MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
BAYANGAN BURUK


__ADS_3

“Mata adalah jendela hati”


Ungkapan yang sangat tepat untuk saat ini. di depannya Anisa sedang tersenyum bahagia. Menata semua makanan yang dia beli.


“Kita bisa ngabisin ini semua kan?” Tanyanya dengan senyum mengembang. Namun Fatih bisa melihat ada kesedihan lain dari sinar mata wanita ini. “Mbok Sa juga ikut makan, ya” ucapnya pada pelayan yang sedang mencuci tangannya di wastafel.


“Sudah siap” Membawa piring yang berisi makanan yang dia masukkan di beberapa piring. Menata dengan sempurna di hadapan suaminya.


Fatih tidak bersuara, tapi pandangannya tidak lepas dari gerak gerik sang istri. Berjalan kesana kemari dengan lincah, mengambil piring, membuka bungkusan dan menata hingga sampai di hadapannya itu semua tidak lepas dari tatapan tajam Fatih. Sebuah pertanyaan besar sedang menggantung berat di kepalanya. Ada apa dengan istrinya hari ini.


“Mbok Sa duduk” menarik tangan Mbok Sa untuk duduk di meja makan. Wanita itu bungkam, matanya menatap Fatih meminta ijin. Fatih menjawab dengan anggukan. Dengan ragu Mbok Sa duduk di kursi berjarak satu kursi dengan Anisa.


“Kalau boleh saya duduk di belakang saja Mbak” Meminta ijin dengan wajah tertunduk.


“Disini saja, jangan sungkan Mbok, kita kan satu keluarga” Walapun wajah Anisa terlihat girang. Tapi Mbok Sa sedang merasakan hawa yang tidak nyaman di sekitarnya. Tatapan Fatih dengan menautkan tangan didepan wajahnya. Tatapan tajam tanpa mengalihkan pendangan sedikitpun dari sang istri.


“Biar Mbok Sa makan di belakang. Abang mau ngomong sesuatu” walaupun dia ingin segera mengahiri acara makan yang sama sekali tidak mengugah seleranya, tapi Fatih tahan dia hanya tidak ingin menyela apa yang dilakukan istrinya.


“Tidak ada yang perlu di omongin Bang, hari ini acara makan tanpa tanya jawab, oke” Acungan jempol dengan wajah cerah tak lantas membuat Fatih merasa lega. Dia tetap tahu bahwa ada sesuatu yang disembunyikan istrinya.


“Selamat makan” Hanya Anisa yang merasa bahwa ini acara makan yang dia setting untuk mendekatkan dirinya dengan sang suami. Dia sudah merencanakan seminggu ke depan ingin membuat kenangan manis sebelum hari itu tiba. Semua jadwal mengajar dia lakukan dengan tepat waktu, pulang bertemu sang suami. Menikmati waktu yang tersisa sebentar lagi menurutnya.


Suapan demi suapan masuk ke mulut Anisa dengan lahap, tapi tidak bagi Fatih dan Mbok Sa. Suapan itu terasa hambar. Bukan karena rasa makanannya, tapi karena suasana yang sangat canggung bagi Mbok Sa. Dia pun sama, melihat ada embun pekat menggelayut di mata Anisa.


Secerah apapun senyumnya, tapi tidak ada sinar dimata sang istri. Menuruti kemauan Anisa dengan mulai makan dengan lahap yang dipaksakan. Fatih hanya mengangguk sambil tersenyum ketika Anisa menanyakan rasa makanan pinggir jalan yang di belinya.


“Ada yang mau abang tanyain?” Membuka pembicaraan ketika mereka sudah siap untuk tidur. Setelah seharian dia menuruti kemauan sangat istri, nonton TV dan makan.

__ADS_1


“Nggak boleh ada pertanyaan untuk hari ini, nanti Nisa akan cerita tapi biarkan dulu begini Bang” Mengeratkan pelukannya. Tangan itu melingkar di pinggang Fatih dengan kepala yang terbenam didada sang suami.


Fatih kembali terdiam, dia hanya mengusap surai Panjang sang istri. Tarikan nafasnya berat. Seandainya bisa dia ingin memaksa Anisa untuk mengungkapkan isi hatinya. Apa yang salah dengan dirinya. Bagaimana dia bisa pergi ke tempat umum seorang diri tanpa uang. Ketika melihatnya tadi siang, Anisa seperti orang kebingungan di tengah keramaian. Sesaat Fatih merutuki dirinya. Apakah Mamanya tahu apa yang terjadi setelah pertemuan mereka. apakah wanita itu tahu bahwa mental istrinya sekarang sedang tidak baik-baik saja.


“Bang…” Anisa menenggalmkan wajahnya di dada suaminya. tapi dia ingin bercerita. Mungkin bisa mengurangi beban di dadanya.


“Hhhmmmm…” hanya terdengar lembut di telinga sang istri.


Annisa mendengar detak suaminya dengan jelas, tidak seperti biasa, detakan itu sangat cepat dan berat.


“Tuhan itu baik, dia menciptakan obat sebelum rasa sakit datang, Abang percaya?”


Tangan Fatih berhenti mengusap rambut Anisa.


“Percaya, Apa istri Abang sakit?” Fatih mearsakan gelangan kepala sang istri


“sekarang Nisa tahu kenapa Tuhan kasih kakak laki-laki buat Nisa. Karena Tuhan akan mengambil Ayah dari Nisa lebih awal. jadi Tuhan sudah menyiapkan Abang Amir sebagai pengganti Ayah. Waktu Nisa sedih Ibu bilang “ Kan, ada Abangmu. Lihatlah Ayah dan Abangmu serupa kan, sifatnya juga mirip. Dia pasti akan menyayangi NIsa seperti Ayah” ucapan Ibu menguatkan Nisa, bahwa Ayah masih ada di sekitar Nisa tapi dalam wujud lain” Helaan nafasnya panjang sebelum melanjutkan cerita. “Tahu nggak Bang, rasanya kehilangan itu menyakitkan. Berpisah dengan orang yang kita sayangi itu sangat berat, apalagi perginya tiba-tiba kayak Ayah. Kami semua tidak ada yang siap” Anisa mengubah posisinya, dia telentang dengan lengan suaminya sebagai bantalan.


Percayalah, walaupun Fatih sudah pernah mendengar cerita ini dari Ibu mertuanya, tapi di ungkapkan kembali versi Anisa itu jauh lebih menyakitkan. Fatih ditarik paksa ke waktu peristiwa itu terjadi, dia seolah bisa melihat dan merasakan kesedihan Anisa waktu itu.


“Sekarang pernikahan kita sudah enam bulan, Abang tahu?” Tatapannya mengarah Pada suaminya


“Tahu, lebih sehari kan. Harusnya kemarin tepat enam bulan” Senyuman itu seolah Fatih memenangkan sebuah kompetisi bahwa dia berhasil mengingat peristiwa bersejarahnya dengan sempurna.


“Itu artinya, kebersamaan kita akan selesai?” Ucapnya dengan santai, tatapan itu mengarah pada langit-langit kamar yang berwarna biru,


“Siapa yang bilang?”

__ADS_1


“Kita”


“Kapan, dimana?”


“Kita sudah menandatangani kesepakatan dalam surat perjanjian. Walaupun banyak yang Abang langgar tapi Nisa senang” Anisa masih berucap. Seolah dia ingin mengangkat beban itu agar berkurang.


Jadi ini yang membuat Anisa berubah, mengapa dia lebih melow ahir-ahir ini. dan apa katanya, berahir?. Bahkan Fatih tidak pernah benar-benar membaca isi kesepakatan itu.


“Sudah Abang katakan jangan membawa surat sialan itu kemanapun. Sejak kita menikah perjanjian itu sudah tidak berlaku. Kita suami istri yang sah. Tidak akan berpisah sampai kapanpun” Suara Fatih meninggi.


“Abang, satu minggu kedepan tidak boleh marah-marah, mau kan?” Senyumman itu semakin membuat hati Fatih teriris perih. Semakin dia tersenyum, luka di mata Anisa semakin jelas terlihat.


“Bagaimana Abang tidak marah kalau bicaramu tentang perpisahan dan surat perjanjian. Abang tidak akan meninggalkan Anisa sampai kapanpun” Ucapnya tegas.


“Nisa pikir juga begitu, tapi setelah melihat keadaan. Kayaknya kita memang nggak akan pernah cocok Bang, perbedaan diantara kita itu terlalu jauh. Ada banyak hal yang akan membuat kita menderita kalau di paksakan” Nafasnya panjang. “Padahak Nisa janji nggak mau nangis, tapi Nisa nggak kuat Bang” Isakannya jelas terdengar. Tubuh yang ada didalam dekapan Fatih berguncang.


“Kali ini Nisa tidak percaya kalau semua rasa sakit ada penawarnya. Bahkan Nisa tidak menemukan laki-laki seperti Abang. Tapi Nisa tidak mau berharap banyak.” Jeda disekanya airmata itu tenggorokannya terasa sulit menelan mengingat kenyataan pahit yang menunggunya di depan mata. “Hanya enam bulan, tapi Nisa merasa pernah beruntung menjadi istri. Sebelum ahirnya menjadi janda. Miris banget nasib Nisa Bang”


"Itu artinya Tuhan, tidak akan tega memisahkan kita"


"Tapi tiu tidak mungkin Bang, ada banyak alasan mengapa kita harus pisah" dengan Suara serak, karena tangisan yang belum benar-benar reda.


“Ssstttt…Nisa hanya kecapean. Di peluk gini enak kan. Istirahatlah. Besok pagi kamu ngajar kan?” Mencoba mengalihkan pembicaraan


“Abang sedih atau senang?” Ya Tuhan, harusnya pertanyaan itu tidak muncul dari bibir Sang istri. Dirinya jauh lebih terluka dari apa yang di katakan Anisa. ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya dari setiap kalimat yang di ucapkan Anisa.


“Abang ngantuk” Jawabnya singkat. Dia tidak ingin memberikan jawaban. Apapun jawabannya tidak akan bisa di cerna di kepala sang istri. Keadaannya juga tidak memungkin Fatih memberikan tanggapan.

__ADS_1


Fatih tidak pernah bisa membayangkan bagaimana jika ketakutan istrinya menjadi kenyataan. Itu adalah kehilangan terbesar baginya. Kehilangan cinta dan sumber kebahagiaannya dalam satu waktu bukanlah keadaan yang bisa Fatih terima.


__ADS_2