
Leo tiba di villa bersama wanita yang membantunya tadi malam. Lebih tepatnya wanita yang sudah bertarung nikmat bersama Leo. Leo akan meminta bantuan kepada Willy untuk membayar sejumlah uang yang dituntut wanita itu atas jasa enak enak yang tadi malam direngkuh Leo. Menurut Leo, ini adalah tanggung jawab Willy, selain Willy yang memaksa dirinya ikut berlibur. Kejadian tadi malam juga karena salah sasaran. Harusnya hanya Leo yang meminum obat kuat itu.
Wanita itu juga ikut turun, dia tidak ingin melepaskan Leo begitu saja. Ketika sampai di bagian depan villa itu. Leo melihat Keyla yang sedang menangis. Leo meludah ke tanah. Dia merasa jijik melihat wanita itu yang membuat dia melakukan kegiatan yang menjijikkan sekaligus nikmat tadi malam.
"Hey wanita. Tunggu di sini," kata Leo menyuruh wanita malam itu duduk. Tanpa menjawab wanita itu duduk di kursi yang ada di ruangan itu tapi bagai pemburu yang mengawasi mangsa begitulah mata wanita itu mengawasi Leo yang berjalan.
Keyla mendongak melihat wanita itu yang kini sudah duduk beberapa meter darinya. Dari penampilannya Keyla bisa menduga bahwa wanita itu adalah wanita bayaran. Karena Keyla juga tahu bahwa Leo juga ikut meminum obat perangsang.
"Kemana Willy?" tanya Leo. Keyla menceritakan apa yang terjadi terhadap Willy. Leo marah dan menatap tajam Keyla. Ingin rasanya dia menyeret Keyla dan menenggelamkan ke laut. Leo berteriak memanggil petugas villa dan menyuruh petugas tersebut untuk mengantar dirinya ke rumah sakit.
"Kamu tunggu disini, aku hanya melihat sahabat aku yang sedang sakit," kata Leo kepada wanita malam itu. Wanita malam itu kini sudah ikut duduk di dalam mobil.
"Ya tidak bisa gitu donk. Mana transferannya?"
Leo turun dari mobil setelah permisi sebentar ke supir. Dia berlari ke dalam Villa. Tujuan untuk menemui Keyla. Keyla yang membuat dia harus berurusan dengan wanita malam itu maka menurut Leo, Keyla juga harus bertanggung jawab.
"Keyla, aku minta uang lima juta," kata Leo tanpa basa basi. Keyla mengernyitkan keningnya. Dia merasa heran karena Leo meminta uang kepadanya.
"Bukan saudara bukan tetangga yang ada bukan siapa siapa. Tetapi kamu minta uang kepada aku," kata Keyla ketus. Dia langsung membelakangi tubuh Leo.
"Eh Keyla, benar kita bukan siapa-siapa. Tapi apa kamu lupa?. Perbuatan kamu tadi malam. Aku harus berurusan dengan dengan wanita malam itu karena bayarannya tinggi,"
"Itu urusan mu bukan urusan aku," jawab Keyla enteng. Kebencian Leo semakin memuncak.
"Itu jelas urusan kamu. Kalau kamu tidak memberi obat itu. Aku dan Willy tidak menderita seperti ini. Willy pingsan sedangkan aku harus di kejar kejar wanita malam itu. Cepat beri aku uang. Kalau tidak, aku bisa melaporkan kamu ke polisi. Karena kamu sudah membuat Willy pingsan dan membahayakan nyawanya," ancam Leo tidak main main. Keyla menyadari hal itu benar. Akhirnya Keyla melepas cincin emasnya yang tidak seberapa. Bila diuangkan paling dua juta. atau bahkan tidak sampai segitu. Keyla memberi cincin itu ke Leo.
"Aku tidak punya uang cash Leo. Ini saja berikan kepada wanita itu," kata Keyla menyodorkan cincin itu ke Leo. Leo merampas cincin itu dengan kasar dan cepat berlari ke mobil. Pikirannya hanya tertuju ke Willy dan Alda. Sesampai di mobil, Leo melemparkan cincin itu ke pangkuan wanita malam itu.
"Itu kalau dijual harga di atas lima juta. Ambillah dan cepat keluar. Jangan lupa kamu mengantar sepatu aku ke villa," kata Leo sambil menarik tangan wanita itu untuk keluar. Entah karena ditarik paksa leo atau karena percaya apa yang dikatakan Leo akhirnya wanita itu menurut juga.
"Taunya hanya harga menggoyang di ranjang. Dia tidak tahu harga emas. Dasar murahan dan matre," gerutu Leo setelah mobil berjalan.
__ADS_1
Leo merasakan mobil itu berjalan lambat. Untuk mengetahui kabar Willy lewat ponsel. Leo tidak mengetahui nomor ponsel Alda. Yang bisa dilakukan Leo hanya mengajari supir itu untuk menyalip beberapa kendaraan yang berjalan lambat.
"Bagaimana keadaan ayah kamu nak," tanya Leo setelah dia tiba di rumah sakit. Alda masih menangis dan langsung memeluk Leo. Saat ini dia butuh teman untuk bertukar pikiran.
"Belum sadar om," jawab Alda pelan dan sedih.Willy sudah dipindahkan ke ruangan khusus yang lebih hangat.
"Ayo kita kita ke ruangan ayah kamu," ajak Leo. Alda berjalan duluan dan Leo mengikuti.
"Ayah hipotermia om," kata Alda. Leo paham mengapa Willy sampai terkena hipotermia.
"Kamu gosokkan tangan kamu seperti ini Alda. Ini bisa mentransfer suhu panas tubuh kita ke dia," perintah Leo sambil menggosokkan telapak tangannya ke telapak tangan Willy. Alda mengikuti seperti yang dilakukan Leo ke ayahnya.
"Seandainya kekasih ayah kamu ikut. Ayah kamu tidak akan mengalami hal seperti ini. Kekasihnya pasti bisa membantu Willy untuk meredakan efek obat itu."
Alda tahu apa maksud Leo. Alda berharap ayah cepat sadar. Walau Mita mengecewakannya. Alda merasa bersyukur karena Mita tidak jadi ikut. Sebagai seorang sahabat, Alda tidak mau Mita ternoda sebelum menikah walaupun itu dengan ayahnya sendiri.
"Ayah pasti sembuh om,"
"Tidak om, tanpa kekasihnya. Aku yakin ayah aku pasti sadar. Lagi pula besok kami harus ujian. Tidak mungkin dia mau terbang ke mari,"
"Maksud kamu. Ujian?" tanya Leo bingung.
"Kekasih ayahku adalah Mita Sahabat aku om," jawab Alda sedih.
"Ya sudahlah. Tidak masalah itu yang penting mereka saling mencintai. Dan sahabat kami itu berlubang,"
"Maksudnya apa om?"
"Tidak perlu dibahas lagi," jawab Leo sambil membuka bajunya. Dia naik ke atas ranjang. Masuk ke dalam selimut Willy. Leo memiringkan tubuh Willy dan memeluknya dari belakang.
"Apa yang kamu lakukan Om?" tanya Alda heran.
__ADS_1
"Aku hanya membantu menghangatkan tubuh ayah kamu supaya suhu panas dalam tubuhnya kembali. Kamu tetap di tempat itu. Kalau dokter atau perawat masuk supaya mereka tidak salah paham,"
"Om?"
"Dulu kami pernah mendaki gunung. Di puncak gunung suhu sangat dingin. Ayah kamu juga mengalami seperti ini. Hanya seperti ini yang aku lakukan untuk menolongnya kala itu," jawab Leo. Dia mengenang masa remaja mereka. Pengorbanan Leo kala itulah yang membuat Willy selalu menolong Leo ketika dalam keadaan susah.
Cukup lama posisi kedua sahabat itu seperti itu. Leo yang memang begadang tadi malam akhirnya tertidur. Alda juga masih tetap di tempatnya itu. Dia tidak mau orang lain menganggap ayah dan Sahabatnya yang tidak tidak bila melihat posisi kedua sahabat itu.
Apa yang dikatakan Leo akhirnya terbukti. Willy sudah mulai menggeliat. Alda yang bermain ponsel untuk membunuh kebosanan tidak menyadari pergerakan ayahnya. Hingga Willy berteriak. Alda pun tersentak.
"Leo, apa yang kamu lakukan," tanya Willy terkejut. Dia tidak menyadari tempat itu dimana. Leo terbangun dan langsung duduk. Melihat Leo bertelanjang dada, Willy mengira mereka berbuat asusila semalam. Karena begitu tersadar Willy bisa mengingat dengan jelas tentang obat perangsang itu.
"Tidak melakukan apa apa, Aku hanya berkorban sedikit untuk sahabat ku," jawab Leo tenang. Dia turun dari tempat tidur itu dan tersenyum. Dia merasa senang karena Willy sudah sadar.
"Iya ayah, om Willy melakukan itu supaya suhu panas tubuh ayah cepat kembali. Dari tadi aku disini kok," kata Alda. Sama seperti Leo, Alda sangat senang ayahnya sudah sadar dari pingsannya.
"Aku tadi pingsan?"
"Ya bro. Dan dua kali sudah aku melakukan hal yang sama. Pengorbanan seorang sahabat," jawab Leo bangga.
"Iya aku tahu. Pasti ke depannya kamu semakin manja," jawab Willy sewot. Dia yakin leo pasti semakin memanfaatkannya dengan alasan meminjam uang.
"Itu pasti bro," jawab Leo sambil tersenyum.
Dokter dan perawat masuk setelah Alda memencet tombol pemanggil. Kondisi Willy yang lemah. Dokter menyarankan Willy untuk rawat inap. Tetapi Willy bersikeras untuk keluar langsung saat ini dari rumah sakit. Selain ingin cepat cepat balik ke kotanya karena besok Alda harus ujian, Willy juga tidak sabaran ingin bertemu Mita. Akhirnya setelah dokter menjelaskan sisi buruk kalau Willy harus saat ini keluar dari rumah sakit, Willy mengalah untuk keluar dari rumah sakit setelah makan siang. Masih bisa untuk pulang sore hari.
"Jam penerbangan yang ada hanya tujuh bro," kata Leo sambil melihat tiket penerbangan di ponselnya.
"Ambil saja Leo," jawab Willy masih lemah.
"Keyla bagaimana bro?"
__ADS_1
"Buang saja ke laut," jawab Willy kesal. Mendengar nama Keyla kebencian akan wanita itu semakin menjadi jadi.