MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
MERUBAH KEBIASAAN


__ADS_3

Setiap pelayan di rumah itu memperkenalkan diri satu persatu disertai dengan tugasnya. Anisa menyambut sapaan mereka dengan ramah. NIsa sangat tahu, bahwa hormtnya para pelayan iitu karena sang suami, bukan karena mereka menghormatinya. Nyatanya uang lebih berkuasa dari segalanya. Bahkan berpura-pura bersikap baik agar kedudukan mereka aman pun dilakukan.


“Kamu diantar Mbok Sa, ke kamar” Abang ada yang masih dibicarakan dengan Reno. Perintahnya. Terlihat Reno berdiri dengan laptop dan berkas ditangannya.


Anisa berlalu setelah menoleh pada perempuan paruh baya yang berdiri disampingnya dengan wajah menunduk.


“Mari Saya Antar Nona” Berjalan mendahului Nisa sebagai petunjuk jalan. Terlalu banyak orang di sekitar sang suami, terlalu banyak pelayan yang ada di rumahnya. Hanya saja Anisa tidak terbiasa, baginya satu orang saja cukup untuk melakukan pekerjaan rumah.


Langkahnya terhenti setelah sempat menoleh ke belakang, menangkap pemandangan yang tidak biasa.


“Berhenti Pak” suaranya menggema mengisi memenuhi ruang utama. Semua yang ada di tempat itu terpaku, tidak melanjutkan gerakannya. “Biarkan Tuanmu melepaskan sepatunya sendiri”. Ucapnya dengan lantang.


“Tapi Non…” Pak Gani kepala pelayan mencoba membela diri. Tangannya yang hampir mencapai kaki Fatih berhenti, menggantung tak bergerak.


“Bapak mau bilang kalau itu tugas?” Berjalan mendekat tanpa rasa takut. Semua yang ada diruangan itu gemetar ketakutan. Mengingat peraturan dirumah utama. Tidak ada yang boleh merubah peraturan kecuali sang Tuan sendiri. Dan mereka akan tahu akibatnya. Kemarahan Fatih yang akan mereka terima. Membayangkan itu tidak satupun berani mengeluarkan suara.


“Jangan merendahkan diri hanya karena uang Pak Gani, kita hidup di negara timur yang masih memegang teguh adat dan sopan santun. Umur bapak lebih tua dari laki-laki yang baru saja Bapak sentuh kakinya. Di negara kita, itu sudah melanggar norma. Mulai sekarang semua hal yang berkaitan dengan Tuan Fatih, biarkan dia melakukannya sendiri. Kecuali pekerjaan kantor karena memang butuh asisten dan Reno silahkan lanjutkan pekerjaanmu” Semua mata yang ada di ruangan itu membuka lebar.


Terkejut dengan reaksi Fatih yang hanya diam melihat Anisa menyindirnya secara terang-terangan. Bahkan Reno melihat senyuman di wajah sang Tuan. Sehebat itu cinta mengubah kepribadian seekor macan yang siap mengaum ketika ada orang yang mengusik harga dirinya.


“Lakukan semua yang diperintahkan istri saya” sekarang bukan hanya mata mereka yang terbuka lebar, mulut merekapun ikut membuka tanpa sadar.


“Tapi Tuan…” kali ini Reno yang bersuara. Dia menjadi saksi dengan semua perubahan Fatih. Badannya merinding. Seharusnya kemarahan yang diterima Anisa karena sudah berani mengubah peraturan di rumah utama tanpa persetujuannya. Justru tatapan penuh cinta dengan senyum penuh kekaguman yang terlihat.


“Apapun yang dikatakan istriku lakukan. Karena mulai saat ini dia nyonya rumah ini. dan kalian wajib mematuhinya” Tidak ada yang tahu apa yang terjadi sebelum ini. apa yang membuat Tuannya berubah begitu drastis. Perubahan yang teramat besar bagi mereka mengingat pernah ada perempuan yang pernah melakukan hal yang sama justru hadiah amarah yang diterima.


Wanita bernama Davina yang masuk ke rumah itu memperkenalkan diri sebagai calon istri Fatih. Wanita berbeda yang di bawa Fatih masuk ke rumah itu. para pelayan masih ingat itu adalah hari pertama dan terahir wanita itu menampakkan diri didepan mereka, karena setelahnya dia membuat kesalahan yang sangat Fatal.


“Saya ingin setiap pelayan disini memanggil saya Nyonya, dan saya tidak ingin siapapun membuat kesalahan. Setiap saya kesal dengan kalian saya akan mengaggap itu sebagai kesalahan. Dan kalian akan tahu sendiri akibatnya” Ujarnya dengan wajah pongah , dan suara lantang. Sayangnya bukan pelayan yang melakukan kesalahan, justru sang calon nyonya yang membuat kesalahan besar di hadapan Fatih.

__ADS_1


“Saya tidak suka siapapaun mengubah peraturan di rumah ini. apalagi hanya orang baru yang tidak tahu apa-apa. Dan saya harap setelah ini kamu, jangan menginjakkan kaki di rumah ini. Reno antarkan dia pulang ketempat dimana dia bisa memerintah pelayan dengan seenaknya” Suara Fatih lebih keras tanpa jeda. Wajahnya memerah menahan amarah yang hampir saja meledak lebih keras.


Tak dihiraukannya bujukan dan rayuan Davina. Bahkan dengan sengaja Fatih meninggalkan wanita itu sendirian. Setelahnya Reno menjemput paksa dan menyuruh orang mengantar pulang. Kejadian itu sudah lama.


Tapi ingatan mereka justru diputar kembali dengan kajadian yang baru saja terjadi di hadapan mereka. justru Anisa mendapat tanggapan sebaliknya. Bukan bentakan ataupun kemarahan, justru sikap lembut dan ramah yang diterima. Jangan lupakan tatapan penuh cinta dari matanya.


Anisa berlalu diantar Mbok Sa kekamarnya. Kamar cukup luas dengan nuansa yang sama, hitam putih dan abu mendominsi. Nisa yakin kombinasi ketiga warna itu kesukaan suaminya. Mbak Sa menjelaskan kamar dan isinya, letak kamar mandi dan lemari serta semua kelengkapan disana. Nisa tertegun bukan karena ukuran dan megahnya kamar ini. tapi semua alat make up, parfum dan semua perlengkapan mandi dengan merk yang sama dengan yang biasa dia pakai, sudah berjejer rapi dengan kemasan yang masih utuh tersegel.


Lemari penuh dengan bajunya, mulai dari seragam kantor, hingga baju santai dan beberapa gaun model tertutup lengkap dengan hija, jilbab. Jangan lupakan warna pink dan ungu serta beberapa warna lain kesukaan anisa. hijab dengan warna pastel berjejer dengan rapi.


“Siapa yang menyiapka semua ini Mbok?”Tanya pada wanita paruh baya yang masih setia menundukkan wajahnya.


“Nona Monica, saya hanya membantu merapikan saja.” Jawabnya tanpa mengangkat wajah


“ Monica, siapa dia?” Nama itu baginya asing, tapi terdengar biasa saja ketika Mbok Sa menyebutkannya, itu artinya dia orang yang keluar masuk di rumah ini. dari sekian banyak pelayan yang memperkenalkan diri, tidak satupun diantara mereka yang bernama Monica.


“Teman Tuan Reno Nona” Ooo…pantas aja NIsa tidak melihatnya.


“Semua orang di rumah ini melakukan pekerjaan atas perintah Tuan Fatih Non, jadi saya yakin Nona Monica melakukan yang di perintahkan Tuan” Anisa paham, ternyata Fatih yang memberitahu semuanya.


Ada rasa kagum ketika mengetahui seorang yang ditakuti di rumah ini tidak berkutik di hadapannya, bahkan Anisa tahu berkali-kali Fatih merendahkan diri dihadapan dirinya. Bukannya Anisa tidak tahu wajah ketakutan para pelayan ketika dia menegur Pak Gani tadi. Semua orang tampak pucat, tapi NIsa tidak peduli. Melihat orang tua berjongkok di hadapan Fatih membuat hatinya tidak terima.


“Mbok Sa, bilang sama Tuan Fatih setelah saya mandi kumpulkan semua pelayan. Saya ingin membuat perubahan” Mbak Sa, mengangkat wajahnya, pucat darahnya seolah berhenti mengalir. Pikirannya buruk apa kesalahan yang dibuatnya hari ini, wanita paruh baya itu berpikir Anisa akan memecat beberapa pelayan, bisa jadi dirinya adaa dalam daftar itu.


“Apa saya membuat kesalahan, maafkan saya Nona, jangan pecat saya” Wajahnya memelas, tangannya bergetar.


Anisa mendekat kemudian memegang tangan wanita yang memakai seragam pelayan. “Saya tidak akan mengeluarkan siapapun. Sekarang turunlah, sampaikan pesan saya padanya” Ujarnya dengan senyum tulus.


Ada kelegaan di wajah Mbok Sa, setidaknya sampai detik ini anaknya masih bisa melanjutkna kuliahnya. Melakukan pekerjaan tanpa membuat kesalahan karena ada dua orang anaknya yang sedang dia perjuangkan masa depannya.

__ADS_1


Anisa asih memutar pandangannya berkeliling, Aroma maskulin tercium indranya. Tidak terlalu tajam , lembut tapi sedikit memberikan aroma kuat.


“Ada apa, kamu tidak cocok dengan warna cat kamar ini, kita bisa merubahnya besok. Nisa yang pilih warnanya” Masuk dengan tergesa mengahampiri sang istri.


“Aku tidak bisa mengubah apapun di rumah ini. Aku termasuk orang yang suka risih kalau terlalu banyak pelayan, jadi akan ada perubahan tentang mereka” Jawabnya tanpa menoleh


“oke, Abang tunggu dibawah.” Mengusap kepala sang istri, kemudian berlalu.


“Abang bilang sama mereka jangan ada yang memanggil Tuan dan Nona di rumah ini, NIsa tidak suka banyak pelayan Nisa tidak mau” duduk di sofa ruang tamu setelah mmenersihkan diri kemudian turun ke bawah, semua pelayan berdiri dengan kepala tertunduk.


“Mereka sudah memperkenalkan diri lengkap dengan tugasnya tadi, bagaimana Abang bisa mengurangi mereka. mereka semua yang akan melayani Nisa” Merangkul bahu sang istri.


“NIsa tahu, tapi ini kebanyakan. Nisa hanya mau Mbok sa disini. Kalau yang lain mau melakukan tugas di berikan tempat lain Bang” Protesnya, Nisa tidak ingin perubahan terlalu mencolok, cukup satu orang yang akan membantunya seperti di rumahnya sendiri.


“Oke, Abang paham sekarang. Nisa mau istirahat atau makan dulu, Abang yang akan mengatur mereka” Ucapnya menarik nafas lega. Dia pikir perubahan apa yang istrinya inginkan.


“NIsa ingin semua tidak terlalu berlebihan Bang, NIsa bukan orang dengan kebiasaan glamour di kehidupan sebelumnya” Ucapnya menatap wajah Fatih tanpa senyum.


“Kita makan dulu, Abang lapar” Menarik tangan NIsa menuju ruang makan. Lagi-lagi Anisa melihat beberapa orang berjejer, hanya mau makan saja harus ada empat orang di sekitar meja makan. Bagaimana suaminya terbiasa dengan kehidupan aneh seperti ini.


“Jangan lihat mereka seperti itu, besok semuanya akan berubah sesuai permintaan kamu” Ucapnya sambil mempersilahkan Ani duduk di kursi yang sudah ditarik seorang pelayan wanita.


“Siapa dia mas Reno?” Pak Gani bertanya heran, setelah Fatih meninggalkan mereka diikuti beberapa pelayan.


“Seorang guru SMA” jawa Reno datar,


“Apa istimewanya sampai Tuan Fatih tidak berdaya di hadapannya” Tanyanya lagi.


“Dia wanita yang sudah berhasil mematahkan teori laki-laki jatuh cinta akan terlihat bodoh, sayangnya Tuanmu sedang mengalami itu Pak Gani” Reno berbicara sambil matanya mengamati laptop di depannya.

__ADS_1


“Nampaknya Akan banyak kejutan setelah ini” Pak Gani berucap sambil berlalu.


__ADS_2