MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
JAWABAN YANG MELEGAKAN


__ADS_3

“Kak, gimana acara liburannya?” Indira, dengan rasa penasarannya bertanya antusias. Dia bahkan membalik badannya menghadap Anisa yang duduk di sofa menikmati acara TV setelah membersihkan diri sepulang dari pantai sembilan tadi sore.


“Kakak, belum pernah melihat matahari terbit dan terbenam sesempurna itu” Anisa menjawab dengan wajah berbinar.


“Bukan itu, yang lain” Lanjutnya lagi, bukan jawaban itu yang dia mau


“Apa?” Wajah Anisa bingung. Memang apalagi yang dilihat disana selain melihat matahari berproses.


“Acara berdua sama Abang, dia kan kaku. Romantis tidak Tuan Fatih?” Anisa membeku. Dia tidak mungkin menceritakan itu pada gadis yang belum menikah bukan. Terus apa yang harus dia jawab.


“Huss, anak kecil mau tahu urusan orang dewasa” Ibu yang jawab melihat Anisa yang terdiam. Ibu mengerti rasa diamnya Anisa.


“Ya, mungkin diajak berenang Bu, atau bersepeda keliling pantai. Terus jalan gandengan gitu. Masak Cuma duduk diam, kan nggak seru” Wajahnya cemberut, dia hanya ingin tahu apakah abangnya romantis atau tidak Ibunya bahkan memarahi untuk pertanyaannya.


“Iya, Abang ajak Nisa bersepeda. Habis itu minum es kelapa muda” Nisa tidak berbohong, itulah kegiatan mereka di pagi hari setelah menikmati matahari terbit. “Tapi, Abang larang Nisa berenang. Karena terlalu terik. Lagian Nisa nggak bawa baju renang” Lanjutnya. Tapi, mereka bertiga yang ada di ruangan itu melihat wajah bahagia Anisa.


ibu orang yang paling bahagia melihat itu. sedikit mengurangi rasa khawatir dengan hubungan anak dan menantunya. Dia sebagai orang tua, merasakan ketidak beresan hubungan mereka. bahkan beberapa kali dirinya menangkap kejanggalan tersebut. Dia tidak bisa apa-apa. Bertanyapun tidak mungkin, karena ibu sudah tahu jawaban mereka tidak akan jujur.


“Tuh, kan Bu. Mereka bahagia. Ibu terlalu overthingking” indira mencoba membela diri. “Enakan berdua apa ramai-ramai” Lanjutnya masih dengan pertanyaan yang tak kalah antusias.


“Apa sih dik, tanyamu aneh-aneh” kali ini Ida yang menegur adiknya. Dia sudah melihat raut tidak nyaman di wajah Anisa. “Nanti kalau kamu sudah nikah ajak suamimu kesana biar tahu gimana” Lanjutnya dengan suara tegas.


“Abangmu mana, Ibu mau bicara?” Tanya Ibu sama Anisa, tapi Nisa hanya menggeleng dia memang benar-benar tidak tahu. “Kebiasaan kemana-mana tidak pernah bilang, bahkan sama istrinya sendiri” Ibu menggerutu kelakuan anaknya yang belum berubah.


“Ada di belakang sama Bapak, Ibu kenapa sih suka marah-marah” Indira memprotes ibunya. Enath mengapa, emosi ibunya ahir-ahir ini meningkat. Bahkan Indira kaget ketika Ibunya melarang mereka ikut Nisa liburan kemarin.


“Bagaimana tidak marah, bahkan sama istrinya sendiri tidak bilang mau kemana” Masih dengan rasa kesal Ibu bernajak pergi.


“Tenang kak, Ibu nggak akan marah sama Abang, lihat saja. Tapi kalau sama kita, ngegas beneran” Indira menyentuh pundak Naisa melihat wajah khawatir setelah ibunya menghilang dari pandangan mereka. Suaranya berbisik tepat di telinganya.

__ADS_1


“Bagaimana kalau kita lihat foto Abang, kita bongkar aibnya di depan istrinya” Ida mengalihkan pembicaraan. Melihat wajah khawatir Anisa, membuat adik iparnya merasa Iba. Dia tahu Nisa belum tahu keluarganya. Belum tahu, bagaimana sayangnya Ibu terhadap Abangnya. Bahkan menegluarkan suara tinggi di hadapan Fatih saja Ibu tidak akan tega.


Jadilah mereka membawa empat tumpuk album foto yang diambil dari lemari di bawah TV. Duduk bertiga lesahan di karpet. Ida beranjak mengambil makanan ringan di belakang. Dua toples besar di terlihat di gendongannya. Mendekat ke arah karpet.


Membuka satu persatu tumpukan album dengan segala ceritanya. Ida menceritakan mereka yang ada di foto. Mulai dari hubungan kekerabatan atau hanya sekedar teman dekat Fatih. Mulai dari Fatih kecil. Terpampang foto anak laki-laki tanpa busana dengan ayam jago di gendongannya, giginya yang ompong menambah kesan lucu foto itu. Anisa terbahak, perutnya sakit menahan tawa.


“Ini waktu Abang di nobatkan menjadi kacong sumenep, itu sebutan untuk pemilihan kacong dan cebbing atau raka raki kalau di jawa timur. Abang runner up 1. Mewakili sekolahnya dulu. Dia sebenarnya tidak mau, karena terpaksa di tunjuk sekolah. Tahunya menang meskipun bukan pemenang pertama” Cerita ida sambil menunjukkan foto sang Abang memakai baju hitam khas bangsawan sumenep dengan selempang tersemat di sana.


“Abang sudah genteng dari dulu, hanya dia pendiam. Tidak punya banyak teman. Abang lebih banyak di rumah bantu Ibu. kami bergantung hidup dari warung kecil di depan rumah. kehidupan kami dulu sangat memprihatinkan kak” Ida mulai bercerita, tiba-tiba suaranya melemah. “Bapak sakit asma, tidak boleh capek. Ibu yang bekerja Abang yang bantu belanja ke pasar, tiap hari berbelanja sayuran segar. berangkat jam dua malam, buka warung jam enam sudah mulai. Awalnya hanya coba-coba. Alhamdulillah banyak yang cocok masakan Ibu. hingga sebesar sekarang”


Nisa tidak pernah tahu kehidupan Fatih sebelum ini. Dia pikir laki-laki itu memang keturunan orang yang tidak perlu bekerja sedemikian keras, tinggal duduk terima warisan dari leluhurnya. Dan Anisa pikir rumah yang mereka tempati sekarang sudah ada sejak dulu. Ternyata rumah tinggal mereka sekarang hasil jerih payah sang Ibu membeli dari hanya tanah kaplingan, hingga di bangun menjadi sebesar sekarang dengan perlahan setelah Fatih sukses.


Hatinya jatuh semakin dalam pada pesona laki-laki yang bergelar suaminya tersebut. Rendah diri, sikap dewasa dan penyayangnya mampu merubah semua hal dalam dirinya. Setelahnya dia akan berusaha untuk membuka hatinya lebih, menyingkirkan ketakutan dalam dirinya. Menghargai cinta Fatih dengan membalas dengan rasa yang lebih besar. Meskipun Anisa belum pernah mendengar suaminya berkata cinta dengan jelas. Dia sudah tahu, dari cara memperlakukan dirinya, caranya melindungi membuat Anisa yakin bahwa tanpa kata, rasa itu ada dan begitu besar.


Dadanya membuncah setiap mengingat kejadian di pantai sembilan waktu itu. sentuhan kulit mereka memberikan rasa tenang, walau awalnya sangat tegang dan masih sering merasa takut. Tapi semakin lama, dia merasakan pelukan suaminya begitu hangat. Nisa merindukannya. tidur di bawah rengkuhan tangan kokoh Fatih. Dengan aroma citrus terasa segar yang membuatnya betah menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami. Kadang di ceruk lehernya, yang membuatnya betah berlama-lama disitu.


“Sebenarnya Ibu sudah menyiapkan pesta besar untuk pernikahanmu kelak. Keluarga dan kolega kita banyak, tidak mungkin ngundang orang sedikit. Tapi, semuanya berubah. Ibu tidak tahu kenapa abang melakukan semuanya tiba-tiba. Mulai dari lamaran hingga pernikahan. Ibu pikir jaraknya masih lama. Ibu sudah menyiapkan semuanya. Mulai dari musyawarah sama keluarga. Gimana enaknya. Tiba-tiba Abang telepon suruh berangkat mau nikah tiga hari lagi. Ibu lemes, waktu itu. pikiran Ibu buruk Bang, ibu berpkiri kalian melakukan hal buruk di luar norma”


Suara itu menghentikan langkah Anisa ketika akan melewati pintu menuju taman belakang setelah keluar dari kamar mandi. Katakan dirinya tidak sopan menguping pembicaraan orang lain. Tapi rasa penasarannya seolah memaku kakinya di tempat. Menajamkan pedengarannya, walau memang tidak pantas.


“Tapi, melihat semuanya baik-baik saja, Ibu merasa lega. Bahkan Ibu sempat tanya Fira, mereka juga tidak tahu” Suara lembut layaknya seorang Ibu memberi nasehat pada anaknya. “Ibu sayang sama Nisa, tolong jaga dia baik-baik Bang, jangan aneh-aneh” Lanjutnya masih dengan suara pelan. Mungkin Ibu tidak ingin ada yang mendengar, tapi Nisa sudah terlanjur tahu semuanya.


“Abang janji” Hanya dua patah kata itu yang keluar dari mulut Fatih, menjawab nasehat Ibu yang panjang dang lebar.


“janji apa?” Suara Ibu mulai meninggi.


“janji jagain Nisa”


“Jangan hanya Itu, berikan cinta yang tulus buat Nisa. Dia wanita yang pantas mendapatkannya” Sekarang suara Ibu penuh penekanan.

__ADS_1


Nisa terharu, hatinya begitu tersentuh. Permintaan Sang mertua untuk suaminya. membuatnya bahagia. Untuk kali ini dia tidak ingin meminta apa-apa lagi dari Tuhan. Cukup dicintai mertuanya, Nisa sudah mendapatkan segala yang dia pinta selama ini.


“Abang akan lakukan itu, jangan khawatir Bu. abang tidak akan menyia-nyiakan menantu Ibu”


“Tapi Ibu tidak melihat itu, berkali-kali ibu melihat kejanggalan hubungan kalian. Ibu tahu kamu menyembunyikan banyak hal. Seorang ibu akan tahu sekalipun itu kecil” Hening, tidak ada lagi yang mengeluarkan suara. “ Pagi ketika Ibu mengetuk kamar Abang, ibu melihat Anisa tidur dengan pakian lengkap, terlihat janggal ketika seorang istri masih menjaga auratnya didepan suami. Abang yang tidak berani masuk kamar ketika waktu Nisa pijat. Dan adikmu juga melihat banyak ke janggalan lain. Apa sebenarnya yang terjadi?” Mungkin semua Ibu akan merasakan hal yang sama. Harapannya hanya satu anaknya menikah satu kali seumur hidup.


Anisa membeku, jadi mertuanya tahu hubungannya dengan Fatih, tapi rasa itu kembali normal kejadian di pantai kemarin, sudah merubah segalanya. Nisa hanya berharap Fatih menjelaskan pada Ibu, bahwa hubungan mereka tidak perlu di khawatirkan.


Tidak ada jawaban dari sang suami, untuk kali ini Nisa menunggu pembelaan seperti biasanya. Tidak adakah keinginan Fatih untuk mengatakan kebenaran. Kalau hubungan mereka sudah mulai membaik setelah kejadian malam kemarin.


“Besok Abang sudah mau kembali. Satu yang membuat pikiran Ibu masih belum lega. Kasih alasan kenapa Abang menikahi Anisa, dari sekian banyak wanita kenapa dia. Apakah Abang benar-benar jatuh cinta, atau ada hal lain yang membuat abang mengambil keputusan dengan cepat” Tak terdengar lagi suara Ibu, ataupun suara Fatih.


Seolah di tampar kenyataan, hatinya yang mulai bahagia dengan rsanya yang meledak-ledak harus kembali meredup. Ibu benar, tidak ada seorangun yang tahu tujuan Fatih menikahinya. Bahkan wanita yang melahirkannya pun sama dengan dirinyaak menemukan alasan yang kuat. Apa tujuan sebenarnya. Apakah pelarian dari seseorang atau hanya rasa penasaran. Nisa menunggu. Satu detik dua detik hingga detik kesepuluh berlalu, dia menghitung dalam hati, hingga hitungan ke lima masih tida terdengar jawaban. Seberapa berat alasan Fatih menikahi dirinya, hingga menjawab pun membutuhkan keberanian. Itu jawaban yang cukup membuat Anisa mengambil keputusan bahwa laki-laki yang beberapa waktu lalu sudah merenggut sesuatu paling berharga dalam hidupnya memang tidak pernah mencintainya.


Satu kenyataan yang lebih menyakitkan, bahwa laki-laki bisa melakukan hubungan intim tanpa cinta, atau bahkan tanpa perasaan sekalipun. Dan itu yang di alaminya sekarang. Nisa tidak dapat membendung air matanya. Dia segera berlalu dari tempatnya berdiri. Terlalu menyakitkan mengetahui kenyataan bahwa suaminya tidak menjawab. Nisa menganggap bahwa Fatih tidak ingin menyakiti ibunya dengan kenyataan bahwa pernikahan mereka memang bukan atas dasar cinta. Laki-laki akan menjawab dengan penuh keyakinan jika memang hatinya mencintai seorang wanita.


Baru saja hatinya berbunga, baru kemarin bunga cinta itu mulai bermekaran, dan baru saja kupu-kupu di perutnya terasa mulai beterbangan ketika mendengar Fatih berjanji pada sang Ibu untuk menjaganya. Euforia itu berahir bahkan ketika baru saja di mulai. Semua rasa yang baru saja membuncah berubah menjadi kecewa yang tidak terperi. Nisa belum siap dihadapkan pada kenyataan pahit. Dia naik keatas dengan langkah cepat , menyisakan tatapan bingung dari dua adik iparnya. Nisa tidak peduli, dia ingin tidur. Bukan, dia hanya ingin sendiri.


“Bang, kalau Ibu tanya di jawab, kenapa diam, atau jangan-jangan Abang menikahi Nisa dengan tujuan tidak jelas, Abang tidak mencintai Nisa kan?” Tatapannya yang dari tadi lurus kedepan dia alihkan pada laki-laki disampingnya. Tatapan menghakimi menutut jawabn jujur Fatih, seolah membenarkan pendapatnya bahwa pernikahan mereka memang untuk main-main.


Fatih menaruh cangkir tehnya ke samping. “Biar Abang selesaikan dulu minumnya Bu, kan tidak mungkin jawab sambil minum” Jawabnya menggeser duduk bersender kebelakang. “Itu yang ibu lihat kemarin, sekarang sudah berbeda. Hubungan kami sudah membaik, ibu jangan berpikir yang aneh-aneh. Abang tidak akan mengecewakan Ibu” Menjelaskan dengan suara lembut dan perlahan, dia tidak ingin ibunya salah paham.


“Ibu sudah tahu kalau Abang akan menjawab begitu, ibu ingin jawaban yang lain Bang, terlalu banyak hal yang ingin Ibu tahu, beri ibu satu alasan kenapa Ibu tidak boleh khawatir dengan hubungan kalian” Tatapannya lurus, nafasnya panjang. Bebannya terlalu berat. Di usianya yang sudah seharusnya menimang cucu, Ibu masih harus memikirkan hubungan pernikahan anaknya. Dengan penuh banyak kejanggalan.


“Abang yakin dengan Nisa, wanita itu yang Abang cari selama ini. Abang tidak pernah membawa perempuan ke rumah ini kalau hanya untuk main-main. Abang ingin datang dengan wanita yang sudah Abang halalkan di hadapan Ibu sama Bapak. Tidak akan ada yang mampu merubah keputusan Abang untuk menikahi Anisa. Hanya dia wanita satu-satunya yang membuat abang terus kepikiran” Jawabnya dengan tegas. “Apa sebutan yang pantas untuk laki-laki yang merindukan wanita ketika terpisah jarak padahal diantara mereka tidak ada ikatan, memikirkannya sepanjang waktu dan membuat dada berdebar, Abang takut tidak bisa menahan diri” Suara lemah seperti biasa ketiak berhadapan dengan wanita yang melahirkannya.


“Ibu bangga sama Abang, kalau gini kan Ibu tidak perlu khawatir lagi” Di tatapnya wajah putranya dengan senyum, tidak ada yang salah dengan semua yang dikatakan Fatih. Hanya mungkin caranya yang terlalu terburu-buru membuat Ibu salah paham. “Ternyata Abang sudah dewasa” Tidak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaannya sekarang. apa yang di takutkan Ibu tidak terbukti.


“Abang, sudah buat cucu waktu di rumah lama kita. Suasananya mendukung banget. Meskipun belum pada intinya paling tidak, Nisa bisa lebih terbuka sama Abang. Terbuka dalam arti sebenarnya” Bibirnya melengkung sempurna, Alisanya turun naik menggoda Fatih yang mulai menunduk menahan malu. Sekarang Ibu paham, apa yang terjadi diantara mereka. “Ibu tunggu kabar baiknya, Bang” Berlalu dengan hati yang teramat bahagia. Katakan Ibu berlebihan, tapi memang kebahagiaannya kali ini tidak akan dapat di tukar dengan apapun.

__ADS_1


__ADS_2