Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Utang Ayah


__ADS_3

Mita menyusuri gang menuju rumahnya dengan tersenyum. Mita sengaja minta diturunkan di depan gang. Willy sebenarnya ngotot mau mengantarkan Mita sampai depan rumah tapi Mita menolak dengan alasan nenek. Bertemu dengan Willy, membuat hatinya berbunga bunga. Belum seminggu mereka menjadi sepasang kekasih tapi Mita sudah yakin bahwa Willy lah jodohnya kelak.


Willy, si pria dewasa yang memperkenalkannya cinta. Memperkenalkan hal hal baru baginya. Hal baru yang jadi candu bagi Mita. Beberapa hari bersama Willy, Mita dapat merasakan kasih sayang seorang ayah. Itulah salah satunya membuat Mita nyaman bersama Willy.


Mita terus menyusuri gang rumah, tinggal beberapa ratus meter lagi hingga dia sampai. Beberapa anak muda yang sedang nongkrong, bersiul ketika melihat Mita. Pesona gadis itu bisa menarik perhatian insan yang melihatnya.


Mita hanya melambaikan tangan untuk membalas siulan para pemuda tersebut.


Mita selain cantik nyaris sempurna, Mita juga ramah dan sopan. Membuat orang sudah kenal dengannya merasa nyaman. Tak salah Alda menjadikannya sebagai sahabat. Hanya saja untuk urusan cinta, Mita sangat polos.


Mita mengucapkan salam ketika sampai di depan rumah. Nenek sangat senang menyambut Mita. Nenek merasa senang, tidak sia sia dia marah tadi malam. Buktinya hari ini Mita pulang cepat.


"Mita, duduk sini dulu!" perintah nenek. Mita duduk di samping nenek.


"Ada apa nek?"


"Tadi ayahmu ke sini," kata nenek sendu. Mita terkejut. Benar dugaannya bahwa pria berbaju hitam itu adalah orang jahat bukan suruhan ayahnya.


"Untuk apa ayah ke mari nek?"


"Nenek juga tidak tahu. Ayahmu hanya datang bertanya tentang keadaanmu. Kemudian dia pulang." Nenek berkata kemudian pergi ke dapur.


Di ruang tamu Mita termenung. Memikirkan tentang ayahnya dan kejadian sepulang sekolah. Mita tidak memberitahukan kejadian di sekolah kepada neneknya. Dia takut neneknya terbebani. Apalagi akhir akhir ini, nenek gampang sakit.


Mita masuk ke kamarnya. Mengambil keripik dari kolong tempat tidur dan memakannya. Gadis cantik itu, walau sudah sore tapi malas untuk mandi. Mita membuka bukunya dan mulai belajar. Memakan keripik sambil belajar suatu kesenangan tersendiri baginya.

__ADS_1


Mita menutup kembali bukunya ketika terdengar suara mengetuk pintu. Ketukan itu semakin kencang membuat Mita takut untuk membuka. Mita berdiri di balik pintu kamarnya. Nenek sudah membuka pintu.


Nenek terkejut. Pria yang di depannya sangat terkesan garang. Pria yang mengetuk pintu tersebut mencondongkan kepalanya ke arah rumah. Pria yang berpenampilan sama dengan pria yang mendatangi Sinta di gerbang sekolah.


"Mana Mita," tanya pria itu dan mencoba menerobos masuk ke rumah.


"Mita belum pulang sekolah," jawab nenek berbohong. Nenek berharap Mita tidak keluar dari kamar. Mita yang mendengar neneknya berbohong yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Menutup pintu pelan tanpa mengunci. Mengambil tas sekolah dan baju seragam yang sudah sempat digantinya kemudian bersembunyi di kolong tempat tidur.


Mita semakin meringkuk di kolong tempat tidur. Suara sepatu yang berderap membuatnya ketakutan. Sinta bisa mendengar suara pintu kamar yang dibuka secara kasar. Pria itu masuk ke kamar Mita dan melihat balik pintu. Melihat tidak yang dicarinya, pria itu keluar kamar. Dan dengan santainya duduk di ruang tamu. Nenek merasa lega. Mita cepat tanggap dan bersembunyi.


"Pergilah, Mita tidak pulang malam ini, dia menginap di rumah sahabatnya," kata nenek gugup. Berharap pria bertato itu cepat pergi. Seakan tidak mendengar perkataan nenek, pria itu masih dengan santai mengeluarkan rokok dari sakunya. Kemudian menghisapnya dan membuat kepulan asap di udara. Matanya memandang nenek penuh intimidasi.


"Aku tidak akan pergi, sebelum membawa dia ikut denganku," sahut pria itu membuat nenek semakin khawatir.


"Bukan cucumu, tapi ayah dari Mita. Dia sudah membuatku rugi besar. Maka sebagai gantinya aku akan menjadikan Mita sebagai istriku," sahut pria itu masih dengan santai. Nenek mengepalkan tangannya, merasa marah dengan ayahnya Mita. Seandainya ayah Mita di sini sekarang, mungkin badannya tidak berbentuk lagi dibuat nenek.


"Berapa kerugian mu?" tanya nenek cemas.


"Lima ratus juta," jawabnya santai


"Jangan sembarangan ngomong, mana buktinya ayahnya Mita mempunyai hutang sebanyak itu?" kata nenek. Nenek tidak percaya bahwa ayahnya Mita sampai setega itu terhadap Mita. Pria itu mengambil ponselnya kemudian menelepon seseorang untuk datang ke rumah Mita.


"Sebentar lagi ayahnya Mita akan kemari. Maka kamu akan mendengar dari mulutnya sendiri bahwa dia mempunyai hutang dan sudah setuju bahwa Mita sebagai gantinya." Pria itu berkata tanpa menatap nenek. Rokoknya masih terus mengepul. Nenek menyadari bahwa pria tersebut tidak main main dengan ucapannya.


"Aku mohon, jangan jadikan cucuku sebagai istrimu. Aku akan bersedia melakukan apapun untuk melunasi hutang ayahnya Mita," kata nenek memohon dan mengatupkan kedua tangannya di dadanya. Pria itu mendecih. Menganggap remeh kepada nenek.

__ADS_1


"Apa yang bisa kama lakukan nenek tua? bahkan untuk berjalan saja kamu sudah terseok." kata pria itu. Nenek sampai terdiam mendengar ucapannya. Betul kata pria asing itu, apa yang dapat dilakukan seorang nenek sepertinya untuk melunasi hutang sebanyak lima ratus juta.


"Aku akan memberikan rumah ini sebagai gantinya," sahut nenek pelan. Keputusan yang sudah dipikirkannya sejak mendengar pria itu tentang hutang ayah Mita dan akan menikahi Mita sebagai gantinya. Pria itu tertawa terbahak. Tertawa meremehkan.


"Kamu kira, rumahmu ini berharga? bahkan untuk kandang hewan peliharaan ku jauh lebih cantik dari ini," kata pria itu sombong dan mengamati seluruh ruangan rumah. Sungguh nenek sangat terhina dengan perkataan pria itu.


Mita yang masih bersembunyi di kolong tempat tidur, bisa mendengar percakapan antara nenek dan pria itu. Mita sampai takut gemetaran. Membayangkan jadi istri pria itu membuatnya bergidik. Mita mencoba menghubungi Willy, tetapi laki laki itu tidak menjawab teleponnya. Mita semakin takut dan panik, berniat keluar tapi diurungkannya. Mita takut laki laki itu langsung membawanya.


"Aku rela jadi budak mu, tapi kumohon jangan bawa Mita, coba bayangkan jika putrimu mengalami seperti yang dialami Mita. Dia masih terlalu kecil untuk kamu jadikan istri." Nenek memohon kepada pria bertato tersebut. Pria itu menoleh kepada nenek.


"Aku hanya butuh uangku bukan tenaga mu nenek tua, kalau kamu bisa menyediakan uang sebesar lima ratus juta dalam tiga hari ini. Maka aku akan membatalkan niatku untuk memperistri cucumu," kata pria bertato itu dengan suara keras. Nenek sampai gemetar. Bagaimana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu sedangkan untuk makan saja susah.


Mendengar perkataan pria itu, Mita jadi ingat dengan kartu ATM yang diberikan Willy. Mita belum pernah menggunakannya. Mungkin inilah waktu yang tepat untuk mempergunakan pemberian Willy.


Mita keluar dari persembunyiannya. Membuka pintu kamar dan ke ruang tamu. Nenek yang melihat Mita keluar sampai gugup karena takut. Nenek langsung mendekap Mita. Sedangkan pria itu tersenyum dan bertepuk tangan.


"Akhirnya kamu keluar bocah cantik, mau ikut denganku sekarang." Nenek menggeleng dan semakin mendekap Mita. Mita tidak kalah takutnya dengan nenek.


"Ja... jangan om, aku akan menyediakan uang itu dalam tiga hari," kata Mita terbata bata. Pria itu tertawa kencang. Menganggap lelucon apa yang didengarnya.


"Darimana kamu mendapatkan uang itu hah? mau jual diri? Lebih bagus kamu serahkan dirimu untukku. Jadi kamu tidak perlu pusing memikirkan uang sebanyak itu."


"Maaf om, tapi kumohon beri kami waktu untuk menyediakan uang sebanyak itu," jawab Mita masih terbata dan takut.


"Baiklah, aku akan datang tiga hari lagi, sediakan uangnya. Aku paling tidak suka dengan orang yang tidak tepat waktu," kata pria itu mendekat dan membelai wajah Mita. Nenek menghempaskan tangan pria itu. Pria itu hanya terkekeh dan keluar dari rumah Mita..

__ADS_1


__ADS_2