MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
PULANG


__ADS_3

Seharusnya Anisa berbicara dengan ibunya, ada banyak hal yang ingin ia ungkapkan. Tapi melihat laki-laki itu mengekor dibelakangnya dia membatalkan niatnya. Masuk kamar, membersihkan diri, tidur itu jauh lebih baik. Dia tidak mempedulikan perutnya yang lapar. Dia juga tidak memperhatikan senyum merekah sang ibu menyambut kedatangannya, karena setelahnya senyum itu berganti kecewa setelah dirinya melewati ibunya begitu saja. Nanti saja, untuk saat ini menghindari Fatih adalah tujuannya.


Sang ibu menatap heran putrinya, niatnya untuk menyambut sirna sudah, berganti kecewa setelah Anisa lewat disampingnya sampai kemudian masuk ke kamar, badannya hilang di balik pintu. Tatapannya beralih pada laki-laki yang mengantar Anisa. Menyapa dengan senyum ramah seperti biasa, senyum yang kembali menenangkan wajah ibu. Melihat cara Fatih tersenyum sekarang dirinya yakin kalau Anisa baik-baik saja.


“Semua baik-baik saja?” tanya ibu penuh selidik, tatapannya memindai wajah Fatih. Tapi sekali lagi dia mendapatkan senyum itu kembali, sekarang benar-benar bisa bernafas lega. “Apa yang terjadi” tanyanya sekali lagi setelah mereka duduk di ruang tamu.


“Dia marah” Hanya singkat, bukan itu jawaban yang ingin ibu dengar tapi lebih meminta penjelasan.” Kami dari makam Ayah, saya menemuinya di sana. Kami sempat meminta restu”. Fatih tersenyum setelah kalimatnya berahir. Dia menatap wanita paruh baya di depannya. Fatih kaget melihat reaksi ibu, wajah memerah menahan tawa.


“Bahkan kamu melakukan yang di lakukan Anisa” sambil menahan tawa. “Umurnya sudah dua puluh lima tahun, tapi kelakuannya masih seperti anak kecil. Dia sering berbicara pada ayahnya, menceritakan semua hal” Diam sejenak menarik nafas, memberi rongga pada parunya untuk mengisi oksigen. “Nisa masih SMP ketika dia meninggalkan Kami, umurnya belum siap kehilangn Ayahnya. Dia sudah mengerti arti kehilangan, tapi tidak bisa menerima dengan mudah” Wajah ibu berganti sendu, ingatannya kembali ke masa dimana dia memanggilnya tahun terburuk dalam hidupnya.


Di tinggalkan suami ketika anak-anak masih butuh kasih sayang. Bukan hal yang mudah baginya, setelah itu dirinya harus berperan ganda menjadi Ibu sekaligus Ayah bagi kedua buah hatinya. Untunglah Amir sudah besar, laki-laki itu sedang menempuh pedidikan di bangku kuliah ketika cobaan itu datang. Jadi sedikit banyak bisa membantu menenangkan Anisa yang masih sering menangis tengah malam, menganggap kepergian Ayahya hanyalah sebuah mimpi.


“Anisa selalu menceritakan apapun, di awal kepergian Ayahnya Dia selalu memaksa untuk menemani Ayahnya ketika malam mulai gelap. Satu kali, dua kali kami menurutinya. Tidur diatas pusara Ayahnya sambil menangis, Kami membawanya pulang ketika Dia mulai mengantuk” Air mata kepedihan Masih tergambar jelas di wajah tuanya. “ Bukan kepergian suamiku yang membuat kami sedih, kami sudah ikhlas menerima takdir. Tapi Kami sering sedih melihat Anisa yang belum menerima kepergian Ayahnya. Mereka sangat dekat, Anisa hanya mau diantar jemput Ayahnya kesekolah. Dia laki-laki kebanggaan Anisa” Dugaannya benar, Fatih bisa melihat itu ketika mendengar Anisa bercerita.


“Maaf, Sudah membuat ibu sedih” Duduknya beringsut mendekat, di pegangnya tangan itu lembut. Hatinya tersentuh ketika melihat Ibu menghapus airmata yang mulai menetes.


“Tidak apa-apa, Ibu senang kamu mau menerima Anisa dengan baik. Ibu harap kamu tidak akan menyesal nanti. Ada banyak hal yang belum kamu tahu tentang anak ibu” tatapan lembut penuh kasih seorang ibu untuk anaknya di tujukan untuk Fatih.

__ADS_1


“Asalkan itu Anisa saya akan menerimanya dengan senang hati” membalas senyuman Ibu, hanya ingin meyakinkan bahwa Dia tidak akan salah dengan pilihannya.


“Dulu, dia sering membawa barang-barang yang baru kami beli ke makam Ayahnya. Menunjukkan diatas pusara, baju, sepatu, sandal, tas apapun itu. Bahkan ketika Abangnya menyakiti Fira, Anisa menceritakan semuanya pada Ayahnya. Dengan tangisan yang tidak wajar, seolah dia orang yang paling tersakiti” ceritanya berhenti. Dia menatap pemuda di depannya, “Kamu tahu apa yang Dia bicarakan sama Ayahnya, “Yah, Anisa bisa memaafkan semua kesalahan laki-laki. Tapi tidak dengan penghianatan. Nisa tidak akan memberi toleransi untuk kesalahan yang satu itu” katanya ketika itu dengan air mata yang berlinang” ceritanya berahir, Fatih menaggukkan kepala, dia mengerti seberapa besar kebencian Anisa pada penghianatan Abangnya dulu.


“Kalau kamu mau mundur, ibu tidak keberatan. Anisa tidak sedewasa yang kamu lihat, sisi kekanak-kanakannya masih sering mendominasi. Tapi Ibu yakin, kamu laki-laki yang tepat untuknya” Benarkah, Dia orang yang tepat seperti kata-kata Ibu, tiba-tiba membuat Fatih ragu apakah dirinya memang sepantas itu untuk mendapatkan Anisa, apa memang Dia terlalu memaksakan diri. Sanggupkah dirinya menepati janjinya didepan pusara Ayah Anisa. Atau jangan-jangan justru dirinya yang akan melakukan hal yang paling Anisa benci, walaupun Dia tidak berniat untuk itu.


“Saya akan berusaha menjadi laki-laki yang bisa membahagiakan Anisa, ibu jangan khawatir, semoga saya bisa menjadi orang yang selalu membuat Anisa tersenyum” itu janjinya sebagai laki-laki Dihadapan calon mertuanya. Ucapannya seyakin itu, bahwa semua yang diucapkan akan Dia tepati. Wanita dihadapannya ini menggantungkan harapan pada dirinya begitu besar.


“Nak Fatih sudah makan?” tanyanya mengalihkan pembicaraan yang dianggapnya terlalu serius.


Ibu.


“Ibu, masak apa, Nisa lapar” Entah dari kapan Anisa dibelakangnya, gadis itu muncul setelah menutup pintu. Tiba tiba memeluk bahunya dari belakang. Dirinya senang setidaknya anak gadisnya sudah kembali seperti semula. Perempuan manja jika di rumah.


“Ibu tahu hari ini kamu pulang, jadi jadi ibu masak sayur asem sama sambal goreng kesukaan Kamu” ucapnya sambil membelai lembut kepalanya. Berjalan ke meja makan. Anisa memeluk erat lengan ibunya.


“Kalau kamu tidak suka rencana pernikahan ini, ibu bisa batalkan. Tadi juga sudah bicara sama Fatih. Apapun keputusan kamu ibu tidak akan memaksa. Ibu sayang sama kamu melebihi apapun” di tatapnya putrinya yang sedang makan dengan lahap. Selain, menunya kesukaan Anisa, dia juga tahu kalau putrinya memang benar-benar lapar.

__ADS_1


Nisa tidak ingin menjawab, mulutnya penuh dengan nasi, Dia juga tidak ingin membahas apapun soal rencana itu. Perkataan Chika waktu itu sedikit mempengaruhi pikirannya. Anisa takut keputusannya membuat Ibunya sakit. Tentu Dia tidak menginginkan itu, sekarang Dia yang pasrah apapun keputusan ibunya dia akan ikut. Tapi tidak dengan perasaannya terhadap Fatih, sampai kapanpun Anisa akan tetap memasang ke waspadaan yang tinggi. Dia tidak tahu motif sebenarnya laki-laki itu menikahinya dengan segera. Apa yang tersembunyi di balik rencananya.


“Ibu pikir, kedekatan kalian sudah layak untuk di sah kan. Ibu sudah tua, pikiran kita tidak sama tentang hidup berumah tangga. Mungkin pikiranmu jauh lebih baik dari Ibu, jauh lebih matang, tentunya lebih siap untuk berumah tangga” Jeda, hening mendekap mereka di meja makan. Melihat Anisa yang diam ibu tdak tahu harus berbuat apa. Dia tidak tahu gadis di depannya ini setuju atau menolak rencana itu. Dia tidak mendengar Anisa mengutarakan niatnya. Tapi melihat sikapnya yang mulai biasa, berbeda dengan kemarin. Ibu bisa menarik nafas lega. Tidak ada raut marah lagi, mungkin saatnya berbicara dari hati ke hati.


Anisa berdiri setelah menyelesaikan makannya, dia berdiri ke wastafel. Mencuci piring dan tangannya sekaligus, kemudian mengeringkan dengn tisu di meja makan.


“Anisa sudah berjanji, akan melakukan apapun yang membuat ibu bahagia, termasuk menikahi laki-laki itu” Binar bahagia tampak di wajah Ibu, tapi seketika mengerutkan keningnya mendengar Nisa enggan menyebut nama Fatih.


“Namanya Fatih, orang tuanya memberikan bagus tapi kamu tidak mau menyebutnya” ucapnya dengan kesal, tapi tidak benar-benar kesal karena setelahnya senyum bahagia itu kembali terbit. “oiya, besok Abangmu datang, mereka akan menginap disini sampai acaranya selesai, Ibu yang memintanya pulang” Nadanya lembut.


“Nisa seneng dengernya, kangen Adam sama Rania. Adam badannya tambah gembul, padahal kakak Cuma kasih A*I, Kak Fira memang wanita hebat ya bu” ucap Nisa antusias.


“Ibu yakin, kamu juga akan menjadi istri dan Ibu yang hebat untuk keluargamu kelak” ucap Ibu menghibur Anisa, sejak kejadian kelam yang menimpa keluarga Abangnya Anisa begitu bangga dengan kakak iparnya, Dia menganggap Fira hebat mampu menahan sakit di madu.


“Tetap Nisa tidak akan sehebat kakak”


“Kamu benar, Abangmu beruntung mendapatkan istri seperti Fira”

__ADS_1


Keduanya terdiam, setelah mengagumi sosok wanita kuat dalam keluarga mereka. Tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


__ADS_2