
Laki-laki tinggi itu berdiri di ambang pintu, menarik nafas panjang. Menghalau rasa gugup dan debaran jantung tidak biasa.
Dia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk membesuk pasien. Hanya ini waktu yang tepat untuk menghindari orang yang mulai menyadari keberadaannya beberapa waktu terahir. Dia yang awalnya melenggang dengan sempurna di sore hari tanpa ada yang mengenali. Kini sudah mulai mengatur waktu untuk menghindari mereka yang menunggunya.
Para pencari muka demi mengharapkan simpati sang CEO. Ada yang mengajaknya kerjasama atau ada yang bahkan dengan terang terangan meminta bantuan modal dengan angka yang fantastis.
Tidak hanya itu, bahkan ada yang minta bantuan dana untuk pencalonannya sebagai wakil Rakyat dengan janji yang di buat semanis mungkin.
Beragam macamnya manusia tidak tahu malu di dunia ini, hanya demi materi mengesampingkan harga diri.
Dia tidak mungkin membawa keamanan GLOBAL untuk menghalau orang yang mau mendekatinya. Maka pilihan waktu tepat tengah malam. Tidak mungkin mereka yang menunggunya masih bertahan di Rumah sakit. Itupun setelah mendapat laporan dari pihak keamanan GLOBAL yang mereka tugaskan untuk mengawasi beberapa orang yang mencari keberadaan sang CEO.
Tiba-tiba dia mendengar suara tangisan yang berasal dari dalam, suara tangisan perempuan yang begitu dia kenali. Tapi mengapa dia menangis. Itu pertanyaan yang menggelayut di benaknya. Apakah terjadi sesuatu dengan sahabatnya???
“Ren,,, kamu dengar suara itu?” tanyanya. Hatinya diliputi rasa takut. Dia semakin yakin bahwa suara itu berasal dari dalam.
“iya tuan, saya mendengarnya” ucap Reno, wajahnya tidak kalah cemas dari sang tuan.
“Bangun bang, kasihan ibu, dia lelah menunggu abang bangun” suara itu menyayat siapapun yang mendengarnya. Termasuk dua laki-laki yang berdiri diambang pintu.
“abang harus kuat demi aku sama ibu, abang satu-satunya harapan Nisa, laki-laki yang akan melindungi Nisa dan ibu.” kembali suara itu terdengar, Masih disertai sesenggukan.
Fatih menarik nafas panjang, rasa ingin melindungi gadis itu semakin kuat, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa mengagumi diam-diam. Tapi tidak untuk hari ini. Tekadnya sudah bulat ingin memiliki gadis itu seutuhnya. Mengikatnya dengan kuat agar pemilik mata indah itu selalu berada di sampingnya.
“permisi,,,”mengetuk pintu perlahan, belum terdengar jawaban. Dia mengetuknya sekali lagi. gadis yang masih sesenggukan itu bergegas mengambil penutup kepala.
Berjalan ke arah pintu. Dia pikir perawat yang ingin mengecek kondisi abangnya seperti yang mereka lakukan setiap malam.
Seketika wajah itu berubah, senyum yang menghias disana meredup setelah dia tahu tahu tamu yang tidak diharapkannya datang di saat yang tidak tepat.
“bagaimana keadaannya” ucapnya masih berdiri di ambnag pintu menanyakan keadaan sahabatnya.
“masih sama tuan, belum ada perkembangan” laki-laki yang menatap dengan tidak biasa itu seketika jengah, senyum itu hilang manakala mendengar panggilan gadis di hadapannya ini.
“jangan panggil aku tuan, panggil aku sayang” itu teriakan dalam hati sang laki-laki tampan.
“cih, bagaimana dia tidak tertarik padaku. Apakah aku tidak terlihat tampan dihadapannya, perempuan macam apa dia” gumamnya lagi
“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya lagi, memang terkesan aneh tapi ini adalah ucapan untuk menarik simpati sang gadis.
__ADS_1
“hah...?”gadis itu terkejut dengan pertanyaan laki-Iaki yang memakai kemeja gelap ini.
Ingin rasanya dia cepat berlalu dari hadapannya. sedikit tidak suka dengan basa-basi yang diucapkannya. Mata itu menatap tajam hanya sekilas, kemudian menunduk lagi.
“saya baik, terima kasih” singkat sekali, dia tidak ingin memancing pembicaraan lebih dengan laki-laki sombong dihadapannya ini.
Fatih jengah, dia tidak suka dengan jawaban singkat dia ingin berbincang lama. Hingga waktu takkan mampu mengehentikannya.
“eh, ada nak fatih...masuk,maaf ibu dari kamar mandi”kata bu Ratih. Mengelap tangannya yang basah dengan tisu.
“ada tamu koq nggak di suruh duduk Nis” ucap sang ibu pelan. Nisa tahu, tapi apa pantas dibilang tamu kalau datangnya jam dua belas malam.
Seperti tukang ronda yang kebagian jaga malam. Apa laki-laki ini tidak punya pekerjaan hingga mengganggu orang.
Fatih mencium tangan Bu Ratih, takzim seperti biasa. Diikuti Reno yang juga melakukan hal yang sama.
Nisa bergeser ke pinggir tempat tidur sang abang, hati gadis itu kembai teriris. Melihat kondisi laki-laki kebanggaannya terbaring lemah tak berdaya. Terlebih mengingat besok adalah tenggang waktu terahir yang diberikan dokter untuk kakaknya.
Yang lebih miris, dia tidak tega melihat kondisi sang ibu yang harus terlihat kuat. Walau kadang lelah, wanita itu tidak pernah mengeluh. Berdzikir dan berharap itulah yang dilakukannya. Doa tidak pernah putus dia panjatkan. Nisa paham,,, sangat paham. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“besok Amir akan di bawa ke Rumah sakit pusat, ibu hanya bisa pasrah. Apapun itu asal dia sembuh” tidak ada putus asa. Hanya pasrah.
Fatih menatap wanita disebelahnya. Dia tidak tega, kedatangannya kesini ingin bertanya lebih tentang Anisa. Tapi keadaan tidak memungkinkan. Dia urung, semua keinginan itu dia pendam ada saatnya, tapi bukan sekarang
“tidak usah, ibu tidak ingin merepotkanmu terlalu jauh, cukup dengan kedatangan nak Fatih kesini itu sudah membuat ibu senang. ibu hanya berharap, Syafira segera menelpon. Semoga Allah menggerakkan hati menantu ibu” ucapnya penuh harap
Allah... walaupun wanita itu yang menyebabkan anak kebanggaannya harus menghadapi masa sulit, tapi wanita ini masih mengaggap Syafira itu menantu kesayangannya.
Terbuat dari apa hati ibu ini.
Fatih melirik sang gadis yang dia puja dalam diam. Wanita itu menyeka air matanya berulang. Suasana didalam kamar ini begitu syahdu. Kesedihan tampak jelas.
Setelah perbincangan yang cukup lama, ahirnya laki-laki ini berpamitan. Harapannya terkabul. Bu Ratih menyuruh Nisa mengantarnya sampai depan. Bahagia seketika membuncah. Dia akan menatap mata indah itu lagi.
Mereka berdiri saling berhadapan, Reno berdiri di belakang Fatih.
“Bersiaplah setelah keadaannya membaik kita akan menikah” Bagai godam menghantam hati gadis itu. Dia tidak percaya dengan ucapan laki-laki dihadapannya ini.
Bagaimana bisa dia mengucapkan kata itu dalam keadaan seperti ini. Gerutunya dalam hati.
__ADS_1
Egois, Arogan tidak punya perasaan. Itulah yang ada dibenak Anisa sekarang. Hatinya marah. Panas itu sampai ke ubun-ubun, gadis itu sudah tidak bisa menahannya lagi. harus di tuntaskan sekarang juga. lupakan sopan santun.
“maaf anda siapa?” tatapan tajam dia arahkan, muak dengan laki-laki di percaya diri dihadapannya ini.
“saya Fatih, CEO GLOBAL GROUP. sahabat abang kamu dari jaman kuliah” bertambah besarlah api yang ada di hati Anisa, laki-laki ini yang menyulutnya dengan sengaja. Tapi tidak dengan pemuda tampan itu, Anisa menangkap senyum penuh kemenangan di hadapannya.
"Dia pikir dia siapa mau menunjukkan kekuasaannya di hadapanku. Apa dia pikir aku perempuan matre seperti koleksinya. Apakah dia pikir aku akan tertarik. Maaf, aku Anisa, Harga diri saya lebih tinggi dari sekedar materi dan kekuasaan anda Tuan” gumam anisa dalam hati.
Kalau laki-laki ini telah menginjak harga dirinya. Baik, dia akan meruntuhkan kesombongannya tak bersisa. Perempuan ini akan menunjukkan padanya bahwa, harta dan kekuasaannya tidak ada artinya di hadapan sang guru.
“maksud saya, anda siapa berani mengatur hidup saya” senyum sinis terbit dari wajah cantiknya. Rasanya dia puas melihat tatapan terkejut dari laki-laki sombong dihadapannya.
“hah...?”hanya itu yang keluar dari bibirnya. Hilang senyum yang tadi mengembang. Laki-laki itu tidak pernah menyangka akan mendapatkan penolakan. Seumur hidup baru sekarang ada wanita yang menolaknya.
Pandangnnya tak lepas dari gadis itu. walau hanya punggungnya saja sampai menghilang dari pandangannya. Matanya terbuka lebar.
“kamu dengar Ren, wanita itu menolakku?” tatapan tak percaya, bahkan hatinya sakit. Kalau saja wanita itu tidak membuat hatinya berdebar kencang. Tak akan sudi dia merendahkan dirinya dengan melamarnya sekarang.
“saya dengar tuan, jelas sekali” jawaban Reno mendapat tatapan tajam dari sang tuan. Dia tidak suka jawaban itu. baru sekarang sang CEO mengajak seorang gadis menikah. Justru jawaban penolakan yang dia terima.
“Apa yang kurang dariku Ren?” pertanyaan itu lagi yang di ajukan.
“mungkin caranya saja yang salah tuan”.. jawab sang asisten pelan. Takut menyinggung perasaan laki-laki di depannya ini. Reno paham, hati tuannya sekarang sedang tidak baik-baik saja.
Pepatah mengatakan jangan menasehati orang yang sedang jatuh cinta seperti menggarami air laut. Bahkan nasehatnya sebelum tuannya menyatakan perasaannya dia abaikan.
“cih, memang bagaimana yang benar. Kamu saja belum tahu rasanya jatuh cinta. Tidak punya pengalaman” ujar sang CEO ketus.
Hatinya sedang terluka justru di tambah dengan ocehan sang asisten, semakin ingin dia melampiaskan amarahnya.
“menaklukkan wanita itu sentuh di hatinya, cari perhatiannya. Jangan asal ngajak nikah anak orang tuan, jelas dia tersinggung. Karena tuan menyentuh harga dirinya” .
Tatapan tajam sang CEO membuat nyalinya menciut. Dia mundur kebelakang. Tak kuasa menerima tatapan yang seperti ingin menerkamnya saja.
“ Ajak makan malam romantis, beri bunga, beri hadiah tidak harus mahal asal bermakna. Ucapkan kata-kata manis. Jangan kaku berbicara dengan wanita. Jangan lupa tersenyum” ucap sang asiten tanpa keraguan nadanya tegas.
“aku kira kamu pintar, ternyata membaca. Begitu saja tidak tahu ucapnya sambil berlalu. Langkah itu masih tegap seperti biasa. Hanya hatinya saja yang sedang sekarat setelah menerima penolakan sang gadis bermata indah.
“nanti kita cari cara lain, mungkin memang waktunya yang kurang tepat” ucapnya.
__ADS_1
“nah, itu tahu” dalam hati Reno dengan muka dongkol.
Semua diluar dugaannya, dia pikir gadis itu akan berlari kepelukannya sambil menangis haru, kemudian mengucapkan terima kasih sambil berkata “iya, aku bersedia”. Tapi nyatanya, jangankan terkesan melihat sang pria tampan saja dia tidak sudi. Bahkan Fatih bisa menangkap kebencian yang begitu besar itu disana.