MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
RINDU YANG TERBAYAR


__ADS_3

Pernahkah anda terburu-buru, tidak sabar atau apalah istilahnya kita tidak tahu. Keburu biasanya ada mengejar atau ada yang dikejar, entah pun hal lain. Tapi pernahkah kita terburu-buru karena hal menyenangkan. Ketika masih kecil, pengen cepat esok hari karena tidak sabar ingin belajar sepeda yang hampir bisa kemarin. Tidak sabar karena hal menyenangkan selalu kita tunggu. Tapi entah mengapa seolah sang waktu tidak pernah mengijinkan itu. Seolah waktu berjalan begitu lambat menuju saat yang kita tunggu.


Setahun menunggu dengan sabar, seolah waktu berjalan seperti siput. Menunggu dengan tidak sabar yang di tahan. Apakah berpisah jarak membuat semua berubah, atau apakah sang waktu telah membunuh cinta itu. tidak, waktu telah memupuk cinta itu semakin sempurna. Rindu itu telah menggumpal siap untuk dituntaskan hari ini.


Tungkai itu berjalan sempurna, mengabaikan setiap mata yang memandang penuh kekaguman. Baginya tidak ada hal yang lebih menarik selain mengobati rindu dengan perjumpaan. Senyum mengembang sempurna, setiap langkah di penuhi kebahagiaan yang membuncah.


Selama satu tahun kepegiannya Fatih tidak tinggal diam, semua kabar tentang wanita pujaannya dia ketahui. Tentu bukan hal sulit, mereka melaporkan semua kegiatan Nisa dengan detail. Tentu tanpa sepengetahuan Nisa.


Sangat menyebalkan harus mengetahui kabar sang pujaan dari orang lain. Laki-laki itu ingin melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri, menatap senyuman itu tanpa melelui perantara. Apa boleh buat, hubungannya dengan Nisa tidak seperti orang lain. Dia yang mengagumi setengah mati. Sedangkan wanita itu tidak peduli, bahkan seolah kepergian Fatih tidak ada pengaruhnya dalam hidup seorang Anisa. Fatih ingin tahu bagaimana nanti kalau dia muncul dihadapan Nisa, apakah wanita itu akan bahagia seperti dirinya.


Anisa, nama yang sudah tersemat indah dalam hati Fatih. menguasai setiap relung jiawanya tanpa ampun. Mengikat rasa yang begitu dalam. Mengganggu pikiran sang pemilik. Setiap saat, hatinya bergetar hanya dengan menyebut namanya. dengan tidak tahu diri, wajah itu mengganggu tidur nyenyaknya, menguasai pikiran sadarnya. Memecah konsentrasi ketika wajah itu tiba-tiba berkelebat dia atas kepalanya.


Satu tahun bukan waktu yang singkat, dia memendam semua kekaguman dalam diam. Memendam keinginan untuk berjumpa itu adalah sesuatu yang paling sulit. Menahan egonya untuk membawa gadis itu dalam pelukannya. Cukup sudah waktu yang sudah dia lewatkan, waktu yang teramat menyiksanya dalam jarak.


Masih jam 10 pagi, Fatih berjalan dikoridor bandara kota tujuan. Pergi kesekolah tempat sang pujaan memberikan ilmu untuk anak didiknya, dia akan muncul dengan keren menurutnya, adalah tujuannya setelah ini.


“saya sudah reservasi kafe yang terdekat dengan sekolah tempat nona Nisa, menunggu sampai jam istirahat sekolah. Masih ada sisa waktu dua jam lagi. Mungkin kita bisa bertemu dengan konsultan perencanaan proyek gedung yang baru. saya sudah menghubungi beliau” seperti rencananya di awal, memang kedatangannya ke kota ini untuk membahas pembangunan gedung pusat perbelanjaan yang lebih besar.


Ada beberapa orang yang mengajaknya bekerja sama, mereka meminta Fatih untuk menjadi investor. Setelah mempelajari semua berkas kerjasama, sepertinya memang menguntungkan itu menurut perkiraan monica, karena di kota ini belum ada pusat perbelanjaan seperti di kantor pusat. Hanya ada satu itu pun hanya dua lantai. Kemungkinan porspeknya bagus, melihat kebutuhan masyarakat akan hiburan semakin meningkat.


Fatih juga ditunjuk oleh kepala daerah kota ini untuk melaksanakan proye sebesar ini. sepertinya sang bupati ingin mencalonkan dirinya lagi periode mendatang. Mengingat betapa antusiasnya Dia waktu mempresentasikan kemungkinan berkembangnya proyek ini nantinya. Dan pastinya terselip visi dan misi serta keberhasilan pembangunan daerah yang dipimpinnya.


Bagi Fatih, ada alasan yang lebih kuat. Dia ingin menetap di kota ini, menghabiskan masa tuanya bersama wanita yang telah merubah banyak hal dalam hidupnya. Rasa yang tidak pernah di berikan untuk wanita manapun. Tapi, wanita itu mana tahu bahwa dia telah merubah sang tuan tampan. Sejauh ini sepertinya dia bahagia dengan kehidupannya sekarang.


Mengetuk-ngetuk jari telunjuknya ke meja, Reno tahu sang tuan sekarang dalam mood tidak sabar. Penjelasan panjang lebar sang konsultan hanya mendapat anggukan kepala beberapa kali. Tatapannya menerawang jauh. Benar-benar tidak masuk diakal. Dalam keadaan seperti ini wajah itu berkelebat di kepalanya. Senyum terukir tanpa dia sadari. Dan Reno menyadari itu. sang tuan pikirannya sedang tidak berada di tempat hanya raganya yang bisa terlihat.


Reno bernafas lega, ahirnya pertemuan itu selesai. Seharusnya memang sudah selesai dari tadi. Sebenarnya pertemuan itu tidak terlalu penting, karena semua berkas kerja sama sudah mereka kirimkan dan sudah di pelajari mereka di kantor pusat. Sang konsultan hanya mengikuti kemauan kepala daerah untuk menemuinya. Rapat dengan pihak pelaksana sudah dilaksanakan beberapa kali.


“Ren, kamu tahu dia terlihat jauh lebih cantik ketika sedang menjelaskan begitu, beruntungnya mereka bisa melihat Wanitaku setiap hari, sedangkan aku. Hanya memandangi fotonya saja. bukankah ini tidak adil?”


“iya tuan, Nona memang...”


“jangan bilang cantik, itu artinya kamu juga tertarik padanya,,,hanya aku yang boleh” Fatih memotong kata yang akan keluar dari mulut Reno dengan cepat. Reno menarik nafas panjang. Untuk saat ini berat menjadi seorang Reno. Dia tidak tahu harus menempatkan diri sebagai siapa. Asisten pribadi atau pengendali sikap Fatih yang tidak bisa di tebak, agar tidak melakukan kebodohan.


mereka sedang berdiri di depan kelas Sang guru setelah meminta ijin dan menjelaskan maksud kedatangannya pada sang kepala sekolah .


Tentu saja, sebagai teman Anisa yang ingin bertemu. Mereka tidak memperkenalkan diri sebagai serang pemilik perusahaan besar. Lima menit lagi dia akan menunggu waktu bel istirahat akan berbunyi. Anisa belum menyadari kehadiran dua laki-laki di pintu ruang kelas. Tatapan lekat penuh kekaguman, bahkan sang pengagum lupa cara berkedip walau sesaat.

__ADS_1


Bel tanda istirahat berbunyi, Fatih bergeser sedikit dari depan pintu, memberi jalan para siswa yang ingin keluar. Laki-laki itu menunggu sampai Anisa keluar kelas dengan tumpukan buku di tangannya. Matanya hampir tidak percaya, laki-laki yang berdiri dihadapannya sekarang. Bola indah itu membuka sempurna. Dengan bibir yang masih tertutup rapat.


“Apakah kamu senang bertemu dengan saya” Anisa memiringkan kepalanya mendengar pertanyaan laki-laki di depannya


“tentu saja tidak” jawabnya cepat, hanya ingin memberi tahu bahwa, laki-laki ini tidak punya kedudukan istimewa sehingga dia harus merasa bahagia dengan perjumpaan mereka.


“saya tahu” lah...


“mengapa Anda bertanya” kepala itu semakin miring menatap Fatih lekat. Nisa menduga Fatih sedang dalam keadaan mabuk.


“padahal saya dari bandara langsung kesini, begitu tidak sabar ingin bertemu. Tapi kamu tidak usah khawatir. Saya tidak kecewa sama sekali” wah, benar- benar orang ini. manusia yang katanya CEO bisa melakukan hal remeh begini dihadapan Nisa. Seketika Nisa memasang mood awas, dia sekarang tidak bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.


“jangan membuat malu disini Tuan CEO yang terhormat, disini bukan kantor anda yang bisa seenaknya” ucapanyang keluar dari bibir wanita yang di rinduinya. Pedas memang, bahkan sangat pedas sampai ke telinga yang mendengarnya. Dia sudah memikirkan kemungkinan ini, tetap tidak suka dengan kehadiran Fatih, itu yang ada di perkiraan awal reaksi sang gadis. Ternyata benar.


“saya tahu, dan saya sudah meminta ijin ingin melihat bagaimana caramu mengajar, ternyata menyenangkan. Baiklah rasanya kurang pantas berbicara didepan ruang kelas. Setelah menaruh buku itu, saya tunggu disini. Kita akan makan siang diluar. Saya juga sudah meminta ijin. Kita hanya punya waktu 20 menit dari sekarang” masih dengan gaya memerintah yang tidak di sukai Anisa.


“siapa yang memberi tuan ijin, mohon maaf saya tidak bisa hari ini saya sibuk sekali. Masih harus mengajar lagi” jawaban ketus seperti biasa.


“Anda tidak ada kelas mengajar setelah ini saya sudah cek jadwalnya, kita berangkat sekarang atau anda mau meletakkan buku itu lebih dulu”


Nisa bergegas, dia tidak punya pilihan lain. Laki-laki dihadapannya ini tidak mengenal kata menyerah. Nisa tidak mau jadi tontonan siswanya, sehingga menurunkan wibawanya sebagai guru. Berjalan keruang guru meletakkan buku ditangannya, mengambil tas selempang secepat kilat dan mengaitkan di bahunya.


“oh,,, nanti saya kenalin bu, saya keluar dulu permisi” wajah Anisa masih kecut


“janji lho ya,,,kalau begitu sampaikan salam dari saya” senyumnya lebar, mengiringi kalimat yang baru saja keluar dari bibirnya.


“pasti saya sampaikan” Nisa melangkah cepat, tatapan tidak biasa dari teman-teman gurunya tidak dia perhatikan. Dia menghindari itu, baginya Fatih tidak lebih hanya sebagai orang yang sering merusak hidupnya.


“Ada perlu apa, cepat katakan saya tidak punya banyak waktu” wajahnya gusar, Nisa tidak suka bertemu laki-laki sombong dihadapannya. Dia pikir mereka tidak akan bertemu lagi. wanita itu sudah lega, dia mengira penolakaannya waktu itu akan membuat laki-laki ini menjauh, nyatanya tidak. Masih dengan percaya diri datang lagi.


“saya tahu, makanlah. Kamu pasti lapar” suaranya lembut


“tadinya iya, sekarang tidak lagi” masih dengan wajah tidak bersahabat


“karena aku...” tatapan tajam, mencari jawaban dari wanita di depannya


“ada siapa lagi di tempat ini”

__ADS_1


“saya minta maaf, makanlah dulu setelah ini kita bicara” masih dengan nada lembutnya.


“saya datang untuk menepati janjiku, abangmu sudah sehat kamu tidak punya pilihan untuk menolakku” ucapan tegas setelah mereka menu itu tandas dipiringnya.


“Saya tidak pernah berniat ingin menagihnya. jadi, tidak ada yang perlu ditepati” tanpa senyuman seperti biasa, tapi tidak mengganggu Fatih, dia sudah terbiasa dengan air muka wanita didepannya ini.


“saya laki-laki. Dan laki-laki yang di pegang kata-katanya” masih berbicara dengan nada rendah.


“sekali lagi saya tegaskan saya tidak pernah menganggap anda berjanji apapun. Jadi tidak usah repot untuk memenuhi apapun. Saya menganggap kata-kata anda ketika itu hanyalah bualan. Jadi cukup sampai disini anda mengganggu hidup saya” suara di tekan, menghindari amarahnya meledak dengan nada tinggi.


“Saya belum pernah merendahkan diri di hadapan siapapun, tapi dihadapanmu saya tidak merasa sedang merendah justru saya sedang menunjukkan ketertarikan saya dari awal, saya kira kamu tahu itu” Fatih sadar, seolah dia kehilangan dirinya ketika berhadapan dengan gadis dihadapannya ini. merendah, mempermalukan diri. Entah apa lagi yang akan lagi setelah ini.


“tapi saya melihat anda sedang membual” ahirnya keluar apa yang menjadi ganjalan Anisa selama ini. itulah pendapatnya tentang Fatih.


“mungkin anda melihat saya sama seperti wanita koleksi Anda, atau anda ingin menjadikan saya koleksi di urutan keberapa, dua puluh, dua puluh satu atau mungkin sembilan puluh sembilan” menyebalkan kalau mengingat itu. dia tidak terima dia disamakan dengan wanita diluaran sana yang silau akan tampang dan jabatan. Dia punya harga diri yang jauh lebih mahal dari itu semua.


“nomor satu, dan satu-satunya” ucapan pasti dari Fatih. Laki-laki itu yakin dengan ucapannya sekarang. Diam menunggu reaksi Anisa.


Tawa keras keluar dari bibir wanita didepannya. Fatih tahu itu tawa mengejeknya tapi di matanya tawa itu terlihat begitu indah. Bahkan tatapan itu lekat. Sekali lagi bunga itu bermekaran indah di relung hatinya. Dia rindu, dan sudah terbayarkan. Sekarang hanya ada bahagia melihat wanita didepannya.


“maaf,,,saya tertawa terlalu keras..” memegang perut dan nafas yang memburu selepas tawa itu reda.


“Anda pikir saya percaya” senyuman sinis terbit, menggantikan tawa renyahnya


“waktunya sudah habis...saya harus kembali. Saya harap anda tidak akan menemui saya lagi setelah ini. oiya, saya lupa memberi tahu Anda bahwa saya sudah punya calon pendamping, jadi jangan mengganggu hidup saya lagi. saya doakan anda mendapatkan wanita sesuai keinginan Anda, permisi” Anisa dengan bangga mengucapkan itu di hadapan Fatih. Setelah ini dia yakin laki-laki yang mengaku tampan itu tidak akan berani muncul di hadapannya lagi.


“saya harap laki-laki yang menjadi calon pendampingmu itu bukan pecundang”


Anisa berbalik, tatapan tajam dia arahkan. Bagaimana laki-laki yang terhormat dihadapannya ini bisa mengucapkan kata-kata sampah, menuduh calonnya sebagai laki-laki tidak baik.


“saya kira anda terhormat, mendengar kata-kata anda baru saja saya seperti melihat sisi lain dari seorang laki-laki yang katanya terhormat ”


“apa julukan yang tepat untuk laki-laki yang mendekati anak gadis orang tanpa kejelasan”


“ Dan apa julukan yang pantas untuk laki-laki yang sudah punya banyak wanita dibelakangnya, masih mencari wanita lain, yang jelas-jelas sudah punya calon” jawaban tak kalah sengit di utarakan.


Untung saja ruang makan VIP ini tertutup, hanya ada mereka berdua yang berdebat. Hati Anisa panas, laki-laki dihadapannya ini jelas-jelas sudah menghina laki-laki yang begitu dia cintai.

__ADS_1


“suatu saat kamu akan mengerti bahwa saya tidak seperti yang kamu bayangkan, buang jauh-jauh pikiran burukmu tentang saya” ucapan Fatih dengan wajah serius. Baginya pekerjaan sia-sia menjelaskan semua pikiran buruk Anisa tentang dirinya saat ini. Wanita itu tidak akan percaya. Sekali lagi, pembicaraan itu tidak berjalan seperti yang dia harapkan. Kebencian di wajah Anisa bisa ditangkapnya dengan jelas.


Untuk saat ini mungkin Reno benar, dia harus membongkar kebusukan laki-laki tidak tahu diri itu. Bagaimana dia bisa menyia-nyaiakan wanita seperti Anisa. Wanita yang menjaga hatinya hanya untuk sang pujaan hati. Sementara laki-laki itu dengan tega menduakannya dibelakang Anisa.


__ADS_2