
Mita menunduk setelah mendengar cerita Willy. Perasaan lega memenuhi rongga dadanya. Setidaknya di akhir hidup Keyla. Mita merasa Keyla merasakan keadilan dari semua penderitaannya. Mita juga menyadari. Tidak mudah bagi Keyla berjuang sendiri melahirkan Billy dan menjadi orang tua tunggal selama 15 tahun. Mita sudah merasakan melahirkan sendiri tanpa suami. Dia lebih beruntung daripada Keyla. Mita masih mempunyai nenek yang selalu setia menemaninya.
Sementara Keyla pada saat itu sengaja diasingkan dengan lingkungan baru yabg sama sekali tidak dia kenal. Keyla hanya membawa uang sedikit sedangkan dirinya membawa saldo rekening yang bisa membuka grosir sembako dan bahkan saldo itu masih lumayan banyak di rekeningnya sekarang.
Dengan rujuknya mereka. Mita merasa jika Keyla berhak mendapat cinta dari Willy. Mereka berpisah sebelumnya karena keegoisan kakek Jhon. Dan kembali rujuk karena rencana kakek Jhon. Cemburu itu ada dihatinya ketika Willy menceritakan bagaimana sepasang suami istri itu saling mengungkapkan rasa cinta mereka. Tapi Mita sadar, rasa cemburunya sekarang ini tidak beralasan karena yang dicemburui sudah tidak ada lagi di dunia ini.
"Mungkin kamu kecewa mendengar semua ceritaku tadi. Tapi itulah yang terjadi. Dan aku hanya berusaha jujur. Bahwa pernikahan itu bukan karena kemauan kami tapi karena terpaksa. Walau akhirnya kami bisa merasakan kebahagiaan sesaat. Mungkin itu karma bagiku karena masih saja serakah. Jangan menyalakan Keyla. Dia juga berusaha menjaga perasaan kamu selama hidupnya," kata Willy.
"Tidak ada alasan bagi diriku untuk kecewa om. Kalian rujuk di saat kita sudah resmi bercerai."
Entah mengapa, Mita memang tidak membenci Keyla sedikitpun walau sudah mendengar cerita Willy. Yang ada Mita merasakan rindu kepada Keyla. Senyum, sapaan lembut Keyla terbayangkan di wajahnya. Apalagi ketika mengingat cerita Willy tentang Keyla yang menanyakan dirinya. Andaikan kedatangan kembali ke kota ini dimajukan satu minggu, mungkin Mita masih bisa bertemu dengan Keyla.
"Terimakasih Mita. Tidak menyalahkan Keyla," jawab Willy dengan mata yang menerawang. Mita dapat melihat kesedihan di wajah mantan suaminya. Melihat itu Mita juga ikut bersedih.
"Jadi kenapa si bungsu belum mempunyai nama om?" tanya Mita membuat Willy tersentak. Si bungsu sudah tiga bulan. Selama ini dia hanya menyebut putranya itu dengan sebutan si bungsu. Dia benar-benar lupa memberi nama bayi bungsunya. Padahal hampir setiap hari sebelum dan sesudah bekerja Willy selalu melihat si bungsu ke kamarnya. Karena rasa duka, perdebatan dirinya dengan Mita dan karena memendam rindu ke Salsa dan juga pekerjaan. Hanya itu yang berputar putar di otaknya sehingga dia melupakan sebuah nama untuk si bungsu.
"Aku lupa memberinya nama."
Mita merasakan hatinya berdenyut nyeri. Bayi tidak berdosa itu terabaikan dan terlupakan. Nama adalah warisan yang sangat sederhana yang dibawa sampai mati. Tapi si bungsu, belum mendapatkan warisan itu.
"Keterlaluan kamu om. Kamu mengabaikan anak kecil itu."
__ADS_1
"Aku tidak mengabaikannya Mita. Hanya saja sudah terbiasa memanggil si bungsu jadi lupa memberi sebutan baru untuknya."
"Berikan dia nama sekarang juga om. Aku tidak terima jika dia terus dipanggil si bungsu. Tante Keyla pasti tidak senang seperti itu."
"Aku belum menemukan nama yang bagus untuk dia. Biarkan saja dulu begitu. Lagipula kan saat ini memang dia paling bungsu. Kecuali dia punya adik baru dipanggil si bungsu baru aneh."
"Berarti om berencana mau nikah lagi dan memberikan dia adik. Baru diganti panggilannya?" tanya Mita marah. Willy mengangguk dengan senyuman
"Dasar pria serakah. Baru saja ditinggal mati istri sudah mikir untuk mencari istri baru," sungut Mita kesal. Hatinya bergemuruh hebat memikirkan Willy akan menikah dengan wanita lain.
"Itupun kalau wanita yang ada di ruangan ini bersedia menjadi istri ku kembali. Kalau tidak ya jadi duda keren saja sepanjang hidup."
"Ya iyalah. Duda sepanjang hidup. Tapi penghangat ranjang kan tetap ada."
"Benar kan. Pasti penghangat itu inisialnya dari s.
"Sangat tepat. Nilai seratus untuk kamu."
"Sofia lagi," gumam Mita pelan.
"Bukan Sofia Mita. Tapi selimut," kata Willy sambil tertawa. Mita mengerucutkan bibirnya. Tanpa sadar sikap mantan suami istri kembar seperti awal kedekatan mereka hanya saja. Hanya jarak yang membedakannya. Jarak mereka saat ini sekitar tiga meter.
__ADS_1
"Tidak percaya. Mana bisa lepas dirimu dari Sofia om. Kan partner ranjang sejati."
"Ya kamu benar Mita. Pria serakah seperti aku memang tidak layak dipercaya," jawab Willy pelan. Willy beranjak dari duduknya.
"Malam ini Salsa tidur disini. Kalau kamu mau pulang. Kamu bisa minta supir untuk mengantar kamu pulang," kata Willy datar. Dia melewati Mita dari depan pintu itu. Mita memandang punggung Willy yang semakin menjauh. Ada rasa tidak suka di hatinya ketika Willy meninggalkan dirinya seperti ini. Jauh di lubuk hatinya. Mita ingin Willy menjelaskan dan menyakinkan dirinya jika Willy dan Sofia sudah berakhir.
Ya cinta itu masih bersemi indah di hatinya. Tapi untuk memulai hidup kembali dengan Willy, Mita masih ragu.
"Apa yang membuat kamu ragu, Wanita yang menjadi saingan kamu sudah meninggal. Kalau Masih cinta dipertahankan," kata Ratih sahabat baru Mita dari seberang. Mereka saat ini sedang melakukan panggilan video. Ratih sahabat baru Mita sudah mengetahui kisah percintaan Mita dengan Willy.
"Intinya masih ragu Ratih. Dan trauma," kata Mita sambil tiduran di ranjang mini Salsa.
"Dasar wanita. Mendengar cerita kamu saja. Aku dapat menyimpulkan jika kamu yang memberi peluang untuk mereka. Lagi pula setiap manusia itu berhak mendapat kesempatan kedua. Jika kamu masih cinta m Terus selanjutnya rencana kami seperti apa. Hanya bertatapan tatapan seperti itu. Sekarang jamannya wanita yang strong. Bukan wanita yang terus larut dalam masalah yang berputar putar dalam satu masalah. Sudahlah. Mantan suami itu masih sangat mencintai kamu."
"Sok tahu kamu."
"Kan kamu yang cerita dia berbicara seperti itu kepada kamu. Anggap saja rujuknya dia dengan mantan sebagai pembuka kebahagiaan kepada kamu. Dengan rujuk kalian sekarang. Berarti tidak ada lagi masa lalu yang merusak kebahagiaan kamu itu. Kecuali kalau hantunya datang."
"Jangan bicara hantu donk. Aku jadi merinding nih," kata Mita yang memang benar benar merinding.
"Ya sudah. Rujuk lah secepatnya dengan mantan suami kamu itu. Biar kita makan enak. Tapi jangan minta kado dariku. Karena kado tidak ada dalam kamus hidupku."
__ADS_1
"Dasar wanita. Makan enak saja yang ada di pikiran kamu."
"Pokoknya aku tidak mau tahu. Besok aku dengar kabar bahagia kamu Mita. Pikirkan malam ini baik baik. Aku rasa hutan Amazon itu juga sudah perlu digarap pemiliknya," kata Ratih sambil tertawa. Mita sudah bersiap untuk memaki sahabatnya itu. Tapi Ratih tidak memberi kesempatan untuk itu. Ratih sudah memutuskan panggilan video itu secara sepihak.