MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
CINTA BERSAMBUT


__ADS_3

Anisa menggeliat dia merasakan perutnya tertindih beban berat , membuka mata setelah aroma menanangkan masuk ke indranya, dan hembusan nafas pelan menyentuh kepala yang masih tertutup hijab. Di melengkungkan bibirnya. Keadaan yang sudah dia lewatkan beberapa waktu kembali lagi.


Anisa berpikir kalau hari-harinya kedepan tidak akan lagi sama. Berhari-hari dia memikirkan langkah yang akan dia ambil. Pagi hingga sore dirinya akan lupa tentang rasa sakitnya. Merasa tidak diinginkan oleh suaminya sendiri. Menghibur diri dengan melakukan apapun yang di ingin bersama Chika. Nyatanya malam hari, rasa sakit itu kembali datang, menenggelamkan dalam rasa sepi yang mencekam.


Hingga Reno memberitahu keadaan suaminya, Anisa tidak memikirkan apapun lagi. Rasa takut terjadi hal-hal buruk pada Fatih membuatnya meninggalkan Chika di cafee. Anisa berlari kencang tanpa menghiraukan panggilan sahabatnya yang ketakutan meihat wajah tegang dirinya.


“Sudah bangun…?” Suara serak dari belakang telinganya mengalun indah. Mengukir senyum di wajah cantiknya. Anisa berbalik, wajahnya tepat di dada sang suami. hangat, tidak lagi panas seperti tadi. Tangannya terulur memegang kening Fatih.


“Terima kasih sudah mengkhawatirkan Abang” Matanya menatap wajah sang istri.


Anisa menunduk menyembunyikan semburat merah di wajahnya, bibirnya kaku. Dia tidak mampu mengeluarkan suara.


Fatih mengambil kepala Istrinya mendekap erat di dadanya. Sekali lagi dia mencium kepala Anisa. tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Bahkan ciuman terahirnya sangat lama. Dia tidak ingin kehilangan momen ini. Fatih tidak ingin apapun, dia hanya ingin mendekap istrinya untuk saat ini dan selamanya.


“Nisa sudah memikirkan ini dari kemarin…” Suara Anisa membuatnya tegang, ketakutan itu hadir lagi. Istrinya sudah mengambil keputusan dan Fatih sudah tahu, apa yang akan Nisa katakan. Dia yakin keberadaan Wisnu sudah membuat istrinya tidak ingin berada disampingnya lagi. Mengejar mewujudkan mimpinya menikah dengan seorang dokter. Dan Nisa akan pergi darinya cepat atau lambat.


“Bagaimana dengan Abang?” Nisa mengangkat wajahnya, menatap wajah sendu suaminya. Ada rasa iba yang menyelimuti hatinya. Apakah dia mampu, atau memang ini yang terbaik. Berkali-kali Anisa melihat sisi lemah di wajah sang suami. di hadapannya dia bukanlah seorang pemimpin yang kaku, tegas dan keras. Laki-laki ini tidak lebih hanya seorang yang lemah tanpa amarah.


“Abang tidak siap kehilangan Nisa, Abang mencintai Nisa lebih dari apapaun” Oke, cukup katakan kalau dirinya lemah dihadapan istrinya.


Tapi untuk kali ini Fatih sudah runtuh. Dia ingin memohon agar istrinya tidak pergi meninggalkan semua yang telah dia perjuangkan. Dia tidak kehilangan bahagianya bersama Anisa. dia ingin tidur dengan nyenyak setiap malam dalam dekapan hangat.


Anisa menatap wajah itu, wajah yang dia rindukan. Wajah yang selalu ingin dia lihat ketika membuka mata dan sebelum menutup matanya. Pernyataan Fatih sudah dia dengar wakktu itu, tapi saat ini pernyataan cinta itu terdengar lebih tulus. Bahkan mampu menembus relung hatinya yang terdalam, mengalirkan rasa bahagia yang tidak tergambarkan.


“Nisa akan tetap berada disisi Abang apapun yang terjadi”


Fatih menurunkan kepalanya, di tatapnya wajah datar sang istri lekat. Bahkan Fatih, duduk tegak. Tangannya meraih tangan istrinya membawanya kedalam dekapan. Bibirnya melengkung, dia menahan diri untuk tidak berteriak keras. Hatinya sedang berbunga, kalau saja tidak tahu malu dia ingin melompat diatas kasur. Berlaku seperti anak kecil sesekali mungkin tidak ada salahnya.


“Abang tidak salah dengar kan?” Tanyanya tidak percaya, memiringkan kepala mencari jawaban. Bahkan sekarang tatapan mereka beradu, dia melihat istrinya menggeleng pelan. Sudah cukup jawaban Anisa, baginya inilah bahagianya sekarang. cinta itu berbalas dengan indah. Fatih membawa Anisa kedalam pelukannya. Sangat erat, seolah kalau dia melonggarkan tangan itu istrinya akan menghilang.


“Bang, sesak…” Fatih melepas pelukan, tapi genggaman tangannya semakin erat. Jangan bilang kalau ini mimpi, dia tidak mau. Fatih membawa tangan itu ke bibirnya. Menciumnya dalam, dan cukup lama. Dia hanya ingin memastikan bahwa ini nyata.

__ADS_1


“Terima kasih…” Ucapnya lirih, mencium kening sang istri penuh cinta.


Keduanya tenggelam dalam pelukan dalam rasa bahagia yang membuncah. Melupakan badannya yang sakit, Fatih bersemangat. Selain karena badannya sudah cukup istirahat. Dia ingin makan banyak hari ini.


“Kita turun, Abang lapar” Ucapnya merenggangkan pelukannya.


“Abang mandi dulu, Nisa bantu Mbok Sa nyiapain makan” Istrinya hendak turun tapi di tahan, tangannya di pegang sang suami.


“Biar Mbok Sa, yang nyiapin. Nisa mandi duluan nanti kita turunnya bareng” Matanya lekat menatap mata hitam sang istri. Jujur, setiap pandangan mereka bertemu jantungnya tidak pernah baik-baik saja. Dia menemukan kedamaian dalam mata bulat ANisa.


“Abang beneran sudah baikan, padahal obatnya belum ada yang masuk, lho”


“Sudah abang katakan, kalau Abang tidak butuh makan. Hanya butuh istirahat”


“Bahkan penyakit pun takut mendekat” Senyum jahil muncul di wajah sang istri.


“Abang orang baik, nggak pernah marah. Tidak kasar juga, dan tidak menakutkan” Tidak terima, Fatih membela diri.


“Mau mandi duluan atau kita tidur lagi” Ancamnya meraih tangan Anisa lagi. Tapi sayang pegangannya meleset. Anisa segera berlari ke kamar mandi.


“Inikah rasanya jatuh cinta, manis tapi mendebarkan. Indah tapi menakutkan" Memegang dada sebelah kiri, dia merasakan detakannya tak biasa. cepat, tak beraturan.


"Tuhan, jangan pisahkan kami lagi. Aku hanya ingin wanita itu yang mendampingiku sampai ahir” Doa tulus dia panjatkan. Senyum itu tidak hilang, merebahkan badan, dengan menjadikan tangan kanan sebagai bantalan. Wajahnya cerah, seperti mentari di bulan agustus. Terang tapi menghangatkan.


Turun kebawah dengan bergandengan. Entahlah, Anisa seperti sedang bergandengan dengan anak kecil yang tidak ingin terlepas dari Ibunya. Bahkan suaminya tidak segan merangkul pinggangnya dengan posesif. Seakan ingin menegaskan bahwa wanita ini adalah miliknya siapapun tidak boleh mengganggu.


‘Sudah bangun Bang..” Suara dari meja makan, membuat Fatih melepaskan rangkulan di pinggang sang istri.


“Mama, Papa. Ada apa kalian kemari” Dahinya berkerut. Fatih bingung melihat kedua orang tua itu sudah duduk rapi di meja makan. Bukan hanya mereka berdua. Nyatanya disana ada Irene dan Wisnu.


“Ko ada apa, ya jenguk orang sakit Bang” Papa yang menjawab. Bahkan hidangan di meja makan itu sudah lengkap. Mengeluarkan aroma lezat yang memenuhi dapur.

__ADS_1


“Mana ada orang sakit begitu, gandengan terus Bang yang erat lho. Takutnya kalau lepas istrinya ngilang lagi” Goda Wisnu dengan wajah datar. “Laki-laki lemah. Baru ditinggal sehari saja sudah tumbang” Lanjutnya dengan wajah sinis.


“Sudah Nu, Abangmu baru sembuh kasihan dia biar makan dulu” Nyonya Maura menenangkan Wisnu. Dia tidak tahu maksudnya tapi dia tidak mampu menebak arah dari nada bicara Wisnu.


“Mama masak?” Tak menggubris cibiran Wisnu, Fatih justru lebih tertarik dengan kebiasaan baru Mamanya.


“Cuma sop buntut. Mama bisa di bantu Mbok Sa juga” Mengambil mangkok besar berisi Sop dengan asap mengepul jangan lupakan aroma yang memanggil cacing di perut untuk diisi.


“Biar Nisa bantu Nyonya…” berjalan mendekati Wanita yang masih terlihat sibuk dengan peralatan dapur.


“Nggak apa-apa sudah selesai juga” Mencegah Anisa mendekat karena Nyonya Maura ingin dia yang melayani Anisa.


“Kalau bisa panggilannya ganti, Mama juga biar sama kayak Abang” Pintanya memegang bahu sang menantu.


“Baik Ma..” Ucapnya masih canggung.


“Ada acara apa Ma, tumben kumpul semua” Fatih mendekati mereka berdua, kemudian merangkul bahu Anisa.


“Kamu ini” Nyonya Maura gusar melihat Fatih yang tiba-tiba memeluk bahu sang istri. “Papa ngajak, sudah lama kita nggak kumpul gini Bang, kalau nunggu Abang kerumah kelamaan” Menggeser kursi, setelahnya di duduk di sebelah Tuan Wardhana.


“Papa, beneran sudah sehat?” Ucapnya duduk di sebelah sang istri.


“Harusnya Papa yang tanya, gimana badan kamu sekarang. sudah enakan”


“Ya enakan dong pa, obatnya kan sudah ada. Kalau wisnu lihat dia masih lemah, tapi di kuat kuatin malu sama Anisa” Wisnu menjawab dengan lantang. Membuat semua mata yang ada di meja mkan beralih kepadanya.


“Wisnu, sudah dong. Tidak baik ribut-ribut di depan makanan. kamu itu kenapa dari tadi nada bicaranya tidak sopan sama Abangmu” Nyonya Maura lagi-lagi menengahi.


“Cepatalah cari istri. Biar hatimu di penuhi kedamaian. Kalau jomblo memang emosian” Fatih tersenyum penuh kemenangan. Dia tahu amarah Wisnu karena dirinya merasa kalah. Fatih merasa diatas angin. Dia yang memenangkan hati Anisa. padahal pembicaraan terahirnya dengan Wisnu dia sudah siap mundur jika pada ahirnya Anisa memilih Wisnu.


Hingga ahirnya ruang makan itu menjadi hening. Hanya terdengar suara sendok beradu dengan piring yang terdengar.

__ADS_1


__ADS_2