
Sayangnya Anisa tidak mendengar jawaban itu, hatinya sudah terlanjur sakit. Dia merasa dirinya sudah kalah. Menyerahkan segalanya sebelum jelas apa yang menjadi tujuannya menikah terlalu cepat. Nisa bukan wanita yang sabar menunggu jawaban sang suami. Airmata itu sudah terlanjur menganak sungai. Menyesal rasanya sudah terlambat. Toh, semua sudah terjadi. Hanya tinggal rasa sakit karena merasa salah dalam mengambil keputusan. Nisa tidak mungkin mendesak sang suami menjawab pertanyaan ibunya. Itu sama saja membongkar aibnya bahwa dirinya sudah menguping pembicaraan mereka walaupun tidak disengaja.
Wajahnya tertutup bantal, menyembuknyikan rasa sedih yang teramat dalam. Bahkan Nisa tidak bergerak ketika rungunya menangkap suara pintu kamarnya terbuka. Dia masih setia dengan posisinya. Hingga Nisa merasakan kasurnya bergerak pelan. Tidak usah mencari tahu siapa yang datang. Aroma citrus masuk kedalam indranya. Nisa tidak menyangkal kalau aroma itu masih menenangkan seperti biasanya.
Tubuhnya merasakan tangan kokoh melingkar dari belakang. Mendekap erat tubuhnya hingga menempel sempurna di dada sang suami. Damai, dan hangat. Rasanya masih sama seperti kemarin. Hanya saja, hatinya ingin menolak tapi akal sehatnya lumpuh setelah Fatih mencium ujung kepalanya. Walau masih tertutup hijab Nisa masih bisa merasakannya dengan jelas.
“Kenapa tiba-tiba masuk?” Bisikkan kalimat lembut di telinganya membuat tubuhnya meremang. Mengapa ahir-ahir ini hatinya begitu lemah. Setiap kali dia mendengar suara Fatih ingin rasanya dia berlari dan menghambur kepelukan sang suami. Tapi sayang harga dirinya masih menjadi pertimbangan.
“Capek” Hanya singkat, dia berharap Fatih mengerti kata capek yang dimaksud, bahwa dia ingin sendiri.
“Kalau gitu besok pulangnya naik pesawat” lanjutnya lagi. Membalik tubuh sang istri menghadapnya. Sekarang tatapan mereka beradu. Fatih mengernyitkan alis, menatap wajah sembab sang istri. “Kamu Nangis, ada apa?” mengusap pipi Anisa dengan ibu jarinya.
Sudah terlanjur, Nisa tidak bisa menyembunyikan air matanya. Nisa menunduk tidak berani menatap mata teduh suaminya. “Nisa kangen Ibu” Hatinya sakit, air matanya kembali mengalir. Dadanya terguncang. Biarkan dirinya berbohong untuk saat ini. biarkan dia puas menumpahkan air mata kecewanya.
Membawa Anisa kedalam pelukannya. Mengecup keningnya berulang. Mungkin ini perpisahan terlama bagi istrinya. “Tidurlah, besok kita pulang pagi. Maafkan Abang yang membawa Nisa terlalu lama” mengeratkan pelukannya.
Hangat, Nisa tidak bisa menghindar. Walapun keinginanya sangat besar untuk melepaskan diri, tapi tangannya bukannya mendorong tubuh sang suami, malah membalas pelukannya dengan lebih erat. Dia myembunyikan wajahnya di dada bidang Fatih. Sudah Nisa katakan, jika menyangkut Fatih hatinya terlalu lemah. Dia benar-benar tidak berdaya sekalipun rasa sakit itu masih terasa.
“Ambillah, ibu pakaikan” Membuka kotak perhiasan satu set untuk Anisa. “Ibu membeli dari hasil kerja keras Abangmu, dia mengirimkan uang pada ibu dari gaji pertamanya. Ibu simpan hingga cukup buat beli emas. Ibu berjanji akan memberikan pada istrinya kelak. Mudah-mudahan cocok” Mengambil kalung dan memasangkan di leher Anisa. “Bagus, cocok banget. Lihat, Nisa cocok kan pakai ini?” Bahagianya tak terkira melihat senyum terukir indah di wajah Anisa. gelang, cincin dia pakaikan juga di jari dan pergelangan tangan menantunya. “Cincinnya longgar sedikit tidak apa-apa” mengangkat tangan Anisa demi melihat jari manisnya.
“Terima kasih, Bu” mereka saling memeluk erat. Anisa menyayangi keluarga suaminya, terlepas dari perasaannya sama Fatih. Meskipun kecewa, tapi NIsa tidak bisa menyangkal kalau di mulai jatuh cinta di saat yang bersamaan.
“Harusnya jangan pulang dulu, tinggal lebih lama. Maafkan kalau ada kata-kata Ibu atau perilaku Ibu yang menyakiti Nisa” Menangkup kedua pipi menantunya dengan wajah berbinar. Sebenarnya dia tidak ingin menangis tapi airmatanya keluar dengan sendiri. “Kalau nanti perhiasan ini mau di lepas tidak apa-apa. Asal jangan sampai hilang. Nilainya tidak seberapa, tapi ini gaji pertama suamimu” Kembali mereka saling berpelukan hangat.
__ADS_1
“Terima kasih Ibu sudah menerima Nisa dengan baik, memperlakukan NIsa seperti anak sendiri. Nisa pasti akan merindukan semua yang ada disini” ucapnya penuh haru.
Hal yang sama pun dilakukan pada kedua adik iparnya. Dan terahir Bapak, NIsa hanya mencium tangan itu dan dia menerima usapan lembut di kepalanya. Airmatanya tiba-tiba mengalir, Nisa rindu belaian Ayahnya, dan dia mendapatkan itu dari Ayah mertuanya.
“Bisa berangkat sekarang?” Fatih muncul dengan dua koper ditangannya.
Semua orang mengantar Anisa sampai di halaman depan, seorang sopir sudah menunggu didalam
“Bawa sopir?” Tanyanya denganTatapan bingung
“Kita ke bandara. Lihat Nisa kecapean lebih baik naik pesawat” Menggandeng tangan Anisa masuk ke Mobil
“Ada?” Nisa tidak pernah tahun kalau di kota kecil ini ada bandara. Terus, untuk apa suaminya mengajaknya naik mobil ketika berangkat.
“Pesawatnya besar” Seperti seorang anak yang bertanya pada ibunya bagaimana bentuk pesawat.
“Jangan bayangin punyanya maskapai yang itu, disini pesawatnya kecil. Punya Susi Air”
Diam, NIsa tidak bertanya lagi, hanya keheningan yang menemani perjalanan mereka. hingga duduk didalam pesawat NIsa masih belum membuka suara. Hatinya masih terasa kecewa. Di alihkannya pandangan memutari Bandara ini. kecil, tapi Fasilitasnya memadai.
“Masih capek?” Fatih menyentuh tangannya, menggenggam erat. NIsa mengalihkan pandangan. Tersenyum sekilas, kemudian menatap keluar jendela lagi.
Dia membawa tangan Anisa di pangkuannya, mencium punggung tangan itu berulang.
__ADS_1
“Ada, bicaraku yang salah?” Tanyanya ragu, yang hanya di balas dengan gelengan kepala.
“Ibu, Adikku, atau Bapak” Lagi-lagi NIsa menggeleng. Tidak ada yang membuatnya tersinggung. Entah mengapa hatinya tidak ingin membuka diri lagi. Nisa ingin menghindar seperti dulu. Menutup hatinya kembali dengan rapat. Tapi bisakah, sementara dia mulai nyaman dengan perlakuan sang suami. Semua sentuhan dan pelukan itu, mampukah dia menahannya.
“Kamu diam sejak malam tadi. Padahal pulang dari sana kita kelihatan bahagia. NIsa kalau ada perbuatan Abang yang salah ditegur, jangan diam. Abang tidak akan tahu harus apa?”
“Nisa kengen Ibu” Ini jawaban yang sama kedua kalinya. Fatih tahu istrinya menyembunyikan sesuatu tapi apa.
“Sebentar lagi kita ketemu Abangmu yang jemput di bandara. Abang sudah ngabari mereka kalau kita pulang hari ini” .
Membelai kepala sang istri. Semua yang dilakukan tubuhnya adalah bahasa cinta. Fatih tahu, pesan itu tak sampai pada istrinya. Apa mungkin Nisa telalu lugu atau memang Fatih yang tidak bisa melakukan dengan baik.
Menarik Anisa kedalam pelukannya, sayangnya mendapat penolakan. Anisa mendorong tubuh itu perlahan, kemudian kembali menatap jendela.
"Nisa kenapa, marah sama Abang?" Tanyanya bingung, bukankah hubungan mereka sudah membaik, tidak ada salahnya menarik sang istri tidur di dadanya.
Bukan Nisa tidak mau di peluk Fatih, dia juga menginginkan hal yang sama, tapi hatinya gamang menilai sikap laki-laki didepannya. Masih tidak bisa menebak perasaan suaminya. Nisa tidak pernah mendengar Fatih mengatakan cinta, tapi selalu berjanji untuk membahagiakan, dan melindunginya. Nisa menyadari sekarang, dia istri yang hanya sebagai tanggung jawab Suami, bukan istri yang dicintai. Sekali saja Nisa ingin mendengar Fatih menyatakan cinta dengan sungguh-sungguh. kalau memang itu benar, bukan perkara sulit mengatakannya.
"Nisa lelah, biarkan begini sampai kita tiba nanti" Menyandarkan kepalanya ke belakang. Bukan lelah fisik tapi bathinnya yang terlalu lelah berpikir. Ternyata, suasana hatinya menghilangkan semangat, dan rasa bahagia dalam waktu bersamaan.
" Tetap pegangan tangan nggak apa-apa kan?" Bertanya dengan hati-hati. Takut menyinggung perasaan sangat istri.
"Terserah" Kata yang benar-benar keramat ahirnya keluar dari bibir sang istri. Sekarang Fatih menyadari bahwa ada yang salah dengan istrinya. Suasana hati Anisa sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Mendesah panjang, melepaskan ketegangan, bagi Fatih tiga puluh menit kedepan akan lebih mencekam dari cuaca buruk ketika naik pesawat. Sekarang dirinya bahkan tidak berani menyentuh tangan sangat istri., dia tahan keinginan itu, walau hatinya sangat ingin.