
Hati Anisa hancur, laki-laki yang dia pikir sibuk karena jabatan barunya ternyata sedang bermesraan dengan wanita lain.
Nisa akui wanita itu jauh lebih cantik dari dirinya. Baju yang terbuka dengan celana hotpants di atas pahanya menampilkan paha mulus sang gadis. Beginikah kelakuan laki-laki yang dia puja dibelakangnya.
Sakit, sungguh sangat sakit, Anisa sadar dia tidak bisa berpakain seperti keinginan Aldo. Modis katanya, ternyata ini yang dibilang modis. Mengumbar semua auratnya untuk dinikmati laki-laki lain.
Reno terdiam dia tidak bisa berbuat apa-apa. Rencananya berjalan mulus, ini tujuan sang tuan memaksa Anisa makan siang. Senyum kemenangan mengembang dari bibir Reno, dia sedang menunggu adegan berikutnya. Sebentar lagi drama perselingkuhan itu akan dimulai.
Anisa berjalan menghampiri dua orang yang sedang dimabuk cinta, bahkan beberapa saat mereka tidak menyadari kehadiran Anisa
“Mas Aldo,,,” suaranya lirih. Dia menahan diri untuk tidak marah dan menangis dihadapan laki-laki yang baru Nisa tahu kalau ternyata bajingan.
Aldo menoleh, awalnya dia terkejut, secepatnya laki-laki itu bisa menguasai diri. Wajahnya terlihat tenang, dia berdiri. Wanita yang bersama Aldo masih duduk dengan wajah bingung.
“Akhirnya kita bertemu Anisa, baiklah karena kamu sekarang ada disini, aku perkenalkan pacarku” santai laki-laki itu berucap seolah sedang tidak terjadi apa-apa. Tapi tidak dengan Anisa, bagai ada hujaman belati menusuk hatinya. Sungguh tega Aldo, laki-laki yang dia beri kepercayaan penuh. Ternyata menikamnya dari belakang. Anisa menahan diri untuk tidak menangis. Laki-laki seperti Aldo tidak pantas dia tangisi.
“terus kamu anggap aku apa selama ni mas?” dengan nafas berat pertanyaan itu muncul.
“Sebenarnya sudah lama aku ingin mengahiri hubungan kita. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku laki-laki normal Nis, tidak ada dalam cerita pacaran hanya jalan saja. Jaman sekarang pacaran jangankan pegangan tangan berciuman saja wajar. Aku butuh lebih dari itu semua. Dan aku mendapakatkannya dari april. Dia wanita yang lebih mengerti aku” wanita yang disebutkan Aldo, berdiri dengan senyum penuh kemenangan.
“oh, jadi ini wanita kolot yang kamu ceritakan itu. Cantik sih, tapi sayang pemikirannya masih kuno” sarkas, sang gadis berbicara tanpa menimbang perasaan Anisa.
“aku pikir aku akan melakukan itu semua setelah kita menikah, tapi ternyata kamu tidak bisa menunggu. Baiklah, aku doakan semoga kalian bahagia. Dan untuk kamu, semoga laki-laki yang kamu banggakan ini tidak mencampakkan kamu setelah begitu banyak pengorbanan yang kamu berikan” Nisa ingin secepatnya berlalu dari hadapan mereka.
__ADS_1
Pandangannya kabur oleh sebab air mata yang tidak bisa dia bendung lagi.
“Ada apa ini?” suara itu Anisa mengenalnya. Dia menoleh tatapan benci dia arahkan untuk Fatih. untuk apa laki-laki itu muncul di saat seperti ini. Nisa tidak mengharapkan itu. Akan bertambah sombonglah Fatih nantinya karena ucapannya tentang Aldo sekarang terbukti.
“Tuan ada disini?” wajah gugup Aldo membuat Anisa mengerutkan alisnya.
“Anda mengenal saya” Fatih pura-pura tidak tahu. Padahal semua yang terjadi tentang Aldo. Bahkan kesialan laki-laki ini tidak luput karena andilnya.
“Maaf tuan, saya membuat keributan. Saya tidak tahu kalau tuan ada disini” ucap Aldo dengan nada gugup. Pandangannya tertunduk
“tidak apa-apa, kebetulan saya sedang ada janji makan siang dengan Anisa. Mari kita makan didalam” ajak Fatih, Anisa menatap tajam kearahnya. Matanya merah menahan air bening itu agar tidak menetes.
“jadi kamu ada hubungan dengan tuan Fatih, aku pikir kamu baik menjaga harga diri, ternyata kamu tidak jauh berbeda dengan wanita kebanyakan. Sok alim tidak mau pegangan tangan nyatanya kamu selingkuh” Nisa tidak bisa terima penghianan Aldo. Tapi wanita itu sedang tidak ingin berdebat.
“jaga ucapanmu tentang Anisa, dia wanita terhormat.kalau kamu masih menginginkan jabatan itu saya harap atitudemu di jaga. Apalagi sampai menghina Anisa dihadapan saya” tegas, Fatih menatap tajam ke arah Aldo. Laki-laki yang dia tatap menunduk semakin dalam. Takut dengan ancaman jabatan yang baru dia emban adalah alasan Utama ketakutannya.
“maafkan saya tuan.” Nadanya lirih penuh penyesalan. Dia melihat ancaman itu tidak main-main. Tatapan tajam dan rahang yang mengetat menambah ketakutan dalam diri Aldo.
“mari ikut saya” tanpa sepatah kata Anisa mengikuti langkah Fatih, bukankah itu tujuannya datang kesini memenuhi undangan laki-laki ini sebagai cicilan atas hutang yang harus dia lunasi.
Mengangsurkan tisu kehadapan Anisa, wanita itu menangis, dia tidak peduli meskipun terlihat mengenaskan di hadapan Fatih. Anisa yakin, yang terjadi hari ini pasti karena rencana laki-laki di depannya ini.
Mengambil beberapa helai dan mengusapkan pada mata dan hidungnya. Kedua lubang itu berlomba mengeluarkan cairan yang tidak bisa dibendung.
__ADS_1
“kamu tidak pantas menangisi laki-laki bajingan seperti dia, seharusnya kamu bahagia sekarang terlepas darinya” kata-kata Fatih ingin menghibur Anisa. Tapi wanita dihadapannya bukannya berhenti. Justru tangisnya semakin menjadi.
Fatih menyilangkan kedua tangan didadanya. Menyandarkn tubuhnya kebelakang. Tatapan intens dia arahkan untuk Anisa. Ini lucu menurutnya. Wanita baik-baik sedang menangisi bajingan, tidak tahukah wanita itu, bahwa airmatanya terlalu berharga di mata Fatih.
“kalau sudah selesai makanlah”ucapnya menggeser piring berisi makanan pembuka. Makanan Utama dan puding pencuci mulut. Nisa melihat sekilas. Selera makannya benar-benar hilang.
Hatinya sedang sakit, bagaimana dia bisa menyantap semua itu dengan tenang. Bayangan penghianatan, kata-kata dari laki-laki yang bergelar mantan itu masih terngiang ditelinganya. Anisa pikir dia menjaga kehormatan untuk sang kekasih. Rupanya dia salah, pengorbanannya dianggap kolot. Dia dianggap wanita yang ketinggalan jaman.
Anisa bangkit, dia ingin pergi dari hadapan Fatih. terlalu memalukan baginya sekarang setelah mengetahui kebusukan Aldo dihadapan Fatih. setelah beberapa saat dia sempat dengan tegas mengatakan memiliki kekasih. Tuhan, mau di taruh dimana mukanya sekarang. Ternyata laki-laki yang dia banggakan hanya laki-laki busuk.
“mau kemana, apa yang akan dipikirkan teman-teman anda ketika anda kembali kesekolah dengan kondisi seperti ini” yang dikatakan Fatih ada benarnya. Nisa duduk kembali, tapi tidak untuk menyantap hidangan, dia hanya ingin menenangkan diri sampai kedaannya membaik. Mencuci muka untuk menghjilangkan sembab mungkin bisa membantunya sekarang.
“saya mau ke toilet” ucapnya singkat. Fatih tidak bisa mencegah dia paham apa yang akan dilakukan Nisa disana.
“sudah lebih baik sekarang?, makanlah jam makan siang sudah lewat” ucap Fatih lagi setelah Nisa kembali duduk di hadapannya.Dia berharapa Nisa menyantap hidangan itu meskipun sedikit. Setidaknya dia tidak terlalu merasa bersalah, karena membongkar kebusukan Aldo.
Nisa menatap hidangan itu tanpa selera. Cara penyajiannya yang menggiurkan tidak mampu membuat selera makan gadis itu tergugah.
“Maaf, jam istirahat saya sudah selesai, saya harus kembali sekarang” ucapnya lirih. Nisa merasa keadaannya sudah lebih baik. Meskipun hatinya masih didera sakit yang tidak wajar. Ternyata penghianatan itu meninggalkan bekas. Sekarang Nisa mulai paham kondisi kakak iparnya dulu. Sampai harus meniggalkan abangnya karena ketakutan untuk dihianati kedua kalinya.
‘biarkan Reno mengantar ” ucap Fatih. laki-laki itu tidak bisa mencegah Nisa , dia tidak tahu rasanya sakit karena penghianatan. Tapi dia sedkit paham tentang penderitaan orang-orang disekitarnya, yang bahkan harus mengalami trauma karena kebohongan pasangan yang diberikan kepercayaan penuh.
"ternyata sakit hati bisa menghilangkan rasa lapar" gumamnya dengan senyuman tipis dari bibirnya, setelah Anisa pulang diantar Reno.
__ADS_1