
Wanita yang telah sah menjadi istrinya beberapa menit yang lalu, sekarang berdiri dihadapannya. Tatapan mereka bertemu. Fatih yang gugup setengah mati, mencoba meredakan debaran jantungnya. Tarik nafas buang lagi, entah sudah yang keberapa kali sejak gadis itu keluar dari kamar di apit Syafira dan Chika. Fatih sudah melihat ketika kemarin mereka fitting baju, tapi hari ini baju itu terlihat begitu sempurna di pakai Anisa. Bukannya berhenti air di sudut matanya masih menetes. Dia menyeka dengan ujung jarinya. Entah mengapa rasa ragu itu kembali menyergap. Mampukah dirinya membahagiakan Anisa, tidak akan menyakitinya sesuai apa yang dijanjikan pada Ipar dan ibu mertuanya. Tangisnya bahagia, rasanya seperti mimpi hubungannya dengan Anisa sampai kepelaminan.
Tidak dengan Fatih, tatapan Anisa datar. Dia ingin tertawa melihat laki-laki dingin itu beberapa kali mendongakkan kepala menghalau air matanya agar tidak menetes. Mungkin bagi Fatih pernikahan ini sangat berarti. Tapi tidak dengan Anisa, pernikahan ini hanya sekedar prosesi untuk membahagiakan ibunya. Tidak ada yang bisa di harapkan kedepannya. Cinta, Dia bukan wanita naif yang mengharapkan cinta dari Fatih. Dia tidak tahu seperti apa pernikahan yang akan dijalaninya
nanti. Yang jelas, melibatkan hati dalam hubungannya dengan Fatih tidak ada dalam kamusnya.
Suara MC, memecah keheningan. Suara wanita itu mengarahkan Fatih untuk menyematkan cincin di jari manis sang mempelai wanita. Fatih memegang tangan Anisa. Memasukkan cincin kejari manisnya, dia benar-benar menyentuh tangan Istrinya, jantungnya berdegup lebih kencang, senyum tidak luntur dari wajahnya. .
Anisa mencium tangan suaminya, untuk pertama kalinya. Hatinya berdebar, tapi dia menghalaunya, tidak ingin terlihat siapapun. Nisa tidak ingin rasa itu tumbuh, Dia sungguh tidak mau. Dari tadi dia menyingkirkan perasaannya, dalam hal ini hati tidak boleh ikut campur. Dia merasakan tangan Fatih menyentuh kepalanya.
Fatih merapalkan doa sebagai suami kepada istrinya, doa suci yang akan di dengar oleh penghuni langit, dan ribuan malaikat ikut mendoakan. Semua hening, tidak ada yang mengeluarkan suara. Semua yang hadir ikut hanyut akan khidmatnya prosesi sakral.
Sang ibu bahkan tak kuasa menahan tangisnya. Ada rasa bahagia, tapi juga sedih karena setelah ini Anisa sudah bukan miliknya lagi seutuhnya. Dia tahu itu, saat ini akan tiba, anak-anaknya satu persatu meninggalkannya, membangun hidupnya sendiri. Suara tepuk tangan menyadarkannya.
Kedua mempelai berjalan menuju pelaminan, tangan mereka saling bertaut erat. Fatih hanya ingin memastikan bahwa tangan ini nyata, senyata kisah mereka. Satu persatu kerabat dan teman-teman menyalami memberikan ucapan selamat. Fatih yang terlihat tersenyum, bahagia sementra disebelahnya hanya memberikan senyum sebagai formalitas.
Semua tamu menyantap hidangan setelahnya, ini adalah acara puncak yang paling ditunggu.
Sesi foto pun sudah usai, sekarang tinggal mereka berdua duduk diatas Singgasananya sebagai raja dan ratu sehari dalam kesederhanaan. Kaki Anisa terasa kebas, memakai sepatu dengan heels tinggi bukan kebiasaannya. Duduk sambil meluruskan kakinya setelah luput dari pandangan tamu.
“Kakimu pegel ya, seharusnya heelsnya jangan terlalu tinggi, aku lupa bilang sama pihak Wardrobe kemarin, pasti nggak nyaman” Fatih mmeperhatikn istrinya yang memijat betisnya perlahan. "Sini kan, saya bantu" Badannya membungkuk tangannya terulur hendak membantu Anisa.
“Tidak masalah” Ucap Anisa santai, sambil menggeser kakiknya. “Surat perjanjiannya sudah di buat? ” lanjutnya lagi.
“Perjanjian, tentang?” Alis Fatih berataut, Dia belum paham apa yang dibicarakan Anisa. “Perjanjian nikah kontrak kita” dengan yakin Anisa berucap, nadanya rendah, dia tidak mau siapaun mendengarnya. Tentang pernikahan konyol yang terlihat sempurna.
“Kita, nikah kontrak?” Mengulang pertanyaan Anisa untuk kedua kalinya, memang dirinya tidak pernah merasa melakukan itu, ataupun berencana untuk melakukannya.
“Iya, seperti yang saya baca di novel, seorang CEO menikahi gadis biasa itu bukan karena cinta, pasti karena suatu hal. Bisa jadi karena menghindari perjodohan, makanya semua serba tiba-tiba. kita hanya perlu membuat kesepakatan agar nanti tidak ada yang di rugikan”
__ADS_1
“Oh,,,” hanya itu jawaban Fatih, bibirnya membulat. Sudah berapa banyak buku fiksi yang di baca istrinya. Dia juga tidak paham, bagaimana Anisa berpikir bahwa kisahnya saat ini sama dengan buku yang dibacanya. “Tapi saya tidak membuat apapun” ucapnya ragu, dia tidak ingin terlihat bodoh didepan Anisa.
“Tidak apa-apa, saya sudah membuatnya lengkap pakai materai, tinggal tanda tangan saja ” jawaban Anisa membuka mata Fatih semakin lebar, bagaimana bisa gadis ini berpikir bahwa pernikahan yang dijalankannya sekarang hanya kontrak. Kadang ini yang Fatih belum tahu. Anisa gadis yang tidak tertebak. Atau masih banyak hal lain yang akan menjadi kejutannya nanti, ketika mereka tinggal bersama.
“Ngobrolin apa sih, serius banget” Suara chika, sudah ada di depan mereka berdua. “Selamat buat kalian berdua, Aku senang ahirnya sampai juga di tahap ini. Apapun bicarain, kalian kan sudah suami istri, jangan main kabur” Nasehatnya, setengah menyindir Anisa dengan cerita kemarin.
Anisa memeluk erat sahabatnya, rasanya banyak hal ingin Anisa ceritakan pada Chika. Tapi bukan waktu yang tepat untuk hari ini. Jika nanti yang ditakutkannya jadi kenyataan Chika adalah orang pertama yang akan tahu bathin Anisa.
“Makasih sudah datang, makasih juga nasehatnya. Aku janji sampai kapanpun akan selalu ingat. Aku bangga pernah punya sahabat kayak kamu” berkat Chika juga Ahirnya Anisa berubah pikiran.
“oiya, satu lagi. Berhenti overthinking. Cowok kayak Fatih nggak pantes di curigai. Aku bisa lihat dari tatapannya”. Chika melihat dari jauh, tatapan Fatih memang lain. Bahkan, ketika tadi melihat Fatih meneteskan air mata, chika tahu bahwa laki-laki itu tidak main-main. “Kalau aku jadi kamu, aku kurung Dia di rumah nggak boleh kemana-mana. Pelakor jaman sekarang sadis-sadis” ucapnya lagi, niatnya ingin membuat Anisa tersenyum.
“Yang...” Nisa tahu itu suara Mas Andi, mode cemburunya keluar.
“Bercanda sayang, aku tetep cinta kamu sumpah” mengangkat kedua jarinya keatas. Sang suami yang mengobrol dengan Fatih, menatapnya tajam. Membuat nyali Chika menciut.
“Kita pulang dulu ya, jangan lupa nanti kalau unboxing kasih tahu, atau kamu mau tanya-tanya caranya, aku bisa kasih privat, gratis” ucap Chika berbisik. Membuat mata Nisa melebar.
“Sudah ada yang halal, mau peluk, cium ataupun lebih nggak ada yang larang. Selamat bersenang-senang sayang" berlalu setelah pelukan terakhirnya dengan Anisa. tatapan sendu Anisa mengantarkan kepergian Chika.
"Ngobrolin apa, mukanya kok sedih" Tanya Fatih dengan Hati-hati. Dia melihat mood istrinya berubah sejak kepergian Chika.
"Urusan cewek laki-laki nggak akan paham" jawab Anisa, menunduk. Dari tadi Dia memang menghindari tatapan suaminya. Eh, Tiba-tiba jantungnya berdebar ketika mengucap kata suami dalam hatinya. Sekarang laki-laki disebelahnya ini sudah jadi suaminya. Di tatapnya laki-laki yang sedang menatap lurus kedepan.
"Turun kebawah, kumpul sama mereka" Ajak Fatih pada Anisa, takut istrinya bosan hanya duduk di kursi. menggandeng tangan istrinya turun dari pelaminan.
Bergabung dengan keluarganya, mereka mengobrol santai. berhenti setelah kedatangan pengantin.
"Anisa capek ya" Ibu Fatih, orang yang pertama menyapa mereka.
__ADS_1
"Sedikit tapi tidak apa-apa" jawabnya tersenyum ramah pada mertuanya. mengulang kata mertua di dalam hatinya. ada bahagia yang dirasakannya. seharusnya memang begitu, seandainya pernikahan mereka tidak ada latar belakang.
"Untung Abang cuma bikin acaranya sederhana gini. Kakak dulu undangannya banyak banget, pegel berdiri nyalamin tamu. Malamnya langsung teler" Syafira membagi pengalamannya, yang disambut gelak tawa orang-orang disekitarnya.
Anisa pun ikut tersenyum, bukan karena ceritanya. Tapi karena melihat kakak Iparnya benar-benar bahagia sekarang.
Fatih yang berdiri di sebelahnya pun ikut tersenyum. Pandangannya masih tidak ingin berpaling dari sang istri.
"Bang, nanti malam lagi mandanginnya. Duh, yang baru punya istri, gitu amat lihatnya" Goda Syafira, yang lain ikut tertawa.
Wajah Fatih memerah. Dia menundukkan kepalanya. Mengahalau rasa malu ketahuan memandangi Istrinya. Dia memang masih belum percaya. ini terlalu indah baginya. Kadang Fatih merasa Tuhan begitu baik memberikan orang-orang yang menyayanginya. Bahkan sekarang Dia merasa mendapatkan bonus setelah Anisa menjadi istrinya. Bahagia dia rasakan. Hatinya tidak berhenti berdebar setiap memandang sang pujaan.
"Abang jahat, Aku benci sama abang" Suara wanita yang baru masuk ke dalam menyedot perhatian semua orang yang ada di dalam. Fatih menyambutnya dengan wajah datar.
"Abang tega sama Irene" Wanita itu mulai terisak. Anisa menatap sekelilingnya. semua orang memandang mereka dengan tatapan bingung. Tapi tidak seorang pun mengeluarkan suara.
Anisa melihat adegan didepannya, Dia tidak mampu menahan malu. ini masih di hari pertama pernikahannya. Tapi, drama yang tersaji didepan matanya sungguh membuatnya semakin yakin bahwa pernikahan ini hanya cara untuk menutupi hubungan mereka.
"Wisnu" Tatapan Anisa beralih pada Wisnu, Dia mengejar wanita itu hingga masuk.
"Selamat atas pernikahan kalian, maaf terlambat aku jemput Iren dulu dari bandara" permintaan maaf Wisnu atas keterlambatannua tidak membuat pikiran Anisa lega.
Jadi selama ini Wisnu tahu hubungan Fatih dengan Wanita ini. Pemandangan yang tak kalah menyentak Anisa, perempuan itu menangis di pelukan laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya. Dan Fatih membelai lembut rambut wanita itu menenangkan.
Sakit itu merambat dalam hatinya. Tidak bisakah mereka menjaga perasaan nya. perasaan seorang istri yang melihat suaminya berpelukan dengan wanita lain di depan matanya. sungguh ini di luar skenarionya. sekali pun dia sudah tahu bahwa Dia bukan satu-satunya wanita di kehidupan Fatih.
***
Author sudah janji tidak akan ada pelakor dalam cerita ini. siapa cewek itu. tebak 2an. yuk...
__ADS_1
yang baca dari awal pasti tahu... ada di part waktu Anisa ketemu Wisnu sama chika di cafe.
Terima kasih... semoga suka ceritanya