja harus begitu bukankah mencari perhatian harus dengan sikap yang baik. Dan sampai kapanpun Dirinya tidak akan pernah cocok atau mencoba untuk melakukan pendekatan agar cocok. Tidak akan pernah.
“Nggak penting gimana, kalian nanti jadi keluarga lho. Anaknya cepet akrab, lucu juga. Ada beberapa sifatnya yang mirip sama kamu. satu lagi, Rania sama Adam langsung nempel, lucu kan” Dimana letak lucunya. Tidak akan pernah ada ikatan keluarga antara dirinya dengan wanita itu. Kalaupun terpaksa Nisa akan mengalah. Mundur teratur mencari bahagianya sendiri.
“Kalau kakak datang mau bilang gitu, mending kakak keluar Nisa capek banget mau istirahat” Karena hatinya sedang tidak enak, setelah Syafira datang menyanjung wanita muarahan itu, Anisa jadi tidak ada minat untuk melanjutkan pembicaraan apapun dengannya.
“Ah, iya, kakak sampek lupa. Kakak disuruh ibu manggil kamu untuk makan, dari tadi belum makan kan”
“Nanti saja Nisa turun, mau istirahat sebentar, bilang sama ibu Nisa masih capek” merebahkan badannya membelakangi Fira.
“Apa wanita itu sudah pulang” dengan ragu Nisa bertanya
“Sudah, malah titip salam sama kamu. kapan-kapan mau main katanya” apa-apaan. Sok akrab banget, gerutu Anisa.
Langkahnya pelan menuruni tangga, kepalanya menoleh kekanan kekiri seolah sedang mencari sesuatu. Nisa menarik nafas lega semua yang ada di meja makan menoleh kearahnya. Dan semua wajah dia kenali. Perempuan itu, tidak ada diantara mereka.
“Ibu besok pulang, kamu baik-baik sama Abang ya” Nisa masih bingung dengan keadaan ini, sekarang wanita paruh baya yang berbicara padanya ini sudah jadi mertua sekarang. Suaranya lembut mampu meredakan amarahnya. Tapi, apakah mertuanya tidak mempermasalahkan pernikahan ini, pernikahannya dengan Fatih. Bagaimana hubungan Fatih dengan wanita itu, siapa namana tadi, Irene. Ah iya, dia menyebut namanya sendiri ketika memeluk suaminya. Rasa benci kembali mendera kala mengingat dua mahluk tidak tahu diri.
__ADS_1
“Apa ibu menerima Nisa sebagai menantu” hanya ingin memastikan bahwa wanita yang memegang kedua bahunya ini tidak keberatan dengan pernikahannya dengan Fatih.
“Tentu saja sayang, ibu menerima dengan senang hati. Kenapa Nisa tanya begitu” wajah bingung semua orang yang ada didalam sana tidak mengerti arah pembicaraan Anisa. Hanya Fatih yang tersenyum, satu-satunya orang yang paham jalan pikiran istrinya.
“Tidak apa-apa, Nisa juga senang. Terima kasih” Berarti, tidak ada masalah, terus wanita itu. Apa statusnya, bagaimana semua keluarga bisa menerima perempuan lain dan dirinya dalam satu waktu.
“Duduk disini Bang” panggilnya untuk Fatih. Laki-laki itu mendekat. Duduk berdampingan dengan sang istri.
“Sekarang kan Anisa sudah jadi istri, nasehat Ibu, lakukan semua perintah suami yang tidak melanggar syariat agama kita. Suami itu ibarat pakaian, ibu penjualnya. Kalau ada yang tidak cocok, kalau tidak enak di pakai, kasih tahu ibu, biar ibu perbaiki. Tapi kalau merasa cocok enak di pakai Nisa kasih tahu keluarga Nisa. Karena aib suami kewajiban istri yang menutupinya” Matanya terasa basah, ini pertama kalinya dia sebagai Ibu memberikan nasehat pernikahan untuk anak sulungnya. “Begitu juga sebaliknya. Abang dengarkan ibu, sekarang Nisa sudah menjadi bagian dari hidup Abang, jadikan dia tulang rusuk, jangan jadikan tulang punggung, bahagiakan dia. Jaga dan lindungi istrimu dengan baik” kembali terjeda semua orang terdiam. Nasehat orang yang lebih dulu menjalani hidup rumah tangga itu, ibarat kata dia sedang membagi pengalamannya. “Rumah tangga itu tidak mudah, kadang hal sepele bisa jadi masalah besar, Abang banyak mengalah. Usia kalian terlalu jauh terpaut. Tapi ibu yakin kalian berdua orang yang baik. Pasti mampu menjalaninya. Jangan dengarkan apa kata orang yang belum tentu kebenarannya, kepercayaan dan keterbukaan adalah kunci”
“Ibu, jangan panjang nasehatnya, mereka sudah dewasa, pasti lebih tahu dari kita” suara bapak mengingatkan istrinya, mungkin dia pikir Fatih masih kecil yang perlu di beri tahu.
“Biarkan pak, kadang anak kita kalau sudah kumat usilnya kelakuanya bisa bikin orang salah paham” Ibu tiba-tiba jengkel. Mengingat Fatih yang selalu membuat ulah. Pada teman-teman dan adiknya sendiri.
Semua orang tertawa, tidak ada yang tahu. Dibalik wajah dingin, tatapan tajam, dan rahang tegasnya seorang Fatih bisa bertindak konyol.
Semua nasehat Ibu mertuanya, sama dengan yang diucapkan Ibunya tadi malam. Ketika mereka tidur berdua. Sekarang Anisa tahu mengapa ibunya memaksa Anisa untuk tidur dengannya malam itu. Ternyata nasehat panjang sampai tengah malam, menggambarkan kegundahan seorang Ibu melepas Anak gadisnya untuk orang lain.
Tunggu dulu, kenapa tidak ada yang membahas tentang wanita itu. Apakah mereka memang sengaja merahasiakan semuanya darinya. Misalkan memang begitu apakah Fatih akan menemuinya secara diam-diam, karena Fatih berbohong tentang hubungannya dengan gadis itu. Atau jangan-jangan mereka sudah punya anak dan dirinya adalah pelakor. Dia bergidik ngeri, tidak ada dalam kamus hidupnya untuk menjadi perusak rumah tangga orang.
****
__ADS_1
maaf baru sempat ul... happy reading kakak❤😍