MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
KETAKUTAN NISA


__ADS_3

Seandainya ibunya tahu bahwa Fatih laki-laki sombong yang sering mencabik harga diri Nisa, masihkah ibunya akan merasa bangga dengan Fatih. Playboy yang sedang berusaha menaklukkannya.


Tapi Nisa tidak mungkin mengatakan itu semua, biarlah urusannya dengan laki-laki itu hanya dia yang tahu. Dia akan menyimpannya sendiri.


“rasanya tidak mungkin minta tolong Fatih bu, saya ingin bangga dengan pencapaian sendiri. Berharap pada saat Fira dan Rania kembali nanti dia akan bangga dengan perjuangan saya tanpa bantuan orang lain” ucapan abangnya bagai oase di gurun pasir sangat menyejukkan hati Anisa. Itu yang dia harapkan. Jangan bergantung pada laki-laki itu.


“Nisa setuju bang, nggak ada hebatnya laki-laki yang bisa berdiri karena bantuan orang lain, Nisa rasa, kak Fira juga akan merasakan hal yang sama” tersenyum penuh kemenangan, melewati satu ketakutan dalam dirinya.


“kalau nanti kamu bertemu Fatih, sampaikan salam dari ibu. Ajak dia main kesini nak. Ibu belum sempat bilang terimakasih” masih dengan tujuan awal. Segitu pentingnya kah ucapan terima kasih.


“Bukannya di rumah sakit ibu sudah bilang waktu abang mau pulang” nada tidak suka. Bagi Nisa ibunya terlalu berlebihan.


“Rasanya kurang Nis, ibu belum mengajaknya makan masakan ibu. Pasti dia suka” Nisa menatap sang ibu tajam. Ibunya tersenyum tatapannya beralih ke teve. Tayangan itu sekarang menjadi tidak menarik lagi. Ucapan ibunya membuat dia kehilangan semangat. Bisa-bisa diatas angin nanti kalau sampai laki-laki itu masuk kerumahnya.


Nisa akan mencari cara agar ibu dan laki-laki itu tidak sampai bertemu.


“ibu berlebihan” hanya itu yang terlontar


“kamu kenapa, bukankah penting menjalin silaturahim dengan laki-laki yang sudah banyak membantu kita. Tidak ada yang berlebihan. Kecuali ibu meminta dia menjadi menantu ibu. Itu yang berlebihan” ke anehan lain ditangkap sang ibu, Dia paham bahwa Nisa tidak suka Fatih. Tapi apa salahnya, Fatih laki-laki yang baik tidak pernah berbuat salah pada keluarga mereka.


“ibu apa apaan, jangan sampai ibu melakukan itu, harga diri bu. Lagian laki-laki seperti dia perempuannya tidak Cuma satu” ketus, Nisa memasang wajah masam, ibunya semakin bingung.

__ADS_1


“setahu abang dia laki-laki yang baik, Fatih tidak punya hubungan dengan perempuan manapun. Dia bukan laki-laki brengsek seperti kebanyakan laki-laki berduit” Amir bersuara, dia yang mendengar percakapan ibu dan adiknya seolah gatal ingin menanggapi pendapat Nisa tentang Fatih yang di cap playboy.


“Abang saja yang tidak tahu” dengan nada malas Nisa berlalu. Dia tidak suka semua orang membela laki-laki yang dia benci.


“adikmu itu kenapa, sepertinya tidak suka sama Fatih. Tapi apa, ya?” sang ibu menoleh ke Amir. Laki-laki itu mengedikkan bahunya. Dia sama bingungnya dengan sang ibu. Amir menangkap ada rasa tidak suka yang tidak biasa dalam diri adiknya itu.


***


“aku tunggu sekarang di restoran Hotel jingga, kita makan siang” suara disebrang membuat hati Nisa benci. Sok ngatur, salah satu sifat yang dia tidak suka dari Fatih.


“maaf saya tidak bisa, ada bimbingan untuk anak-anak yang akan ikut olimpiade” jawabnya malas.


“kamu bilang pertemuan ini tidak penting. Sekarang waktunya kamu mencicil hutang, kalau kamu lupa.” Nisa tersentak. Bagaimana dia bisa lupa. Sudah dua minggu berlalu dia pikir Fatih sudah lupa. Dasar laki-laki perhitungan hutang segitu saja di tagih. Wajah ramah itu berubah menahan amarah.


“berapa nomor rekeningnya, saya transfer sekarang” nadanya tegas, dia tidak ingin terikat hanya karena urusan tidak penting menurut Nisa.


“sudah saya katakan, saya tidak menerima pembayaran nominal. Uang saya banyak kalau kamu lupa” jawab Fatih santai


“sombong” Nisa mengumpat. Bagaimana laki-laki sombong dan arogan itu bisa dibilang baik sama ibunya. Apa bagusnya coba. Fikiran Nisa melayang pada Pujian ibunya tentang Fatih. Nisa sedang mencari dimana letak baiknya Fatih. ternyata dia laki-laki yang pandai bersandiwara. Semakin bencilah Nisa.


“Reno menunggu di depan, cepatlah kita hanya punya waktu satu jam dari sekarang” Nisa mendengus kesal. Sok memerintah, seolah semua orang harus tunduk pada laki-laki itu.

__ADS_1


“saya tidak mau, dan anda tidak berhak mengatur hidup saya” tidak ada kepentingan bagi Nisa mematuhi perintah laki-laki itu. Dalam pekerjaannya laki-laki itu bukan siapa-siapa baginya sehingga dia akan mendapat hukuman jika melanggar.


“baiklah ibu guru Anisa, saya beritahu anda. Kemarin jumlah orang yang makan kalau tidak salah tiga puluh orang. Itu artinya anda akan membayar sebanyak tiga puluh kali kencan dengan saya. Tapi karena saya orang baik, saya beri anda keringanan,kalau anda datang hari ini anda hanya boleh membayar lima kali pertemuan saja. Bagaimana ringan bukan” Ringan dari mananya bertemu satu kali saja sudah semakin memupuk kebencian itu di hati Nisa. Lah, ini masih harus lima kali. Nisa kesal, Dia tidak punya pilihan lain.


Dengan segera wanita itu mengambil tas tangannya, keluar setelah meminta ijin pada kepala sekolah. Bergegas ke gerbang sekolah. Sebuah mobil sedan hitam sudah menunggu lengkap dengan Reno yang berdiri menyambutnya dengan senyuman. Membuka pintu dan menutupnya setelah Nisa duduk dibelakang.


Mobil melaju lambat. Nisa menoleh ke luar jendela. Dia rasanya ingin marah tapi pada siapa, Fatih, rasanya dia tidak bisa marah dengannya. Bahkan setiap kali dia marah tidak berpengaruh apapun.


“bagaimana kamu bisa betah kerja sama orang seperti tuanmu itu” tanpa menoleh Anisa berbicara pada Reno


“tuan baik” selalu itu yang dikatakan orang tentang Fatih. entah mengapa bagi Nisa tidak begitu. Diktator dan tidak ada kebaikannya sama sekali, itu yang lebih tepat.


“di bayar berapa kamu untuk memuji dia di hadapan saya” kesal, bahkan Reno mengatakan dengan santainya


“seandainya pun saya tidak dibayar, saya tetap akan bekerja untuk tuan” tatapn Reno fokus kedepan. Ganti tatapan Anisa yang tajam ke arahnya. Tanpa Reno sadari wanita yang duduk di jok belakang itu bertanya-tanya tentang ucapan yang baru saja terlontar dari bibirnya. Sehebat apa tuannya sampai-sampai manusia sekelas Reno rela tidak di bayar. Kekuatan apa yang dimilik Fatih. itu pertanyaan yang sedang menari di benak Anisa.


Lima belas menit, mobil berhenti di parkiran Hotel ternama di kota ini. Anisa turun setelah Reno membukakan pintunya. Diperlakukan istimewa bukan keinginan Anisa. Apalagi dia akan bertemu dengan sang pria arogan.


Kira-kira kalimat apalagi yang harus dipersiapkan gadis itu agar Fatih tidak ingin lagi bertemu dirinya. Mungkin keahlian lidahnya harus dipertajam lagi. Begitu pikir gadis itu sambil berjalan mengikujti langkah Reno.


Langkah Anisa terhenti, tepat di restoran hotel yang mereka datangi. Dia mengerjap beberapa kali memastikan pandangannya tidak salah. Laki-laki yang duduk di pojok restoran itu, yang sedang mengumbar senyum pada gadis didepannya. Bahkan tanpa malu mereka saling menggenggam tangan mesra.

__ADS_1


__ADS_2