
Alda tidak percaya melihat wanita yang duduk di sofa ruang tamu itu. Alda bahkan mengucek matanya untuk memastikan apa yang dilihatnya. Mita masih belum menyadari dua kakak beradik itu yang semakin mendekat ke arah. Matanya terlalu fokus melihat ponsel. Setelah kembali ke kota. Mita kembali mengaktifkan media sosialnya yang sudah lama tidak dilihat.
"Mita," panggil Alda setelah yakin yang dilihatnya adalah Mita sahabatnya. Mita menoleh dan secepat kilat Alda berlari menghambur memeluk Mita. Dua sahabat itu saling berpelukan erat. Baik Mita dan Alda tidak bisa menahan air mata mereka untuk tidak turun. Mita dan Alda saling melepas rindu dengan berpelukan sambil menangis.
"Kemana saja selama empat tahun Mita," tanya Alda setelah melepaskan pelukannya. Mita mengusap air mata sahabatnya itu kemudian mengusap air matanya sendiri. Mereka duduk bersebelahan. Sedangkan Billy yang masih berdiri terus memperhatikan gerak gerik dua sahabat itu.
"Aku pergi bersemedi," jawab Mita. Mereka berdua tertawa bersama.
"Dimana. Aku juga mau. Jika itu bisa menentramkan hati," kata Alda serius. Mita menatap sahabatnya itu yang terlihat masih sedih. Mita memeluk Alda dan mengucapkan kata kata bela sungkawa.
"Terimakasih karena sudah bersedia datang ke rumah ini Mita," kata Alda tulus. Dia tidak menyangka jika Mita masih bersedia datang ke rumah ini setelah apa yang terjadi antara ayahnya dan Mita. Dia sudah mendengar semuanya apa yang menjadi alasan Mita sampai bersikeras untuk meminta cerai. Alda pun sebenarnya marah setelah mendengar ayahnya kembali memakai jasa Sofia. Tapi Alda tidak bisa berbuat apa karena Mita keburu kabur. Sama seperti ayahnya. Alda juga sudah berusaha untuk mencari Mita kemana mana. Hasilnya nihil.
"Sama sama Alda. Bagaimana kabar kamu dan Nino?" tanya Mita.
"Masih berjalan mulus. Banyak drama yang terjadi tapi baik aku dan Nino masih bisa bertahan. Kita berdua menyadari jika Mita saling mencintai," jawab Alda.
"Belum ada rencana untuk ke jenjang yang lebih serius?"
"Tunggu lulus kuliah dulu Mita. Biar makin dewasa nantinya. Mungkin sekitar dua tahun lagi."
Mita menunduk mendengar jawaban sahabatnya. Dari jawaban itu. Mita bisa menilai jika Alda berpikir matang matang tentang pendidikan dan percintaannya. Mita membandingkan cara berpikir Alda dengan dirinya. Cara berpikir yang jelas jauh berbeda. Mita kembali merasa dirinya bodoh karena terlalu cepat memikirkan pernikahan ketika dirinya masih berseragam abu abu. Hasil sungguh tidak memuaskan sekarang. Dia harus kembali ke rumah mantan suami. Untuk mengenalkan sang buah hati.
"Semoga semuanya lancar Alda," kata Mita. Alda hanya mengangguk tanpa senyum. Kesedihan itu masih mendominasi. Padahal Mita sengaja tidak menyinggung Keyla supaya Alda tidak selalu mengingat bundanya. Tapi kesedihan itu begitu mendalam hingga sedikit senyum saja tidak bisa terlukis di bibirnya.
Billy yang sedari tadi berdiri kini duduk di hadapan dua wanita cantik itu. Dia sudah bosan menunggu untuk disuruh duduk. Tapi Alda seakan lupa keberadaan sang adik karena melihat sahabatnya.
"Alda. Ini Billy kan?" tanya Mita pangling melihat ketampanan sang mantan anak tiri. Billy terlihat sempurna secara fisik. Dia bukan seperti Billy ketika terakhir kali dilihat oleh Mita. Billy benar benar fotocopy Willy. Billy tersenyum ke arah Mita.
"Iya. Dia adik aku. Sudah sehat total. Ternyata dia pintar secara akademik Mita," jawab Alda bangga. Alda terlihat sangat menyayangi adiknya itu.
"Billy, dia Mita. Sahabat mbak. Kamu ingat dia tidak?" tanya Alda. Billy menggelengkan kepalanya. Karena Billy memang sembuh total di tahun kedua kepergian Mita. Jadi wajar jika Billy tidak mengingat Mita.
"Sahabat kamu cantik mbak," puji Billy jujur.
"Jangan dilirik dek. Sahabatku ini sudah ada yang punya. Iya kan Mita?" tanya Alda. Mita terlihat bingung untuk menjawab apa. Kita Alda mencubit pahanya. Mita akhirnya mengangguk.
"Jangan sampai adik dan ayahku menyukai wanita yang sama," bisik Alda membuat Mita langsung menjauhkan diri dari mulut Alda yang hampir menempel ke kupingnya.
"Tolong Mita. Kalau seandainya kamu tidak mantan ayahku. Tidak masalah adikku menyukaimu," bisik Alda lagi. Dia tidak mau seperti kejadian dulu. Tanpa sepengetahuannya sang ayah dan sahabat menjalin hubungan di belakangnya. Mita masih sangat cantik. Dan Billy sudah dewasa. Tidak tertutup kemungkinan Billy menyukai Mita. Apalagi Billy belum mengetahui siapa sebenarnya Mita. Itulah sebabnya Alda langsung memperingatkan Mita.
"Kenapa bisik bisik?" tanya Billy. Jarak mereka tidak lebih dari dua meter. Dia bisa menangkap perkataan Alda walau samar samar.
"Tidak ada apa apa dek. Masuklah ke kamar. Istirahat dulu ya," kata Alda lembut. Billy mengangguk dan berlalu dari tempat itu. Billy memang menurut kepada Alda.
"Apa maksud kamu mengatakan seperti tadi?" tanya Mita setelah melihat Billy tidak terlihat lagi di tangga.
"Kamu tidak dengar tadi dia memuji kamu?" tanya Alda.
"Jangan khawatir friend. Aku tidak mungkinlah membalas jika Billy menyukai aku. Aku sudah pernah membohongi kamu dan hasilnya seperti ini."
"Aku percaya kamu Mita. Kapan tiba di kota ini?" tanya Alda.
__ADS_1
"Tadi pagi Alda. Aku juga harus pulang sekarang."
"Jangan dulu. Kita makan siang bersama dulu," ajak Alda sambil menarik tangan Mita. Mita menahan tangan itu.
"Aku harus pulang sekarang. Salsa pasti sudah rewel karena lama aku tinggal," kata Mita.
"Salsa. Siapa Salsa?. Jangan bilang kamu mempunyai anak dari ayahku?" tanya Alda sudah bingung dan mencari kebenaran di wajah Mita. Mita terkejut karena tidak sengaja menyebut nama anaknya. Rasa terkejut itu kini berganti dengan gugup. Mita juga sudah berkeringat dingin. Dia tidak tahu harus menjawab apa kepada Alda. Selain itu Mita juga takut jika karena Salsa. Alda kembali membencinya karena menyembunyikannya sejak di kandungan.
"Jawab Mita. Siapa Salsa?.
Mita masih mengatupkan mulutnya. Secepat ini dia memberi tahukan keberadaan Salsa. Walau belum mengakui secara langsung. Mita yakin Alda tidak tinggal diam. Jika berbohong pun, Alda pasti bisa menyuruh seseorang untuk menyelidikinya. Alda punya segalanya. Hanya kekuatan uang hitungan jam. Alda pasti bisa mengetahui tentang Salsa.
"Tolong jujur Mita. Siapapun Salsa. Aku akan menjaga rahasia tentang Salsa. Jika itu adalah adikku dan kamu belum siap memberi tahu kepada ayahku. Aku akan tetap tutup mulut. Jangan buat aku penasaran," kata Alda yang bisa melihat keraguan di wajah Mita. Mita memejamkan mata.
"Kamu janji dulu dengan kata kata yang barusan kamu ucapkan Alda," kata Mita. Mita menyadari cepat atau lambat Alda akan mengetahui tentang Alda. Akan lebih menyakitkan bagi Alda jika Mita berbohong hari ini.
"Dia adik kamu Alda," jawab Mita akhirnya. Dia menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Alda. Di luar dugaan, Alda justru memeluknya sangat erat.
"Kamu memberikan aku adik perempuan Mita?. Terima kasih Mita. Terima kasih," jawab Alda. Mita terharu mendengar perkataan Alda yang terlihat bahagia. Padahal belum melihat bagaimana rupa adiknya. Wajah itu kini tidak sesedih ketika tadi pertama kali melihat sang sahabat.
"Kami tidak marah atau kecewa kepadaku?" tanya Mita. Alda menggelengkan kepalanya.
"Dikasih adik kok marah. Yuk, kita ke rumah kamu sekarang. Aku tidak sabaran melihat adik perempuan aku," ajak Alda sambil menarik tangan Mita. Mita menurut. Alda terus menarik tangannya.
"Kita mau kemana?" tanya Mita bingung ketika Alda menarik tangannya bukan ke arah pintu utama.
""Aku lihat adik bungsuku dulu," jawab Alda sambil mendorong pintu kamar si bungsu. Alda dan Mita mendekat ke boks. Alda membungkuk badannya mencium si bungsu. Kemudian dia mengelus wajah adiknya itu.
"Diapers jangan terlalu lama diganti ya mbak. Apa saja yang kurang. Tolong dicatat kasih ke bibi supaya dibelanjakan," kata Alda lagi.
"Beres non," jawab baby sitter itu sambil mengangguk. Mita dan Alda keluar dari kamar itu. Dari cara Alda. Mita bisa melihat menyayangi adik adiknya. Dia juga berharap Mita memperlakukan hal yang sama seperti itu kepada Salsa.
Banyak yang terjadi yang berubah dilihat oleh Mita dalam diri Alda. Kini Alda tidak memakai jasa supir pribadi lagi. Alda menyetir mobilnya sendiri. Sepanjang perjalanan. Alda banyak bertanya tentang kehidupan Mita dan Salsa selama empat tahun ini. Alda sama sekali tidak menunjukkan rasa kecewa atau kesal dengan tindakan Mita. Alda bahkan memaklumi semua sikap sahabatnya itu.
"Kok aku berdebar gini ya Alda. Padahal mau bertemu adik bukan pacar. Mau bertemu Nino saja tidak seperti ini detak jantungku," kata Alda jujur. Mita hanya terkekeh.
"Itu karena kamu bertemu dengan seseorang yang masih berkaitan darah. Istilahnya kontak batin itu Alda," jawab Mita. Alda mengangguk setuju dengan yang dikatakan oleh Mita.
Alda terburu buru turun dari mobil. Dia benar benar tidak sabaran melihat adik tirinya. Mita sampai menggeleng kepalanya melihat Alda yang berlari menuju rumah.
Alda berdiri terpaku di ruang tamu rumah Mita. Melihat sang adik tiri yang sedang bermain bongkar susun. Ketika Salsa melihat Alda. Salsa terlihat bingung dan langsung duduk di pangkuan sang nenek. Tapi ketika melihat Mita yang berjalan ke arah mereka. Salsa langsung berlari mendekat dan memeluk kaki bundanya.
"Bunda, ayah mana?" tanya anak itu polos.
Alda merasakan hatinya berdenyut nyeri. Salsa adalah gambaran dirinya ketika kecil yang selalu merindukan kedatangan bundanya yang tidak kunjung muncul. Setiap ayahnya pulang entah darimana pun. Dia berharap bundanya mengekor di belakangnya. Tapi impian itu terwujud setelah dirinya beranjak dewasa. Itupun hanya sebentar merasakan kasih sayang sang bunda. Sampai kapanpun kasih sayang itu tidak pernah lagi dia rasakan.
Alda tanpa sadar merasakan pipinya basah. Bukan hanya kerinduan Salsa akan sang ayah yang membuat Alda sedih. Tetapi juga dengan adik bungsunya. Dia membayangkan apa yang dialami oleh dirinya dan Salsa akan terulang kepada sang adik bungsu.
"Ayah masih sibuk cari uang untuk Salsa," jawab Mita. Salsa terlihat kecewa dan menunduk. Dia berlari ke arah mainannya dan duduk di lantai.
"Salsa. Bunda bawa mbak ini. Salim mbak dulu nak," kata Mita sambil melambai ke Salsa. Anak itu kembali berdiri dan menghampiri Alda yang sudah duduk di sofa. Salsa mengulurkan tangannya ke Alda. Alda terlebih dahulu mengusap air mata kemudian menyambut uluran tangan mungil itu.
__ADS_1
"Adik cantik ini. Namanya Salsa ya!" kata Alda.
"Iya. Alsa," jawab anak itu singkat.
"Ooo. Namanya Alsa. Mirip donk dengan nama kakak. Kakak namanya Alda," kata Alda. Tangan mereka masih posisi bersalaman.
"Panggil kakak saja. Tidak usah panggil mbak," kata Alda lagi. Anak kecil mengangguk.
"Iya kak," jawab Alsa.
"Kita twins," kata Alda lagi. Walau tidak mengerti Alsa tetap mengangguk. Alda tertawa melihat wajah bingung adik tirinya.
"Alsa, boleh tidak duduk di sini," kata Alda lagi sambil menunjuk pahanya. Salsa membentangkan kedua tangannya supaya diangkat duduk dipangkuan kakaknya. Alda tersenyum dan melakukan apa yang diinginkan adik tirinya.
"Mau foto?" tanya Alda. Alsa mengangguk. Alda mengeluarkan ponselnya dan mengajak Alsa untuk tersenyum.
"Smile twins," kata Alda. Alsa mengerti dan memamerkan senyum manisnya. Alda menjepret aksi mereka berdua berkali kali.
"Kita mirip kan?" tanya Alda. Alsa hanya mengangguk. Memang benar adanya. Mereka mirip karena Alda juga mirip dengan ayahnya. Sedangkan wajah Salsa perpaduan wajah Mita dan Alda.
Mita dan nenek Ratmi merasa terharu melihat pertemuan kakak beradik itu. Alda terlihat sangat menyayangi adik tirinya. Alsa juga langsung dekat dengan Alda. Bahkan Alda dan Alsa kini sudah duduk di lantai beralaskan karpet. Alda mengajari Alsa menyusun balok balok bongkar pasang itu. Mita menatap wajah Alda dan Alsa bergantian. Dia tidak menyangkal kata kata Alda yang menyatakan mereka berdua mirip. Dibandingkan ke wajah Mita. Wajah Alda lebih mirip ke Alda.
"Alsa mau ketemu ayah?" tanya Alda. Alsa menatap wajah kakaknya sebentar kemudian mengangguk.
"Iya."
"Kalau ketemu ayah. Nanti minta apa sama ayah."
"Minta keliling naik motor," jawab Alsa. Alda tertawa. Alsa tidak bisa mengatakan huruf r.
"Kalau kakak bawa ketemu ayah. Mau tidak?" tanya Alda lagi. Alsa melihat bundanya. Mita sudah mulai gelisah. Bukan seperti ini tadi janji yang dikatakan oleh Alda.
"Alda, jangan gitu donk. Tadi kan kamu berjanji untuk tutup mulut untuk sementara waktu. Sekarang bukan waktu yang tepat Alda," kata Mita.
"Aku hanya bertanya Mita. Kok langsung sewot gitu," jawab Alda. Sifat aslinya sudah keluar. Mita hanya menatap kakak beradik itu yang sudah kembali membongkar apa yang sudah mereka bentuk tadi.
"Tapi nenek rasa. Lebih cepat lebih bagus Mita. Apa kamu tega menunda pertemuan itu sementara Alsa sudah sangat menginginkan bertemu ayahnya. Dari tadi sebelum kalian berdua datang. Dia sudah berkali kali bertanya tentang ayahnya. Ketika kamu datang. Apa kamu tidak melihat kekecewaan di matanya?" kata nenek Ratmi. Nenek setuju jika Alsa secepatnya bertemu dengan Willy.
"Aku rasa juga seperti itu Mita. Tapi semuanya kembali ke keputusan kamu. Aku ngikut saja. Tapi jika kamu setuju. Sekarang saja kita ke rumahku. Masih jam dua. Jika Alsa tidak bisa menginap di rumah nanti. Kalian juga tidak kelamaan pulang. Ya kalau nginap. Aku sih tambah senang," kata Alda.
"Alsa masih wangi tidak," kata Alda lagi sambil menciumi adik tirinya. Alsa tertawa ketika Alda mencium ketiaknya.
"Adikku masih wangi. Tunggu apa lagi bunda. Kita berangkat sekarang," kata Alda lagi. Mita membulatkan matanya ketika Alda memanggil dirinya dengan sebutan bunda.
"Kamu kok ikutan manggil bunda sih," protes Mita. Seketika Alda menunduk.
"Maaf Mita aku keceplosan," jawab Alda. Dia kembali mengingat bundanya. Melihat Alda yang kembali terlihat bersedih. Mita merasa bersalah.
"Baiklah kita berangkat sekarang," kata Mita. Kata kata itu berhasil mengalihkan rasa sedih. Alda mengangkat wajahnya.
"Alsa, kita akan bertemu ayah. Hore."
__ADS_1
"Hore." Alsa dan Alda berdiri kemudian melompat. Mita dapat melihat banyak persamaan diantara sahabat dan putrinya.