Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Akan Seperti Keyla


__ADS_3

Hari Minggu pagi, Willy dan Alda kini sudah di dalam mobil. Willy mengajak putrinya untuk meminta restu orang tuanya. Pernikahannya tinggal beberapa hari lagi, tapi karena kesibukan Willy baru hari ini bisa menyempatkan waktu untuk berkunjung ke rumah orangtuanya sekaligus meminta restu.


Willy sengaja memperkerjakan supirnya hari ini. Alda dan Willy duduk di bangku penumpang. Alda seperti biasa bermanja-manja ke ayahnya. Menyandarkan tubuhnya ke lengan sang ayah sambil memainkan ponsel. Willy juga begitu, berkali kali, Willy mengecup pucuk kepala Alda.


"Ayah, sesudah ayah menikahi Mita. Aku harap ayah tidak berubah. Selalu menyayangi aku," kata Alda serius. Willy mengacak rambut Alda.


"Tidak ada seorang pun, bisa merubah hati ayah kepadamu tuan putri. Sekalipun itu Mita. Kamu putriku. Darah daging aku. Ayah bersyukur memiliki putri yang baik dan pengertian seperti kamu," jawab Willy tulus. Tanpa bertanya pun sebenarnya Alda tahu. Bahwa Willy sangat menyayangi dirinya melebihi apapun di dunia ini. Alda adalah segala bagi Willy.


Tetapi sering mendengar tentang kejamnya ibu tiri, Alda merasa takut jika ayahnya berubah setelah menikahi Mita.


"Kalau aku punya adik dari Mita, pasti perhatian ayah terbagi,"


"Alda, ayah hanya punya dua tangan dan satu mulut. Perhatian itu pasti tidak akan terbagi. Tetapi semakin kamu dewasa. Kamu yang akan mengurangi perhatian itu dari ayah. Ayah tidak mungkin lagi memperhatikan kamu sedetail mungkin karena kamu sudah pasti bisa menjaga diri kamu sendiri. Tentu saja ayah tetap mengawasi kamu," jawab Willy sambil membelai rambut Alda.


Seperti pertanyaan Alda. Apapun katanya, perhatian itu pasti terbagi. Tapi Willy berusaha memberikan pengertian ke Alda. Apalagi umur Mita dan Alda yang hanya terpaut umur satu tahun, Willy pun tahu apa konsekuensinya menikah gadis belia. Willy sadar, setelah menikahi Mita. Dia akan seperti memiliki dua putri. Sama seperti Alda, Mita pun terkadang masih kekanak-kanakan.


Alda mengangguk mengerti. Apa yang diterangkan Willy masuk di akalnya. Seiring berjalannya waktu, Alda juga akan mandiri, menikah dan hidup bersama suaminya kelak.


"Ayah, setelah pengumuman kelulusan. Aku meminta janji mu,"


"Janji apa,"


"Apartemen ayah. Apa ayah lupa?"


"Boleh. Tapi dengan syarat. Ayah akan mempekerjakan art di sana,"


"Tidak apa apa ayah. Yang penting aku punya apartemen sendiri."


Willy kembali mengecup pucuk kepala Alda. Putrinya itu menurut dengan persyaratan yang diberikan Willy. Bukan tanpa sebab dia akan mempekerjakan art kepercayaannya. Tentu saja untuk mengawasi Alda. Willy tidak mau lengah. Alda sudah beranjak dewasa dan mempunyai kekasih. Willy tidak mau Alda terlalu bebas dalam berpacaran. Dengan menempatkan art di sana, setidaknya bisa mengurangi kekhawatiran Willy. Willy tidak ingin kisahnya bersama Keyla dulu terulang ke Alda. Tentu saja Willy akan memasang Cctv.


Willy bersyukur dalam hatinya. Walau Alda anak manja tetapi tidak membangkang. Sejauh ini yang Willy lihat, pertemanan dan cara berpacaran Alda masih di tahap wajar.


"Bagaimana hubungan kamu dengan Nino tuan putri,"


"Baik ayah,"


"Ayah tidak melarang kamu berpacaran. Tapi jangan melewati batas ya nak," kata Willy lembut. Usia Alda sekarang 16 tahun. Di saat usia seperti inilah dulu, dia dan Keyla mengukir kisah.


"Apa ayah takut. Kisah ayah dan bunda terulang ke aku," tanya Alda. Dia seakan bisa membaca pikiran ayahnya.


"Jujur ayah katakan. Iya nak. Ayah sangat takut. Kamu anak gadis ayah. Harga diri ayah. Jadi kamu harus menjaga harga diri ayah sendiri. Kalau bukan kamu siapa lagi. Hanya kamu putri ayah,"


"Baik ayah. Aku tidak akan membuat ayah malu," jawab Alda tenang. Willy memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang.


Mobil itu kini sudah berhenti di halaman rumah orang tua Willy. Alda memanggil kakeknya dengan sebutan kakek Jhon dan memanggil neneknya dengan sebutan nenek Bunga.


Begitu turun dari mobil. Suara Alda menggelegar memanggil kakek dan neneknya. Alda memang sangat disayang oleh Kakek dan nenek itu.


"Kakek, nenek. Alda datang," panggil Alda kencang. Willy menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alda. Alda masuk ke rumah itu dengan berteriak sambil memanggil kakek neneknya.


"Kakek....,"

__ADS_1


"Nenek....,"


Kakek merentangkan kedua tangannya melihat Alda. Alda menghambur ke pelukan kakek dan bergantian ke pelukannya neneknya. Sedang Willy langsung duduk di sofa di ruangan itu.


"Angin apa yang membawa ayah kamu kemari Alda," sindir kakek sambil melirik ke Willy.


"Angin cinta kek," jawab Alda santai. Kakek dan nenek terkekeh. Mereka berdua mengira Alda bercanda. Selama ini, mereka tahu bahwa Willy mati rasa akan cinta. Hingga secantik dan sekaya apapun wanita yang mereka perkenalkan untuk menjadi pendamping Willy, Willy tidak pernah merespon bahkan langsung menolak tanpa bertemu.


"Papa dan mama sehat?" tanya Willy basa basi. Jelas orangtuanya itu sehat. Melihat pakaian orangtuanya, Willy tahu bahwa kakek dan nenek itu sedang olahraga ketika mereka datang tadi.


"Sehat. Tubuh dan kantong sehat sejahtera," jawab kakek terkekeh. Sedangkan nenek hanya mengangguk menjawab pertanyaan Willy.


"Cucuku bagaimana. Apa ujian kamu lancar nak?" tanya kakek lembut. Seperti Willy, kakek dan nenek sangat menyayangi Alda.


"Lancar kek, nilai aku pasti tinggi. Aku minta hadiah kelulusan nanti ya nek," kata Alda riang.


"Pasti. Semua yang ada disini. Itu hadiahnya bagi kamu," jawab kakek sambil menunjuk semua sisi rumahnya. Perkataannya tidak main main. Bahkan semua harta bendanya sudah di wasiatkan ke Alda bukan ke Willy.


"Ah, kalau itu aku tahu," jawab Alda datar. Terbiasa hidup dengan berkelimpahan tidak membuatnya merasa senang dengan pemberian kakek neneknya.


"Jadi mau kamu apa?" tanya nenek lembut.


"Aku mau, kakek dan nenek membuatkan keripik pisang, keripik nangka, keripik ubi yang enak banget dan banyak. Stok untuk berbulan bulan," jawab Alda sambil tersenyum. Alda memang penyuka keripik. Keripik buatan neneknya sangat pas di lidah Alda.


"Baiklah. Kakek dan nenek dengan senang hati membuatkannya. Besok kakek terjun langsung ke pasar untuk membeli bahan bahan yang bagus," jawab kakek. Alda tersenyum dan memeluknya kakeknya.


Willy berdehem. Keberadaannya seakan tidak terlihat karena Alda dan kedua orang terus berbincang.


Tujuh belas tahun yang lalu, Willy juga seperti ini. Kedua orang tua itu seperti berada di waktu tujuh belas tahun yang lalu. Mengingat masa itu, kakek dan nenek menduga Willy kembali menghamili anak gadis orang. Kakeknya menatapnya tajam sedangkan nenek menatap Willy kecewa.


"Apa kamu bilang," tanya kakek untuk memastikan pendengarannya. Dia bahkan sengaja mendekatkan kupingnya ke arah Willy.


"Tiga hari lagi aku akan menikah papa," ulang Willy pelan. Dia tahu ayahnya sudah marah.


"Tiga hari lagi kamu akan menikah. Jadi tujuan kamu untuk apa kemari?" tanya kakek sengit. Sorot matanya memancarkan kekecewaan karena pemberitahuan tiba tiba ini.


"Aku meminta restu papa dan mama,"


"Apa restu itu perlu untuk kamu," bentak kakek.


"Tentu saja papa. Kalian orangtuaku,"


"Tapi dari sikap kamu ini. Kami bukan seperti orang tua bagi kamu," jawab kakek kecewa.


"Bukan seperti itu papa. Aku sangat sibuk akhir akhir ini. Sibuk tentang pekerjaan dan persiapan pernikahan,"


"Kamu meminta restu. Bahkan seperti apa calon istrimu, kami belum mengenalnya. Apa dia mempunyai lubang hidung atau tidak," kata kakek marah. Kakek sungguh tidak menyukai cara Willy. Meminta restu tanpa memperkenalkan calon istrinya terlebih dahulu.


"Maaf ayah, aku sibuk. Dia juga sibuk,"


"Apa untuk orang tua dan menyangkut hal besar seperti ini ada istilah sibuk?. Apa pekerjaan calon istri kamu. Apa dia bekerja berturut turut selama tujuh hari dan selama dua puluh empat jam bahkan hari ini kamu tidak mengajaknya?" potong kakek cepat.

__ADS_1


"Ayah dia baru saja ujian kelulusan sekolah," jawab Willy pelan.


"Ujian kelulusan sekolah," kata kakek sinis. Willy menunduk. Nenek dan Alda yang sedari tadi hanya diam juga masih terdiam.


"Pernikahan pertama kamu berlangsung sewaktu kamu masih bocah. Sekarang pernikahan kedua, kamu menikahi bocah. Aku tidak mengerti jalan pemikiran kamu Willy," kata kakek lagi sambil menggelengkan kepalanya. Mendengar calon menantunya baru selesai ujian, kakek semakin kecewa. Nenek juga kecewa. Tapi nenek memilih diam.


"Aku sangat mencintainya papa,"


"Kamu selalu seperti itu. Apa dia juga sudah hamil. Bocah seperti itu pasti hanya melihat harta kamu," kata kakek masih marah.


"Dia belum hamil papa. Hubungan kami tidak sampai sejauh itu. Dia orang baik dan tulus. Dia sahabat Alda," jawab Willy berusaha untuk menyakinkan papanya. Kakek tertawa. Kakek bukan tertawa karena senang. Kakek tertawa untuk mengejek Willy.


"Kalau dia belum hamil, batalkan pernikahan ini. Aku tidak akan merestuinya. Dia tidak tulus mencintai kamu," kata kakek sok tahu. Willy terkejut dan mendongak menatap papanya. Alda juga terkejut. Dia tidak menyangka kakeknya tidak merestui hubungan ayahnya dengan Mita bahkan menurut untuk membatalkannya.


"Tidak bisa papa, ada atau tanpa restu papa aku akan menikahinya. Aku harap mama merestui aku," kata Willy tegas. Dia beralih menatap mamanya.


"Apa kamu yakin, calon istrimu itu Mencintai kamu dengan tulus nak," tanya nenek lembut. Willy mengangguk.


"Sebenarnya, aku kecewa Willy. Bukan seperti cara kamu meminta restu kepada kami orang tua kamu. Dengan seperti ini. Kamu melakukan kesalahan kedua. Walau calon istri kamu belum hamil. Tetap saja cara ini salah. Seharusnya kamu membawanya kemari. Bukan untuk menilai seperti apa calon istrimu itu. Hanya saja kami merasa lebih dihargai. Jika kamu memperkenalkannya terlebih dahulu," kata nenek lembut. Bagaimanapun kecewanya nenek. Tetap saja dia ingin Willy bahagia.


"Maaf papa. Maaf mama. Aku mengaku salah. Tapi aku mohon. Berikanlah restu kalian," kata Willy sambil memohon. Kakek dan Nenek masih saja diam.


"Kakek, nenek. Mita calon istri ayah. Dia baik kok kakek. Aku sudah lama mengenalnya. Dia bukan cewek matre kakek. Biarkan ayah menikahi Mita," pinta Alda juga memohon. Alda tidak sanggup melihat ayahnya bersedih karena tidak mendapat restu dari kakek dan neneknya.


"Menikah lah Willy. Berbahagialah. Karena perkataan Alda. Aku merestui kamu," kata nenek tenang. Hal yang ditakutkan nenek jika Willy menikah adalah wanita yang akan menjadi istri Willy adalah wanita yang gila harta. Selain itu. Nenek juga takut jika istri Willy kelak tidak bisa menerima Alda. Apalagi Alda sifatnya terkesan cuek dan ketus. Tetapi setelah mendengar perkataan Alda. Nenek yakin untuk merestui pernikahan Willy.


Willy merasa senang mendengar restu dari mamanya. Willy tersenyum. Willy menjangkau kepala Alda dan mengacak rambut Alda. Putrinya itu berhasil membuat nenek merestui pernikahannya.


"Baiklah Willy, mama kamu dan putri mu. Sudah merestui. Dengan terpaksa papa juga merestui. Toh kalau ini pemungutan suara. Papa pasti sudah kalah," jawab kakek akhirnya. Kakek menyandarkan tubuhnya setelah berkata seperti itu. Willy bersorak bahagia. Dia bahkan memeluk Alda saking bahagianya. Sekilas mereka bukan seperti ayah dan putrinya. Meraka seperti kakak dan adik.


"Terima kasih papa, mama," kata Willy senang. Matanya memancarkan sorot kebahagiaan. Nenek mengangguk sambil tersenyum sedangkan kakek hanya mengangguk dengan wajah yang datar.


Untuk mengurangi rasa kecewa papanya. Willy mengajak kakek Jhon main catur. Main catur adalah kegemaran papanya. Kini kedua pria itu sedang fokus bermain catur. Mencari celah untuk saling mengalahkan. Permainan itu cukup menguras otak keduanya. Willy dan papanya sama sama jago dalam bermain catur.


Sedangkan Alda, setelah pembicaraan tadi. Terus merengek untuk dibuatkan keripik. Nenek sampai menyuruh pembantunya untuk berbelanja ke pasar. Membeli apa saja yang bisa diolah jadi keripik.


Alda senang. Dia sudah menikmati keripik yang sudah jadi. Masih banyak bahan yang belum digoreng. Alda memasukkan keripik yang sudah jadi itu ke toples. Alda memberi semangat kepada pembantu nenek yang sudah merasa kepanasan karena menggoreng keripik yang banyak.


Setelah semua keripik sudah jadi. Alda menyelipkan beberapa lembar uang ratusan ke pembantu tersebut. Pembantu itu pura pura menolak padahal dalam hati senang. Alda terkekeh. Mulutnya mengatakan tidak perlu tetapi tangannya cepat menggenggam uang tersebut. Nenek melihat hal itu. Nenek tersenyum. Nenek senang Alda bisa menghargai jerih payah orang lain. Sedangkan untuk nenek, sebagai wujud terima kasihnya. Alda memeluk dan memijit punggung neneknya.


Menjelang sore hari, Willy dan Alda keluar dari rumah itu. Willy senang karena mendapat restu sedangkan Alda senang karena bisa menikmati keripik buatan neneknya. Kakek dan nenek mengantar Willy dan Alda sampai ke mobilnya.


"Apa kamu serius memberi restu kamu untuk Willy?" tanya nenek setelah mobil Willy menghilang.


"Menurut mu,"


"Aku tidak melihat keseriusan kamu,"


"Sampai kapan pun aku tidak merestui menantu dari golongan rendah. Gadis itu pasti akan seperti Keyla,"


"Jhon," bentak nenek marah.

__ADS_1


__ADS_2