
Setelah mengucapkan tentang kelelahan hatinya, Willy terdiam. Menatap lurus ke arah lemari warna pink bercorak hello Kitty. Jika Mita berkata iya. Willy sudah rela. Willy akan merelakan dengan ikhlas dua wanita yang sangat dicintainya pergi dari sisiku. Willy memang sudah mengikhlaskan kepergian Keyla. Willy juga akan mengikhlaskan Mita. Sekarang ini, Willy semakin menyadari. Tidak ada gunanya memaksakan kehendak. Karena jodoh tidak bisa dipastikan.
"Kamu berhak marah Mita. Berhak kesal. Karena rasa marah dan rasa kesal itu milik semua manusia. Tapi kamu juga harus menyadari. Jika manusia tidak ada yang sempurna. Termasuk diriku sendiri. Aku memang sempurna di dalam pekerjaan. Tapi aku tidak sempurna menyangkut perasaan. Aku tidak bisa melupakan Keyla setelah terikat dengan kamu. Asal kamu tahu. Aku juga tersiksa dengan perasaan itu. Dan aku sendiri yang secara tidak langsung membuat anak anakku tidak merasakan kasih sayang yang utuh dari kedua orangtuanya. Termasuk si bungsu," kata Willy sedih.
"Apa maksud dari perkataan kamu om?" tanya Mita penasaran.
"Asal kamu tahu. Aku dan Keyla rujuk bukan karena kemauan Keyla tapi karena terpaksa," kata Willy pelan. Mita mengernyitkan keningnya. Segala dugaan dugaan negatif akan Willy terlintas di otaknya. Mita beranjak dari duduknya dan menjauh dari Willy. Mita memilih menarik bangku kecil ke arah pintu yang terbuka dan duduk di sana.
"Apa kamu menduga? Bahwa aku memperkosa Keyla?" tanya Willy yang sadar akan sikap Mita yang ketakutan. Mita hanya menatap Willy waspada.
"Bukan begitu om. Pendingin ruangan ini kurang dingin. Aku sedikit kegerahan," jawab Mita beralasan. Pertanyaan Willy tepat. Tapi Mita takut Willy tersinggung jika dirinya menjawab iya.
"Aku tidak memperkosanya. Kamu tidak perlu takut. Aku tidak seperti itu hanya untuk mencapai keinginanku. Kami rujuk karena campur tangan orangtuaku yang kembali bermain curang."
"Maksudnya om?. Willy menatap Mita. Ingin bercerita tapi entah mengapa hatinya ragu dan Mita tidak mempercayainya.
"Apa kamu ingin mendengarkan ceritaku?" tanya Willy. Mita mengangguk. Mita menjadi penasaran tentang perkataan Willy.
Flashback on
Hubungan Keyla dan Willy sudah membaik. Mereka sepakat menjadi orang tua yang baik bagi Alda dan Billy tanpa rujuk. Kesembuhan Billy menyadarkan mereka untuk menjalin hubungan baik untuk mengarahkan Billy menjadi sosok yang lebih dewasa.
Tiga tahun mereka bisa menjalin hubungan itu dengan baik. Alda dan Billy juga merasa bahagia melihat kedua orang tua mereka akur.
Mereka saling mendukung. Keyla juga mendukung Willy untuk terus mencari keberadaan Mita. Tapi menginjak tahun ketiga sejak kepergian Mita. Willy tidak melakukan pencarian lagi. Willy merasa jika Mita tidak ingin melihat dirinya sehingga pergi tanpa menunggu proses pengadilan tenang perceraian mereka.
Tapi di tahun keempat. Hubungan baik itu diambang kehancuran. Berawal makan malam yang direncanakan oleh kedua orang tua Willy. Makan malam itu terjadi dengan penuh canda dan tawa. Willy dan Keyla memang sudah memaafkan kakek Jhon dan Nenek bunga. Mereka tidak menyadari jika dibalik makan malam ini. Ada rencana terselubung. Kakek Jhon sudah memikirkan rencana ini matang matang. Kakek Jhon merasa, bahwa apa yang dipikirkan dan direncanakan olehnya adalah hal yang terbaik untuk keluarga Willy.
__ADS_1
Setelah makan malam itu selesai. Kakek Jhon menyuruh Alda dan Billy untuk segera masuk ke dalam kamar masing-masing. Sementara kakek Jhon dan nenek juga langsung pamit pulang. Tinggallah Willy dan Keyla berduaan di meja makan itu. Willy dan Keyla perlahan lahan merasakan panas di sekujur tubuhnya.
"Willy, aku pinjam kamar mandi di bekas kamar Billy," kata Keyla yang sudah mulai gelisah. Wajahnya sudah memerah. Willy hanya mengangguk dan kemudian menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Membayangkan kamar mandi, dia membayangkan kegiatan yang dilakukan di kamar mandi. Setelah mendengar suara pintu yang ditutup. Willy perlahan mengayunkan langkahnya. Sama seperti Keyla. Dia ingin cepat ke kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya. Willy juga masuk ke kamar bekas Willy. Dia mengira jika kamar yang dimasukinya adalah kamar yang berada di sebelah kamar Billy.
Tanpa memperhatikan apapun, Willy langsung masuk ke kamar mandi. Dia terkejut. Di kamar mandi itu, Keyla sudah berdiri di bawah shower tanpa sehelai benang di tubuhnya. Walau di guyur air, Keyla masih merasakan tubuhnya masih sangat panas begitu juga dengan Willy. Tapi dibandingkan Keyla, rasa panas di tubuh Willy lebih ringan dibandingkan oleh Keyla.
Willy mendekat, yang ada di pikirannya hanya ingin memiliki Keyla. Dia tidak mengingat lagi persahabatan mereka. Willy meletakkan tangan pertama di bahu Keyla. Keyla terlihat memejamkan matanya. Hanya di sentuh seperti itu, Keyla menginginkan lebih.
"Willy," panggil Keyla pelan tapi penuh gairah.
"Keyla," bisik Willy yang sudah berani meletakkan bibirnya di tengkuk milik Keyla. Keyla berbalik. Karena pengaruh obat perangsang. Keyla langsung menyerang bibir Willy dengan ganas. Hanya beberapa menit mereka berciuman. Tuntutan tubuh sudah menginginkan untuk bersatu. Hingga setelah lebih dari 17 tahun mereka kini merasakan kenikmatan itu kembali dalam hubungan terlarang. Mereka bukan lagi suami istri tapi mereka melakukan hubungan suami istri. Tidak hanya sekali. Berkali kali mereka melakukan hal itu. Mereka berpindah ke ranjang untuk melakukan penyatuan itu untuk kesekian kalinya.
Karena obat perangsang yang dosis tinggi Keyla merasa melakukan itu dalam mimpi. Tapi tidak dengan Willy, setengah sadar. Willy mengetahuinya perbuatan mereka. Tapi walaupun begitu. Dia juga tidak kuasa untuk menolak keinginan tubuhnya yang sangat mendesak untuk bercinta. Malam itu mereka menghabiskan malam hanya dengan bercinta. Hingga keduanya merasa kelelahan dan terlelap di ranjang yang sama.
Besoknya, Setelah matahari tepat di atas kepala. Kedua manusia itu terbangun. Lebih tepatnya Willy yang terbangun lebih dulu. Willy memandang wajah mantan istrinya yang masih terlelap. Setelah hari ini, entah bagaimana hubungan mereka selanjutnya. Willy hanya berpikir akan bertanggung jawab dan akan segera menikahi Keyla. Dia duda. Dan Keyla janda. Tidak ada halangan mereka untuk bersatu kembali. Keyla terbangun. Akibat kegiatan panas mereka, Keyla merasa badannya sangat lelah.
Hingga Keyla berbalik, Dia terkejut. Ada Willy yang sedang menatap dirinya. Perlahan Keyla mengingat kejadian tadi malam yang dia anggap seperti mimpi.
"Tenang bagaimana maksud kamu. Kamu sengaja memberikan aku obat itu kan?" tanya Keyla marah. Setelah berpikir dan menghubungkan apa yang dianggapnya adalah mimpi, Keyla sadar jika dirinya melakukan hal itu karena obat perangsang.
"Bukan aku key, Tapi dugaan aku adalah papa dan mama," jawab Willy. Tapi Keyla tidak percaya. Di mengulurkan tangannya mendorong Willy hingga terjadi terjatuh dari ranjang.
"Aku tidak percaya. Kamu menghalalkan segala cara supaya kita rujuk. Padahal kita sudah sepakat menjadi orang tua yang baik bagi Billy dan Keyla tanpa rujuk," kata Keyla dingin.
"Key, tolong percaya. Aku bersedia bersumpah jika bukan aku yang memberi kamu obat itu. Aku sudah menerima takdirku sendiri Key. Jika hidup menduda seumur hidup. Tapi setelah kejadian tadi malam. Aku akan bertanggungjawab dan menikahi kamu kembali."
"Tidak perlu. Anggap kejadian tadi malam tidak pernah ada. Keluarlah. Aku mau berpakaian," perintah Keyla dingin.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kamu hamil?" tanya Willy. Keyla terdiam. Kegiatan panas tadi malam terlintas di pikirannya. Bukan hanya sekali mereka melakukannya. Bahkan pagi ini, sisa sisa obat itu masih ada. Keyla memalingkan wajahnya yang melihat tubuh Willy polos tanpa busana. Hanya melihat tubuh itu. Keyla menginginkan sentuhan di tubuhnya. Tapi Keyla masih bisa menahan diri. Keyla menggulung tubuhnya dengan selimut dan masuk ke dalam kamar mandi.
Di kamar mandi, Keyla mengguyur tubuhnya. Dia menyesali karena bersedia memenuhi undangan sang mantan mertua untuk makan malam. Dia berharap, perbuatan haram mereka tadi malam tidak membuahkan hasil. Usianya masih usia produktif. Tidak tertutup kemungkinan jika perbuatan mereka akan membuat dirinya hamil.
Sedangkan di kamar, Willy sudah duduk dengan celana yang dia pakai tadi malam. Tubuh bagian atasnya masih terbuka. Willy menatap Keyla yang masih baru keluar dari kamar mandi.
"Kita akan menikah satu minggu lagi," kata Willy. Keyla menatap Willy sekilas kemudian mengambilkan tasnya yang terletak di atas sofa.
"Keyla, jangan pergi dulu," kata Willy sambil turun dari ranjang. Willy cepat berlari ke arah pintu dan menghalangi jalan Keyla untuk keluar dari kamar itu.
"Kita harus menikah."
"Aku tidak mau,"
"Jangan keras kepala Keyla. Aku yakin kamu hamil setelah kegiatan tadi malam."
"Ya sudah kita bicara pernikahan jika apa yang kamu yakini itu benar."
"Dan kamu akan mencegah itu dengan pil KB. Begitu kan rencana kamu?" tebak Willy. Keyla mengacungkan dua jempolnya karena tebakan Willy benar.
"Minggir Willy," perintah Keyla tegas. Willy menyingkir dari depan pintu itu. Keyla membuka pintu itu perlahan dan mengamati situasi. Setelah merasa aman. Keyla keluar dari kamar itu.
"Bunda. Bunda menginap disini tadi malam?" tanya Alda yang tiba tiba muncul di belakang Keyla ketika hendak keluar dari pintu utama. Keyla membalikkan badannya.
"Iya sayang. Badan bunda pegal tadi malam. Bunda berniat untuk istirahat sebentar di kamar bekas Willy ternyata jadi ketiduran," jawab Keyla. Dia mencari alasan yang tepat dan ternyata Alda percaya.
"Tahu begitu. Aku membangunkan bunda tadi malam. Billy demam tadi malam Bun. Aku mengompresnya tadi malam."
__ADS_1
"Billy sakit?. Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Keyla panik.
"Masih demam. Ayah juga tidak tidur di rumah. Aku jadi panik tadi malam Bun," jawab Alda. Keyla langsung bergegas menaiki untuk menemui putranya. Billy sudah 18 tahun. Tapi Keyla masih menganggapnya seperti anak kecil yang sangat butuh perhatian darinya. Dan benar saja. Billy masih demam. Niat awal untuk segera pulang ke rumah dan membeli pil KB terlupakan hanya karena menjaga Billy sampai sore hari.