
Alsa dan Alda berpegangan tangan sambil melompat. Dua kakak beradik itu langsung dekat padahal masih hitungan jam bertemu. Alda bisa melihat dirinya waktu kecil di dalam diri Alda. Bagaimana dia dulu berteriak kegirangan hanya melihat mobil sang ayah ada di dalam rumah. Alda kecil pasti berteriak memanggil sang ayah.
Hari ini, Alda melihat Salsa bersorak kegirangan setelah mengetahui akan bertemu dengan ayahnya untuk pertama kalinya. Anak kecil itu bahkan ingin tampil secantik mungkin. Dia merengek untuk mandi terlebih dahulu.
"Bunda, Alsa mandi dulu," kata Alsa.
"Kan masih wangi nak. Kita pergi saja sekarang," jawab Mita.
"Tidak mau. Mau mandi dulu," jawab Alsa sudah duduk di lantai sambil menggesek-gesekkan kedua kakinya di lantai. Salsa sudah merajuk hanya karena bundanya tidak memenuhi keinginannya untuk mandi terlebih dahulu. Lagi lagi Alda mengingat masa kecilnya. Dia juga seperti Alsa. Harus terpenuhi apa yang diinginkan. Sekecil apapun itu bahkan juga sesusah apapun untuk memenuhi keinginannya.
"Ya sudah. Kakak yang mandikan yuk," ajak Alda. Salsa kembali bersorak gembira. Nenek Ratmi tersenyum melihat Alda dan Salsa. Nenek Ratmi sangat senang melihat bagaimana Alda menyayangi Salsa. Dia menunjuk kamar Alsa. Alda bersama Alsa memasuki kamar itu. Salsa mandi terlebih dahulu. Alda memilih pakaian Alsa senada dengan pakaiannya. Sesuai dengan permintaan Salsa. Alda juga merias wajah adiknya dengan bedak bayi yang terlihat tidak merata di wajah Salsa.
Hingga sepanjang perjalanan, Alsa terlihat berkali kali merapikan rambutnya. Alda yang melihat itu dari spion terlihat sangat gemas sekali. Salsa sangat menggemaskan. Alda sangat yakin, kehadiran Salsa akan mengalihkan rasa sedih di hati sang ayah.
"Ayo turun. Ini rumah ayah," kata Alda kepada Alda yang duduk di bangku belakang. Salsa terlihat mengamati rumah itu dari dalam mobil.
Mita entah bagaimana sekarang perasaan. Perasaan takut dan merasa bersalah meliputi hatinya. Mita terlihat ragu untuk turun.
"Ayo turun Mita," kata Alda lagi. Dia sudah turun dari mobil dan membuka pintu belakang. Dia mengulurkan tangannya untuk menggendong Alsa. Alsa mengulurkan tangannya juga. Kini Salsa sudah di gendongan Alda. Alda mengambil langkah cepat membawa Alsa ke dalam rumah. Alda tidak sabaran ingin mempertemukan adiknya dengan sang ayah.
"Ayah mana bibi?" tanya Alda kepada bibi yang sedang membersihkan ruang tamu. Bibi heran melihat Alda yang menggendong Alsa.
"Siapa dia non?" tanya bibi.
"Adik aku. Ayah mana?" tanya Alda lagi. Alda membawa Alsa menuju tangga ketika bibi memberitahu jika Willy ada di kamarnya.
__ADS_1
"Ayah, ayah buka pintu kamarnya?" teriak Alda sambil mengetuk pintu kamar Willy. Alsa mengikuti apa yang dilakukan Alda. Alda mencium pipi adiknya gemas karena Salsa juga mengikuti dirinya berteriak memanggil ayah mereka.
Berkali kali mengetuk pintu kamar dan tidak ada jawaban. Alda membuka pintu kamar itu. Ternyata tidak dikunci. Alda masuk dan melihat ayahnya yang sedang tertidur pulas. Alda mendekat. Dia sebenarnya kasihan melihat sang ayah yang satu minggu ini terlihat sangat terpukul karena kepergian sang bunda, Keyla.
"Ayah, bangun," kata Alda sambil menggoyangkan tangan Willy. Willy terlihat tidak terganggu sama sekali. Alda berkali kali membangunkan Willy hingga Willy menggeliat.
"Ayah, bangun. Lihat siapa yang aku gendong," kata Alda. Willy membuka matanya kemudian mengucek. Alsa terlihat memperhatikan wajah ayahnya.
Willy berkali kali mengucek matanya. Dia baru beberapa jam terlelap setelah satu minggu ini tidak bisa tidur. Penglihatannya belum begitu jelas karena masih menahan kantuk. Tapi melihat Alda menggendong seorang anak kecil membuat Willy untuk memaksa matanya terbuka dan mengusir kantuk itu.
"Siapa dia tuan putri?" tanya Willy serak.
"Bangun yang benar ayah. Lihat dan perhatikan wajahnya," kata Alda lagi. Willy menoleh ke Alda tapi dengan mata yang belum benar benar berfungsi dengan baik.
"Adik yang mana. Si bungsu baru satu minggu lahir. Tidak mungkin langsung bisa besar seperti itu," jawab Willy. Tangan Alda tidak mampu untuk menahan tubuh ayahnya supaya tetap duduk. Willy kini sudah berbaring kembali dengan mata yang terpejam.
"Dia adik aku dari Mita ayah," bentak Alda kencang. Dia kesal karena Willy tidak bisa menahan kantuknya.
Willy langsung membuka matanya dan duduk kembali. Kantuk yang tidak tertahankan itu kini sudah hilang. Willy langsung menatap anak kecil itu. Melihat wajah anak itu yang sangat terlihat mirip dengan Alda membuat Willy tidak ragu jika Alsa adalah putrinya. Willy mengulurkan tangannya untuk menggendong Salsa. Salsa menyembunyikan wajahnya di dada Alda.
"Alsa mau ketemu ayah kan?" tanya Alda. Alsa mengangguk.
"Ini ayahnya Alsa. Ayah kakak Alda juga," kata Alda. Alsa kemudian kembali memberanikan dirinya untuk melihat Willy. Willy tersenyum tapi hatinya sangat sakit ketika Alsa terlihat ragu untuk menyambut kedua tangannya.
"Tuan putriku. Alsa. Ini ayah nak," kata Willy sambil menahan air matanya. Alda mendudukkan Salsa di paha ayahnya. Air mata yang sudah ditahannya tidak terbendung lagi. Willy menangis sambil memeluk putrinya.
__ADS_1
"Tuan putriku. Maafkan ayah nak. Gara gara sikap ayah. Kita baru berjumpa sekarang," kata Willy penuh sesal. Dia sudah menciumi pipi dan kepala Salsa. Sedangkan Alda tidak henti hentinya bercerita tentang pertemuan dirinya dengan Alda. Pertanyaan Alda ketika mereka baru memasuki rumah nenek Ratmi tadi. Dari cerita itu, Willy tahu bahwa Salsa ternyata sudah merindukan dirinya sebelumnya. Hal itu membuat air mata Willy semakin tumpah.
"Alsa senang bertemu dengan ayah?" tanya Willy sambil merapikan rambut Alda. Willy berusaha untuk tidak menangis.
"Senang," jawab Salsa singkat sambil mengangguk. Willy kembali memeluk Salsa. Willy tersenyum. Hatinya tidak bisa digambarkan seperti apa sekarang. Bahagia itu pasti.
"Minta apa sama ayah di pertemuan pertama kita ini," tanya Willy lagi.
"Keliling naik motor," jawab Salsa polos. Keliling naik motor adalah momen yang sangat diinginkan oleh Salsa. Setiap sore di kampung nenek Ratmi. Dia melihat anak anak seusia dirinya dibawa berkeliling oleh ayah mereka setelah mandi sore. Itulah sebabnya tadi, Salsa bersikeras untuk mandi terlebih dahulu.
Willy merasakan hatinya diremas. Salsa minta keliling motor. Willy menyimpulkan jika selama ini putrinya itu hanya bisa melihat orang orang seperti itu tanpa pernah merasakan. Willy hampir saja menitikkan air mata kembali jika Alda tidak memberikan tissue kepadanya. Willy kembali merasa sedih memikirkan takdir anak anaknya yang satupun tidak mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orangtuanya.
"Baiklah tuan putri. Ayah akan membawa kamu keliling motor. Setelah itu nanti kamu berkenalan dengan kakak Billy dan adik bungsu ya," kata Willy.
"Ada adik?" tanya Salsa. Willy dan Alda mengangguk bersamaan.
"Panggil ayah ya. Coba panggil ayah," kata Willy. Dari tadi dia belum mendengar putrinya memanggil ayah.
"Ayah," kata Salsa masih agak malu.
"Yuk, kita keliling naik motor," ajak Willy sambil beranjak dari ranjang itu. Dia membawa Salsa dalam gendongannya.
"Mana sahabat kamu tuan putri" tanya Willy sambil menuruni tangga. Salsa memegang leher ayahnya sangat erat.
"Mungkin di ruang tamu ayah," jawab Alda.
__ADS_1