MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
CARA BERTERIMA KASIH


__ADS_3

“Kemana saja Bu Nisa tiga hari” Sesuai dugaannya pertanyaan ini yang akan muncul dari rekan kerjanya.


“Saya ada kepentingan keluarga, tapi saya sudah menyelesaikan raport dan saya juga menyelesaikan nilai mata pelajaran saya, dan sudah diserahkan ke setiap wali kelas.” Ujarnya pada Hamid. Laki-laki yang begitu menggebu ingin tahu kemana Anisa selama tiga hari.


Anisa juga sudah menjawab pertanyaan yang lain tadi di ruang guru. Tidak ada yang bertanya lebih jauh. Hanya laki-laki memakai batik kuning yang sedang tersenyum didepannya ini yang masih belum puas dengan jawaban Nisa.


Paling tidak, jawaban lebih detail yang Hamid butuhkan sekarang. Atau mungkin penjelasan panjang lebar hingga percakapan mereka bisa lama, harapan seorang pemuda yang mengagumi seorang gadis dalam diam.


“Maksud saya, kepentingan keluarga seperti apa sampai tiga hari. Mungkin kalau hari ini tidak ada pembagian raport Bu Nisa belum akan masuk sekolah kan?” Duh, gigihnya Pak Hamid memperjuangkan penjelasan Anisa. Hingga dirinya merasa risih. Tidak perlu dia menjelaskan bukan, apa yang menjadi urusannya. Atau kalau jujur bisa menyelamatkan dirinya mengapa tidak.


“Saya yang menikah Pak Hamid, maaf tidak ada yang saya undang hanya keluarga inti yang hadir” Nisa menunggu reaksi Hamid. Apakah jawabannya bisa memuaskan sang guru olah raga.


“Hahaha...” Tertawa keras membuat alis Nisa berkerut. “Kalau Ibu tidak nyaman dengan pertanyaan saya, paling tidak jangan memberi jawaban konyol. Ibu pikir saya akan percaya. Maaf Bu, saya bisa membedakan raut pengantin baru, dan yang pura-pura menjadi pengantin baru” Masih dengan sisa tawa setelah mengahiri kalimatnya.


“Ini, saya pakai cincinnya. Apa sudah bisa membuat bapak percaya” mengangkat kelima jari kirinya dengan cincin yang tersemat di jari manis. Cincin berwarna putih dengan berlian di tengah. Hanya kecil saja. Tapi Nisa dengan yakin memakainya dari rumah. Karena omelan panjang lebar Ibu yang mengingatkan Nisa tentang statusnya berkali-kali.


Keputusannya untuk memakai cincin pernikahan sangat membantunya saat ini, dengan sangat percaya diri Nisa memamerkan itu walaupun hanya pada satu orang.


“Cincin begitu bisa beli sendiri tanpa harus mengarang cerita tentang pernikahan Bu” Sial, seharusnya Nisa menghindari laki-laki ini tadi ketika berpapasan di lorong kelas IPA sebelum terlibat percakapan panjang dengan Hamid. Nisa menghela nafas panjang.


Dia berbalik menuju ruang guru, niatnya urung menuju ruang kelas. Masih ada lima belas menit sebelum acara pembagian rapot kelas dua belas.


“Paling tidak, kasih saya lihat foto pernikahan kalian, baru saya percaya” Sebenarnya dirinya tidak peduli Hamid percaya atau tidak, tapi yang membuat Nisa merasa semakin merasa dipojokkan tidak ada satupun foto pernikahannya di yang tersimpan di ponselnya. Nisa semakin jengkel karena Hamid mengejarnya sampai ke ruang guru. Dia mengekori sepertinya sebuah kewajiban bagi Nisa untuk menunjukkan kebenaran.


“Lho, kok balik lagi Bu? ” Bu Laras bertanya, bukan kembalinya Nisa yang menjadi pertanyaan Bu laras, tapi Hamid yang mengekori dibelakang yang menjadi pertanyaan “ Pak Hamid ada yang ketinggalan? ” Tanyanya pada laki-laki dibelakang Nisa.


“Saya ikut Bu Nisa, dia mau menunjukkan bukti kalau sudah menikah. Ibu percaya nggak” Sumpah untuk kali ini Nisa benar-benar jengkel di buatnya. Hamid jauh lebih bocor dari ibu-ibu kompleks. Dia membocorkan sesuatu yang berusaha Nisa tutupi dengan rapat.


“Benar begitu Bu, kenapa nggak ada yang diundang” Sudah terlajur basah juga, sekalian saja Nisa menceburkan diri. Percuma menutupi semuanya.


“Benar Bu, tapi saya tidak punya foto pernikahan. Tidak sempat mengambil gambar kemarin” Duh, kenapa harinya begitu rumit hanya karena mulut seorang Hamid . Benar saja, pernyataan Nisa menarik perhatian sebagian guru yang masih berada di meja kerjanya.


“Kapan, suaminya yang mana. Apa Bu Nisa di jodohkan” pertanyaan beruntun dari rekan kerjanya bergemuruh dikepalanya. Hanya karena ulah satu orang heboh satu sekolah.


“Bu Nisa jadi nikah sama teman SMA yang waktu itu datang kesini?” Hanya Bu Rosi yang bisa menebak dengan benar. Satu-satunya orang yang tahu tentang hubungannya dengan Aldo dan Fatih meskipun Bu Rosi tidak mengenal Fatih.

__ADS_1


Anggukan Nisa mendapat sorotan kecewa dari Bu Rosi. Ah, Nisa baru ingat. Bu Rosi kan diam-diam menyukai Fatih dia pernah menitipkan salam waktu itu. mengapa Nisa bisa lupa.


“Maafkan saya Bu Rosi” Nisa merasa tidak enak hati. Nisa khawatir setelah ini pertamannanya akan rusak..


“Tidak masalah. Jodoh sudah ada yang mengatur” Tetap saja Nisa merasa terbebani. Walaupun dijawab dengan anggukan dan senyum tulus.


“Tapi saya tidak percaya, Bu Nisa hanya ngasih tahu cincin. Tapi tidak bisa menunjukkan fotonya. Kalau cincin begitu kan siapa saja bisa beli” Kembali suara vokal hamid terdengar meyakinkan semua orang bahwa pendapatnya benar.


“Coba lihat” Bu Rosi mengulurkan tangannya menyentuh jemari Anisa. Sejenak dia terdiam. Hanya beberapa orang saja yang tahu kalau cincin yang dipakai Anisa bukan cincin biasa. Sudah Bu Rosi duga kalau laki-laki yag datang waktu itu bukan orang sembarangan. Bahkan dia tahu mobil yang di pakai untuk mengantar jemput Nisa, bukan jenis mobil sport yang di pamerkan artis di sosial media. Tapi hanya jenis mobil sedan berwarna hitam dengan harga fantastis. “Heart shape diamond ring” gumamnya dalam hati setelah meloydengan detail cincin di jari Anisa. Bahkan barang sekecil ini harganya setara dengan mobil yang mengantar jemput Anisa.


Anisa mencari celah agar mereka tidak bertanya tentang Foto pernikahan, untuk hal yang satu itu dirinya tidak bisa membuat alasan.


Bukan pernikahan seperti orang kebanyakan, yang dengan bangga bisa mengambil gambar disetiap moment. Pada hari bahagianya Anisa lebih sibuk menata hatinya, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan itu benar. Segala keterpaksaan dan desakan ibunya belum bisa Nisa Terima dengan lapang.


Nisa duduk dengan putus asa, semua mata tertuju pada dirinya. Seandainya Nisa sempat mengambil satu foto saja kemarin mungkin ceritanya tidak akan membuatnya kesal hari ini. Paling tidak satu foto dirinya dengan gaun pernikahan bisa membungkam mulut Hamid.


Mengambil gawainya walau dia tahu tidak akan menemukan apapun disana.


"Saya tidak sempat mengambil gambar apapun waktu acara, karena saya harus di make-up dari pagi" Mungkin alasan ini bisa menyelamatkan nya untuk saat ini.


"Tidak apa-apa Bu, mungkin lain kali saja" Bu Rosi tahu, Nisa tidak sedang mengarang cerita. Selama dia berhubungan dengannya Nisa belum pernah berbohong. Hanya lebih banyak diam untuk menutupi masalah pribadinya dengan tidak terlalu banyak mengumbar cerita.


Matanya membelalak, dia seolah baru mendapatkan jackpot sebuah undian dengan hadiah menggiurkan. Pesan yang diterimanya mampu mengangkat kembali rasa percaya dirinya.


"Semangat bagikan rapotnya, setelah ini libur panjangkan. have a nice day" Pesan dengan gambar yang terkirim, mengubah mood buruk Anisa karena ulah Hamid.


Dia akan berterimakasih nanti sama suaminya, meskipun yang dilakukan sang suami terkesan aneh, tapi untuk hari ini bisa menyelamatkannya dari ke kepoan Hamid.


"ini saya punya bukti kalau Bapak belum percaya" Dengan bangga Anisa memperlihatkan fotonya dan sang suami tepat mengahadap kamera dengan memamerkan jari manisnya.


Dengan sigap Hamid mengambil gawai dari tangan Anisa. seketika wajah antusiasnya meredup. kecewa, sakit hati dirasakannya sekarang. Padahal, dia sudah punya tekad yang kuat untuk mendekati Anisa.


"Selera Bu Nisa tinggi juga ya" Kalimat putus asa yang dilontarkan dengan tatapan tajam pada gambar. Menyerahkan kembali dengan wajah yang benar-benar berubah. " Selamat ya Bu, semoga langgeng " Tidak ada ekspresi ikhlas yang terlihat. Dan Nisa tidak peduli, pembuktian nya sudah selesai.


Anisa puas setelah melih Hamid keluar dengan wajah tertunduk lesu. Senyum bahagia terbit. Dia memutar kepalanya menghadap Bu Rosi. Nisa mendapat senyum balasan.

__ADS_1


Saatnya pembagian rapot, harinya begitu indah setelah lepas dari kejulitan Hamid.


***


"Abang sudah didepan" Pesan yang baru saja masuk membuat Anisa membuka lebar netranya. Masih jam sebelas siang, bagaimana suaminya tahu kalau dia sudah hendak pulang.


"Abang nggak kerja? " Balasnya, bukankah ini jam sibuk bagi bekerja kantor seperti Fatih.


"Hari ini Abang kosong, mau ngasih bonus istri jalan-jalan kemana saja. Setelah sibuk ngurus kerjaan sama nikahan nggak ada salahnya kan?" Kalau begini terus Nisa yakin suatu saat dia yang akan berlari menghambur kepelukan Fatih.


Tidak pernah ada dalam benaknya kalau dia akan diperlakukan semanis ini. Bahkan hanya dengan membaca pesan singkat saja dadanya sudah tak karuan.


Nisa tidak ingin terjebak dengan perasaannya sendiri. Yang se tulus dan sederhana sekelas Aldo saja masih bisa berhianat, apalagi laki-laki sekelas Fatih yang nyaris tanpa celah. sampai saat ini Nisa belum tahu mengapa pernikahannya dipercepat. Kalau cinta rasanya tidak mungkin.


Berkali-kali dia memperingati hatinya untuk tidak terlalu terbawa perasaan. Apapun tentang Fatih selamanya tidak akan pernah cocok baginya. perbedaan kehidupan yang terlalu mencolok. Kelas yang terlalu tinggi bagi seorang Fatih tidak akan pernah bisa Anisa jangkau.


Yang pasti untuk hari ini satu bebannya terangkat. Memberikan bukti lernikahan untuk satu orang sudah membuat moodnya benar-benar kembali baik.


Jalani hari ini dengan senyuman yang akn terjadi besok biarkan menjadi misteri. Menunggu kejutan apa yang akan di berikan suaminya lebih membuat hatinya berbunga.


"Terima kasih"


"untuk?"


"Foto yang abang kirim"


"Apa yang terjadi sampai istriku berterima kasih"


" Tidak ada yang percaya kalau Nisa sudah menikah. Untung ada gambar ayang abng kirim"


"Hmmm... "


"Kenapa cuma hmm.. "


"Abang harus bagaimana"

__ADS_1


Iya juga, memang apa yang harus Fatih lakukan.Melirik suaminya sebentar kemudian tatapannya kembali pada tas si pangkuannya.


"Biasanya, kalau ada yang berterima kasih Abang dapat hadiah. Kalau di film ungkapan Terima kasih bisa dengan pelukan, atau... " Fatih menyentuh pipinya dengan jari telunjuk, tatapan jahil dengan alis terangkat membuat wajah Anisa memerah. Dia tidak akan mungkin melakukan itu. pegangan tangan saja harus di paksa.


__ADS_2