Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Saling Mencintai


__ADS_3

Mita duduk bersandar di ranjang dan sesekali melihat ke arah balkon. Sudah hampir lima belas, tetapi Willy belum kembali ke kamar. Dan tanda tanda mau masuk ke kamar juga belum ada. Mita melihat Willy dari ranjang. Pria itu menengadahkan kepalanya menatap langit. Mita sadar bahwa Willy sangat kecewa dengan keinginannya yang terlalu menuntut.


Mita akhirnya turun dari ranjang dan menyusul Willy ke balkon. Mita bisa melihat, Willy berpegangan ke besi pembatas dan kini sudah menatap lurus ke dep. Mita menatap apa yang dilakukan Willy sebelumnya, menatap langit yang penuh bintang dan memegang besi pembatas.


Willy menoleh ke Mita yang berdiri berjarak sekitar satu meter dari dirinya. Willy mendekat dan merangkul bahu Mita. Setelah lima belas menit berpikir, Willy sadar. Bahwa Mita masih terlalu muda untuk ikut merasakan apa yang dihadapinya sekarang ini. Willy juga sadar, dirinyalah yang terlalu mencintai Mita dan menggebu mengikat Mita dalam pernikahan ini. Mita merasa senang karena Willy tidak mendiamkan dirinya karena keras kepalanya tadi. Willy akhirnya kembali menengadahkan kepalanya menatap langit.


Willy dan Mita sama sama mendongak melihat langit. Tangan Willy yang terletak di bahu Mita, membuat wanita itu yakin bahwa Willy tidak marah. Mita juga akhirnya mengulurkan tangannya untuk memeluk pinggang sang suami. Mita juga sadar, tidak seharusnya dia menagih janji untuk bulan madu ke Maldives. Sementara kesehatan Billy sesuatu hal yang tidak bisa ditunda. Sedangkan bulan madu atau jalan jalan merupakan hal yang bisa ditunda. Sungguh Mita menyesali sifatnya yang kekanakan ini. Seharusnya, Mita bisa berpikir lebih bijaksana. Mita benar benar menyesal. Seharusnya sebagai wanita dia mendukung Willy untuk selalu menemani Billy untuk berobat.


Dalam diam Willy dan Mita sama sama tersenyum. Menatap langit yang bertabur bintang bersinar di tengah kegelapan malam. Mita ingin seperti bintang itu. Menyinari hati Willy disaat sang suami banyak beban pikiran. Tetapi malam ini, justru Mita memberikan pilihan yang sulit untuk Willy. Mita mengeratkan pelukannya untuk menutupi penyesalannya. Willy yang tidak mengetahui apa yang dipikirkan Mita, membalas pelukan itu dengan erat juga.


"Om sudah memutuskan. Kita akan tetap berbulan madu baby," kata Willy masih menatap bintang bintang. Mita tersenyum. Mita dapat merasakan cinta Willy yang amat besar untuknya. Tetapi bersamaan dengan itu, Mita juga merasa bersalah. Mita tahu, ini adalah keputusan yang sangat berat untuk Willy. Mengabaikan Billy yang jelas butuh Willy demi dirinya untuk bersenang senang. Senyum di wajah Mita menghilang.


"Om serius?" tanya Mita heran. Willy hanya mengangguk kepalanya. Tapi matanya tidak lepas dari wajah Mita yang sudah mendongak melihat wajah Willy. Lagi lagi Mita tersenyum. Mita kembali membenamkan kepalanya di dada Willy. Willy tidak hanya sekedar memeluk lagi, tangannya kanannya ikut membelai rambut Mita.


"Aku mencintaimu om, Sangat," kata Mita. Willy membalas ungkapan cinta Mita dengan mengecup pucuk kepala wanita itu.


"Om lebih mencintaimu baby," bisik Willy di telinga Mita. Mita tertawa kegelian. Bisikan Willy sanggup membuat tubuhnya merinding dan kegelian.


"Terimakasih om. Karena menepati janji untuk membawa aku berbulan madu. Maafkan sifat kekanakan aku tadi,"


"Tidak perlu meminta maaf. Itu sudah resiko om menikahi daun muda yang amat muda seperti dirimu baby," jawab Willy sambil tersenyum. Senyumnya yang menggoda membuat Mita tersipu malu. Mita mencubit lengan Willy dan kemudian kembali membenamkan wajahnya di dada bidang milik Willy.

__ADS_1


"Billy bagaimana om?"


Willy menarik nafas panjang. Billy, putranya yang baru diketahui keberadaannya harus kembali terabaikan demi menyenangkan istrinya. Pilihan yang sulit sebenarnya. Tapi Willy juga tidak bisa untuk mengabaikan Mita. Melihat Mita bersedih, Willy juga ikut bersedih.


"Biarkan Keyla yang mengurusnya untuk sementara. Sepulang dari bulan madu. Aku akan banyak meluangkan waktu kepada Billy," jawab Willy pelan. Mita melepaskan diri dari dekapan Willy. Mita kembali menatap langit dan berpegangan ke besi pembatas.


"Kalau terpaksa, sebaiknya jangan om," kata Mita membuat Willy bingung. Mita yang awalnya bersikeras untuk berbulan madu, tetapi sekarang justru sikapnya memberikan peluang kepada Willy untuk untuk menunda bulan madu tersebut.


"Maksud kamu apa sih baby, om sama sekali tidak terpaksa. Ini keinginan om dari awal, walau sebelumnya om sempat berniat untuk menundanya. Tapi sekarang om, sudah sangat yakin. Kita harus berbulan madu. Percaya sama om sayang," jawab Willy berusaha menyakinkan Mita. Jika keputusannya bukan terpaksa. Lagi pula setelah Willy berpikir. Pengobatan Billy di minggu pertama pasti, tidak berpengaruh jika dia tidak ikut mendampingi.


"Oke om sekali lagi terimakasih karena mencintaimu aku. Dan terima kasih juga karena menepati janji untuk berbulan madu. Aku senang om. Besok pagi. Aku ke rumah nenek Ratmi dulu ya om. Aku mau berpamitan kepada nenek dan ayahku,"


Mita kembali mengembangkan senyumnya. Mita berinisiatif mencium pipi suaminya terlebih dahulu. Kemudian Mita menarik tangan suaminya untuk masuk ke dalam kamar.


Sepanjang malam, Mita tidak bisa memejamkan matanya. Bolak balik membalikkan badan untuk membuat posisi yang nyaman, tetap saja matanya sulit untuk terpejam. Akhirnya, Mita turun dari ranjang setelah memastikan sang suami sudah terlelap. Mita keluar dari kamar dan menuruni tangga. Suara berisik dari kamar Billy, membuat Mita penasaran dan melangkah menuju kamar tersebut.


Mita menempelkan telinganya di pintu kamar Billy. Suara itu semakin jelas, Mita berlari menaiki tangga dan membangunkan Willy.


Mita menarik tangan Willy, ketika Willy setengah tersadar. Suara Mita yang panik membuat Willy cepat tersadar dari kantuknya. Mereka saling berpegangan menuruni tangga. Hingga di depan kamar Billy, Willy memutar handle pintu pelan. Willy tertegun. Dalam tidur, Billy mengigau memanggil dirinya. Mengucapkan semua kerinduan dan harapannya. Willy mematung, tangannya terasa lemas melihat keadaan Billy yang sangat merindukan kasih sayang seorang ayah.


Willy mendekat ke ranjang, Billy sudah berhenti menyebut namanya. Willy melihat dahi Billy yang berkeringat, Willy mengambil tissue dan mengusap keringat itu dengan lembut.

__ADS_1


"Om, temani Billy tidur om, Aku tidak apa apa jika harus tidur sendiri di kamar atas," kata Mita pelan.


"Kamu serius baby" tanya Willy. Mita mengangguk. Mita keluar dari kamar dan menutup pintu dengan sangat pelan.


Setelah Mita keluar dari kamar itu, Willy berusaha memejamkan matanya. Tidur di sebelah Billy tidur menyamping sambil mengamati wajah sang putra. Willy sungguh merasakan dadanya sesak, setiap melihat penderitaan Billy. Willy dapat merasa kesedihan yang sangat dalam. Apalagi malam ini, anak itu berkali-kali memanggil namanya dan nama Keyla.


Willy terbangun karena suara yang menyebutkan namanya beberapa kali. Willy mengucek matanya dan melihat Keyla sudah berdiri dekat ranjang di sebelah Billy. Sedangkan Billy juga sudah duduk dan nampaknya sudah mandi. Willy meliriknya jam dinding. Sudah jam enam.


"Selamat pagi Billy," sapa Willy. Billy seperti biasa belum merespon. Keyla menyisir rambut Billy kemudian mengambil ponsel dari laci meja. Keyla memutar lagu dan meletakkan ponsel itu di dekat Billy.


"Jam berapa kamu tadi tiba Key,"


" Setengah enam," jawab Keyla pelan dan singkat. Willy menatap mantan istrinya. Tanpa berkata apa apa lagi, Willy keluar dari dalam kamar. Willy sebenarnya sangat kesal. Karena Keyla hanya menjawab pertanyaan dengan singkat.


"Baby, bangun," kata Willy sambil menyentuh pipi Mita. Ketika sang istri membuka mata, Willy mendaratkan kecupannya di kening dan di kelopak mata milik Sinta.


"Tante Keyla sudah datang?" tanya Mita serak dengan suara khas baru bangun tidur. Willy mengangguk.


"Kasihan, Tante pasti sangat lelah bolak balik seperti ini,"


"Kita doakan Billy cepat sembuh baby, Hanya kesembuhan Billy yang akan meringankan beban Keyla,"

__ADS_1


__ADS_2