
Datang lebih pagi dari siswa yang lain, mereka menyebutnya jam ke nol. karena dimulai sebelum dimulainya jam pelajaran. Hari ini, pemantapan ahir, pembekalan siswa siswi yang ikut olimpiade mata pelajaran matematika.
Kelas tampak sunyi, ada enam orang didalamnya. mereka adalah siswa siswi terbaik yang dipilih dari semua siswa di sekolah. untuk mewakili sekolah di Olimpiade matematika tingkat provinsi. yang selanjutnya yang terbaik akan dikirim di tingkat nasional.
mereka tampak tekun mengerjakan. wajah-wajah serius sedang perfikir. calon penerus bangsa itu sedang berjuang untuk mendapatkan nilai yang terbaik diantara teman-temannya.
Anisa, sesekali wajah itu memperhatikan siswa didepannya, kemudian tatapan itu kembali menekuni tumpukan buku tulis yang ada didepannya. Wajah teduh, nampak tenang. sudah seminggu berlalu. kejadian menyakitkan itu sudah berangsur pudar dalam ingatannya.
Begitulah mencintai, sedikit memberikan jarak agar ketika hati tersakiti tidak sepenuhnya terluka. masih ada ruang untuk berfikir jernih. tidak menyerahkan sepenuhnya pada laki-laki yang belum tentu menjadi jodoh kita.
Hanya butuh waktu satu minggu bagi Anisa untuk meratapi kekecewaan nya. beruntungnya ketika menjalin hubungan dengan Aldo tidak pernah ada kontak fisik sekalipun hanya pegangan tangan. Mereka jarang bertemu, bahkan ketika abangnya masih dirawat, tidak sekalipun laki-laki itu datang menjenguk.
ketika itu Anisa masih berpikir positif, bahwa Aldo terlalu sibuk dengan jabatan barunya. Hingga ahirnya dia tahu bahwa, hati laki-laki itu telah berpaling.
Anisa menarik nafas panjang. Terkadang rasa itu masih datang sesekali, bukan sakit tapi kecewa.
Gawainya menyala, mode getar di aktifkan, khawatir mengganggu konsentrasi siswanya yang sedang mengerjakan soal. Nama itu, nama yang terpampang di layar segi empat itu membuat keningnya berkerut. seharusnya dia memblokir nama itu dari seminggu yang lalu.
Diabaikan, itu salah satu cara menghindari laki-laki pecundang itu. Bagi Nisa urusannya dengan laki-laki itu sudah selesai seminggu yang lalu, ketika dengan percaya diri memperkenalkan pacar barunya. sejak saat itu Aldo adalah masa lalu baginya.
satu kali, dua kali diabaikan. hingga entah panggilan kesekian tetap Nisa abaikan. Rupanya Aldo termasuk laki-laki yang pantang menyerah. Buktinya, setelah berkali-kali di abaikan tidak sekalipun dia berniat untuk berhenti mengganggunya.
sebuah pesan masuk, dari laki-laki yang sama.
__ADS_1
"kita harus bicara, temui aku dicafe biasa, ada yang ingin aku sampaikan"
Di baca tidak dibalas. semoga dia tidak berminat menghubunginya lagi. kisahnya dengan Aldo telah benar-benar usai sekarang. Dan Anisa tidak berniat mengenangnya apalagi mengulangnya.
Dan dia tidak berminat sedikitpun untuk menemui laki-laki itu. Selain tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Anisa benci menatap wajah Aldo. Dengan gampangnya dia berkhianat dan dengan mudahnya dia ingin berbicarablagi, memberikan penghargaan predikt laki-laki tidak tahu diri tahun ini pada Aldo rasanya sangat pantas.
"Bu Nisa mau kemana" bu Rosi mengejarnya sampai ke parkiran sepeda motor
"pulang, emang ada apa bu" Nisa bingung, tidak biasanya tkan se profesinya itu begitu ingin tahu urusannya hari ini.
"Ibu sudah ditunggu dari tadi" Nisa menatap bingung wajah didepannya. siapa yang menunggu nya di jam siang begini. Hampir jam Tiga sore, Nisa bari keluar dari ruang guru. karena masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan terkait dengan nilai hasil seleksi peserta olimpiade yang akan diselenggarakan bulan depan.
Nisa mengikuti arah pandang Bu Rosi. Oh, laki-laki yang paling dia benci untuk saat ini sedang berdiri diluar pagar sekolah. bersandar pada pintu mobil hitam miliknya. Nisa tahu karena mobil itu yang sering dia pakai ketika menjemputnya.
"kita bicara disini saja" ketus, suara anisa tanpa memandang lawan bicaranya
"kita ke cafe bisanya tidak enak dilihat orang berbicara sambil berdiri" dengan suara lemah. laki-laki yang dengan tegas memutuskan hubungan dengannya kini bersuara lemah dihadapannya. Entah apa yang ada di kepala Aldo sekarang.
"Maaf, saya tidak punya waktu" mengubah gaya bicara ketika mereka bersama. Dengan menggunakan kata "saya", Nisa ingin memberi tahu Aldo bahwa diantara mereka sudah ada jarak yang membentang. Hubungan mereka tak lagi sama.
Aldo hanya bisa menarik nafas, dia tahu betul wanita didepannya ini, tidak akan merubah keputusannya dalam keadaan seperti ini. Dia tahu kesalahannya terlalu besar. dan tidak mungkin mendapatkan maaf. tidak ada salahnya mencoba bukan.
"Aku minta maaf" kedua alis Nisa bertaut, bingung dengan ucapan yang keluar dari mulut laki-laki didepannya ini.
__ADS_1
"untuk.... " untuk apa minta maaf bukankah semua yang terjadi atas kesadaran Aldo melakukannya. bukan atas paksaan Siapapun.
" kesalahanku yang terjadi kemarin, aku sadar, ternyata aku masih mencintaimu" tatapan teduh sepet biasa. kali ini lebih kepada menghina
"lucu sekali, baru minggu kemarin memperkenalkan pacar baru, sekarang datang mengakui kalau masih cinta, apa kabar wanita modern yang telah mampu memenuhi semua obsesimu tentang kriteria seorang pacar itu" tajam, ucapan Anisa lebih dirasa bagai tikaman belati.
"kami sudah putus" ucapnya lemah
"secepat itu, setelah semua yang dia lakukan buat kamu, gampang sekali. Aku yakin, bukan wanita itu yang meminta putus" benar begitu bukan, wanita yang telah banyak berkorban tidak akan dengan mudah meminta pisah, sekalipun dengan cara baik-baik. Apalagi jika melihat pengorbanan wanita bernama April itu. Anisa yakin pengorbanan yang dimaksud adalah tentang kehormatan dan harga dirinya sebagai wanita.
"Mama ingin aku kembali sama kamu" seandainya ini bukan di depan sekolahnya. Anisa ingin rasanya terbahak dengan keras, Nisa tidak menyangka kedatangan laki-laki ini karena permintaan sanga mama. bolehkah Nisa memberi julukan anak mama untuk Aldo. lucu sekali bukan.
"sudah terlambat, hatiku sudah terlanjur nyaman dengan hubungan kita yang sekarang, aku bisa menilaimu, Seperti apa laki-laki yang punya jabatan manager di Hotel ternama di kota ini".
senyum sinis itu terbit. seandainya Aldo tahu bahwa senyuman itu juga merupakan penghinaan. seharusnya dia marah dan tersinggung. tapi apa, justru Aldo berdiri mematung melihat senyuman kebencian di wajah Anisa.
"Aku serius dengan ucapanku" ucap Aldo dengan tatapan intens
" biar aku koreksi, lebih tepatnya kamu takut dengan ancaman mamamu. Tidak ada keseriusan setelah apa yang kamu lakukan kemarin, permisi saya sudah membuang waktu setengah jam mendebatkan hal yang tidak penting disini " berlalu tanpa peduli panggilan Aldo berkali-kali.
Menulikan telinga, hingga motor matic itu menjauh dari pandangan Aldo.
"akan aku lakukan semua agar kita bisa kembali Nis, di hati ini masih ada kamu" mungkin Aldo lupa dengan rasa sakit yang ditorehkan di hati Anisa kemarin, atau mungkin laki-laki ini tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya kemarin telah meninggalkan luka dan kebencian di Hati Anisa.
__ADS_1