
“Terima kasih, karena Abang tidak melanggar janji, abang hanya tidur memeluk Nisa sepanjang malam, maafkan Nisa yang sudah berpikiran buruk” Tunggu, ada yang salah dengan kalimat sang istri. Fatih membeku, dia melonggarkan pelukannya di tatapnya wajah yang sedang tersenyum itu dengan tatapan bingung. Fatih tidak tahu harus menjawab apa.
“NIsa mimpi aneh tadi malam, mungkin karena kecapean” Mimpi, memang apa mimpinya. Mulutnya seolah terkunci, seolah badannya membeku. Dirinya harus bersiap menyambut hal buruk setelah ini.
“Bang, kalau mimpi begituan harus mandi wajib juga kan?” sekarang dirinya benar-benar terdiam. Bahkan hanya untuk menjawab iya, atau sekedar menganggukkan kepala rasanya tidak sanggup. “Lepasin, Nisa mau kekamar mandi” Fatih melepaskan pelukannya. Rasa takut benar-benar menghantuinya. Apa yang akan terjadi kalau istrinya tahu, bahwa yang terjadi itu bukanlah mimpi.
NIsa duduk, bergeser ke bibir ranjang. Kakinya mulai menggantung di bawah.
“Au…” Teriakannya setelah kakinya menginjak lantai.
Fatih bangun dengan refleks. Laki-laki itu tahu apa yang terjadi. Berlari menghampiri sang istri. Memapah tubuh yang terduduk dilantai agar berdiri tegak. Di dudukkan di bibir ranjang.
“Sakit banget, kenapa berdiri saja tidak bisa” Menekan perut bawah pelan. Wajahnya meringis, mengigit bibirnya kuat. “Padahal Cuma mimpi, tapi sakitnya beneran” keluhnya pada sang suami. Dia menatap wajah Fatih.
Membawa Anisa kedalam pelukannya, erat bahkan sangat erat. Mengapa dia merasa seperti laki-laki jahat yang tidak berperasaan. “ Kita memang sudah melakukannya” Ucapnya berbisik di telinga Anisa. “ Tidak ada pemaksaan, kita melakukannya karena hati kita yang menginginkan” Tambahnya masih dengan berbisik.
“Kenapa harus melewati batas?” Suaranya terisak, dadanya berguncang.
Bukan tentang ceritanya yang membuat hati Fatih merasa tersayat, tapi suara tangisan sang istri yang membuat hatinya bagai diremas tangan tak kasat mata.
Tidak ada kejahatan dalam hubungan suami istri yang dilandasi cinta, begitupun yang dilakukannya. Tapi mengapa istrinya selalu melibatkan mimpi dalam setiap kejadian yang melibatkan dirinya. Ini yang kedua kalinya, setelah malam pertama di pernikahan mereka.
“Karena sudah seharusnya, kita yang menginginkan” Semakin mengeratkan pelukannya. Memberikan rasa nyaman pada tubuh yang semakin berguncang. Dia tidak peduli pada bajunya yang mulai basah karena airmata sang istri. Disembunyikannya wajah itu kedalam dekapannya. Namun tak jua mengehentikan tangisannya.
“Seharusanya Abang tidak melakukan itu sebelum Nisa bersedia” Kalau suasananya tidak sedang merasa bersalah, Fatih ingin tertawa di hadapan Anisa. Bagaimana istrinya bisa lupa kejadian tadi malam. Bukankah dirinya sudah meminta ijin sebelum melakukan hal itu lebih jauh. Dan Fatih melihat dengan jelas anggukan itu, walau dalam keremangan cahaya kamar. Karena wajah mereka hanya berjarak inchi.
“Abang minta ijin, Nisa mengangguk” Fatih merasakan pelukan itu terlepas dengan cepat.
__ADS_1
Anisa menatap wajah sang suami dengan air mata yang masih membanjiri pipinya. Dia mencari kebohongan disana, dia tidak percaya dirinya melakukan itu, menyetujui sesuatu yang di rasa tidak mungkin.
Fatih mengangguk kecil dengan pejaman matanya sesaat, jangan lupakan senyum kecil di wajah sang suami. Tidak perlu kalimat, tak perlu jawaban dengan suara, cukup anggukan itu sudah memberi jawaban kalau dirinya juga menginginkan hal yang sama.
Kembali Anisa memeluk suaminya dengan erat, bahkan sangat erat. Wajahnya di tenggelamkan di dada bidang suaminya. Rasanya tidak ingin menampakkan muka di hadapan laki-laki yang memberikan rasa nyaman ini. NIsa mengakui, pelukan Fatih memberikan kedamian dan rasa yang menenangkan.
Fatih membalas pelukan itu dengan erat, tangan kokohnya melingkari tubuh ramping dalam dekapannya. Seandainya bisa dia ingin memeluk istrinya sepanjang hari, Fatih berjanji tidak akan melakukan lebih. Diciumnya surai hitam itu berulang. Menghirup aroma segar itu berulang. Inilah rasanya jatuh cinta, rasa yang benar-banar baru untuknya. Jantung berdebar indah setiap saat. Fatih mengangkat tubuh itu ke atas pangkuannya. Memeluk dengan memiringkan tubuh tidak lah bagus. Dia tidak yakin pinggangnya akan bertahan lama.
“Jadi, Nisa sudah ingat semua” Suaranya pelan setengah berbisik, satu detik dua detik, hingga menit ke lima.
“Nisa malu, harusnya Nisa yang menolak” masih menyembunyikan wajahnya di dekapan Fatih. Tanganya melingkar kebelakang tubuh sang suami. “Sudah lama Nisa membenci diri sendiri, setiap rasa itu datang Nisa akan membenci Abang. Nisa pikir itu cara yang tepat agar Nisa tidak terlibat hubungan terlalu jauh, ternyata hati wanita selemah itu. Sekuat apapun NIsa melawannya, pada ahirnya harus menyerah. Semurahan itu NIsa Bang” kembali isakan itu terdengar.
Fatih mengusap punggung itu pelan, dari rambut turun ke punggung berulang. “Tidak ada kata murahan untuk istri yang melayani suaminya. Ada ribuan malaikat yang mendoakan kita. Nisa sudah menang melawan setan yang mencegah Nisa untuk beribadah. Seandainya Nisa bisa melihat, ada penjagaan malaikat ketika kita melakukannya. Bahkan mereka berdoa, agar kita bisa mendapat keturunan yang shalih dan shalihah” Fatih merasakan pelukannya dilepas paksa. Mata bulat itu membuka sempurna didepannya. Tak lagi basah, namun penuh tanya.
“Apa mereka melihat Nisa tidak pakai baju” Fatih tidak bisa menahan tawa, dadanya berguncang. Dia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Dia tidak tahan untuk tidak memeluk istrinya. Ditariknya tangan itu hingga tubuh mereka kembali saling mendekap.
Betapa beruntung dirinya, bisa melihat segala ciptaan tuhan yang menakjubkan dalam diri istrinya. Yang dulu hanya angan, sekarang benar-benar nyata. Bahkan Fatih sudah melihat semua bagian dengan takjub. Fatih tidak ingin melupakan setiap bagian itu, setiap celah dan titik akan dia simpan dengan baik dalam memorinya.
“Tapi tetap saja kan mereka lihat” Fatih kembali tertawa geli, dia tahu apa yang dirasakan sang istri.
“Pernah lihat bodyguard menjaga tuannya. Bukankah mereka membelakangi sang tuan demi mengawasi musuh yang ingin mendekat” Meskipun tidak yakin dengan jawabannya sendiri, dia berharap jawaban itu bisa membuat istrinya lega.dan benar saja, Fatih merasakan helaan nafas lembut penuh kelegaan.
“Jadi, sekarang bagaimana. Mau mandi kita shalat subuh, habis itu jalan di pantai lihat matahari terbit” ucapnya dengan berbisik.
“NIsa nggak bisa jalan”
“Tangan Abang masih kuat buat gendong”
__ADS_1
“Tapi Nisa malu”
“Abang suka melakukannya, oke bayi besarku. Kita mandi sekarang”
Anisa memukul dada sang suami. Kemudian menelusupkan wajahnya di leher Fatih.
Fatih berdiri dengan Anisa yang masih dalam gendongannya, dia membawa di depan seperti induk koala menggendong anaknya. Menurunkan di dalam kamar mandi. Dan meninggalkan Anisa disana. Duduk di sofa kamar. Bibirnya tersenyum samar, memorinya memutar kejadian tadi malam. Hingga tawanya terdengar lepas mengingat pertanyaan Anisa tadi.
Hari masih pagi, gelap masih menyelimuti bumi. Embun pagi menetes pelan di dedaunan. Suara burung terdengar saling bersahutan. Bersiap menyambut pagi dengan segala keindahannya. Mereka mendamba hangatnya mentari. Alam selalu menyediakan tempat dan keadaan yang begitu menakjubkan bagi mereka yang bisa menikmatinya.
Hari ini, dua insan berdiri menghadap ufuk timur siap menyambut hangatnya mentari di bibir pantai. Tidak ada jarak, tangan itu saling melingkar di pinggang. Ketika hati berbunga, suara desiran ombak bagai musik syahdu yang mengalunkan lagu cinta, diiringi kicauan burung di atas pohon.
Sang surya mulai menampakkan diri, pendar cahaya kemerahanmulai terlihat, dengan perlahan bola panas itu merangkak naik. Hangat, mulai terasa menggantikan dinginnya embun pagi.
“Kamu tahu apa yang lebih indah dari matahari terbit?”
“Apa” Anisa mengelengkan kepala.
“Senyuman yang terbit di wajah istriku” Menatap Anisa ingin tahu reaksinya. “Tidak lucu ya” Melihat istrinya diam, dia merasa gurauannya sia-sia. Atau memang dia yang tak pandai merayu. Fatih salah fokus Anisa beralih pada jari tengah sebelah kirinya. “Kanapa?” Tanyanya heran.
“Sejak kapan cincin ini ada disini” Anisa baru menyadari perubahan pada jarinya.
“Setelah kita melakukannya, abang menyematkan itu sebagai tanda terima kasih, karena mau membuka hati untuk suamimu yang tidak bisa melucu ini” Memukul dada sang suami.
Fatih menarik istrinya dalam dekapannya, kembali wajahnya diarahkan pada puncak kepala Anisa. berulang tanpa rasa bosan.
Biarlah hari ini Fatih akan menikmati rasa bahagia ini. Esok, akan berusaha menjaga hubungannya yang mulai menghangat. Dia berharap, tak akan ada aral dan badai kencang menerpanya. Tidak akan pernah membiarkan siapapun mengambil Anisa darinya, begitu pun janji pada dirinya. Tak akan ada hati yang lain, tak ingin menyakiti hati Anisa sampai kapanpun.
__ADS_1