
Kalau orang mengatakan cinta itu buta, karena mencinta tidak memakai akal. Bagiku cinta mengalahkan logika. Mampu membuat seseorang keluar dari dirinya. Mematahkan semua teori tentang bayangan nanti ketika menikah. Nyatanya semua rancangan itu mentah, ketika hati melemah berhadapan dengan pesonanya. Cinta mampu melemahkan ego. Karena cinta tentang dia yang harus nyaman didekatku. Tentang perasaan dan hatiku itu sudah tidak perlu. Bahagianya adalah bahagiaku. Tawanya adalah tawaku. Tentangnya, tentang bahagia yang pernah aku rancang. Tentang senyum yang selalu lancang mengganggu tidurku.
Hari ini berlalu dalam rasa yang bahagia. Tentang senyum yang selalu menghiasi wajah cantiknya. Sesederhana itu memaknai bahagia. Tidur dalam pelukan, bangun di sambut senyum yang terlihat menggiurkan. Setelah pembicaraan tentang waktu mulai Anisa mengajar. Fatih meminta waktu sebulan lagi. Dia ingin merasakan berangkat dan pulang kerja ada yang dia mengantar dan menyambut. Tidak ada penolakan, yang membuat Fatih semakin bingung, tapi juga bersyukur.
“Abang nanti pulangnya mau di masakin apa?” tanyanya ketika mengantar Fatih sampai ke pintu.
“Apa saja, asal Nisa yang masak” Merangkul pundaknya kemudian berhenti, di depan pintu. Sudah ada Reno yang menunggu di luar. Karena tidak boleh satu orangpun masuk ke rumah utama terutama laki-laki. Dan Reno termasuk didalamnya.
“Oke, ayam goreng mentega. Udang asam manis sama cah kangkung” Ujarnya antusias. Pun dengan wajah Fatih dia bahagia mendengar menunya kali ini.
“Pasti enak, Abang berangkat dulu. Kalau ada apa-apa kabari Abang” mencium keningnya lantas memeluknya kemudian.
“Abang kerjanya yang semangat, biar cepat selesai cepat pulang” Membalas rangkulan suaminya
Fatih masuk kedalam mobil, setelah Anisa melambaikan tangan kemudian dia melihat Anisa menutup pintu. Semangatnga berlipat setelah mendengar ucapan istrinya. Kalau bukan karena pekerjaannya yang menumpuk Fatih lebih suka menghabiskan waktu di rumah dengan istrinya.
“Kalau masakannya kayak gitu buat apa tanya lagi, kan sudah sama dengan yang kemarin. Kayaknya sudah satu minggu menunya sama” Reno, menatap tuannya dari spion mobil. Seperti biasa, senyumnya selalu mengembang.
“Kamu tidak akan pernah merasa bosan melakukan hal yang sama berulang jika dilakukan dengan orang yang tepat”
“Saya seperti tidak mengenali Tuan. apa Nona Nisa tahu kalau Tuan bisa masak”
“Dia tidak tahu, dan tidak perlu tahu. Selama istriku bahagia dengan masakannya”
“Bagaimana kalau nanti Nona tahu, kalau masakan Tuan jauh lebih enak”
“Dia masih belajar, aku menghargai itu. jangan menggunakan panggilan itu lagi sebelum aku mendapat masalah. Hubunganku dengannya baru saja membaik”
“Karena mutasi?” Reno menoleh kebelakang. Mencari jawaban pertanyannya.
__ADS_1
“Aku tidak tahu” Tapi kalau dipikir, itu salah satunya. Tapi penyebab utama NIsa berubah adalah sejak kepulangan mereka dan itu jauh sebelum Fatih memberi tahu surat mutasi yang diurus Reno.
“Saya harap istriku tidak tahu tentang aku yang bisa memasak. Biarkan dia tersenyum menyambutku dengan menu yang sama setiap hari. Aku tidak peduli, bagiku itu makanan terenak di dunia”
“Masakan Tuan lebih enak” Reno tidak terima dengan pujian Fatih pada sang istri. Bukan apa-apa, masakan yang di masak Anisa harus di makan semua yang ada di rumah termasuk semua pelayan dan asisten, tentu saja itu perintah Fatih. hingga hari ketiga Reno meminta Mbok Sa membuatkan masakan yang lain. Rasanya juga tidak se enak masakan Mbok Sa. Bagi orang lain, makan dengan menu yang sama cukup bertahan dua hari lalu rasa bosan menghampiri. Tapi tidak dengan tuannya, sudah seminggu masih saja dia menikmati menu yang sama setiap hari.
“Kamu makannya pakai lidah. Sekali –kali makanlah menggunakan hati. Ah, kamu tidak akan pernah tahu rasanya” Bibirnya melengkung sempurna, tatapannya menerawang keluar jendela. “Biasakan dengan panggilan yang lebih akrab. Jangan Tuan dan Nona lagi. Bisakan Ren?” perintahnya.
“Bisa, tapi nanti kalau Nyonya Maura datang saya kembali ke panggilan awal. tahu sendiri kan Tuan. Perkara panggilan saya tidak ingin mendapat masalah. Pekerjaan yang lain masih banyak menunggu saya” Ternyata jatuh cinta juga membuat lidah seseorang mati rasa, dan Reno yang menjadi saksi perubahan aneh dalam diri Fatih.
“Kapan rencananya Mama pulang?”
“Sebulan lagi setelah check up terahir Tuan Wardhana kalau tidak ada masalah” Membuka mackbook di pangkuannya. Sekedar membaca jadwal tuannya sebulan ke depan. “Nyonya Maura minta Tuan menjemput ke bandara” Lanjutnya, tanpa mengalihkan fokusnya dari layar yang menyala.
“Dia tahu pernikahanku?” Tanyanya Fatih, menegakkan duduknya. Membahas masalah pernikahan adalah hal yang tidak dia sukai ketika berhadapan dengan orang lain. Dan wanita itu dia anggap orang di luar lingkupnya tentang masalah pribadi. Tidak boleh ada seorangpun yang mambatasi atau bahkan mengaturnya tentang siapa wanita yang harus dia nikahi. Fatih hafal betul Nyonya Maura dalam hal memilihkan kriteria wanita yang akn menjadi pendamping hidupnya.
“Dari awal Nyonya sudah tahu, terlalu banyak mata-mata yang bekerja padanya di sekitar kita” Reno mengingatkan Fatih, bahwa tidak ada satupun yang terlewat tentang dirinya di hadapan Nyonya Maura. Bahkan hal sekecil apapun yang di lakukan Fatih wanita itu akan mengetahuinya dengan detail.
“Semua hal, termasuk perubahan di rumah utama. Orangnya sudah menyampaikan bahwa istri Tuan melakukan perubahan besar-besaran”
“Biarkan dia tahu semua, kalau sampai dia datang untuk merubahnya kembali. Kali ini biarkan aku membantah perintahnya” Fatih tidak nyaman jika ada orang yang mengusik tentang wanita yang dia nikahi. Sekalipun wanita itu adalah Nyonya Maura. Wanita yang menentukan semua skenario dalam hidupnya. Mulai dari kehidupan pribadi hingga urusan pekerjaan. Mengatur semua hal yang boleh dan tidak boleh Fatih lakukan.
“Kita lihat saja nanti, saya yakin Nyonya Maura akan melakukan semua seperti biasa” Reno menutup kembali laporan pekerjaannya. Posisi mereka sudah masuk di basemant kantor.
Seorang laki-laki dengan pakaian seragam keamanan GLOBAL, baju hitam dengan logo di dada sebelah kanan membuka pintu mobil. Dia berbicara dengan handy talk di tangannya. Menerima dan memberikan perintah dengan suara yang tegas. Fatih keluar. Diikuti Reno di sampingnya. Berjalan menuju lift. Beberapa orang nampak antusias menyapanya. Membungkukkan bandan atau yang hanya menundukkan kepala dengan senyum ramah.
“Jadwal hari ini masih menandatangani beberapa berkas, jam satu siang kita mulai pertemuan dengan mitra GLOBAL, sore ada pertemuan dengan assosiasi pengusaha muda. Dan berkas proyek yang di tangani Pak Amir sudah ada di meja, tinggal tanda tangan. Itu laporan mengenai estimasi keuntungan sampai proyek selesai. Setelah di kurangi resiko dan asuransi. Kalau tidak terjadi kecurangan di lapangan perusahaan kita mendapatkan keuntungan yang besar. Pengalaman pertama terjun di dunia kostruksi. Mudah-mudahan kedepannya Tuan bisa membuka usaha di bidang yang sama” Reno menjelaskan panjang lebar. Langkahnya panjang mengikuti langkah Fatih.
“Dimana bajingan yang menjerumuskan aku dalam bisnis rumit itu” Bertanya tentang Amir dengan istilah yang dia terjun dengan dunia usaha yang tidak pernah menarik minatnya.
__ADS_1
“Sekarang ada di raja ampat dengan keluarganya. Ibu mertua Tuan juga di ajak”
“Cih, keuntungan belum di dapat, sudah dihabiskan duluan”
“Nona Syafira sudah merencanakan ini jauh sebelumnya. Karena Pak Amir waktunya senggang. Sekaligus meninjau lokasi proyek pembuatan hotel di daerah sana. Dia di percaya seorang pengusaha setempat” penjelasan Reno berhasil membuka lebar mata Tuannya. “Dia berangkat dengan fasilitas dari pemilik resort” Lanjutnya semakin membuat Fatih tidak percaya.
“Saya melihat usahanya semakin maju setelah mereka rujuk. Semoga dia tidak tergelincir lagi ke dunianya yang dulu” Harapannya cukup tinggi tentang rumah tangga kakak iparnya. Karena rumah tangga mereka akan menjadi tolak ukur kehidupan pernikahaannya denga Anisa. Fatih yang akan memastikan kalau Amir tidak akan melakukan kesalahaan yang sama.
“Setia itu membuat laki-laki lebih bahagia. Sekalipun kesempatan untuk berbuat curang selalu terbuka lebar. Jangan bodoh dengan kenikmatan sesaat. Ingat itu Ren” Berbicara pada Reno, sebenarnya dia juga mengingatkan dirinya.
“Saya satu saja belum ada Tuan, jadi saya tidak tahu apa itu selingkuh” Kejujuran Reno membuat Fatih menahan tawa. Dia lupa kalau laki-laki yang berjalan disampingnya masih punya tugas membahagiakan Ibunya sebelaum ahirnya berpikir untuk berumah tangga.
“Padatkan jadwalku sampai jam lima sore. Aku harus pulang, istriku pasti menunggu dengan menu makan malam kami” Duduk dan meneliti beberapa berkas yang sudah menumpuk di mejanya. Dia tidak ingin membuang waktu. Tangannya dengan sigap membuka dan membaca sekilas kemudian membubuhkan tanda tangan disana.
“Saya sudah meminta Mbok Sa, membuat menu makan malam untuk kami Tuan, maaf jangan marah. Karena lidah kami belum mati rasa hanya untuk menikmati makanan yang sama selama seminggu” Reno, dengan kejujurannya. Dia yang memperjuangkan selera orang yang bekerja di rumah Fatih.
“Terserah, asal istriku tidak marah” Tatapannya fokus pada lembaran demi lembaran yang dibacanya.
“Nona Nisa orang yang santai. Mbok Sa yang mengatakannya pada kami”
“Tahukan Ren, kalau istriku luar biasa”
“Sangat Luar biasa Tuan. Semua pelayan dan pekerja yang lain mengakui itu. Nona NIsa melarang Mbok Sa memasak untuk Tuan. Katanya Nona yang akan mengurus soal apa yang harus tuan makan setiap hari” Ucapnya, membantu Fatih membuka dan menyiapkan berkas yang harus ditanda tangani.
“Benarkah, Apa istriku sudah jatuh cinta Ren” Tangannya berhenti dengan pena yang masih digenggam. “Kalau begitu, dia tidak usah mengajar lagi. Biarkan dia menjadi istriku sepenuhnya”Wajahnya berbinar.
“Itu namanya cari penyakit, dari awal Tuan sudah berjanji tidak akan mengganggunya soal pekerjaan. Ini bukan hanya tentang pekerjaan. Tapi, lebih kepada cita-cita dan keinginannya dari dulu. Cari aman saja Tuan, demi senyum istri”
Fatih mendesah pasrah, semua yang dikatakan Reno benar. Dia lebih suka NIsa di rumah menunggunya pulang agar tidak lelah. Bagaimana nanti kalau NIsa sudah mulai mengajar.
__ADS_1
“