Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Makan Malam.


__ADS_3

Rasa bahagia yang dimiliki Willy saat ini melebihi rasa bahagia yang dimiliki sebelumnya. Bibirnya tidak berhenti tersenyum dan menciumi pucuk kepala Alda sambil berjalan. Willy juga tidak henti hentinya bersyukur memiliki putri seperti Alda yang mengerti akan dirinya. Willy juga tidak sabaran pulang untuk segera memberi tahu Mita akan kabar baik ini.


Jauh di lubuk hatinya, Willy juga dapat merasakan rasa kecewa yang rasakan Alda. Tapi Willy juga menyadari, bahwa rasa kecewa itu dialah penyebabnya. Dia yang menyuruh Mita untuk tutup mulut tentang hubungan mereka. Dia tidak menyangka, hal itu menyebabkan persahabatan Mita dan Alda begini jadinya. Mita sakit hati kerena sikap Alda dan Alda sangat kecewa karena Mita yang menyembunyikan hubungannya dengan Willy.


Willy masih merangkul Alda sambil berjalan. Mereka tidak bisa berjalan cepat. Berjalan di atas pasir sedikit menyusahkan membuat mereka tidak bisa berjalan cepat.


"Ayah,"


"Ya tuan putri,"


"Bolehkah aku meminta sesuatu?"


"Apapun itu boleh tuan putri. Selagi ayah masih sanggup memenuhinya. Apa permintaan kamu,"


"Aku hanya ingin malam ini kita makan malam bersama ayah. Bukan seperti tadi siang. Ayah satu meja dengan om Willy. Dan aku satu meja dengan bunda. Aku ingin kita makan malam bersama satu meja ayah,"


"Kenapa harus makan malam bersama satu meja tuan putri?. Apa tidak bisa dengan permintaan yang lain. Kamu sudah tahu bahwa ayah tidak suka dekat dengannya. Apalagi harus satu meja," kata Willy protes. Sungguh dia tidak ingin berdekatan dengan Keyla.


"Apa hanya makan malam sulit untuk ayah?. Aku hanya ingin momen seperti itu ayah selain liburan seperti ini. Setelah ini, mungkin akan sulit untuk kita jalan bersama seperti ini. Apalagi nanti setelah ayah sudah menikah. Ayolah ayah!. Aku hanya ingin seperti anak lainnya. Mempunyai kenangan dengan kedua orangtuanya walau hanya kenangan makan malam bersama," kata Alda memohon. Willy tidak tega melihat Alda yang memelas seperti itu.


"Baiklah, Ayah bersedia. Tapi gak apa apa kan Leo ikut makan malam bersama kita?"


"Kok musti ikut om Leo sih yah?"


"Biarin saja dia ikut. Kamu ingin punya kenangan kan. Leo harus ikut sebagai juru foto,"


"Baiklah ayah. Sebenarnya tanpa ada juru foto. Kenangan itu juga bisa diabadikan dengan selfie. Tapi tidak apa apa lah," jawab Alda pasrah. Baginya saat ini. Yang terpenting Willy mau makan malam bersama dengan dirinya dan Keyla.

__ADS_1


Ayah dan putri itu kembali berjalan. Mereka sudah bisa berjalan cepat karena tanah yang mereka pijak bukan lagi pasir. Alda melepaskan rangkulan ayahnya dan berjalan mendahului Willy ke dalam Villa.


Langkah Willy terhenti. Seseorang yang tidak diinginkan untuk memanggil namanya. Kini sudah berdiri di belakang tubuhnya. Willy tidak menghiraukan dan kembali melangkahkan kakinya menuju villa yang tinggal beberapa langkah lagi.


"Willy," panggil Keyla sambil meraih tangan Willy. Dengan kasar Willy menghempaskan tangan Alda.


"Willy, bolehkah aku bicara?"


"Bicaralah," perintah Willy dingin. Dia hanya menghentikan langkahnya tanpa berbalik melihat Keyla. Tetapi Keyla maju dan berdiri di hadapan Willy.


"Aku minta maaf Willy,"


"Baiklah. Aku memaafkan kamu. Minggir!" jawab Willy. Dia hendak melangkah tetapi Keyla menghalangi.


"Willy, berada di pantai seperti ini. Apa kamu tidak mengingat kenangan kita?. Kenangan itu menghadirkan seorang putri yang cantik dan baik, Aku ingi,,,,"


"Willy, tapi aku hanya ingin kamu. Aku ingin kita bersama lagi. Ingin membahagiakan Alda dengan menghadirkan keluarga yang utuh baginya,"


"Utuh kamu bilang?. Dasar tidak berotak. Kamu yang meninggalkannya sewaktu bayi tapi dengan tidak tahu malu kamu muncul di hadapan kami. Dengar Keyla. Walaupun gula berubah rasa jadi pahit. Aku tidak akan sudi kembali kepada wanita murahan seperti kamu," kata Willy marah. Dia tidak ingin melihat wajah Keyla lagi. Willy memandang Keyla sinis kemudian meninggalkannya di tempat itu.


Keyla masih berdiri di tempatnya. Willy tidak memberi kesempatan kepadanya untuk berbicara lebih banyak. Keyla memegang dadanya yang terasa sesak. Kata kata Willy sungguh menyakitkan. Mengatai dirinya tidak berotak dan wanita murahan membuat Keyla merasa tidak berharga. Keyla berjanji dalam hatinya akan menebus kesalahannya di masa lalu apapun caranya.


Malam pun tiba. Acara makan malam yang diminta Alda pun terwujud. Alda merancang makan malam itu sendiri. Dia meminta petugas villa untuk mempersiapkan makan malam di tepi pantai. Beruntung, cuaca malam ini mendukung rencana Alda.


Berbagai menu sudah terhidang di meja itu. Alda yang kesal dengan sikap bundanya memiliki duduk bersebelahan dengan Willy sedangkan Keyla duduk bersebelahan dengan Leo.


Willy memperhatikan gerak gerik Keyla dan pelayan yang melayani mereka makan. Willy sangat waspada. Dia takut Keyla memasukkan sesuatu ke dalam makanan dan minuman untuk membuatnya mabuk atau tertidur atau memberinya obat kuat. Willy merasa lega, sikap Keyla dan pelayan tidak mencurigakan.

__ADS_1


Mereka makan dengan diam, Mereka seperti orang asing yang kebetulan duduk satu meja. Willy hanya makan sedikit saja. Dia ingin cepat cepat meninggalkan tempat itu. Tetapi melihat Alda belum selesai makan. Willy mengurungkan niatnya. Dia akan menunggu Alda selesai makan dan bersama sama meninggalkan tempat itu.


"Alda, jangan diminum," larang Willy ketika Alda hendak meneguk air putih. Alda heran tapi menurut.


"Minuman apapun jangan diminum," kata Willy lagi sambil berdiri. Dia menjatuhkan apa saja yang ada di atas meja itu. Alda dan Leo heran dan terkejut. Bahkan mereka takut menatap Willy yang sedang marah.


"Apa yang kamu campurkan ke dalam minuman itu Keyla," bentak Willy sambil menatap tajam Keyla. Dia sudah merasakan gerah di tubuhnya. Padahal mereka di tepi pantai dengan hembusan angin yang kencang. Willy curiga. Sedari tadi dia dapat merasakan hembusan angin masuk ke dalam pori pori kulitnya. Tetapi sejak minum air putih itu, dalam hitungan menit Willy merasakan panas di tubuhnya. Bahkan semakin lama semakin panas. Alda menatap Keyla bingung.


"Apa kamu merasa gerah Willy?" tanya Leo. Dia juga kini merasa gerah. Dan semakin panas. Willy mengangguk.


"Alda masuk ke kamar kamu. Apapun yang terjadi jangan keluar," suruh Willy. Melihat kemarahan ayahnya, Alda patuh dan berlari menuju villa.


Willy menjambak rambutnya sendiri. Rasa panas itu kian menjalar di seluruh tubuhnya. Dia membuka bajunya dan bertelanjang dada. Sama seperti Willy, Leo juga semakin merasakan panas di tubuhnya. Leo juga membuka bajunya dan bertelanjang dada. Sungguh kedua sahabat itu merasakan penderitaan akibat rasa panas tersebut. Sedangkan Keyla masih duduk dengan tenang di bangkunya. Bahkan dia menurunkan bajunya sehingga menampakkan belahan dadanya.


Melihat Keyla yang duduk tenang, Willy merasa lega. Setidaknya Alda aman. Tidak seperti dirinya yang merasakan panas. Wanita itu juga tadi belum sempat meminum air putihnya.


Rasa panas itu kini bukan sekedar rasa panas lagi. Melainkan suatu tuntutan untuk menyalurkan hasrat. Willy mencengkeram miliknya dan Keyla melihatnya. Leo juga merasakan hal yang sama. Tetapi tidak seperti Willy yang masih berdiam di tempat itu, sedangkan Leo sudah berlari untuk mencari pelampiasan.


Willy merasakan hasrat semakin menjadi jadi. Melihat hal itu, Keyla mendekat sambil tersenyum. Dia menyentuh lengan Willy dengan lembut. Mendapat sentuhan seperti itu Willy merasakan nikmat. Keyla semakin memberanikan diri mengelus wajah Willy, Willy terbuai dan memejamkan mata. Keyla semakin bersorak dalam hatinya. Keinginan untuk mengulang kenangan di tepi pantai 17 tahun yang lalu akan segera terwujud.


Keyla semakin berani. Dia kini sudah mendaratkan bibirnya di bibir Willy, Willy yang sudah diliputi gairah secepat kilat menyambar bibir itu. Mengulumnya dengan rakus dan tangannya sudah aktif bekerja di tubuh Keyla. Keyla semakin senang dan juga melakukan hal yang sama di tubuh Willy.


Ketika bibir Willy bekerja di bagian tubuh Keyla yang lainnya. Keyla sengaja bersuara sangat indah. Suara itu membuat Willy semakin menggila. Dia menyeret Keyla kasar dan menumpukan tubuh Keyla ke meja. Keyla yang sudah tahu keinginan Willy melucuti pakaiannyan sendiri. Tubuhnya juga sudah menginginkan lebih walau tidak ikut meminum obat kuat. Sebelum makan malam itu berlanjut, Keyla sudah menyuruh pelayan untuk mencampurkan obat kuat itu kedalam air putih. Pengaruh suasana gelap. Mereka tidak bisa melihat air putih itu dengan baik.


Willy menurunkan celananya sampai selutut. Sedang Keyla yang sudah polos, sudah membuat posisinya senyaman mungkin. Posisi yang sudah bersedia mendapat sodokan dari Willy.


Willy sudah memposisikan miliknya untuk berpetualangan di gua milik Keyla. Tapi deringan telepon di ponsel membuat kegiatan itu berhenti. Otak Willi masih bisa bekerja. Dia merogoh saku dan berhasil mendapat ponselnya, tetapi ponsel itu sudah berhenti berdering. Willy juga sekilas melihat penelepon adalah Mita.

__ADS_1


.


__ADS_2