
Setiap manusia memperoleh batas kesabaran. Begitulah yang dihadapi Willy saat ini. Dia merasa sangat lelah menghadapi sikap Mita. Mita masih terus keras kepala tanpa memperhitungkan keputusan yang bisa berdampak buruk bagi Salsa.
Sudah hampir tiga bulan, sejak kedatangan Salsa di hidupnya. Tetapi tentang yang berurusan dengan Salsa, yang mendominasi adalah Mita. Hampir setiap saran dan pendapat Willy yang berkaitan dengan Salsa tidak pernah diterima oleh Mita. Hingga akhirnya, Willy menyerah. Memberikan semua keputusan tentang apapun yang berkaitan dengan Salsa.
Berkali kali memohon dan bahkan bersujud di hadapan Mita. Tetapi Mita masih tetap pada pendiriannya. Tidak memperbolehkan Salsa untuk tidur di rumahnya. Salsa hanya boleh ke rumah Willy jika Mita mempunyai waktu luang. Tujuh hari dalam seminggu. Tapi satu hari pun, Willy bahkan tidak dapat waktu untuk bersama dengan Salsa. Willy tahu bahwa akhir akhir ini Mita, sibuk untuk mengejar masa depannya.
Dalam sebulan, Willy kadang hanya bisa bertemu dengan Salsa hanya empat kali. Itupun harus ijin Mita dan Willy yang berkunjung ke rumah nenek Ratmi. Sedangkan Alda dan Billy bebas berkunjung kapan saja ke rumah nenek Ratmi untuk bermain dengan Salsa.
Setelah melihat keras kepala Mita, Willy hanya memfokuskan dirinya ke perusahaan dan anak anaknya terutama si bungsu. Lebih tiga bulan ditinggal mati oleh Keyla ditambah sikap Mita yang masih bersifat kekanakan membuat Willy sebenarnya masih terbebani. Terbeban duka dan terbebani karena sikap Mita masih belum memaafkan dirinya dan masih terlihat membencinya.
Jika boleh jujur, sebenarnya Willy merasa hidupnya sangat berat. Menjadi bunda dan ayah bagi si bungsu. Tidaklah mudah baginya. Tapi Willy berusia menjalani takdirnya. Jika sebelum, Willy berusaha bahkan mengemis kepada Mita supaya memberikan waktu kepada dirinya untuk bertemu dengan Salsa. Saat ini Willy bersikap santai.
Seperti pada hari ini, biasanya setiap hari Minggu. Willy akan mengirim pesan kepada Mita untuk bertemu dengan Salsa. Tapi saat ini Willy lebih memilih menemani si bungsu. Si bungsu yang sudah lebih dari tiga bulan sangat menggemaskan dan bisa mengobati hatinya atas kehilangan Keyla dan sikap Mita. Bukan maksudnya berniat mengenai Salsa. Tapi Willy hanya merasa lelah.
Willy membawa si bungsu berjemur di halaman rumahnya. Sedangkan Alda dan Billy sudah keluar. Willy sangat yakin jika mereka akan ke rumah nenek Ratmi. Hingga minggu Minggu berikutnya. Willy melakukan hal yang sama. Memendam rindu kepada putri kecilnya Salsa.
Sudah hampir satu bulan, Willy mengabaikan Mita. Bahkan Willy memblokir nomor ponsel Mita. Jika rindu dengan Salsa. Willy menyuruh Alda atau Billy untuk melakukan panggilan video. Willy terkadang merasakan hatinya sesak ketika putrinya itu merengek minta bertemu. Dia pun sebenarnya menginginkan demikian. Tindakan ini terpaksa untuk menahan amarah di hatinya karena sikap Mita. Willy tidak ingin keceplosan marah karena kesal. Willy memilih menghukum dirinya dengan menahan rindu daripada harus berdebat sengit dengan Mita seperti yang sudah terjadi sebelum sebelumnya.
Di kediaman nenek Ratmi
Mita berkali kali melihat ponselnya. Sudah hampir tiga minggu ponselnya tidak menerima pesan ataupun panggilan dari Willy. Mita merasakan gelisah tak menentu. Mulutnya bisa berkata membenci Willy tapi hatinya menginginkan perhatian dari Willy.
"Bun, mau sama ayah," rengek Salsa. Mita menarik nafas panjang. Dia tidak pernah menghubungi Willy terlebih dahulu. Tapi kali ini, dia ingin meminta Willy datang ke rumah nenek Ratmi untuk bertemu dengan Salsa.
"Ke rumah ayah Bun," kata Salsa lagi. Kontak Willy yang siap dipanggil akhirnya ditutup kembali.
"Baiklah, kita ganti pakaian terlebih dahulu," jawab Mita. Setelah mengucapkan kata kata itu. Mita merasa malu terhadap dirinya sendiri. Beberapa menolak bahkan sampai membiarkan Salsa menangis karena tidak bersedia ke rumah Willy. Tapi hari ini, Mita juga menyadari jika dirinya juga ingin pergi ke sana.
__ADS_1
Salsa berlarian masuk ke rumah ayahnya. Ini adalah Minggu ketiga dirinya tidak bertemu dengan sang ayah. Salsa bahkan sudah memanggil ayah, Alda dan Billy berkali kali. Willy yang sedang di kamar si bungsu langsung keluar ketika mendengar suara itu.
"Tuan putriku," kata Willy setelah Salsa sudah di pelukannya. Willy dan Salsa saling berpelukan erat. Willy mencium wajah putrinya dan menggendongnya.
"Sudah makan?" tanya Willy lagi. Salsa mengangguk.
"Bundanya Salsa sudah makan belum?" tanya Willy yang sudah menyadari jika Mita tidak jauh darinya. Salsa kembali mengangguk.
Willy menggendong Salsa menuju ruang tamu. Setelah mengaku lelah menghadap sikap Mita. Ternyata Willy tidak mampu untuk mengabaikan Mita jika dekat begini. Diam diam dia masih melirik ke arah Mita yang duduk sambil bermain ponsel di sofa tunggal. Mita terlihat lebih santai saat ini dibandingkan tiga bulan yang lalu.
"Itu Abang Billy," tunjuk Willy ketika Billy hendak ke dapur. Salsa spontan memanggil abangnya. Dengan berlari, Salsa menghampiri Billy yang sudah merentang tangannya menyambut Salsa. Suara tertawa Abang adik itu terdengar menjauh dari ruang tamu.
"Mita, om mau bicara. Boleh?" tanya Willy. Dia ingin berbicara tanpa debat hari ini dengan Mita. Mita menutup ponselnya kemudian mengangguk.
"Aku ingin kita kompak untuk menjadi orang tua bagi Salsa. Tidak bisa sebagai suami istri lagi setidaknya kita bisa menjadi sahabat," kata Willy sambil menatap Mita.
"Baik om. Aku setuju. Itu lebih baik daripada kita harus berdebat terus menerus," jawab Mita tenang. Willy hanya mengangguk membenarkan ucapan Mita.
"Lepas om," kata Mita gugup. Willy melepaskan tangan Mita dari genggaman.
"Karena kita sudah sepakat bersahabat. Maka biarkan Salsa untuk menginap disini sesekali," kata Willy. Mita kembali mengangguk. Semakin lama. Mita semakin kewalahan untuk menolak permintaan Salsa untuk menginap di rumah Willy.
"Ayo, aku akan menunjukan kamar Salsa kepadamu. Kamu boleh menambahkan perabot apapun jika ada yang kurang di kamar itu," kata Willy. Willy melangkah tanpa mendekat jawaban dari Mita. Mau tidak mau, Mita mengekor di belakang Willy.
"Cantik tidak?" tanya Willy setelah Mita sudah berada di dalam kamar Salsa. Kamar itu bertemakan hello Kitty bernuansa pink. Segala perabotan dan warna dinding di dominasi warna putih dan pink. Kamar yang indah. Kamar yang pernah impian Mita sewaktu kecil. Impian terwujud. Bukan untuk dirinya tetapi untuk putrinya.
"Cantik om," puji Mita sambil tersenyum. Dia memuji Willy dalam hati. Untuk urusan anak, Willy memang tidak ada duanya.
__ADS_1
"Ada yang kurang?" tanya Willy lagi. Mita menganggukkan kepalanya.
"Apa itu?.
"Meja belajar mini om. Salsa sudah suka belajar dan menggambar. Lagipula, usianya sudah tiga tahun setengah. Sebentar lagi harus masuk taman kanak-kanak. Aku rasa meja belajar itu sudah penting untuk Salsa."
"Iya. Terimakasih Mita. Saran kamu itu akan segera dilaksanakan."
"Sama sama."
"Mita, empat tahun kita berpisah. Kenapa kamu belum mencari pengganti om," tanya Willy. Mita terkejut mendapat pertanyaan seperti itu. Ditambah lagi Willy sudah semakin mendekati ke dirinya yang terduduk di ranjang milik Salsa.
"Jangan bertanya yang aneh aneh om. Wanita tidak seperti laki laki yang gampang melupakan masa lalunya," jawab Mita sambil bergeser. Willy sudah duduk di sampingnya tanpa jarak. Willy sengaja duduk menempel ke tubuh Mita.
"Itu artinya kamu belum melupakan aku," kata Willy. Mita menatap Willy sebentar kemudian menunduk.
"Kita sudah sepakat menjadi sahabat om. Jangan mengingatkan masa lalu dengan diriku."
"Setelah banyak hal yang aku alami. Kamu hanya sibuk memikirkan sakit hatimu. Tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku."
Mita spontan menatap Willy. Dia tidak mengerti dari arti perkataan Willy. Tapi entah mengapa hatinya menjadi penasaran apa sebenarnya yang terjadi selama empat tahun ini.
"Aku mengetahui apa yang terjadi dengan kamu om. Kamu rujuk dengan Tante Keyla dan menghadirkan si bungsu," jawab Mita tenang. Willy mengangguk dan menunduk kepalanya. Sebenarnya perkataan Mita hanya sebagai pemancing supaya Willy bercerita tentang apa yang terjadi selama empat tahun ini.
"Aku tidak layak dipercaya dan tidak layak dimaafkan. Aku pria yang paling berdosa, serakah dan bejad di muka bumi. Jadi biarkan aku sendiri yang mengetahui hal hal besar yang terjadi di dalam hidupku selama ini."
Entah bagaimana perasaan Mita mendengar perkataan Willy. Willy terlihat sangat bersedih mengatakan itu. Perkataan itu seperti tertuju kepada Mita akan sikapnya selama ini.
__ADS_1
"Buka hatimu untuk pria lain. Supaya aku tidak mengharapkan kamu lagi. Dengan begitu aku bisa mengubur perasaan cinta ini. Aku sudah lelah Mita. Aku sudah lelah menghapus namamu dari hati ini. Tapi hingga detik ini. Aku belum bisa melupakan kamu. Mungkin setelah melihat kamu berbahagia. Aku bisa dengan perlahan menghapus namamu walau rasaku itu tidak mungkin bisa terhapus," kata Willy. Dia sudah menunduk.
Mita meremas tangannya setelah mendengar perkataan Willy. Sudah empat tahun. Tapi dirinya juga menyadari jika dia belum bisa berpindah ke lain hati. Bahkan kepada Azriel yang selalu membantu dan bersedia menjadi ayah bagi Salsa saat pertama kali mendengar Mita hamil.