MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
MAKAN MALAM


__ADS_3

Disinilah mereka sekarang, setelah Fatih menjemput Anisa dan meminta ijin pada ibu. Nisa tidak suka ibunya tahu tentang ini semua, tentu saja sang ibu melepas dengan tatapan curiga. Perdebatan tentang Nisa yang akan membawa mobil sendiri di tentang Fatih. Anisa cemberut, sejak berangkat hingga sampai di restoran wajahya masih saja ditekuk.


“Bagaimana pendapatmu tentang kejutan makan malam ini, kamu suka?” Fatih membuka pembicaraan setelah terdiam lamaran. Mencoba mencairkan suasana. Nisa menatap sekeliling. Kepalanya berputar. Bahkan gadis itu baru menyadari kalau mereka ada rooftop. Hanya ada mereka berdua. Pagar pembatas dihiasai bunga sintetis, lampu temaram juga menghiasi, di depan Anisa juga terdapat lilin dengan bunga mawar merah beberapa kuntum di vas bunga berwarna putih. Sekilas memang kelihatan romantis Nisa terkesan sebelum ahirnya dia menyadari satu hal.


“Bagus, seharusnya Anda makan malam ini dengan Reno, karena dia yang tahu selera anda” Fatih tersentak, senyum yang semula mengembang kembali. Rasa percaya dirinya hilang seketika, berganti kesal yang tiba-tiba datang.


“Aku mau makan sama kamu jangan bahas Reno. Saya akan berbicara tentang kita kedepannya” langsung pada intinya, sebelum Anisa membahas hal lain ten


tang Reno.


“oke saya akan mendengarkan tapi setelah ini anggap diantara kita tidak ada urusan, atau hubungan apapun. Mari menjadi orang asing kedepannya” perkataan Nisa membuat mata Fatih membuka lebar.


“kita akan menikah tiga bulan lagi” sekarang giliran mata dan mulut Nisa membuka bersamaan. Tetap bersikap tenang menanggapi ucapan laki-laki didepannya ini


“kalau saya orangnya mungkin tuan salah. Saya bukan orang yang tepat. Saya rasa Reno lebih bisa memahami Tuan” dengan nada datar Nisa mengucapkan kata demi kata


“Saya masih normal” dengan nada penuh penekanan terdengar sampai ke telinga Anisa. Amarah yang tertahan.


“Anda salah mengajak orang menikah, kita tidak punya ketertarikan secara fisik maupun sifat. Jadi daripada gagal ditengah jalan sebaiknya jangan di lanjutkan” menegakkan tubuhnya di kursi. Anisa yakin, yang dilakukan Fatih sekarang tidak lebih karena penasaran. Nisa tidak ingin memulai hanya karena rasa penasaran. Karena baginya pernikahan itu tidak hanya berbekal rasa ingin tahu yang dalam. Ikatan sakral di hadapan Tuhan bukanlah permainan.


“tapi saya sangat yakin kalau saya tidak salah, karena selama ini insting saya selalu benar”ucap Fatih yakin


“Insting tidak bisa dijadikan acuan mencari pasangan hidup, karena dunia pernikahan dan bisnis adalah dua hal yang berbeda” ucap Nisa penuh keyakinan. Dia tidak akan mengiyakan ucapan Fatih, sudah cukup dirinya terjebak dalam ikatan aneh dengan sang CEO. Tekadnya sudah bulat. Mengahiri semuanya malam ini sebelum terlalu jauh. Hatinya tidak bisa terpaut pada laki-laki egois didepannya ini.


“Tidak ada alasan kamu menolakku” perkataan itu lebih tegas lagi keluar dari bibir Fatih


“terlalu banyak alasan, salah satunya karena saya membenci Tuan” Nisa yakin. Laki-laki dihadapannya ini pandai dalam mencari kelemahan lawannya.


“oke saya mengalah, sekarang katakan apa yang membuat kamu membenci saya” ahirnya nada itu melemah. Tidak ada ketegangan lagi.


“Egois, otoriter, mau menang sendiri semua orang harus tunduk. Saya tidak bisa membayangkan rumah tangga yang akan dijalani kedepannya. Saya wanita biasa dengan keinginan yang sederhana” katanya dengan tatapan menunduk. Ini memang kebiasaan Anisa. Tidak menatap lawan bicara jika berlainan jenis. Risih, itu yang dia rasakan.


“katakan, apa keinginanmu. Saya akan mengikuti”

__ADS_1


“saya yakin anda tidak akan mampu. Kita berada di dunia yang berbeda. Jangan terlalu memaksakan diri. Karena sayapun tidak ingin memantaskan diri. Menjauh dan tidak saling mengenal adalah jalan terbaik untuk saat ini dan seterusnya” Anisa gigih mempertahankan pendapatnya. Karena sebelum dia berangkat tadi pun sudah membulatkan tekad untuk menjauh dan tidak terlibat hubungan apapun pada Fatih. menuntaskan semuanya hingga mereka tidak terikat apapun termasuk hutang piutang.


“malam ini saya sudah menyiapkan diri untuk mendengarkan apapun keinginan kamu. Katakan” tegasnya. Sesuai saran Reno. Mendengarkan keinginan gadis dihadapannya ini sebelum mengikatnya dalam pernikahan.


Dengan menarik nafas panjang Nisa mengubah posisi duduknya yang mulai tidak nyaman, tangannya diletakkan diatas meja.


“saya hanya ingin menikah dengan laki-laki biasa, saling mencintai dengan tulus. Laki-laki yang mau menerima saya apa adanya. Menghormati profesi saya. Hidup di rumah sederhana. Membesarkan anak kami dengan cara yang luar biasa pastinya” ini bukan Anisa. Bukan kebiasaannya mengatakan hal yang terlalu pribadi pada orang lain. Apalagi laki-laki. Kalau sekiranya setelah ini Fatih akan menjauh darinya Nisa tidak masalah. Bukankah itu memang tujuannya menemui laki-laki ini .


Fatih menjentikkan jari pada pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja mereka. Seorang laki-laki dengan baju biru mendekat itu mendekat.


“hidangannya antarkan sekarang” tidak ada tanggapan hingga membuat Anisa mengerutkan dahinya. Laki-laki didepannya ini memang tidak tertebak. Bahkan dengan santainya dia memanggil pelayan tanpa menghiraukan apa yang telah di ucapkannya panjang lebar.


“makanlah, ini sudah terlalu malam” semakin membuat Anisa bingung. Bahkan dengan santainya Fatih menyendok makanan didepannya. setelah pelayanan meletakkannya disana.


“jangan hanya dilihat, setelah ini kita bisa bicara. Kalau menunya tidak cocok bisa pesan lagi” laki-laki itu berkata seolah mengerti tatapan kebingungan Anisa.


Dengan enggan gadis itu menyantap hidangan yang tersaji didepannya. Dia yakin makanan ini dibandrol dengan harga yang fantastis. Satu porsinya bisa mentraktir mie ayam teman-temannya di langgannnya. Peduli amat, bukan dia yang bayar, jadi nikmati saja. Walaupun dengan kondisi hati yang belum sepenuhnya lega karena Fatih belum memberikan tanggapan tentang ucapannya tadi.


Mereka terdiam makan dalam keheningan. Hanya terdengar suara gesekan sendok dan garpu sesekali beradu dengan piring walaupun tidak terlalu nyaring.


“saya sudah kenyang” jawab Anisa sambil mengaduk minuman berwarna kuning didalam gelas. Entah mengapa sekarang gadis itu menjadi tegang, dia menunggu tanggapan Fatih.


“Kita tetap akan menikah tiga bulan lagi” bukan tanpa alasan Fatih memaksa Anisa. Laki-laki itu melihat tatapan Wisnu yang tidak biasa. Fatih merasa punya saingan baru setelah mantan pacar Anisa yang memaksa meminta kembali.


“jangan lakukan, kalau tidak saya akan semakin membenci anda” ucapnya dengan tatapan penuh kebencian seperti biasa.


“semakin kamu membenci saya, maka saya akan mempercepat waktunya. Jadi silahkan memilih” dengan sorot mata tak terbaca menghujam gadis didepannya.


“tidak cukupkah hanya satu wanita di hidup anda, dan saya tidak ingin merusak hubungan orang. Satu lagi, saya tidak mau dijadikan selingan” ini yang dari dulu mengganjal pikiran Anisa, kalau laki-laki ini tidak mungkin masih sendiri.


“Bagus, saya suka wanita yang punya prinsip kuat. Sudah jam sepuluh. Saya akan mengantar kamu pulang” dengan santainya Fatih berdiri tanpa mempedulikan Anisa yang masih duduk mematung. Bagaimana laki-laki dihadapannya ini bisa sesantai itu, sedangkan dirinya sekarang diliputi kemarahan.


“Saya bisa pulang sendiri, sesuai kesepakatan kita di awal. Bahwa setelah ini kita tidak akan punya hubungan apapun. Saya anggap semua hutang saya sudah lunas” mencoba menekankan pada Fatih bahwa dirinya benar-benar tidak mau.

__ADS_1


“Saya menjemput kamu baik-baik, dan saya juga akan mengantar kamu baik-baik” masih dengan santainya Fatih mengucapkan itu


“Tidak perlu, saya rasa istri tuan sudah menunggu suaminya yang sedang makan malam dengan gadis lain, sampaikan permintaan maaf saya karena sudah mengagganggu rumah tangga kalian. Tapi saya pastikan setelah ini tidak akan terjadi lagi” laki-laki seumuran abangnya tidak mungkin masih sendiri. Apalagi laki-laki ini mapan dengan fisik tanpa cela. Itulah yang ada dibenak Anisa. Dan malam ini dia diliputi rasa bersalah yag datang tiba-tiba. membayangkan seorang waniatbyang terluka karena suaminya yang tidak setia.


“sepertinya kamu terlalu banyak nonton sinetron, imajinasimu cukup bagus. Atau kamu berbakat untuk menulis novel” melangkah menjauhi Anisa tanpa menoleh. Tangannya di masukkan kedalam saku celana. Gadis itu masih tergugu di tempatnya. Tidak ada pilihan, dia mengikuti Fatih, berjalan menuruni tangga.


“jangan coba-coba naik taksi, tidak ada jaminan keselematanmu, karena ini sudah malam” Anisa terperangah, bagaimana Fatih tahu kalau dia sekarang membuka aplikasi taksi online.


Memasukkan kembali gawainya kedalam tas. Nisa tidak punya pilihan, dia mengikuti fatih dari belakang, persis seperti anak kucing mengikuti induknya. Sesekali dia memutar kepalanya takut tiba-tiba ada wanita hamil yang menyerangnya karena sudah lancang menggoda suami orang. Tiba-tiba Anisa menabrak tubuh kokoh didepannya, dia kaget.


“Fokus jalan kedepan, berhenti berimajinasi ibu guru” Anisa bingung, dia mundur beberapa langkah. Nisa tidak akan tahu wajah Fatih yang menahan tawa yang hampir meledak. Tentu saja karena laki-laki itu membelakanginya.


Berjalan lagi, mengikuti Fatih sampai masuk kedalam mobil. Tidak ada yang membuka pembicaraan hingga mobil itu berhenti didepan pagar Anisa.


Dengan buru-buru Nisa keluar dan membuka pintu pagar, tidak menunggu Fatih membukakan pintu mobilnya.


“Langsung pulang saja, ibu sudah tidur” ucapnya dengan ketus pada laki-laki dibelakangnya. Tidak dihiraukan laki-laki memakai kemeja kotak biru itu tetap mengikutinya.


Pintu terbuka sebelum Anisa mengetuk. Sosok ibunya berdiri dengan tersenyum. Nisa menoleh kebelakang, dia melihat sekilas senyum di wajah Fatih, seolah ingin mengatakan kalau dirinya berbohong.


Masa bodoh, Nisa tidak peduli dia ingin cepat pergi dari hadapan mereka. Hatinya sedang tidak baik-baik saja. Penolakan ajakan menikah dari Fatih tidak digubris laki-laki itu.


“Ada apa Nis” ibunya bersuara, melihat wajah Anisa yang terlihat kesal. Namun tidak dengan Fatih. Laki-laki itu tampak santai memasuki rumah dengan senyum ramah seperti biasa. Namun tidak ada jawaban


“apa yang terjadi” pertanyaan itu dia jukan pada Fatih setelah aksi bungkam Anisa


“salah pesan menu bu, tidak cocok katanya” percayalah, Anisa benci melihat senyuman itu. Dan jawaban Fatih semakin menumpuk kebencian di hatinya.


“pulanglah ini sudah malam, ibu dan saya butuh istirahat” perktaan Anisa mendapat tatapan tajam dari ibunya


“Jangan tidak sopan sama tamu, kalau kamu mau masuk, masuk saja. Biar ibu temani nak Fatih” sang ibu heran dengan sikap anisa, ahir-ahir ini anak bungsunya itu seolah kehilangan sifat sopan santunnya.


“Ayo masuk, ibu buat minum dulu. Duduk di sana paling Cuma sebentar” lag-lagi Anisa kalah, ibunya selalu saja membela Fatih, laki-laki yang baru mereka kenal tapi sudah masuk dan seolah mengambil bagian penting di rumah itu. Jangan lupakan senyum kemenangan di wajah Fatih semakin membuat Anisa benci.

__ADS_1


Fatih menikmati wajah itu, wajah penuh amarah yang di tahan seolah menjadi candu baginya. Dia ingin selalu melihatnya. Setiap hari, setiap saat. Dan sekarang waktu yang tepat. Fatih tidak bisa menundanya lagi. Mengatakan keinginannya pada calon mertuanya.


Ups,,,panggilan yang membuat hati Fatih berdebar dengan tidak biasa. Membayangkan hal indah ketika merek berumah tangga itu ada kebahagiaan tersendiri baginya.


__ADS_2