Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Pelampiasan Kemarahan


__ADS_3

Mobil Azriel terus melaju meninggalkan kota. Mita yang duduk di samping kini sudah tertidur. Perjalanan panjang yang sudah hampir lima jam itu akhirnya membuat Mita tidak bisa untuk menahan kantuknya. Apa lagi tadi malam dia hampir tidak tidur karena memikirkan jalan keluar atas cinta yang mendatangkan luka di hatinya.


Hingga satu nama melintas di pikirannya. Azriel. Sahabat satu kelas yang kerap menjahili sewaktu sekolah. Dan Azriel bersedia membantu Mita hingga saat ini mereka di dalam mobil ini. Entah kemana Azriel membawanya hari ini. Mita pasrah dan memilih untuk tidur daripada melihat jalanan yang membuat mual.


Azriel menoleh ke Mita. Wajah cantik itu tertidur dengan air liur yang hampir turun dari bibirnya. Azriel tertawa kecil melihat sahabatnya. Azriel menghentikan mobilnya, Azriel mengambil ponselnya dan merekam Mita. Kemudian kembali menjalankan mobilnya.


Azriel menghentikan mobilnya di sebuah rumah kecil dekat persawahan. Mita menggejliatkan badannya dan membuka matanya. Terbiasa melihat keramaian dan gedung gedung pencakar langit membuka Mita terbelalak melihat pemandangan itu.


"Dimana kita ini Riel?" tanya Mita.


"Kita berada di kampung halaman mamaku. Yuk masuk. Di sini kamu bisa menenangkan diri dari cinta palsu suami kamu."


"Kamu itu ya Riel. Sudah tahu aku butuh hiburan masih saja mengingatkan tentang om Willy."


"Kamu yang selalu mengingatnya Mita. Buktinya kamu sengaja menyebut nama papanya Alda. Makanya suami sahabat itu dianggap om sendiri. Bukan dijadikan suami sendiri."


Mita terdiam. Lagi lagi dirinya terpojok mendengar perkataan Azriel. Dia tahu Azriel bercanda. Tapi candaan itu seakan menyadarkan dirinya. Setelah mengetahui perasaan Willy terhadap mantan istrinya. Mita juga pernah berpikiran seperti itu. Tak sepantasnya dirinya menjadi istri dari ayah sahabatnya. Tapi cinta yang terlihat tulus membuatnya yakin mengubah status hingga dia tidak memikirkan masa depannya sendiri demi cintanya kepada Willy. Mita benar benar tersadar karena perkataan Azriel itu. Ya, tidak sepantasnya dia menjadikan ayah sahabat menjadi suaminya.


"Maaf Mita. Tidak seharusnya aku berkata seperti itu. Aku hanya kesal sama Willy karena tidak bisa menjadi suami yang baik untuk kamu," kata Azriel tulus. Melihat Mita diam, Azriel sadar, kata katanya membuat Mita tersinggung.


"Jangan minta maaf Azriel. Apa yang kamu katakan itu benar. Andaikan aku bisa berpikir seperti itu dari dulu mungkin aku tidak terluka sekarang dan persahabatan aku dengan Alda pasti masih seperti dulu."


"Apa kamu menyesal karena menikah dengan om Willy?.

__ADS_1


"Aku sangat menyesal Riel. Andaikan waktu masih diputar kembali aku akan menolak cintanya dan...."


"Menerima cinta aku," potong Azriel cepat sambil tertawa.


"Percaya diri sekali kamu," kata Mita sedikit malu. Azriel memang kerap menggodanya dengan kata kata cinta. Tapi sedikit pun tidak getaran di hatinya ketika mendengar hal itu.


"Sudah ngaku saja Mita. Apa aku kurang tampan untuk wanita secantik kamu?"


"Jangan menggombal kamu Riel. Yang kamu gombal bukan lagi gadis tapi seorang istri,"


"Istri yang hendak diduakan suaminya," jawab Azriel sambil tertawa. Mita memang sudah menceritakan sedikit tentang masalah rumah tangga kepada Azriel.


"Ya ampun, tidak perlu diperjelas lagi Azriel," kata Mita kesal. Azriel tertawa. Melihat Mita kesal seperti itu. Azriel merasa puas dan senang karena wanita itu sudah menyadari salah memilih laki laki untuk menjadi suaminya.


"Kenapa tidak dari tadi?.


"Karena aku ingin kamu tahu. Bahwa aku menunggu janda mu," kata Azriel sambil tertawa terbahak bahak. Mita semakin cemberut dan mencubit tangan Azriel.


****


Setelah pulang dari rumah nenek Ratmi. Willy tidak langsung ke kantor atau pulang ke rumah. Sambil mengendarai mobilnya, Willy mencari kontak yang sudah lama tidak dihubungi. Willy menyuruh pemilik nomor itu untuk datang ke apartemennya. Saat ini Willy sangat marah dan butuh pelampiasan.


Willy merentangkan tangannya sambil bersandar di sofa yang ada di apartemennya. Sofa itu mengingatkan dirinya akan Mita. Banyak kenangan yang tercipta di apartemen ini bersama Mita. Willy meninju sofa itu ketika kembali mengingat Mita.

__ADS_1


"Masuk," kata Willy datar ketika orang yang dimintanya sudah ada di depan pintu apartemen itu. Wanita itu tersenyum manis karena kembali dipanggil oleh sang pujaan hati. Wanita itu adalah Sofia, partner ranjang Willy sebelum berpacaran dengan Mita.


"Apa istri kecilmu tidak bisa memuaskan kamu mas?" tanya Sofia dengan senyum yang menggoda. Willy tidak menjawabnya. Dia terus melangkah menuju kamar dan Sofia mengikutinya. Melihat Willy tidak melarang masuk ke kamar. Sofia sangat yakin jika dirinya diminta untuk memuaskan mantan Partnernya ini. Sofia mendekat dan memeluk Willy dari belakang. Tidak bisa dipungkiri jika Sofia juga merindukan tubuh ini. Tubuh perkasa dan juga uang yang didapatnya setelah ini.


"Aku sedang marah Sofia. Aku harap kamu masih bersedia menjadi pelampiasan kemarahan aku kali ini," jawab Willy.


"Ya aku tahu. Aku memang selalu pelampiasan kemarahan kamu mas. Aku senang menerimanya," jawab Sofia masih di belakang Willy. Sofia tahu hal itu, karena dulu juga sering seperti ini. Dipanggil karena untuk pelampiasan kemarahan Willy.


Willy membalikkan badannya. Dia mengamati wajah Sofia. Gadis pelampiasan yang selalu memuaskan hasratnya.


"Apa kamu punya masalah mas?" tanya Sofia hati hati. Willy tidak menjawab. Masalah rumah tangga bersama Mita biarlah hanya keluarga besar yang mengetahuinya.


"Tugasmu hanya di tempat tidur Sofia. Jangan mencoba untuk ikut campur urusan pribadi aku."


"Maaf mas. Aku janji akan menempatkan diri aku seperti yang kamu inginkan. Aku kamu panggil kembali sudah membuat aku senang," kata Sofia pelan. Sofia akan berusaha untuk menjadi pribadi yang penurut di hadapan Willy. Itu yang sangat disukai Willy dari dirinya. Penurut akan semua hal termasuk di tempat tidur. Sofia rela menahan sakit karena posisi yang tidak nyaman ketika bercinta demi memuaskan partnernya.


"Bagus. Bekerjalah dengan baik. Lakukan tugas kamu sekarang dan kamu mendapatkan uang yang banyak jika berhasil mengalihkan pikiranmu," kata Willy sambil naik ke atas ranjang. Sofia tersenyum. Setelah beberapa lama tidak menikmati tubuh Willy kini hari ini berkesempatan untuk memuaskan pujaan hatinya. Dia juga membayangkan uang yang akan diterimanya setelah ini.


Sofia tersenyum. Dirinya memang mencintai Willy. Tapi dia tidak ingin bertindak seperti pelakor pada umumnya. Dia bermain cantik. menjadi sosok penurut bagi Willy membuat dirinya kembali dipakai.


Sofia bekerja dengan baik, hanya beberapa menit sejak kedatangannya. Mereka kini sudah di atas ranjang. Seperti perkataan Willy tadi. Sofia benar benar menjadi pelampiasan kemarahannya terhadap Mita. Di setiap erangannya dia menyebut nama Mita. Dia tidak perduli dengan tubuh Sofia yang sudah sangat kelelahan karena ditusuk dari depan dan ditusuk dari di belakang.


Willy bermain sangat ganas sekali. Tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Sofia mengeluarkan semua keahlian untuk menyenangkan dan merebut Willy kembali menjadi partner ranjangnya. Hingga Willy sudah terkulai lemas, Sofia terus memanjakan pria itu dengan sentuhannya.

__ADS_1


__ADS_2