
Sebuah mobil merah meluncur dijalanan, setelah perdebatan jam kencan ahirnya mereka berangkat juga. Pusat kuliner di pusat kota adalah tujuannya.
Sebuah jalan besar yang disulap menjadi tempat kuliner ketika malam, dan kembali seperti biasa ketika pagi. Begitulah cara pemerintah membantu pelaku UMKM untuk mendapatkan penghasilan tanpa harus memindahkan ke tempat lain.
Turun dari mobil, setelah Fatih membuka pintu untuk Anisa, tangannya terur untuk menggandeng tangan Anisa, tapi wanita itu menghindar.
“ Kita sudah sah, kewajibanku berikutnya adalah melindungimu dari mata laki-laki. Pegang tanganku biar mereka tahu kalau kamu sudah menikah” Nisa melotot, dia tahu akal bulus suaminya. itu hanya caranya untuk mencari keuntungan semata.
“Tidak perlu, kita jalan biasa saja” Berjalan beriringan setelah keluar dari parkir mobil.
“Kamu yakin kita tidak bergandengan, biar romantis” Goda Fatih, tapi bukan itu tujuannya. Istrinya tidak mengenal lokasi ketika malam hari, atau mungkin istrinya belum pernah mengalami hal buruk. Lihat saja.
“Jangan harap” jawab Anisa ketus. Dia tidak ingin terprovokasi. Baginya tempat ini adalah tempat dia dan keluarganya biasa datangi tidak akan pernah terjadi hal buruk seperti.
“Baiklah, kalau butuh aku ada di belakang. Tanganku masih kosong jadi jangan sungkan pegang saja, yang erat kalau perlu aku ikhlas” Fatih berbicara tanpa menatap, pandangannya terarah ke tempat lain.
Berjalan beriringan seperti dua orang asing yang kebetulan berada di tempat yang sama. Melewati jalan yang penuh sesak dengan manusia. Kadang miring, kadang berhenti untuk memberikan kesempatan yang lain lewat.
Fatih geram melihat Anisa harus berdesakan, dia ingin menggandeng wanitanya agar tidak tersenggol laki-laki. Fatih frustasi, bahkan Anisa terlihat santai berdesakan. Kalau dulu dia bisa saja melakukan itu tapi sekarang, ada dirinya yang harusnya Nisa jadikan tempat untuk berlindung. Nyatanya, Anisa tidak membutuhkan Fatih.
“Assalamualaikum ukhti” gerombolan remaja tanggung manyapa istrinya. Sopan memang, menyapa dengan suara pelan, tapi penampilan mereka. Tindik dan tato yang bertebaran di badannya membuat Fatih gerah. Seandainya memukul orang tidak ada hukumannya, mungkin memukul mereka sudah dilakukannya baru saja.
“Sombong sekali, tidak di jawab” lanjut seorang yang badannya paling kecil. Berikan padanya tepuk tangan. Ternyata nyalinya tidak sekecil badannya.
Bukan itu saja, bahkan dia dengan berani beranjak dari tempat duduknya mendekati Anisa. Fatih hanya akan melihat sampai sejauh mana laki-laki itu bertindak. Bersembunyi dibalik orang yang berlalu lalang.
Anisa mulai panik, dia menghentikan langkahnya. Menoleh kebelakang. Ternyata Fatih tidak ada, rasa takutnya semakin besar. Apa yang harus dia lakukan sekarang. Menyesal tidak mau digandeng tentu saja dia rasakan. Seandainya tadi dia mengikuti saran suaminya, pasti dia tidak akan diganggu berandalan.
“Maaf, jangan mendekat. Kita bukan muhrim dan saya sudah menikah” ujarnya dengan suara bergetar.
“Kenapa selalu alasan sudah menikah yang dipakai wanita, dimana suamimu cantik. Apakah dia laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Bagaimana bisa membiarkan wanita sepertimu berjalan sendirian di tempat ramai” ucapnya dengan wajah angkuh.
Anisa Ingin suaminya sekarang, dirinya berjanji akan memegang tangannya erat. Dia menyesal tentu saja. Air matanya hampir tumpah, berdebat dengan laki-laki yang di bawah pengaruh minuman rasanya akan sia-sia. Bisa-bisa dia akan bertindak nekat. Dia tidak ingin dipermalukan di tempat umum.
__ADS_1
Fatih melihat wajah ketakutan istrinya, tidak tega membiarkan berandalan menggoda sitrinya terlalu lama, dia tidak tega harus melihat Anisa menangis.
“Saya suaminya. Apa ada yang salah” Fatih muncul dengan keren dihadapan berandalan. Tubuhnya yang menjulang tepat berhadapan dengan lak-laki yang menggoda istrinya. Sangat kontras dengan laki-laki kecil yang hanya sebatas dada Fatih.
Mundur, tentu tidak. Laki-laki kecil bernyali besar itu menatap Fatih penuh selidik. Dia memindai dari atas kebawah. Tatapan tajam menakutkan bagi siapapun yang melihatnya.
Tapi tidak bagi suami Anisa. Tatapannya datar. Baginya melayani berandalan seperti mereka hanya akan menurunkan harga dirinya.
“Saya permisi” Fatih hendak berlalu dengan menggandeng tangan istrinya. Tapi, langkahnua tertahan setelah dihadang laki-laki sok berani ini.
“Tidak semudah itu Tuan, jangan pikir saya percaya dengan yang anda katakan. Lepaskan wanita itu. dan saya akan membiarkan anda pergi dengan tenang. Penawaran yang bagus bukan” Fatih menatap tubuh mungil itu dari atas kebawah, dia tidak menyangka laki-laki itu menghalangi langkahnya.
“Asal kamu tahu, ini kencan pertama dengan istri saya. Dan kalau kamu belum puas berurusan dengan saya. Orang yang ada dibelakangmu yang akan menyelesaikan. Saya tidak punya waktu” jawab Fatih tenang. Kemudian dia meninggalkan laki-laki yang wajahnya mulai memucat.
Berjalan santai memegang erat tangan istrinya.”Turunkan egomu sedikit saja, setidaknya itu bisa menyelamatkanmu” ucap Fatih pada Anisa sambil berjalan dengan angkuh. Tatapannya lurus. Anisa malu, untuk kali ini egonya benar-benar membuatnya hampir meruntuhkan kehormatannya.
“Dia laki-laki yang menjaga sekolah”
“Apa yang akan dia lakukan”
“Aku tidak tahu, biarkan dia melakukan tugasnya”
“Abang bawa mereka buat apa” Fatih tidak bohong, panggilan abang dari bibir istrinya jauh indah sampai di rungunya. Lebih merdu dari nyanyian seorang pujangga pemuja cinta.
“Dia yang mau ikut, asal tidak mengganggu tidak apa-apa kan” Ucap Fatih santai. “ Mie ayam, sebelah mana yang kamu suka, dekat trotoar atau yang di tengah”.
“ Ck, jangan bahas mie ayam dulu. Jangan sampai orang tadi terluka Bang, nggak manusiawi rasanya. Dia nggak ngapa-ngapain. Abang suruh lepasin sana kasihan orang tuanya” Anisa tidak bisa membayangkan perasaan kedua orang tua remaja tadi, seandainya anak yang mereka rawat, di didik dan dibesarkan dengan penuh cinta, pulang dengan babak belur. Bagaimanapun kelakuan mereka Anisa yakin kedua orang tua pemuda tadi tidak akan pernah tahu.
“Tidak diapa-apain, sedikit di buat jera” menarik tangan Anisa semakin jauh. “Mie ayamnya yang sebelah mana” Masih dengan genggaman erat pada tangan istrinya. Fatih tidak ingin melepaskan lagi. Wanita sok tangguh dan keras kepala ini sudah menjadi wanitanya sekarang, dadanya membuncah, senyum samar terukir.
Untuk malam ini Fatih akan mengikuti kemauan istrinya, mungkin pulang sampai larut sampai Anisa lelah. Ketika sampai dirumah bisa langsung tertidur, biar tidak gelisah seperti malam kemarin.
“Abang janji dulu, kalau laki-laki tadi akan baik-baik saja. Kalau tidak kita pulang Nisa sudah tidak selera” Ancaman Nisa mampu menghentikan kakinya.Ditatapnya Anisa dengan heran, benarkah wanita ini menyuruh laki-laki yang hampir melechkannya dengan tidak sopan untuk dilepaskan begitu saja. Baiklah, karena Fatih sudah berjanji bahwa malam ini semua keinginan istrinya akan terwujud.
__ADS_1
Mengambil gawai, menghubungi seseorang. Sengaja di loudspeaker agar istrinya percaya.
“Bagaimana, sudah kamu atasi?” pertanyaan untuk lawan bicaranya disebrang. Anisa mendegarkan, dia juga penasaran ingin tahu apa yang terjadi.
“Beres Tuan, saya sudah serahkan dia ke pos polisi, biar mereka yang tangani”
“Oke, terima kasih” Mengahiri pembicaraan dan memasukkan kembali gawainya.
“Kok, di tutup. Kan belum tanya dia dipukuli atau tidak. Atau jangan-jangan sudah babak belur baru diserahkan” Anisa belum puas dengan jawaban Fatih. Karena yang disebrang tidak menjelaskan apapun.
“Menurutmu, kalau orangku memukul bajingan tadi, siapa yang akan berurusan dengan polisi. Itu masalah kecil tugas polisi yang untuk menangani. Ini negara hukum” Anisa tersenyum, sekarang dia merasa lega dengan jawaban Fatih.
“Nisa lebih suka mie ayam yang didekat trotoar. Bisa duduk lesehan” Langkahnya lebih ringan, di kepalanya sudah terbayang aroma kuah dan bumbu mie ayam langganannya.
Fatih ikut tersenyum, sekali lagi dia menemukan keunikan lain dari isitrinya. Apakah semua orang yang berprofesi guru punya hati lembut dan penyayang seperti Anisa. Atau kah ini hanya jiwa keibuan yang muncul dalam diri wanita yang sedang dia genggam erat tangannya.
Dingin, selalu itu yang dirasakan Fatih ketika memegang tangan wanita yang telah mengikat kuat hatinya.
***
Jangan bosan nunggu upnya ya, musim perlombaan tingkat RT, author juga mewakili. jadi mohon maaf sudah menunggu lama.
adakah juga lomba di tingkat RT tempat kalian tinggal...
salam merdeka dari author.. LOVE sekebon... 💗✉✉💗✉✉💗
💗✉✉💗✉✉✉
💗💗💗💗✉✉💗
💗✉✉💗✉✉💗
💗✉✉💗✉✉💗
__ADS_1