
Fira melihat kebiasaan aneh dari Anisa dari pagi, gawai tidak pernah lepas dari tangannya. Hari sudah siang, tapi Wajah murung adik iparnya tak jua berubah. Biasanya ketika mereka berkumpul ahir pekan ada saja kelakuan Usil Fira, mengerjai Rania sampai terbahak hingga membuat Adam menangis karena dicium terlalu kuat. Atau kadang dengan sengaja merampas mainan yang di pegang Adam. Dia akan berhenti kalau Ibu yang marah. Tidak ada gawai ketika acara ngumpul.
Ibu dan Syafira saling bertatapan.
Sesekali ditatapnya gawai, kemudian menaruh di tempatnya lagi, mereka memang bermain tapi Fira tahu isi kepala Anisa bukan sedang disini sekarang. Sesekali Fira menangkap tatapan Anisa kosong.
“Abang nggak ngasih tahu Kak Fira sudah sampai mana?” Benar dugaannya, kalau Anisa gelisa memikirkan Fatih. Fira tersenyum, wajah orang jatuh cinta ternyata menggemaskan.
“Nggak” jawabnya singkat. Di tatapnya wajah sang adik Ipar penuh selidik.
“Kakak Nggak kepikiran?” Wajah Anisa sendu, tiba-tiba Syafira merasa Iba, dia pernah mengalami yang dialami adiknya sekarang. “Kakak Nggak ngubungi” Tanyanya lagi. Syafira mendekat, di pegangnya tangan Anisa yang masih memegang mainan Adam.
“Jangan menghubungi suami ketika kerja, berikan kepercayaan penuh. Niat kita baik malah ganggu nanti” Ucapnya pelan. “Kalau Anisa kangen, gelisah atau tidak tenang bawa sholat saja. Doakan Allah melindungi dia dimanapun berada. Kita sama-sama berjuang. Kita tidak pernah tahu kesulitan apa yang dihadapi mereka di luar sana. Tugas kita sebagai istri hanya berdoa” Pandangan yang tadinya lurus, tiba-tiba menunduk. Anisa tidak tenang sebelum mendengar kabar dari suaminya.
“Nisa ke kamar dulu kak, ngantuk” Bohong, Anisa sedang tidak mengantuk. Hatinya sedang tidak enak. Bahkan dia tidak berniat melakukan apapun. Sudah siang tapi belum ada kabar. Mungkin kakak iparnya benar, shalat adalah cara untuk menghilangkan kegelisahannya saat ini.
“Ounty sakit ya, dari tadi diam” Bahkan Rania pun merasakan perubahan lain dari Anisa, Gadis kecil itu hanya menatap punggung Anisa sampai menghilang di balik pintu kamarnya.
“Jangan ganggu ounty sayang, biar dia sendiri dulu” Mengusap lembut rambut panjang Rania. Syafira kasihan melihat putrinya tidak bisa bermain seperti biasa. Bahkan ketika berangkat tadi dia sudah berencana mengajak Nisa jalan-jalan ke Mall. Timezone, adalah rencananya untuk menghabiskan liburannya dengan Anisa. Ternyata Rania harus kecewa melihat Anisa tidak ceria seperti dulu.
***
“Aku ngubungi Anisa sebentar” Fatih hendak berlalu dengan gawainya. Ini tidak boleh terjadi, dia tadi sudah tanya istrinya kalau Anisa sedang sedih menunggu kabar dari sang suami. Kalau sampai terjadi maka tidak mungkin Fatih tidak mengajaknya pulang. Pertemuannya masih tinggal tiga jam lagi setelah tadi meninjau lokasi proyek. Tinggal pembahasan mengenai Rencana Anggaran belanja dan penanda tanganan MOU, bagi perusahaan pemenang tender. Perusahaan Fatih sebagai penyandang dana sedangkan perusahaan Amir sebagai pelaksana.
“Jangan ganggu dulu, mereka sedang main. Kebiasaan Anisa kalau mereka ngumpul HP ditinggal di kamar jadi percuma” Amir tidak bohong tentang kebiasaan sang adik, tapi untuk kali ini dia berbohong karena Anisa melakukan hal di luar kebiasaannya. Duh, orang jatuh cinta itu memang merepotkan. Amir juga menangkap kegelisahan dari wajah Fatih semenjak peninjuan lokasi tadi.
“kalau begitu tanya Fira saja” Fatih tidak ingin menyerah, hatinya tidak tenang sebelum mengetahui kabar sang istri.
“Jangan menghubungi wanita bersuami, bisa jadi fitnah nanti” Kalau dulu, Amir akan cemburu jika Fatih menghubungi istrinya sebelum tahu hubungan Fira dengan Fatih sebenarnya. Sekarang dia hanya mencari cara agar Fatih tidak mengetahui kondisi Anisa.
“Cih, masih cemburu juga rupanya” Ejeknya Pada Amir. Dengan akting yang sempurna Amir memasang wajah marah yang dibuat-buat.
“Apapun hubungan diantara kalian aku tidak suka kamu menghubungi istriku” Cara terahir Amir untuk mencegah hal buruk terjadi. Citra perusahaannya sedang di pertaruhkan.
“Tidak usah khawatir berlebihan, aku tidak akan melakukannya” Dengan wajah angkuh Fatih membalas tatapan tajam Amir. Lagi-lagi Tuhan menyelamatkan dari kegilaan sang adik Ipar. Dia harus mencari alasaan lagi nanti, jika Fatih masih ingin menghubungi Adiknya.
“Setelah tanda tangan kontrak, ada acara gala dinner, untuk yang ini tidak perlu terlibat. Kita bisa pulang cepat” Tatapan Amir langsung tertuju pada mata lawan bicaranya. Dia ingin melihat bagaimana mata itu berbicara.
“Setuju, berapa jam lagi penandatanganan kontrak” Tanya Fatih dengan mata penuh binar persis seperti dugaan Amir.
“Setelah jam istirahat, sekitar satu jam dari sekarang. Harusnya tadi kamu bawa Reno atau yang lain. Aku merasa seperti asisten pribadimu. Ternyata bos besar tidak bisa apa-apa, aku kira kamu menguasai semua hal ternyata...”
“ Kau yang menjebakku. Dari awal kau tidak bilang kalau aku harus hadir juga” Ucap Fatih tegas, bagaimana bawa asisten. Dia tidak pernah berpikir kalau Amir akan mengajaknya. Dia pikir sebagai penyandang dana, membawa label perusahaan GLOBAL selesai, Fatih tidak perlu menunjukkan muka, siapapun tahu Bagaimana reputasi Perusahaan yang berskala internasional seperti GLOBAL.
“Rupanya kamu tidak paham, kebanyakan Reno yang handle kayaknya” Sindiran tegas Amir mendapat tatapan tajam dari Fatih.
“Kalau urusan seperti ini cukup Reno yang tangani. Bukankah di awal proyek itu sudah kita menangkan” Fatih tidak mau kalah berdebat dengan Kakak iparnya. “ Diamlah, aku butuh istitahat sekarang” berjalan menuju kamar hotel tempatnya beristirahat.
“Jangan melakukan kebodohan lagi, Akan ada banyak wartawan yang hadir, ini mega proyek. Kau akan mendapat sorotan kamera nanti. Mereka akan mencarimu bukan aku” Ucap Amir sebelum Fatih benar-benar pergi.
“Jangan khawatirkan kebodohanku, karena kebodohanmu hari ini aku akan muncul di hadapan mereka. Kalau kau bukan kakak iparku sudah lama aku menendangmu” Amir terbahak. Dia puas melihat kemarahan di wajah Fatih. Dia membiarkan laki-laki itu menghilang.
Fatih tidak pernah memperkirakan kalau dirinya yang akan hadir di hadapan halayak, dan lebih bodohnya lagi dia akan tampil di hadapan kamera. Dia sadar ketika publik mengetahui pemilik GLOBAL GROUP. Maka dia akan mendapatkan kesulitan. Itu artinya sang istri pun akan ikut terseret
“Kakak Ipar tidak punya otak” Gumamnya kesal. Sudah sangat terlambat untuk menghubungi Reno. Karena selama ini publik lebih mengenal Reno dari pada dirinya.
__ADS_1
Tampil di depan kamera setelah acara penanda tanganan proyek, membuat Fatih harus menutupi wajahnya dengan masker. Diliput majalah bisnis ternama membuatnya harus berpikir keras, bagaimana caranya agar wajahnya tidak terpampang disana. Untunglah dia memiliki postur tubuh yang mirip dengan Reno. Dia yakin publik tidak akan mengira bahwa itu adalah dirinya.
“Bisa kita pulang sekarang?” Tanyanya pada Amir, setelah melayani wawancara singkat dengan beberapa wartawan yang sempat mengejarnya. Acara yang dikemas sedemikian formal menyulitkan beberapa wartawan majalah dan televisi lokal untuk masuk. Hanya beberapa wartawan yang diperbolehkan, sedangkan majalah bisnis adalah penyeleggara acara.
Pengamanan yang ketat dari pihak hotel sangat membantu Fatih untuk tidak bertemu dengan banyak orang, apalagi infotainment dan sejenisnya. Fatih benar-benar menghindari mereka. paling pandai menggiring opini publik hingga masyarakat lebih percaya berita yang mereka sajikan dari pada kenyataan dilapangan.
“Gantian kamu yang bawa mobil” Amir melemparkan kunci,
“Benar-benar kau” Ucap Fatih geram setelah menangkap kunci.
“Kapan lagi aku di sopiri CEO GLOBAL, kalau mereka tahu akau bisa memerintahmu seperti ini, bukan tidak mungkin mereka akan menunduk hormat dihadapanku” Ucap Amir pongah, dia membusungkan dadanya penuh bangga di hadapan adik ipar yang raut wajahnya tidak terbaca.
“Kurang ajar sekali dia, kalau kau bukan kakak dari istriku, aku sudah melemparmu ke tengah laut” Benar-benar emosi Fatih di Uji. Bagaimana tidak Amir tidur dengan tenang di jok sebelahnya.
“Aku mendengarnya, sabarlah sebentar lagi kau akan bertemu dengan adikku” Ucapnya tenang. Amarah Fatih mereda. Dia tarik nafas, membuangnya dengan perlahan. Laki-laki disebelahnya ini benar-benar memanfaatkan keadaannya.
Memanfaatkan orang sedang jatuh cinta benar-benar menguntungkan. Paling tidak Amir bisa memakai nama adiknnya untuk meredakan emosi Fatih.
Mobil berhenti, macet panjang terjadi. Polisi sedang memperlakukan satu arah.
“Maaf pak, ada apa?” tanyanya pada sopir yang sedang melintas dihadapannya.
“Ada kecelakaan beruntun Pak, macet parah. Saya sudah menunggu dua jam baru bisa jalan” Jawaban Sopir tadi membuka lebar wajah Fatih, dua jam lagi, itu artinya dia akan tiba tengah malam di rumah
“Tidak ada jalan pintas?” Tanyanya pada Amir.
“Tidak ada, ini jalan provinsi apalagi jam pulang kantor, pasti lebih lama macetnya” Fatih menatap tajam, matanya bagai laser yang siap membelah tubuh Amir.
“Sabar, sini ganti aku yang bawa. Kadang orang kalau emosi otaknya tidak terpakai” kurang ajar bener mulut Amir menyindir Fatih. Dia tersenyum penuh kemenangan setelah mengahiri kalimatnya.
***
“Sudah eyang, nunggu om Abang katanya” Rania menjawab dengan keras, dia yang sedang menemani Adam bermain ikut menghampiri eyangnya.
“Kasihan Ounty, tidak enak badan kayaknya. Tadi Rania lihat tidur pakai mukenah” Fira dan Ibu saling bertatapan. Fira tersenyum bahagia. Ibu membalas dengan tatapan bingung.
“Ditinggal sehari kayak ditinggal setahun” Fira menahan tawa. Sekarang Ibu ikut tersenyum setelah paham apa yang dimaksud sang menantu.
“Nanti sakit adikmu” ucapnya lagi meletakkan mangkok berisi lauk.
“Kalau Abang datang pasti langsung sembuh” Kali ini tawa Fira benar-benar tidak bisa ditahan, sampai bahunya berguncang.
“Bunda kenapa tertawa” Pertanyaan polos Rania menghentikan tawa Fira. Dia tidak mungkin menjelaskan pada anaknya.
Entah jam berapa Anisa benar-benar terlelap, dengan gawai masih di tanagannya. Dia tertidur karena lelah menunggu. Tak satupun notifikasi masuk dari sang suami. Ingin marah tapi percuma. Dia hanya bisa mengikuti saran Kakak Iparnya.
***
Setelah tiga jam, ahirnya mereka berhasil keluar dari kemacetan. Terlihat beberapa mobil dan truck serta sepeda motor yang rusak parah. Amir bernafas lega, paling tidak kupingnya terbebas dari makian Fatih di tengah macet. Laki-laki itu menahan kesal setelah beberapa kali panggilannya tidak di jawab Anisa. Hatinya tidak tenang. Dia ingin segera sampai, menuntaskan rindu dengan melihat wajah sang istri.
Hari sudah larut ketika Fatih sampai di rumah, dia ingin segera masuk untuk melihat sang istri. Bagaimana wajahnya ketika mereka bertemu nanti. Kalau yang dikatakan Amir benar, bahwa sang istri akan berlari dan menangis menuntaskan rindu dipelukannya maka acara bulan madunya akan di percepat. Tidak peduli urusan pekerjaan, tujuan menaklukkan hati Anisa jauh lebih penting.
Pintu terbuka. Hening, itulah kesan pertama yang ditangkap Fatih.
“Sudah tengah malam, dia tidur di kamar. Istriku yang memberi tahu” Tanpa menoleh Fatih mempercepat langkahnya. Lampu masih menyala terang. Anisa tertidur dengan mukenah. Fatih menatap wajah teduh itu dalam lelap. Bukan wajah damai yang dia dapatkan. Tapi wajah sedih dengan raut yang terlihat kusut. Apa yang terjadi pada istrinya. Apakah harinya membosankan, hingga dia terlihat tidak senang. Bukankah ada Rania sama Adam.
__ADS_1
Mengambil gawai yang masih dalam genggaman, meletakkan di meja rias, Fatih kembali menatap wajah itu, masih sama dengan gambaran sedih bukan teduh seperti biasa.
Di usapnya wajah itu perlahan. Fatih hendak mencium kening istrinya. Urung, dia harus membersihkan diri terlebih dahulu. Perjalanan tiga jam di tambah kemacetan panjang membuat badannya gerah.
Bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri. Dia tidak ingin berlama-lama. Kalau Anisa bangun dia ingin istrinya menatap dirinya pertama kali.
Aroma sabun dengan wangi segar terhidu, Anisa menggerakkan matanya. Berat, karena baru satu jam yang lalu dia terlelap. Fatih jongkok di bawah ranjang, tangannya mengusap kening Sang istri dengan ibu jari lembut.
“Abang sudah datang? ” tanyanya dengan suara parau, matanya sulit dipisahkan.
“Hmmm...”Jawaban Fatih dengan tatapan tajam dengan rindu yang membuncah.
“Kenapa lama?” tanyanya lagi masih dengan mata terpejam.
Kakak Iparnya benar, Anisa mengucapkan kalimat yang di katakan Amir, Istrinya benar-benar merindu. Sempurna, tinggal menunggu Anisa bangun kemudian memeluk nya dan menangis.
“Nisa rindu Abang?” setelah mendengar Pertayaan Anisa, Fatih yakin bahwa istrinya sedang merindukannya.
Tidak ada jawaban, Anisa menggenggam tangan yang masih memegang keningnya, menarik ke bawah kepala di jadikan bantal. netranya kembali tertutup rapat sempurna, nafasnya teratur. panggilan sang suami berulang tak mampu membawanya ke alam sadar.
Fatih menarik nafas, senyumnya mengembang sempurna.
"Jangan salahkan Abang, kamu yang menginginkan nya" Ucapnya lirih. Fatih naik ke pembaringan, dia tidak bisa pergi karena tangannya di genggam terlalu kuat di bawah kepala sang istri. Tidak ada keinginannya untuk menarik tangan itu, Biarlah malam ini dia melanggar janjinya. Berbaring berdampingan dengan sang pujaan. Memuaskan dahaga akan rindu yang terpendam berjam-jam, untuk malam ini dia akan menatap puas wajah teduh dengan mukenah yang masih terpasang.
"Abang ngapain tidur disini?" Suara lengkingan Anisa, memaksa netra sang suami membuka perlahan. Nisa panik, posisinya duduk sempurna menatap tajam Fatih yang masih mengumpulkan kesadaran karena teriakan Anisa.
"Anisa yang minta" Jawabnya santai, masih posisi tidur miring tidak berubah dari awal.
"Tidak mungkin" Anisa bingung, tidak percaya dengan ucapan Fatih.
Fatih menarik dan mengangkat tangan mereka yang di genggam kuat Anisa, dengan mengangkat kedua alis dan anggukan lembut, dia memperlihatkan tautan tangan yang masih erat.
Anisa malu, bukankah tangannya yang menggenggam, bukan suaminya yang menginginkan.
"Abang ambil kesempatan ketika Nisa tidak sadar, kenapa abang nggak bangunkan Nisa?" Masih mencari celah untuk menyalahkan Fatih.
"Sudah" Jawabnya datar. Bangun, duduk berhadapan dengan sang istri.
"Kenapa nggak tepuk pipi Nisa, terus panggil, Nisa pasti bangun Bang" lagi-lagi dia mencari pembenaran atas kesalahannya.
"Sudah"
"goyang badan Nisa"
"Sudah"
" Abang pasti nggak melakukan dengan sungguh-sungguh, Nisa benci Abang" kesalnya dengan wajah di tekuk.
"Nisa nggak rindu Abang" Tanyanya dengan tatapan tajam memindai, kepalanya miring demi melihat jelas wajah Anisa yang menunduk.
"Nggak jadi" Anisa kesal. Turun, berjalan masuk ke kamar mandi.
"Nggak jadi?" Fatih mengulang ucapan terahir Anisa. dia bingung, artinya Anisa tidak merindukannya sekarang. menarik nafas panjang. ekspektasinya tidak sesuai. harusnya Anisa memeluk nya bukan, menangis karena rindu dalam dekapannya.
"Nisa pikir mimpi, Abang beneran datang. Bodohnya, buat apa Nisa pegang tangan Abang, memalukan" Wajahnya tersipu, dia bahagia ahirnya rindunya tertunaikan. Tapi sayangnya gengsinya terlalu tinggi.
__ADS_1
"Eh, tadi mau ngapain masuk sini" Gumamnya dalam hati, setelah sadar kalau dia berdiri didalam kamar mandi.