MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
POSESIF


__ADS_3

“Jadi maksud kedatangan Mama kesini sekalian ingin membicarakan pernikahan kalian. Mama ingin membuat resepsi yang besar, Bang. Biar semua orang tahu kalau Abang sudah bukan single lagi” Nyonya Maura membuka pembicaraan di ruang keluarga.


“Buat apa, kayaknya sudah tidak perlu. Nisa pasti tidak nyaman ketemu orang. Apalagi Nisa tidak kenal mereka” Fatih tidak ingin membuat istrinya tidak nyaman, karena hubungan mereka baru saja hangat.


Mengingat istrinya adalah orang baru dalam kehidupannya. Dan Anisa harus menyesuaikan pelan-pelan bukan dengan tiba-tiba di kenalkan ke publik. Apalagi nantinya undangan yang datang dari kalangan pengusaha dengan istri mereka. dan Fatih tidak ingin Anisa masuk ke lingkungan pertemanan istri yang adu brand dan penampilan.


“Ya tidak apa-apa sih Bang. Mama hanya menyarankan. Di sekolah tempat Nisa ngajar mereka tahunya Nisa masih single” Melirik Fatih ingin mengetahui reaksinya.


“Tidak mungkin Ma, cincin pernikahan kami masih ada di jari Nisa. Di berkas kemarin juga sudah jelas statusnya” Bantahnya. Sungguh Fatih tidak pernah berpikir bahwa status pernikahan mereka masih banyak yang belum tahu. Ah, Fatih jadi ingat laki-laki muda dengan seragam yang sama dengan istrinya tiba-tiba meawarkan tumpangan ketika itu. yang membuatnya marah hingga menarik tangan istrinya ke dalam mobil. Mungkinkah yang dikatakan Nyonya Maura benar.


“Abang bukan anak kecil lagi Ma, kalau memang tidak mau jangan di paksa. Tapi kalau ada beberapa rekan kerja Nisa tertarik Abang tidak boleh marah. Cincin itu tidak bisa menggambarkan hubungan kalian. Apalagi cewek yang memang senang dengan perhiasan” Wisnu menanggapi dengan wajah datar seperti biasa.


“Irene juga pakai cincin, tapi mereka tidak pernah mengira Irene punya suami” Kali ini Irene ikut angkat bicara.


“Jangan merahasiakan pernikahan Bang, kalau nanti Nisa diambil orang nyesel sampai ke sum-sum baru tahu rasa” Wisnu masih dengan suara ketus dan kali ini wajahnya benar-benar kesal.


“Kamu itu kalau bicara sama Abangmu sopan dikit Nu, dia lebih Tua” Tuan Wardhana terpaksa berbicara. Karena melihat aura permusuhan dari kedua anaknya walaupun dia tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya.


“Tua di umur. Kelakuan kayak ABG labil” Wisnu masih membantah.


“Tidak apa-apa, yang penting sudah punya istri cantik lagi. Iya kan sayang” Memang itulah niatnya. Fatih merangkul bahu sang istri yang duduk disebelahnya lalu mencium kepala Anisa cukup lama. Fatih ingin memamerkan keberhasilannya di hadapan Wisnu. Dia yang memenangkan hati Anisa dan itu artinya Wisnu harus memenuhi janjinya untuk menjauhi Anisa.


“Iya tahu, itu tangan dari tadi juga tidak lepas, kayak orang baru diterima pacaran. Aneh banget nikah lama kelakuan masih kayak anak SMA” Lagi-lagi Wisnu berkomentar tidak enak.


“Koq Wisnu ribut Sih. Jadi gimana Bang, mau tetap begini atau mengumumkan hubungan kalian?” Nyonya Maura menyela perdebatan mereka.


“Dirayakan saja Ma, takutnya Nisa pergi lagi, nanti tipes lagi”


“Mas Wisnu kenapa benci banget sama Abang?” Irene melihat perubahan sikap kakaknya. Dia yang dari awal tahu mereka saling mendukung sekarang terlihat saling memojokkan. Membuatnya tidak mengerti.


“Terserah Mama saja, Abang ikut” matanya menatap lekat wajah Anisa yang dari tadi terlihat hanya diam. Fatih tahu hubungan Mamanya dengan sang istri masih canggung. Apalagi keluarga Wardhana adalah lingkungan baru bagi Anisa.


“Bang, ingat. ANisa nggak nyaman abang rangkul terus-terusan” Wisnu melihat wajah canggung Anisa atas perlakuan Fatih didepan keluarganya.

__ADS_1


“Kak, jalan-jalan sama Irene. Biarin mereka bicara pernikahan kakak. Kita ke cofee shop baru buka” Ajak Irene mlihat wajah canggung Anisa.


“Ide bagus tuh, Mas ikut” Wisnu beridiri mengikuti Irene.


“Nggak bisa, kalau kamu ikut Abang juga ikut” Fatih memeluk istrinya erat. Dia tahu niat buruk Wisnu. Pasti akan mendekati Anisa hingga nanti istrinya berubah pikiran.


“Kalau kalian pergi Mama diskusi sama Siapa?” Nyonya Maura protes.


“Biarkan mereka pergi, masalah ini kita panggil EO saja serahkan sama mereka. Papa juga mau pulang. Sudah tua harus banyak istirahat” Tuan Wardhana ikut berdiri.


“Tapi pembicaraan kita belum selesai Pa” Nyonya Maura ikut berdiri tapi dia belum puas, masih banyak yang harus dibicarakan.


“Abang serahkan semua sama Mama. Anisa juga pasti setuju” masih dengan tangan yang tidak mau terlepas Fatih mengajak istrinya berdiri. “Atur saja gimana baiknya” Lanjutnya hendak melangkah.


“Mama mau ngajak Nisa Fitting baju, Mama janjian besok sama desainernya” Masih dengan nada protes melihat Fatih yang seoalh tidak peduli.


“Nisa mau ikut Mama?” Justru dia bertanya pada istrinya.


“Besok jam sembilan Mama jemput kesini. Kalian lanjutkan acaranya Mama sama Papa mau pulang” Mengusap bahu Anisa, kemudian berlalu menyusul suaminya yang sudah menunggu di luar.


“Yang punya teman Irene Kak, katanya ada harga promo buat Irene” Menggandeng tanga Anisa melangkah kedalam. Suasana cukup ramai, rata-rata pengunjunganya anak muda seumuran Irene. Ada yang berpasangan tapi banyak juga yang datang dengan teman-temannya. Suasana yang santai dengan alunan musik khas anak muda mengiringi perbincangan mereka.


“Kita sebelah sana Kak” Irenen menarik tanganAnisa setelah melihat seorang laki-laki melambaikan tangan kearah mereka.


“Sama siapa?” Sapa laki-laki dengan kulit putih bersih dan tatanan rambut rapi. Wajahnya yang oriental dengan perpaduan mata yang sipit. Jangan lupakan senyum manisnya menyambut kedatangan mereka berdua.


“Kenalin ini kakak aku, Namanya NIysa” Irene menunjuk di sebelahnya.


“Senang bertemu kak Nisa, saya Gilang” mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.


“Dia istri saya, jadi tidak usaha berjabat tangan” Suara Fatih mengejutkan mereka. Entah sejak kapan dia berada di sebelah sangat istri kemudian mengambil tangan istrinya yang terulur hendak menyambut tangan Gilang.


“Mohon di maklumi, mereka masih pengantin baru” Wisnu menyela setelah melihat wajah canggung Gilang.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, saya paham Mas. Saya berterima kasih karena kalian sudi mampir ketempat kami, suatu kehormatan Tuan Fatih datang ke tempat kecil kami” Menunduk hormat pada Fatih. dia merasa terhormat, bahkan Irene tidak menjelaskan kalau Seorang Fatih akan ikut serta.


“Nggak usah Formal gitu. Jadi apa menu andalan disini”


“Saya sudah menyiapkan menu spesial. Khusus untuk Irene dan keluarganya kita berikan gratis untuk hari ini” Dengan sopan dan senyum mengembang Gilang menjelaskan.


“Tidak bisa begitu kami akan membayar, saya termasuk orang yang tidak suka makan gratis” Fatih menyela pembicaraan mereka. dia tidak suka ada laki-laki yang terlihat lebih keren di hadapan istrinya.


‘Bukan begitu Bang, ini sudah perjanjian dengan Irene kemarin. Sebagai gantinya Irene akan promosikan tempat ini serta review makanannya nanti di sosmed Irene” Irene mulai jengah dengan tingkah Fatih. Laki-laki yang biasa terlihat tenang kini terlihat aneh setelah menikah. Terlbih dia selalu bersikap posesif terhadap istrinya. tangan Anisa tidak lepas dari genggamannya.


“Jangan posting apapun tentang Abang dan istri Abang” Masih menatap tajam kearah Irene.


“Ya Ampun Bang, kalau sudah tua ya jangan ketinggalan jaman juga. Memalukan” Wisnu pun mulai terlihat gusar dengan tingkah Abangnya.


“Nanti yang dilihatkan hanya makanan dan tempatnya, bisa jadi hanya wajah Irene yang terlihat Abang tidak usah khawatir” Anisa mengusap lembut tengan suaminya yang mulai terlihat duduk dengan gelisah.


“Abang mengerti” Ahirnya mereka bernafas lega. Memang perlu Anisa yang berbicara baru Fatih bisa paham.


Sambil menunggu menu terhidang irene berbicara santai dengan gilang, sesekali Wisnu menimpali. Lain halnya dengan Fatih. Bahkan ANisa tidak diijinkan untuk menatap wajah Gilang dan Wisnu. Dengan sengaja dia membawa kepala istrinya bersandar di dadanya. Tidak ada pembicaraan memang, Fatih tidak melepaskan rangkulan tangan ANisa.


“Ini cabang yang keberapa?” Wisnu penasaran.


“Ketiga Mas, kalau semuanya lancar kami mempersiapkan cabang keempat” Ucapnya bangga.


“Bagus, saya bangga melihat anak muda pekerja keras sepertimu” Wisnu memberikan pujian dengan nada yang sedikit dikeraskan. Ekor matanya melirik Anisa. bahkan ada banyak hal yang ingin dia ceritakan dengan Anisa.tapi sifat posesif suaminya tidak memberikan akses.


“Mas Wisnu praktek dimana sekarang?” Gilang terlihat lebh antusias setelah mndengar pujian dari Wisnu.


“Mengurus rumah sakit Papa, rumah sakitnya sudah lama nersiri, tapi Papa maunya saya yang ngurus” Wisnu menjelaskan.


“Biar bermanfaat saja dia, tidak sibuk nogkrong tidak jelas” Jawaban Fatih membuat semua orang terkejut. Bagi Wisnu itu sudah biasa. Tapi bagi Gilang ini adalah hal baru. Sikap Fatih sangat bertolak belakang dengan yang dia tahu dulu. Bukannya Gialng tidak tahu, karena sebelum pertemuan ini mereka pernah bertemu beberapa kali.


Yang gilang tahu, Fatih itu orangnya sangat ramah, sekalipun dia pemimpin tertinggi di perusahaan besar. Namun, sikap rendah hatinya membuat Gilang merasa kagum, tapi hari ini dia melihat sosok lain seorang Fatih. Lebih seperti seorang induk kucing yang takut kehilangan anaknya. Menakutkan tapi menggemaskan. Terlihat lucu.

__ADS_1


__ADS_2