
“Ini beneran merah Nis, sakit pasti. Kalau mau nangis nggak apa-apa Abang bisa terima” kembali memegang tangan istrinya. Melihat punggung tangan yang tidak semerah tadi.
Punggung belakang istrinya tepat menempel di dadanya. Fatih masih belum bisa bernafas lega melihat luka bakar di tangan Anisa. berbaring sambil mendekap Anisa dari belakang. Hukuman yang dia maksud sedang Anisa terima tanpa mengeluh.
“Nisa tadi sudah nangisnya, Mbok Sa juga ikut nangis” Jawabnya jujur. Ketika air itu menyiramnya rasa panas luar biasa dia rasakan. Sampai Nisa menangis kencang, Mbok Sa yang berada tepat di belakang ketika kejadian tadi ikut panik. Dengan segera wanita paruh baya itu mengambil tangan Anisa dan mengguyurnya dengan air kran di wastafel. Tanpa aba-aba keempat pelayan wanita lainnya masuk setelah mendengar teriakan.
“Kalau kamu sampai nangis itu beneran sakit. Mulai besok Abang kembalikan ke semula. Semua pelayan akan berada di rumah utama. Kamu tidak perlu ke dapur” Titahnya dengan suara tegas.
“Jangan Bang, Setelah di kasih salep sudah enakan, nangisnya Nisa karena syok saja”
“Kalau besok masih belum hilang kita bawa ke dokter”
“Abang jangan berlebihan, ini juga sudah nggak sakit lagi”
“Kenapa kamu selalu menyangkal, luka bakar itu tidak bisa dianggap sepele” Mulai kesal
“Terluka ketika masih belajar itu biasa, itu artinya sebentar lagi akan bisa. Sama kayak belajar sepeda, jatuh dulu baru bisa” Itu yang dikatakan Ayahnya, Anisa menangis ketika lututnya terluka hingga mengeluarkan darah setelah jatuh dari sepeda.
“Abang tidak masalah Nisa tidak bisa masak, sudah ada orang yang bertugas melakukannya. Mereka Abang tugaskan untuk melayani kamu”
“NIsa tidak nyaman. Masak harus pakai pakian lengkap terus di rumah. gerah Bang”
“Baiklah istriku yang keras kepala. Karena Nisa sudah belajar dengan baik. Abang akan mengabulkan keinginan NIsa. Katakan, tempat yang ingin NIsa kunjungi tapi belum kesampaian” mencium rambutnya dari belakang. Tangannya melingkar di perut sang istri. Percuma berdebat dengan Anisa, ujung-ujungnya dianjuga yang akan kalah, atau lebih tepatnya mengalah.
“Beneran, Abang akan mengabulkan?” Badannya berbalik. Mereka berhadapan. Wajahnya menengadah menatap mata suaminya. karena wajah Anisa tepat di dada Fatih
Fatih mengangguk mengedipkan mata lama. Dia bahagia melihat senyum bahagia di wajah istrinya.
“Nisa ingin ke club malam, dari dulu tidak kesampaian. Chika sama wisnu sering kesana. Katanya bisa menghilangkan penat, merileks kan pikiran. Kayaknya tempat itu asik ya Bang”
__ADS_1
Fatih tercekat, wanita di dekapannya sekarang punya keinginan tidak biasa. Bagaimana bisa tempat itu bisa ada di list kepalanya. Bibirnya bungkam, tangannya membelai rambut Anisa pelan. Tatapannya menerawang jauh. Dia Mencari jawaban yang tepat. Dia tidak mungkin mengabulkan permintaan aneh istrinya sekalipun dia sudah berjanji. Tapi untuk yang satu ini dia tidak bisa.
“Boleh kan Bang…?” Masih penasaran karena suaminya tidak menjawab.
“Tempat lain saja, jalan-jalan ke singapore. Disana Fashionnya bagus banget bisa puas-puasin belanja. Minggu depan Abang ada waktu satu minggu memang disiapkan buat kita liburan” Inilah caranya agar Nisa tidak memaksanya ke tempat yang memang tidak pantas.
“Tapi Nisa pengennya kesana. Bisa jedag-jedug juga Bang” Masih bersikeras mempertahankan keinginannya. Sebenarnya Nisa penasaran, setiap teman-temannya dari sana ceritanya selalu seru. Tentang party, tentang pikiran yang lebih bahagia setelah keluar dari sana.
“Tempat itu tidak cocok buat Nisa” Fatih menahan tawa mendengar kalimat jedag-jedug. Siapa yang sudah mengajarkan gambaran seperti itu di kepala Anisa.
Istrinya terlalu polos untuk mengenal tempat berisik seperti itu. Dia tidak akan tahan dengan bau minuman dan asap rokok. Satu lagi, tidak ada yang datang ketempat itu dengan tertutup seperti istrinya.
“Jawaban Abang sama kayak Wisnu” Protesnya. Dia selalu mendapat jawaban yang sama ketika Nisa ingin mencoba ke tempat yang teman-temannya ceritakan. Bahkan waktu si anak konglomerat berulang tahun, hanya Nisa dan dua orang temannya satu kelas waktu SMA yang tidak datang. “Nisa terlalu baik untuk datang ke tempat seperti itu” Jawaban Wisnu semakin membuatnya penasaran.
“Karena memang tidak ada tempat untuk orang seperti Nisa disana” Jeda, dia memikirkan lagi jawaban yang bisa di terima istrinya “Wanita yang datang kesana pakiannya terbuka, tidak ada yang memakai hijab. Orang akan berpikiran buruk tentang Nisa setelah itu” Lanjutnya lagi.
“Kan Nisa sama Abang, di jaga sama suami sendiri” Nadanya mulai merajuk “Satu kali ajah, habis itu Nisa nggak lagi . janji…” Memperlihatkan senyum manisnya dengan mengangkat dua jari di depan wajah suaminya
“Dia ngajak ke tempat hiburan malam Ren” Satu-satunya tempat untuk menceritakan kegelisahan hatinya. Fatih meninggalkan Anisa setelah istrinya terlelap.
Sudah setengah jam berlalu tapi tumpukan kertas dan beberapa email di laptopnya bahkan belum tersentuh. Pikirannya kalut. Dia tidak mungkin mengabulkan keinginan istrinya.
“Bagaimana bisa dia punya pikiran begitu, aneh sekali” Reno tidak mengerti jalan pikiran istri Tuannya.
“Sejak SMA, dia ingin tahu. Mendengar cerita teman-temannya yang sering kesana”
“Ajak sekali Bang, saya yakin setelah itu tidak akan ngajak lagi”
“Aku tidak akan pernah mengajaknya kesana sampai kapanpun. Ada ya, suami yang menggandeng tangan istrinya ke tempat begituan. Idemu buruk Ren” Reno selalu menemukan jalan ketika pikirannya buntu. Tapi sekarang, asistennya itu tidak bisa memberikan jalan keluar.
__ADS_1
“Nyerah Bang, untuk kali ini otak saya tidak bisa diajak bekerja” Mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahu. Reno menggeleng pasrah.
“Saya bisa memberikan apapun yang dia mau, perhiasan, baju, atau bahkan mobil dan rumah pun bisa. Kenapa dia memilih tempat itu”
“Abang yang menawarkan?”
“Iya, karena dia sudah masak sampai tangannya tersiram air panas. Aku pikir bisa menghiburnya”
“Bagaimana sekarang?” Reno tidak ingin membahas tentang keinginan tidak biasa tuannya. Dia mengalihkan pembicaraan.
“Sudah tidur, dia bilang tangannya sudah tidak sakit lagi” Fatih menatap Reno tajam “ Kamu tahu insiden istriku tersiram air panas. Kenapa diam?” Fatih sampai lupa. Dia yakin Reno mengetahui semuanya.
“Pak Gani yang menghubungi waktu abang rapat. Mau bantu tapi tidak bisa masuk ke rumah utama. Menelpon minta pertimbangan. Dia bingung” Reno tahu, setelah ini apa yang akan menimpanya. Luka di tangan Anisa hanya sebesar ung koin seratus rupiah uang kuno. Tapi karena cinta bisa mengubah orang yang biasa berpikiran sederhana menjadi berlebihan, ya inilah akibatnya. Seolah tanganitu melepuh seluruhnya.
“Kenapa kamu diam saja, kurang ajar…‼!” Melemparkan Snalhekter berisi beberapa berkas di tangannya tepat mengenai dada Reno. “Kamu tahu,,,dia menangis kesakitan. Dasar tidak berguna” Umpatnya dengan tatapan tajam.
“Kalau saya beritahu tadi, rapat akan berahir sementara kita belum ada kata sepakat. Terus, kalau abang pulang apa yang akan dilakukan. Mengulang waktu agar Nona tidak tersiram, atau menyuruh air berubah jadi dingin?” Tantangnya. Memang apa yang bisa dilakukan. Memarahi air agar tidak mendarat di punggung tangan istrinya. Hah, cinta terlalu jauh menarik seseorang untuk berubah.
Anisa yang melarang semua orang memberitahu suaminya. karena dia tahu kalau Fatih akan panik dan itu akan mengganggu pekerjaannya. Itulah yang NIsa katakan pada pelayan wanita yang membantunya.
“Paling tidak aku bisa menenangkannya agar tidak panik”
“Justru kalau Abang pulang Nona Nisa akan panik. Dia akan menyalahkan pelayan karena mengadu. Itulah sebabnya ada menu puding mangga hari ini. menu kesukaan Abang. Sengaja membuatnya supaya Abang tidak marah” Reno lebih banyak tahu daripada dirinya.
“Tangannya merah Ren, hampir melepuh. Saya tidak bisa membayangkan wajahnya dan suara tangisnya menahan panas” Suaranya sendu, bayangan wajah istrinya menahan sakit berkelebat di depannya. Bahakan Fatih seolah mendengar suara tangis penuh kesakitan. “Saya merasa tidak berguna jadi suami” Lanjutnya dengan suara pelan.
“Saya memanggil dokter Ryan, sayangnya pelayan melarang masuk kerumah utama. Ahirnya beliau menitipkan salep pada pelayan wanita. Itu salep yang terbaik, saya yang memerintahkan semuanya Bang” penjelasan Reno hanya mendapat lirikan dari Fatih. Tetap saja hatinya seperti diremas. Seharusnya NIsa bahagia tinggal di rumahnya justru harus mendenrita seperti ini.
“Sudah malam Bang, kembali ke kamar. Kasihan istri Abang sendirian” Setelah cukup lama saling terdiam. Reno merasa tubuhnya perlu istirahat. Jadwalnya besok ajuh lebih padat. Ada beberapa pertemuan yang harus dia wakili, karena Fatih menolak datang. Rapat internal dengan pemegang saham jauh lebih penting dari semua rapat yang sudah di agendakan Reno.
__ADS_1
“Malam ini saya tidur disini” Jawaban Fatih membuat wajah Reno berkerut. Bukan apa-apa dia tidak mungkin bisa tidur kalau Fatih masih duduk dengan tenang. “ Bagaimana saya bisa tidur melihat bekas merah di tangan istri saya. Melihatnya saja saya sudah tidak kuat” Rasa bersalahnya semakin menggunung setelah mendengar cerita Reno. Tidak pernah Fatih meminta istrinya memasak. Anisa tetap terlihat sempurna dimatanya walaupun melalaikan kewajibannya yang satu itu.
“Bagaimana kalau nanti bangun tengah malam mencari Abang” Reno berpikir keras, bagaimana cara mengusir Tuannya dengan halus. “ Kalau besok bekasnya masih terlihat saya yang akan memanggil dokter Ryan”