
Rumah, memang tempat paling indah untuk pulang. Melepas segala penat setelah lelah menggerogoti . bertemu orang tercinta dan disambut senyuman. Terasa sempurna sebagai penutup hari, lebur segala lelah dan amarah.
“tumben pulangnya sore” suara lembut sang ibu menyapa indra Anisa
“Diajak teman makan, Bu Rosi ulang tahun bu” duduk di sofa masih dengan batik birunya. Nisa gerah, hatinya sedang tidak baik-baik saja ketika laki-laki itu membayar semua tagihannya. Nafasnya berat tertarik seolah beban hidupnya baru saja dimulai.
Kedatangan Fatih ke kota ini akan membuat kesengsaraan dalam dirinya. Itulah yang ada di pikiran Anisa. Setahun dia hidup dalam damai. Berharap laki-laki yang pernah ditolaknya itu pergi menjauh.
Ternyata dugaan itu salah besar, justru laki-laki itu datang dengan kepercayaan diri yang lebih besar dari sebelumnya. Mengikatnya dengan urusan utang piutang. Wanita itu ingin menghindar atau bahkan menjauh. Dia tidak ingin terikat apapun pada laki-laki sombong itu.
“bersihkan dirimu, ibu ingin bicara. Belum shalat kan?” Nisa beranjak dengan bibir terkunci. Masih jam empat sore. Acara makan itu menghabiskan waktu dua jam. Lengkap dengan kegaduhan serta canda tawa teman-teman Anisa. Sejenak dia menikmati itu sebelum ahirnya laki-laki itu membayar semuanya. Menghempaskan dirinya dalam kebencian yang semakin dalam, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Merebahkan diri di kasur empuknya, membuka tas dan memeriksa gawai dengan chasing warna ungu, tidak ada panggilan ataupun pesan dari Aldo. Kekasih hatinya. Sudah lebih dari satu tahun komunikasinya berkurang. .
Nisa maklum, mungkin kesibukannya sebagai manager baru di Hotel yang membuat mereka jarang berkomunikasi. Tapi Nisa yakin, bahwa laki-laki itu masih menjaga hatinya untuk dirinya. Sama seperti dirinya yang menjaga hatinya untuk sang pujaan.
Tidak ada pembicaraan tentang masa depan diantara mereka. Aldo tidak pernah berkomitmen tentang hubungan mereka. Tiba-tiba terlintas dalam benak Nisa perkataan Fatih waktu itu, bahwa hanya laki-laki pengecut yang tidak mau berkomitmen. Mungkinkah Fatih mengetahui sesuatu tentang sang kekasih.
Tapi rasanya tidak mungkin, mereka tidak saling mengenal, bagaimana mungkin Fatih mengetahui sesuatu tentang Aldo. Bagi Nisa ucapan Fatih ketika itu hanya karena Fatih ingin menjelekkan Aldo saja. Agar dia terlihat hebat didepan matanya. Bukankah laki-laki kalau ada maunya selalu begitu, agar dirinya terlihat sempurna.
Turun kebawah setelah selesai dengan urusan membersihkan diri. Terlihat sang ibu duduk di depan TV menikmati acara sore, hanya lawakan dan lelucon dari komedian yang ditampilkan. Sesekali sang ibu tertawa mendengar lawakan mereka. Nisa duduk disebelahnya memaksa ibunya menoleh. Puding cokelat vla susu sudah terhidang dimeja. Menemani sore mereka.
“sejak abangmu sembuh, Fatih tidak terlihat lagi, kamu pernah ketemu nggak Nis” Nisa menari nafas panjang menghempaskannya dengan kasar. Entah mengapa seolah hidupnya tidak bisa lepas dari laki-laki itu.
__ADS_1
Bahkan sekarang ibunya membicarakan tentang laki-laki arogan itu dihadapannya.
“nggak bu” rasanya malas membahas laki-laki tidak penting. Mengapa ibunya harus peduli. Dan memang seharusnya begitu bukan, laki-laki itu tidak ada kepentingan lagi . seharusnya dia menjauh karena bukan keluarga.
“ibu belum sempat bilang terima kasih. Dia laki-laki yang baik bahkan biaya rumah sakit abangmu yang jumlahnya tidak sedikit semuanya dia yang melunasi” Hampir saja puding yang baru masuk kemulutnya itu melompat keluar, Nisa dengan segera menutupnya dengan ke dua tangannya.
Tuhan, apalagi ini. Harus dengan cara apa dia membayar semuanya. Kalaupun mencicil bank untuk melunasi hutang rumah sakit abangnya Nisa yakin seumur hidup cicilan itu tidak akan selesai.
Buat apa repot memikirkan hutang. Toh, dia membayarnya tanpa diminta. Pura-pura tidak tahu adalah jalan terbaik baginya sekarang. Baiklah pura-pura bodoh saja. Senyum terbit di wajah Anisa.
“kamu kenapa, tadi hampir menyemburkan puding, sekarang tersenyum” Nisa salah tingkah, dia baru sadar ternyata tingkahnya dari tadi tidak luput dari pengamatan sang ibu.
“Nisa ingat candaan teman-teman tadi, ternyata kalau ngumpul gitu mereka lucu bu” senyum yang dibua-buat. Menyendok puding dan memasukkan lagi ke mulutnya. Lembut terasa sampai ke lambungnya. Entah mengapa semua masakan yang berasal dari tangan ibunya selalu terasa nikmat bagi Nisa. Dia sudah belajar, tapi selalu rasanya tidak pernah sama.
“ini apa?” sang ibu mengambil amplop itu dari tangan sang anak.
“itu surat sudah lama, tapi bukan itu, hari ini aku kalah beberapa tender bu, tidak mendapatkan kepercayaan lagi rasanya itu menyakitkan. Bagaimana aku menghidupi Rania nantinya. Usaha itu satu-satu nya penghasilanku sekarang”suara lirih putus asa.
“ini surat pemecatan, dari kantor BUMN tempat abang kerja” suara Nisa terkejut. Bagaimana bisa cobaan beruntun itu menghampiri sang abang.
Iba, hanya itu yang Nisa rasakan sekarang. Hidup kakak laki-laki satu-satunya itu seolah jungkir balik dalam waktu sekejap.
“bukan itu masalahnya, surat itu sudah abang terima enam bulan yang lalu. Tapi ini sudah dua bulan proyek abang sepi” laki-laki itu mengusap wajahnya kasar. Kemudian menutup wajahnya dengan tangan yang menopang pada kedua pahanya.
__ADS_1
“mandi dulu, jangan lupa berdoa. Waktu ashar sudah hampir habis” sang ibu mengusap bahu Amir yang duduk disebelah kirinya. Prihatin, tentu saja sebagai seorang ibu itu yang dia rasakan.
“sudah shalat tadi di kantor” ucap Amir lirih
“bagaimana aku membayar gaji karyawanku bulan depan bu, kasihan mereka” lanjutnya lagi.
“pasti ada jalannya nanti. Bersihkan diri dulu, ibu ambilkan puding di kulkas” mengusap bahu sang anak. Menenangkan, hanya itu. Berusaha menjaga pikiran sang anak agar tidak kembali terpuruk.
“surat pemberhentian ini sudah dari enam bulan yang lalu bu, abang baru ngasih tahu ke kita sekarang” tatapan Nisa fokus pada kertas putih ditangannya
“ibu sudah tahu, abangmu sudah ngasih tahu. Dia tidak masalah. Yang sekarang dia pikirkan kalau kantornya juga tidak dapat tender bagaimana kelangsungan perusahaannya nanti” sang ibu mendesah, dia pikir anaknya bangun dari koma masalahnya akan selesai. Tapi masalah lain sedang menunggunya. Ibunya tidak bisa berbuat apa-apa.
Amir duduk kembali bergabung dengan mereka di depan TV, menyendok puding tanpa selera. Tatapannya kosong menerawang.
“Kalau tidak, minta tolong Fatih pasti dia mau bantu” tiba-tiba ibunya menemukan ide. Ah, mengapa dia baru terpikirkan sekarang, ibunya tersenyum puas dengan idenya.
“jangan bang,,,!!!” Nisa berteriak lebih tepatnya. Dia kaget dengan ide sang ibu. Jangan sampai abangnya menerima ide dari ibunya. Bisa-bisa makin tidak bisa lepas dia nanti dari Fatih.
“kamu kenapa nis, suaranya kenceng gitu, pelan kan bisa” protes ibunya. Wanita paruh baya itu sampai terlonjak kaget.
“maksud Nisa, jangan merepotan orang lagi bu, nggak enak. Lagian kan dia bukan siapa-siapanya kita” Nisa membela diri. Dia takut abangnya menerima tawaran itu. Semakin banyak alasannya Fatih untuk mengganggu hidupnya.
“Kamu aneh, Fatih itu sudah ibu anggap sebagai anak sendiri, dan dia juga tidak keberatan. Perusahaannya kan besar, ibu yakin, Fatih pasti mau membantu, dia benar-benar laki-laki yang baik” Tuhan, apa istimewanya laki-laki itu. Ibunya berbicara seolah Fatih adalah malaikat penolong bagi keluarganya.
__ADS_1