
Anisa berjalan dari parkiran, tas selempang yang tersampir di bahunya. Batik warna biru, stelieto warna hitam menambah anggun penampilan. Berjalan dengan tatapan sesekali menoleh untuk tersenyum pada siswa yang kebetulan berpapasan dengan siswanya. Menyambut uluran tangan siswi yang ingin mencium tangan itu.
Senyum lembut itu tidak pernah lepas dari wajahnya. Mengucap salam setelah duduk di meja kerjanya. Tatapan dari para guru rekan sejawatnya tidak diindahkan. Tatapan penuh tanya tentang kepastian hubungan Anisa dengan laki-laki yang mengaku teman SMAnya.
Mengambil tumpukan buku tulis siswanya memeriksa lagi satu persatu. Tatapan itu sesekali beralih ke jam di pergelangan tangannya.
“Bu Nisa, saya minta laporan hasil tryout matematika kelas XI. Sekalian nama-nama kandidat yang mau kita ikutkan lomba olipmiade tahun ini” pak jamal, kepala sekolah di SMU tempat
Nisa mengajar.
“sebentar pak, saya sudah menemukan tiga nilai terbaik. Dan memang ketiganya ini yang saya andalkan dari awal” menyerahkan kertas berisi nilai siswa yang telah mengikuti try out.
“terima kasih, saya evaluasi dulu. Nanti penentuaannya waktu istirahat. Soalnya ada beberapa mata pelajaran yang akan kita ikuti. Yang saya khawatirkan satu siswa namanya muncul dua kali” menerima kertas dari Anisa.
“Bu Rosi belum datang ya?” tanyanya. Menatap Nisa meminta jawaban.
“Maaf pak, saya belum melihat beliau” sahut Nisa sopan.
“kalau nanti datang tolong panggilkan ke ruangan saya” ucap sang kepala sekolah pelan hendak berlalu.
“baik, nanti saya sampaikan” duduk kembali di meja kerja nya. Sebuah ruangan luas yang terdiri dari beberapa meja dan kursi masing-masing guru. Tiap meja terdapat satu buah perangkat komputer lengkap dengan mesin pencetak kertas. Tanpa ada sekat berupa kubikel seperti di perkantoran pada umumnya.
“Bu Nisa, itu yang minggu kemarin kesini mencari Bu Nisa itu bener teman SMA ya” bu yatik. Wanita empat puluh tahun. Keingin tahuannya cukup besar mungkin naluri keibuannya tiba-tiba bangkit ketika melihat hal yang diluar kebiasaan terjadi disekitarnya.
“Iya bu” berbohong. Tentu saja, tujuannya agar menghindari pertanyaan lanjutan. Kalau jawaban yang keluar dari bibir Nisa adalah kejujuraan, bisa dipastikan pertanyaan lanjutan lebih panjang dari pertanyaan utama.
“ooo...” tidak ada kelegaan dari nada “O” yang keluar. Harapan Nisa semoga rekan kerjanya ini benar-benar percaya, itu saja. Nisa tidak ingin membahas tentang laki-laki yang tiba-tiba muncul di depan kelasnya waktu itu.
Tersenyum semanis mungkin sambil menunduk sopan. Senyuman itu mendapat balasan dari bu Yati. Tapi tatapan seolah ingin bertanya lagi itu tersirat.
“saya kira...” lihatkan, wanita satu ini tidak akan berhenti. Pertanyaan menggantung itu hanya pancingan demi menuntaskan rasa penasaran
“beneran teman SMA bu” dengan cepat Nisa memotong.
Nisa ingin Marah sama Fatih, bagaimana laki-laki itu bisa muncul di sekolah. laki-laki itu tidak akan tahu apa dampak yang harus dia tanggung. Lihat saja sudah seminggu berlalu tapi seolah kecurigaan teman kerjanya tentang sosok Fatih masih menggantung pikiran mereka.
Kalau di pikir, teman SMA tidak akan datang dengan sikap manis ke tempat kerjanya. Kalau area perkantoran mungkin tidak akan jadi masalah. Ini area sekolah. Tempat formal yang semua rekan kerjanya saling mengenal karena tidak ada divisi seperti perkantoran yang saling tidak peduli antar rekan kalau tidak satu bagian.
“Nis, makan siang bareng ya” Bu Rosi. Guru mata pelajaran akuntansi berbisik
“pesen online saja ” jawab Nisa malas, Dia tahu apa tujuan Bu Rosi mengajakanya makan siang
__ADS_1
“saya yang traktir, kebetulan restoran yang baru buka itu seafoodnya juara, saya sudah nyoba” antusias Bu Rosi mengajak Nisa, Tapi lagi-lagi jawaban malas Anisa berikan.
“saya sedang malas makan Seafod bu” tanpa semangat. Seandainya acara traktiran itu tidak punya tujuan lain mungkin Nisa akan senang hati mengiyakan
“wah, Bu Rosi ulang tahunkan sekarang” pak Iwan, menjawab setelah mendengar kata traktiran dari bibir Bu Rosi.
“bagaimana kalau pulang kantor saja bu, masih dua jam lagi kita makan di restoran yang baru buka depan pintu gerbang masuk kabupaten, saya dengar kepiting saos padangnya enak banget” satu orang lagi menimpali
Ahirnya ruangan guru itu menjadi gaduh karena acara traktiran Bu Rosi yang sedang berulang tahun. Bahkan mereka menentukan sendiri tempat dan waktunya. Wanita yang sedang merayakan hari ulang tahun itu hanya tersenyum kecut ke arah Nisa.
“maafkan saya Bu Rosi, saya tidak tahu kalau sekarang ulang tahun kamu” Nisa merasa tidak enak. Dia bahkan menolak acara itu karena mengira Bu Rosi akan membahas tentang Fatih. Ternyata, ada banyak hal yang harus Nisa rubah dalam dirinya.
Terlalu cepat berperasangka buruk itu salah satu kelemahan dirinya. Dia memang mengakui itu. Dirinya yang tidak bisa langsung percaya dengan keadaan sekitar sebelum mata dan telinganya benar-benar menyaksikan sendiri.
“Tidak apa-apa, santai saja, seharusnya saya memang mengajak mereka semua. Saya kira berdua saja dengan Bu Nisa sudah cukup” jawaban santai wanita itu. Semakin membuat hati Nisa dilanda rasa tidak enak. Seandainya pun Bu Rosi menyalahkannya dia akan terima. Tapi wanita sebayanya itu justru santai seperti tidak terjadi apa-apa.
Kegaduhan di rumah makan seafood masih terdengar. Jam menunjukkan angka dua siang. Perut yang cukup kosong untuk menerima asupan makanan dan segelas minuman dingin membuat mereka tidak sabar berebut memesan menu masing-masing. Lesehan dengan meja besar sudah di atur pelayan. Tinggal menunggu menu siap terhidang di meja makan.
“saya benar-benar minta maaf. Sebagai permintaan maaf, biarkan saya yang bayar tagihannya” suara Nisa. Masih berusaha menebus kesalahan yang dia pun benar-benar tidak sengaja membuatnya. Sepele memang hanya menolak ajakan makan siang. Tapi lihat, sekarang justru satu sekolah yang berjumlah sekitar tiga puluh orang yang bisa ikut.
“tidak usah Bu Nisa, santai saja. Uang saya masih cukup tidak usah khawatir” mereka berbicara pelan. Hanya berbisik takut terdengar oleh guru-guru yang lain.
“silahkan bu, nanti saya pesan setelah yang lain” Bu Rosi. Guru satu itu memang bisa membaca keadaan. Tidak akan selesai memesan satu menu, karena tujuannya adalah melebihkan pesanan agar bisa dibungkus di bawa pulang.
Semua selesai, keadaan menjadi hening. Laki-laki gagah itu tampak berjalan mendekat. Semua gerakan itu tertangkap indra Anisa. Ingin rasanya berlari dari tempat ini secepatnya. Atau paling tidak ingin menghilang saja agar tidak bertemu dengan laki-laki paling Nisa hindari itu. Doanya dalam hati semoga teman-temannya tidak ada yangn mengetahui keberadaan Fatih, atau seenggaknya mereka tidak mengenali Fatih.
Betapa sempitnya kota ini, seolah kemanapun dia pergi, laki-laki itu selalu megikutinya. Langkah Fatih semakin mendekat, jantung Nisa berdegup kencang, takut ketahuan itu yang menjadi alasan percepatan picu jantungnya saat ini. Menunduk adalah caranya agar tidak di kenali.
Terlambat, Fatih mengenalinya. Langkah Fatih terhenti tidak berbalik memang hanya diam berdiri di tempatnya. Laki-laki itu tidak tahu harus mendekat atau pura-pura tidak kenal. Berjalan kembali menuju meja yang lain. Di pojok berdua dengan Reno. Pandangannya lurus. Hanya sesekali Fatih mencuri pandang dengan Rombongan yang duduk tepat di sebelah kanannya. Kegaduhan tertangkap indranya.
Sesekali tawa canda mereka membuat Fatih menarik ujung bibirnya. Kopi hangat, sebagai teman siang ini. Fatih bukan tanpa tujuan ke tempat itu. Sang kepala daerah memintanya bertemu di tempat ini. Membahas lanjutan proyek pembanguann pusat perbelanjaan yang waktu itu.
Menolak, sudah beberapa kali fatih lakukan. Sekarang waktu yang tidak bisa dia tolak lagi. Hanya sebentar itu janjinya. Semoga saja tidak ada pembicaraan menjurus ke arah politik. Sepertinya itu adalah topik yang dihindari Fatih ahir-ahir ini.
Semua sudah selesai, acara makan bersama itu sudah menghabiskan semua menu yang tersedia di piring mereka, tentu saja membungkus makanan yang belum tersentuh telah dilakukan Bu Yati. Nisa segera berjalan ke arah kasir, sebelum didahului temannya. Berdiri di Kasir menunggu perhitungan jumlah makanan yang telah mereka pesan.
“semuanya satu juta dua ratus enam puluh sembilan Ribu Rupiah mbak” ucap kasir. Nisa terperangah angka melewati satu juta. Bukan dia tidak punya uang. Hanya saja uang cashnya tidak sebesar nominal yang disebutkan kasir tadi.
“bisa bayar pakai kartu enggak mbak uang cash saya tidak cukup, maaf ya”? Nisa menunduk.
Ada rasa menyesal dia menawarkan diri membayar semua makanan teman-temannya. Nominal bukan masalah baginya. Kartu ATM yang diberikan kakak iparnya isinya lebih dari cukup untuk membayar ini semua. Tapi, dia tidak menyangka bahwa, angka yang dihabiskan teman-temannya makan disini lebih besar dari uang cash yang tersimpan di dompetnya.
__ADS_1
“bisa, sebentar ya mbak” sang kasir mengambil sebuah kotak persegi berlambang logo sebuah bank Swasta.
“semua tagihan mbak ini masukkan ke saya ” Nisa terperangah, dia mengenali suara itu. Laki-lai yang dia hindari tu bagaimana bisa menyusulnya ke kasir. Nisa memutar bola matanya. Menghembuskan nafas kasar.
“tidak usah terima kasih uang saya masih cukup untuk membayar ini semua” Nisa tidak suka ada yang tiba-tiba menyerobot antriannya. Apalagi Fatih yang melakukan. Sepertinya dia memang sengaja ingin membayar tagihan makan Anisa.
“masukkan tagihannya ke saya mbak ini kartunya” Fatih mengulang kalimat nya.
“simpan saja uang Anda, terima kasih. Tapi uang saya masih cukup”
"Saya tidak menerima penolakan, tolong masukkan tagihannya ke saya mbak” Nisa tidak melawan. Rasanya percuma berdebat dengan Fatih.
“berikan nomor rekening anda, saya akan mentransfer uangnya”
“saya tidak menerima pembayaran nominal, saya akan meminta pembayaran dengan cara lain. Kapan dan dimana saya yang akan menentukan” tanpa menoleh suara itu sampai ke telinga Anisa. Dia sudah menyangka apa yang dilakukan laki-laki itu tidak akan ada yang gratis.
“sial!” pelan, tapi sampai ketelinga Fatih.
“apa ibu guru sedang mengumpat?” tanyanya, dengan senyum yang ditahan. Entah bagaimana melihat wajah kesal sang gadis Fatih merasa sedang memegang kemenangan. Dia akan menggunakan alasan hutang itu untuk meluluhkan hati sang gadis. Sekarang saatnya, menunjukkan sisi lain dari dirinya dihadapan Anisa. Sekali lagi, senyum kemenangan itu terbit
“berikan nomor Hpmu nanti aku akan mengatakan kapan dan dimana anda harus membayar hutang”menjulurkan Gawai ditangannya ke arah Anisa. Dengan kasar Anisa mengambil gawai itu. Kuncinya sudah terbuka dia hanya memasukkan nomornya saja. Memberikannya kembali kemudian berlalu dengan tergesa.
“Anda memberikan nomor yang salah, jangan coba-coba membohongi saya karena kalau tidak hutang itu akan berbunga berkali-kali lipat dari nominal awal”
“ternyata Anda bukan orang yang tulus membantu” tatapan kebencian itu semakin terlihat. Sekali lagi Anisa mengambil gawai itu dengan kasar. Mengoreksi nomor HP yang diberikannya tadi
Baru beranjak satu langkah, gawainya berdering buru-buru Nisa mengambil. Nomor asing, dia mengernyit alisnya bertaut “siapa?” pikirnya dalam hati.
“itu nomor saya, disimpan takut nanti butuh sesuatu” senyum manis tercetak di wajah Fatih senyum bahagia yang tak mampu disembunyikan.
“tidak sudi” ketus sambil berlalu. Bagi Nisa ini adalah hari tersial dalam hidupnya. Harus bertemu dengan laki-laki itu bahkan dia sekarang punya urusan hutang piutang. Dia membenci semua ini. Seharusnya dari awal Anisa tidak pergi ke acara makan-makan teman kantornya.
Tapi tidak bagi Fatih, hari ini dia mengalami keberuntungan beruntun. Mendapatkan nomor sang pujaan dan mengikat wanita itu dengan urusan hutang piutang. Ah, tidak ada alasan bagi Nisa untuk menjauh darinya. Uang memang bisa mempermudah urusan. Dia yakin Nisa punya uang sebanyak itu tapi keberuntungannya bisa membayar tagihan makan teman-teman wanita pujaannya, sehingga membuat wanita itu mau tidak mau semakin terikat dengannya.
Kalau ini yang dikatakan licik Fatih akui dirinya melakukan sedikit taktik, tapi tidak mau dibilang licik, baginya istilah itu terlalu kasar dia tidak suka.
langkah awal Fatih nilai sempurna selanjutnya dia akan menjalankan rencananya menagih hutang secara bertahap. Fatih seperti menemukan tambatan hatinya. laki-laki itu yakin ingin menghabiskan senja bersama Anisa.
*Hai... mohon maaf baru sempat Up lagi. author baru sembuh.
dengan cover naru, judul baru isinya tetap sama... selamat menikmati*
__ADS_1