Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Sikap Konyol


__ADS_3

Satu bulan berlalu. Tapi sampai saat ini. Mita belum menerima pemberitahuan untuk sidang pertama perceraiannya. Sesuai dengan saran Rudi ayahnya Mita. Mita akhirnya membatalkan rencananya untuk keluar kota. Sebelumnya, Mita berencana untuk keluar kota setelah mendaftarkan gugatan cerai itu. Tapi Rudi bersikeras supaya Mita mengikuti prosesnya. Dibandingkan ayahnya Mita sebenarnya lebih ingin meninggalkan kota ini secepatnya.


Keinginan Mita untuk segera lepas dari Willy sangat kuat. Makin kesini entah mengapa, Mita semakin bisa perlahan lahan mengikis cintanya. Bisa dikatakan, Mita sudah membenci Willy saat ini. Dicintai setengah hati membuat Mita muak bahkan hanya mengingat namanya saja. Mita tidak ambil pusing bahkan tidak terlalu memikirkan perceraian ini. Tekadnya sudah bulat. Jika ada seorang wanita yang terlalu stres menghadapi perceraian. Itu tidak berlaku bagi Mita. Mita bahkan bisa tidur nyenyak setiap malam.


Seperti lagi ini. Sudah jam enam. Tapi Mita masih nyenyak di bawah selimut. Dia bahkan tidak terusik sama sekali dengan gemericik air di kamar mandinya. Tadi malam ketika terlelap dia tidur menghadap ke dinding. Begitu juga pagi ini. Posisinya masih sama.


Mita akhirnya menggeliat setelah merasa ada beban di pinggangnya. Dengan mata terpejam karena belum bangun sepenuhnya. Mita meraba tangan yang melingkar di pinggangnya. Mita seperti bermimpi. Itu hanya beberapa menit. Mita hampir melompat dari duduknya ketika menyadari dirinya tidak bermimpi. Aroma yang sangat dikenalnya itu terasa nyata membuat Mita langsung duduk.


"Om Willy. Kenapa kamu ada di kamarku?" tanya Mita terkejut. Dia mencubit tangannya sendiri untuk memastikan jika ini bukan mimpi. Orang yang disebut om Willy itu hanya tersenyum dan berpindah duduk di bangku meja rias milik Mita.


Melihat rambut basah Willy, bisa dipastikan jika pria itu baru saja membersihkan tubuhnya. Itu artinya sepanjang malam ini. Mita tidur dengan Willy di kamar ini.


"Aku pulang ke rumah istriku. Apa itu salah?" tanya Willy merasa tidak bersalah. Mita tersenyum kecut mendengar perkataan itu. Mita semakin muak.


"Om Willy lupa jika kita akan bercerai?"


"Tidak. Tidak lupa. Hanya saja. Aku menggunakan kekuasaan yang aku punya untuk membatalkan perceraian itu."


"Gila kamu om."


"Gila karena mencintaimu baby," kata Willy sambil tersenyum. Mita memalingkan wajahnya supaya tidak melihat senyum Willy yang memuakkan baginya.


Mita semakin kesal melihat pria yang ada di kamarnya ini. Bertindak sesuka hatinya membuat Mita ingin mencakar wajah Willy. Mita beranjak dari ranjang tapi kemungkinan kembali masuk ke dalam selimut. Celana pendek di atas paha membuat Mita kembali menutup tubuhnya dengan selimut. Dia tidak ingin Willy melihat paha mulusnya lagi. Melihat itu Willy kembali tersenyum. Sikap menggemaskan seperti inilah yang membuat hidup Willy berwarna bersama Mita.

__ADS_1


"Kenapa harus ditutup. Tadi malam aku sudah melihat itu semua. Kamu tidur seperti kerbau. Hingga tidak sadar dipeluk, dicium,di...,"


"Kami melakukan itu kembali kepadaku?" tanya Mita marah. Willy belum meneruskan perkataannya tapi Mita sudah menyimpulkan jika Willy melakukan hubungan suami istri dengan seperti terakhir kali tidur di kamar Willy. Willy tidak menjawab. Sebagai gantinya, Willy menunjuk nunjuk kepalanya menyuruh Mita untuk berpikir sendiri.


"Kurang ajar kamu Willy," teriak Mita marah sambil melemparkan bantal ke Willy. Willy berhasil menangkap bantal itu dan meletakkan di pangkuannya sendiri.


"Kurang ajar darimana? kamu istriku. Wajar jika tidur bersama. Kamu belum pernah menalak kamu. Jadi sampai hari ini. Kamu masih istri sah agama dan negara. Istri satu satunya dan wanita yang paling aku cintai," kata Willy tenang dan santai. Dia tidak terpancing sama sekali dengan kemarahan Mita yang bahkan hanya memanggilnya dengan nama saja tanpa embel-embel om.. Mita merapatkan giginya karena marah. Dia merasa kembali dipermainkan oleh Willy.


"Ralat. Mantan istri," kata Mita lagi dengan marah.


"Tidak akan," kata Willy lagi.


"Dasar pria tua. Dasar amnesia," teriak Mita lagi.


Mita menatap tajam pria menyebalkan yang masih terlihat tenang dan santai itu. Willy mengedipkan sebelah matanya kepada Mita membuat Mita semakin kesal.


"Keluar om. Tempat kamu tidak di sini. Setelah melihat kamu seperti ini. Aku rasa om perlu berobat ke rumah sakit jiwa."


"Boleh. Asal kamu yang membawa baby. Aku bersedia dan sangat senang. Dengan begitu kamu tahu bahwa aku gila karena mencintaimu," jawab Willy lagi. Mita seperti kehabisan kata kata untuk membungkam mulut Willy. Kemarahannya ditanggapi Willy dengan santai.


"Keluar om," kata Mita lagi. Kesabaran benar benar habis menghadapi pria itu.


"Oke. Aku keluar. Aku akan menyiapkan serapan kita berdua."

__ADS_1


"Tidak perlu. Yang ada kamu akan habis dibuat nenekku. Pulang ke asal mu om."


"Nenek pulang kampung selama sebulan. Aku akan di rumah ini menemani kamu."


Mita langsung mengambil ponselnya. Dia menghubungi nomor ponsel nenek Ratmi. Terdengar suara dering kemudian nenek menjawabnya. Nenek mengatakan jika dirinya memang di kampung dan akan di kampung selama sebulan. Dan nenek selama itu. Nenek sudah meminta Rudi untuk menjaganya selama sebulan ini. Rudi memang tidak selalu tinggal di rumah itu. Hanya kadang kadang saja. Mendengar perkataan nenek Ratmi, Mita yakin jika keberadaan Willy di rumah ini adalah ijin dari ayahnya Rudi.


"Benar kan. Nenek di kampung?" tanya Willy. Mita tidak menjawab. Matanya menangkap sebuah koper kecil di samping lemari.


'Itu koperku. Aku akan berangkat dan pulang kerja dari rumah ini. Jika kamu menginginkan. Aku bisa juga tidak ke kantor selama sebulan ini. Kita fokus membuat bayi," kata Willy lagi.


"Hentikan sikap konyol mu ini om. Aku bukan mainan lagi. Kamu memutuskan bersama Tante Sofia. Itu sudah cukup jika cinta mu hanya sandiwara. Cinta palsu," teriak Mita. Mita melemparkan guling ke Willy. Jika pakaian bawahnya tertutup. Mita sudah melompat dari ranjang itu dan menampar wajah Willy. Perkataan Willy untuk membuat bayi membuat Mita merasa seperti mainan untuk Willy.


"Melihat kamu seperti ini sensitif dan emosional. Aku rasa ada yang tidak beres dalam tubuh kamu baby. Jangan jangan kamu hamil," kata Willy dengan mata berbinar. Mita spontan memegang perutnya. Dia tidak yakin jika dirinya hamil. Dia sudah meminum pil KB. Tidak mungkin dia hamil.


"Tidak mungkin. Aku sudah minum pil KB pagi itu," sanggah Mita cepat.


"Tapi jika pun hamil. Aku tetap tidak bersedia lagi kembali dengan kamu om."


"Jangan berkata seperti itu baby. Jika jodoh, sekuat apapun kamu ingin lepas dari aku. Tetap saja kamu tetap di samping. Tetap jadi istriku."


"Menyebalkan," kata Mita kesal.


"Keluar om," kata Mita lagi. Willy tersenyum. Dia beranjak dari bangku itu dan mendekat ke ranjang. Dia mengusap kepala Mita tetapi Mita cepat menghempaskan tangan itu dari kepalanya. Willy hanya terkekeh dan keluar dari kamar.

__ADS_1


__ADS_2