
Aku pikir indahnya pernikahan hanya cerita mereka, ternyata aku juga merasakannya. Memandang mu setiap kali terlelap adalah keindahan yang sempurna, kunikmati setiap debaran halus. Aku sama gugupnya ketika tangan kita bersentuhan, Hatiku melambung ketika kau tersenyum. Apapun tentang dirimu aku pasti bahagia.
"Abang masih pagi sudah rapi, mau kemana?" Matahari belum terbit, laki-laki didepannya tersenyum dengan lembut, rambut dan pakaian yang sudah rapi.
Suara parau sang istri menambah indahnya pagi dengan hawa dingin di awal bulan Juli. Fatih merapikan bajunya sambil tersenyum
"Abang kenapa senyum, nggak jawab Nisa" Sumpah, seandainya hubungan Fatih dengan Anisa seperti pengantin baru kebanyakan. Dia akan datang mencubit pipi istrinya, mencium keningnya lama kemudian membawa dalam dekapannya.
Matanya mengerjap, sesekali menyapu jarinya ke mata. wajah bingung khas bangun tidur, dengan kondisi jilbab yang berantakan membuat istrinya terlihat menggemaskan.
Yah, Anisa masih tidur dengan piyama panjang dengan jilbab rapi setiap malam. Fatih maklum, dia akan merubah semuanya perlahan. Dirinya sangat mengerti, tidak mudah bagi Anisa menerima pernikahan yang terkesan tiba-tiba.
"Hari ini Abang ada meeting pagi, kamu di rumah. mungkin pulangnya malam. Banyak pekerjaan. nanti setelah semuanya selesai kita liburan, Abang janji. Nisa Libur Tiga minggu kan" Fatih berdiri di sisi ranjang, menatap lekat kedua mata yang membola sempurna. Entah apa yang ada di kepala istrinya mendengar dia tidak akan pulang seharian.
"Terus Nisa sama siapa" Sial, harusnya bukan kata itu yang keluar. Inikan rumahnya ada Ibu sama mbak Mina. Apakah dia sekarang sudah terbiasa dengan kehadiran Fatih. Entah mengapa mendengar suaminya tidak akan pulang seharian seperti ada ruang kosong di
hatinya. Dia membayangkan akan kesepian. Bagaimana ini, laki-laki yang sedang berdiri sambil tersenyum didepannya ini pasti akan bangga mendengar kalimatnya tadi.
"Rania sama Fira akan datang. Urusanku hari ini juga sama Abangmu, jadi mereka akan menginap" Harusnya Nisa ssenang tahu ponakan sama kaka iparnya akan datang, tapi tetap saja Dia tidak akan melihat Fatih seharian. Di tatap nya lekat wajah yang terlihat lebih tampan dengan sisiran rambut kesamping.
Semua hal dilakukan Fatih tidak luput dari pandangannya. Fatih berjalan ke nakas mengambil jam tangan kemudian memasangnya, berjalan lagi ke sofa mengambil dasi, berdiri didepan cermin memasang nya sendiri. Sempurna, hanya dengan menambah dasi di lehernya suaminya terlihat menanawan Nisa tidak menampik. Terahir berjalan mengambil jas yang sudah tersampir rapi disana. Entah kapan suaminya menyiapkan itu semua.
"Tas? " itulah yang kurang. Fatih tidak terlihat membawa tas kerjanya.
" Sudah Abang taruh di mobil. Turun?" Tawarnya dengan mengulurkan tangan sambil tersenyum lembut. Hari ini dia tidak akan bertemu dalam waktu lama dengan sang istri, Ini pertama kalinya sebagai pasangan halal.
Sebenarnya Fatih tidak ingin, tapi dia harus menyelesaikan semuanya. Demi membayar janjinya untuk mengajak Nisa liburan. Dan memboyong istrinya ke tempat yang sudah lama dia tinggalkan. Kantor pusat, sudah menanti dengan tumpukan pekerjaan.
Hari ini Fatih akan berpisah satu hari penuh. Tapi dia sudah menatap istrinya lama ketika Nisa terlelap setelah shalat subuh. Bahkan sempat mencium kening istrinya berkali-kali tanpa Nisa tahu. untuk kali ini biarkan dia melakukan semuanya diam-diam. Tidak apa-apa, bahagianya sudah melebihi apapun. Fatih tidak ingin melakukan lebih dari itu karena belum tahu perasaan Anisa sebenarnya.
"Tunggu Amir sebentar lagi, makan dulu" Ibu menawarkan pada Fatih. " Kamu baru bangun suamimu mau berangkat. belajar jadi istri yang baik. Masa suami sudah rapi mukamu masih kusut begitu" Omel sang ibu pada putrinya.
" Tadi Nisa yang menyiapkan semua. makanya belum sempat mandi" Itu suara suaminya membela sang istri didepan mertua. Sebelum mendapatkan kemarahan dari ibunya. Fatih tidak ingin mood istrinya buruk. Dia ingin melihat Anisa melepas kepegiannya dengan senyum. Agar konsentrasi nya tidak pecah di tempat kerja.
Mata Anisa membuka lebar. Sungguh dia tidak menyangka Fatih akan membelanya dengan cara berbohong. Ditatap wajah suaminya lama. Perasaannya bahagia hanya dengan hal kecil yang lakukan Fatih. Andai dia tidak punya rasa malu, dia akan berterima kasih dengan memeluk suaminya.
"Ounty,,, " Suara melengking dari pintu masuk ruang keluarga.
"Sudah datang, makan dulu" Ajak Ibu pada Rania. Mencium kedua pipi Rania bergantian. Kebiasaan yang tidak pernah berubah dari dulu.
"Assalamu'alaikum Bu" Suara sang menantu menyusul kemudian. Adam dalam gendongan Ayahnya. Rumah menjadi ramai dengan cerita Rania dan ocehan Adam dengan kalimat yang belum jelas.
Tapi Anisa merasa kesepian, hatinya tidak tenang. Bukankah seharusnya dia biasa saja, karena kehadiran Fatih baru beberapa hari dalam hidupnya. Sedemikian kuatkan pengaruh laki-laki yang berstatus suaminya itu. Mampu merubah banyak hal dalam sekejap.
"Ko diam dari tadi?" Suara Fira membawa kesadaran Anisa. Dia menatap lekat kakak Iparnya, kemudian menggerakkan kepala kekanan dan kekiri.
"Ibu kita berangkat dulu, doakan biar sukses nanti bisa liburan bareng, mau kan dek?" Goda Amir pada adiknya. " Mukanya kenapa sih, kusut banget" lanjutnya lagi. Anisa yang biasa ceria tiba-tiba harus tetlihat murung. semua yang ada di ruangan itu saling bertatapan heran.
__ADS_1
Fatih mencium tangan mertuanya.
"Kami terlalu memanjakan Anisa, itulah sebabnya pikiran dan kelakuannya belum dewasa. Ibu harap kamu jangan melakukan kesalahan yang sama. Ibu tahu kamu tadi berbohong. Suatu saat kamu akan membawanya pergi dari Ibu. Ajari dia sepertimu. Bersikap dewasa dan mandiri" Bisikan Ibu ditelinga Fatih mendapatkan anggukan dari Sang menantu.
Fatih lupa bahwa Ibu jauh lebih mengenal anaknya daripada dirinya yang baru datang dikehidupan Anisa. Atau bisa jadi dirinya orang yang tidak pandai berbohong.
"Ajak ounty jalan-jalan ya, kan libur" Ucap Amir pada Rania setelah mencium kening anaknya. Ekor matanya menangkap kegelisahan di wajah adiknya.
"Siapa yang jaga Adam kalau nggak ada Ayah" Jawab Rania dengan lembut. Adiknya tidak akan diam kalau dibawa ke tempat umum. luput sedikit dari pengawasan hilang dia. Makanya mereka tidak akan keluar rumah kalau tidak dengan Ayahnya.
"Oke, nanti jalannya nunggu Ayah datang, Rania bantu bunda jaga adik ya... Jangan nakal. Ayah berangkat dulu. Ayah sayang Rania" Pelukan hangat Amir untuk Rania mendapatkan balasan dari sang anak.
"Ayah juga jangan nakal, jaga diri jangan lirik sana sini. Rania sayang Ayah" Balasnya.
Ucapan Rania menarik perhatian semua yang ada di dalam ruangan. Suasana hangat sangat terlihat dari keluarga kecil mereka. Setelahnya Amir memeluk Syafira, kemudian mengecup keningnya lama, entah kata apa yang dibisikan di telinga sang istri yang hanya terlihat tersenyum dan mengagguk. Adam, yang terahir mendapatkan pelukan dan ciuman Ayahnya.
"Nggak usah gendong Adam, nanti nangis lihat Mas mau pergi. Fira nggak ngantar sampai luar. Takut Adam nggak mau di tinggal" Ucapan sang istri ada benarnya. Adam sangat dekat dengan dirinya. Bahkan harus di kecoh dulu kalau mau di tinggal.
"Abang berangkat, Nisa nggak akan kesepian kan ada Rania sama Adam. Nanti abang kabari kalau sudah sampai atau kalau Nisa kangen bisa video call kan?" Penghiburan Fatih tidak bisa merubah raut sedih sang istri.
Tanpa menjawab Anisa hanya mengangguk. Dia tidak bisa menghilangkan kesedihannya. Hanya ditinggal satu hari bukan dalam waktu lama dia sudah tidak bisa berpikir jernih dari tadi. bahkan sarapannya saja belum di habiskan. Seandainya hari ini tidak libur, mungkin hatinya akan terhibur ketika di tempat kerja.
Apakah hatinya sudah mulai goyah, untuk tidak jatuh cinta pada Suaminya. Begitu rapuh kah pertahannya hanya dengan sikap manis sang suami. Wajahnya yang dari tadi menunduk, terangkat menatap Fatih dengan tersenyum. Hanya pergi sebentar kan. Dia tidak akan serapuh ini.
"Abang jangan khawatir Nisa tidak apa-apa. Abang berangkat saja" ucapnya dengan pasti, wajahnya seketika ceria.
"Sudah berhasil kayaknya" Amir membuka suara setelah mobil menjauh dari rumah
" Belum sepenuhnya, Dia terlalu sulit ditebak" Jawaban Fatih santai.
"Perempuan yang tidak rela ditinggal kekasihnya itu sudah salah satu tanda kalau hatinya sudah mulai luluh. Nisa kayaknya gelisah dari tadi" Fatih menatap sahabatnya lekat. Benarkah begitu, Anisa sudah jatuh cinta padanya.
" Tadi dia bilang akan kesepian kalau aku tinggal"
"Apalagi sampai dia mengatakan begitu, hatinya sudah mulai bergantung, karena perhatiannya mulai beralih. Dunianya sekarang hanya kamu" Dengan sigap Fatih membalik badan mengahadap Amir. yang ada di kepalanya wajah murung sang istri mulai dari bangun tidur hingga tadi mau berangkat. Dia pikir murung nya Nisa hanya karena capek bangun tidur.
" Kamu baik-baik saja kan Nis" Fira menyentuh tangan adik iparnya setelah terlihat melamun. Padahal Ada Rania sama Adam yang bermain. Biasanya mereka heboh berlarian ketika bertemu. Fira menangkap hal lain dari adik iparnya mulai baru datang hingga sekarang. "Sarapannya juga nggak di habiskan" lanjutnya lagi.
"Kak Fira santai banget ditinggal Abang"
"Sudah biasa, Kamu gelisah ditinggal bang Fatih? " Mata Fira melebar, ingatkan dia untuk tidak membuka mulutnya terlalu lebar. " Kamu jatuh cinta dek?" Bagi Fira itu pertanyaan, tapi bagi Anisa itu kalimat tembakan, menatap lekat wajah berbinar kakak Iparnya.
" Nggak mungkin, Fira hanya kepikiran. Oiya, kakak waktu pertama kali ditinggal Abang dalam waktu lama juga gelisah?"
Wajah polos Anisa membuat Syafira gemas. Bagaimana ada orang tidak sadar kalau sedang jatuh cinta
"Waktu sama Aldo dulu, perasaan kamu gimana kalau nggak ketemu?" Fira menatap Anisa penuh selidik.
__ADS_1
"Biasa saja. bahkan Anisa nungguin Abang di rumah sakit berbulan-bulan. Aldo tidak bertemu Nisa tidak masalah emang kenapa. Kakak di tanya malah nanya" Tuhan, wanita didepannya ini sangat cerdas, tapi mengapa soal perasaannya sendiri bodoh.
"Waktu pertama kali kakak ditinggal Abangmu, tidak enak makan, gelisah, tidak bisa tidur. pikiran kakak hanya tertuju sama suami kakak. Pengen cepet ketemu. pokoknya kangen banget, nggak mau jauh" Bukankah yang dikatakannya sama yang dialami Anisa sekarang.
"Koq bisa sama"
"Itu karena kamu sudah mulai jatuh cinta, masak nggak tahu".
Benarkah dirinya jatuh cinta, bagaimana kalau benar terjadi. Ketika Fatih menyakitinya nanti apakah dia akan kuat menerima kenyataan pahit.
Semua pertanyaan dan kemungkinan-kemungkinan buruk berkelebat di kepala Anisa. membuat dirinya ketakutan.
" Nisa nggak mau jatuh cinta, pasti sangat menyakitkan" Ucapnya lirih tapi Fira bisa mendengar.
"Jatuh cinta itu menyenangkan, kalau Nisa bisa menikmatinya Pasti Nisa bahagia, apalagi kalau kita jatuh cinta sama orang yang tepat"
Dia bukan laki-laki yang tepat untuk dirinya, dia tidak mau melanggar janji pada hatinya. Kalau suatu saat akan luluh Nisa akan memastikan bahwa Fatih tidak terikat apapun dengan cerita di masa lalu.
"Nisa takut jatuh cinta kak, bagaimana kalau nanti ada wanita yang tiba-tiba datang ngaku istri Abang" Belum sepenuhnya tahu tentang sang suami membuat pikiran Anisa berkeliaran. Pernikahan tiba-tiba, tidak di publikasikan. Padahal seorang pemilik perusahaan besar tidak mungkin rekan bisnisnya sedikit. Ada sesuatu yang di sembunyikan darinya.
"Nggak mungkin kayak nya" Fira meyakinkan Anisa, meskipun dia sendiri tidak yakin. Mengingat kisah nya yang di rasa tidak mungkin bahwa suaminya untuk berhianat, nyatanya yang tidak pernah di bayangkan terjadi.
***
"Kita pulang Pak Danang" Ucap Fatih dengan tiba-tiba.
"Buat apa?" Amir merasa bingung dengan keputusan mendadak sahabatnya
"Aku harus kembali menemui istriku, aku akan katakan bahwa akupun tidak ingin berpisah"
" Nggak bisa gitu, kita nunggu proyek ini lebih setahun, masa mau di lepas gitu ajah" Amir bingung menghadapi Fatih, dia hafal betul apa yang sudah menjadi keputusannya tidak akan bisa di rubah.
"Istriku lebih berharga dari proyek ini" Wajahnya mulai gelisah, Keinginannya kuat untuk berlari memeluk sang istri.
Mobil menepi kemudian berhenti. Amir menyesal mengatakan semuanya pada Fatih tidak tahu kalau akibatnya akan Fatal.
" Tapi nama perusahaan kita akan di masukkan daftar hitam karena dianggap tidak konsisten. Ingat yang hadir nanti ada pejabat negara, menteri pekerjaan umum, dan petinggi BUMN"
"Aku tidak masalah, bertemu istri ku jauh lebih penting" ucapnya dengan nafas memburu. Fatih tidak peduli dengan apapun dia ingin segera bertemu istrinya dia akan mencium nya lama, memeluknya erat. Kalau perlu dia akan mengajak istrinya bulan madu sekarang.
"Oke, mari kita pikirkan kemungkinan jika kita kembali" Amir putus asa, dia yang menyulut api dia juga yang harus memadamkan. "Pertama Anisa akan membencimu karena merasa di bohongi, dia mengira kamu pura-pura pergi. Yang kedua kalau memang Nisa mulai jatuh cinta, kamu lihat nanti kalau bertemu, dia akan datang, menghambur kepelukanu dengan berkata Abang kok lama. habis gitu dia kan menangis di pelukanmu. pilih mana pulang sekarang atau kita lanjutkan ini"
" Sial, bisa juga kamu pengaruhi otakku" Fatih tidak menampik. Saran Amir memang benar. sebaiknya dia tahan dulu, ingin melihat reaksi istrinya ketika bertemu nanti. Bukankah hati yang merindu tak akan mampu berbohong.
"Jalan Pak Danang" perintahnya pada sang sopir.
Amir menarik nafas lega, kemudian dihembuskannya dengan kasar. Tapi senyum kemenangan mengembang di wajahnya.
__ADS_1
"Hampir saja" Bisiknya lirih, ternyata gumamnnya mendapat lirikan tajam dari sang adik Ipar.