
"Mita," panggil Willy ketika terbangun dari tidurnya. Willy sengaja bangun cepat untuk masuk ke kamar Billy sebelum Keyla tiba di rumah itu. Sudah satu minggu Willy melakukan hal itu. Bangun sebelum jam lima pagi dan turun ke bawah ke kamar Billy.
Willy turun dari ranjang. Dia menduga bahwa Mita di kamar mandi. Biasanya jam segini Mita masih tidur. Willy membuka kamar mandi itu perlahan. Tapi sesaat kemudian, keningnya berkerut. Mita tidak ada di sana. Willy menutup kamar mandi tersebut dan berjalan tergesa. Dia mengambil ponsel dan membuka rekaman Cctv yang langsung terhubung ke ponselnya. Willy menarik nafas lega. Mita baru saja keluar dari kamar beberapa menit sebelum dia terbangun.
Willy menatap foto pernikahannya dengan Mita. Dalam hati, Willy merasa bersalah karena tidak bisa menjaga hatinya utuh untuk sang istri. Berkali kali Willy minta maaf dalam hatinya. Melihat Mita menangis dan meminta cerai. Hatinya ikut terluka. Dia tidak ingin sebenar melihat Mita bersedih. Tapi makin ke sini Willy juga merasakan cintanya kepada Keyla tidak terbendung.
"Mita," panggil Willy senang ketika Mita masuk ke kamar. Mita tersenyum.
"Mandilah om. Tante Keyla sudah di bawah,"
"Kamu dari kamar Billy?" Mita mengangguk.
"Billy sudah bangun?"
"Belum."
Willy tersenyum. Dia mengacak rambut Mita dan masuk ke kamar mandi. Mita memandang tubuh Willy dengan sendu. Mita akhirnya meraih tas kecilnya dan keluar dari kamar itu.
Mita menuruni tangga dengan tergesa. Sebelum Willy selesai mandi. Mita harus berada diluar gerbang rumah mewah itu. Mita sengaja keluar di saat jam seperti ini. Mita mengetahui kebiasaan Willy yang menghabiskan waktu yang lumayan lama hanya untuk mandi. Mita akan memanfaatkan waktu ini.
Mita berlari setelah berhasil keluar dari gerbang tanpa menimbulkan kecurigaan.
"Mita."
Mita mempercepat langkahnya ke arah suara yang memanggilnya. Seseorang sudah berdiri menunggunya di samping mobil hitam. Mita masuk ke dalam mobil dan orang tersebut juga melakukan hal yang sama.
"Kamu membuat aku lelah berlari Azriel. Mengapa tidak menunggu di depan gerbang rumah Alda?" tanya Mita sambil mengenakan sabuk pengaman.
"Ternyata kamu bodoh Mita. Kamu hanya pintar secara akademik saja. Pantas saja kamu memilih duda daripada cowok ganteng seperti aku," jawab Azriel datar. Mereka sudah keluar dari komplek rumah mewah itu.
__ADS_1
"Iya. Iya aku memang bodoh," jawab Mita sedih. Mendengar perkataan Azriel. Mita semakin menyadari kebodohannya. Mencintai ayah sahabatnya yang ternyata masih mengharapkan cinta sang mantan istri. Mita tersenyum getir. Cinta yang menggebu dan jiwa muda yang menggelora mengantarkan Mita menjadi seorang istri di usianya yang masih sangat muda.
"Maaf Mita. Jika perkataan aku tadi membuat kamu tersinggung. Aku hanya berjaga jaga saja. Jika aku menunggu kamu di depan rumah itu. Om Willy pasti bisa mengejar kita dengan cepat. Sebagai pengusaha besar. Dia pasti sudah memasang Cctv di setiap rumah dan halaman itu," kata Azriel setelah melihat raut kesedihan di wajah Mita. Azriel merasa bersalah setelah mengucapkan kata kata itu. Niatnya bercanda tetapi membuat Mita bersedih.
"Kamu benar Riel, aku memang yang bodoh sampai tidak terpikirkan ke arah sana."
"Apa kamu sudah memikirkan keputusan kamu ini Mita. Pikirkan dampaknya. Jangan mengambil keputusan dengan tergesa seperti kamu dulu mengambil keputusan untuk menikah," kata Azriel untuk mengingat Mita. Keputusan menikah di usia muda sempat menjadi perbincangan di teman teman sekelas Mita. Mereka menilai Mita bodoh dan tidak mampu mengendalikan diri. Yang membuat mereka semakin terkejut. Mita ternyata menikah dengan seorang duda dan itu adalah ayah dari teman satu kelas mereka.
Azriel dan teman satu kelasnya sangat mengenal Mita. Mita gadis yang sopan dan pintar. Mita juga tidak seperti siswa lain yang mudah tergoda dengan teman teman cowok lainnya. Banyak yang menaruh hati ke Mita. Tapi Azriel dan yang lainnya tidak pernah mengetahui bahwa Mita mempunyai pacar.
"Keputusanku sudah bulat Azriel. Aku minta tolong kamu berhenti jika ada apotik yang masih buka,"
"Untuk apa?. Di depan sana ada apotik buka 24 jam. Jangan mengambil keputusan di saat marah Mita," kata Azriel heran. Hari memang masih gelap karena masih jam lima lewat sepuluh. Mita tidak menjawab. Hingga mobil itu berhenti di parkiran apotik.
"Kamu mau beli apa. Biar aku saja yang turun," kata Azriel ketika Mita hendak turun. Mita sedikit kikuk. Mita malu harus menyuruh Azriel membeli apa yang diinginkannya.
Mita terlihat malu ketika hendak mengatakan apa yang akan dibeli. Azriel berdiri di sampingnya.
"Pil KB," akhirnya Mita mengucapkan dua kata itu ke penjaga apotik. Penjaga itu terlihat menatap Mita dan Azriel bergantian. Baik Azriel dan Mita, mereka sama sama malu. Tatapan penjaga itu seakan mengintimidasi mereka akan bahayanya pergaulan bebas. Mita menunduk dan Azriel memalingkan wajahnya. Tingkah mereka membuat penjaga apotik semakin yakin jika Azriel dan Mita adalah kuda mudi yang terlibat pergaulan bebas.
"Tidak sekalian saja karet pengaman mbak?" tanya penjaga itu menawarkan karet pengaman. Mita hanya menggelengkan kepala sedangkan Azriel terkejut dan kembali memalingkan wajahnya ke arah luar apotik.
"Lebih aman pakai ini mbak," kata penjaga apotik itu sambil menunjuk kotak karet pengaman. Penjaga apotik itu berusaha menyadarkan Mita akan pentingnya memakai pengaman daripada pil KB. Mita mengeluarkan uang lima puluhan kemudian pergi dari hadapan penjaga apotik itu tanpa meminta kembalian.
"Diingatkan tidak mau. Ya sudah. Kena penyakit kelamin baru tahu rasa."
Azriel dan Mita mendengar gerutuan sang penjaga apotik. Baik Mita dan Azriel tidak terlalu perduli dengan perkataan penjaga itu. Sebab mereka tidak seperti dugaan sang penjaga apotik. Tapi di dalam hati Mita. Tetap juga merasa malu.
Di mobil, Mita mengambil botol air mineral. Memasukkan pil itu ke mulutnya kemudian meneguk air mineral tersebut. Dalam hati Mita berharap, pil itu tidak terlambat masuk ke dalam perutnya. Tadi malam setelah Willy tertidur. Mita sebenarnya sudah mencari pil seperti itu di tempat yang biasa disimpan. Mita menduga Willy sengaja membuang pil itu setelah menyadari bahwa dirinya menipu Willy untuk menandatangani surat gugatan cerai itu.
__ADS_1
Tapi keputusan Mita sudah bulat. Dia akan pergi dari sisi Willy tanpa surat itu.
"Terima kasih Azriel atas bantuan kamu," kata Mita setelah pil itu masuk ke dalam perutnya. Azriel hanya mengangguk.
"Apa keputusan kamu sudah bulat untuk bercerai dari om Willy sudah bulat?" Mita mengangguk.
"Kemana aku akan mengantar kamu. Aku yakin om Willy akan mencari, jika kamu pulang ke rumah nenek Mita."
Mita menghembuskan nafasnya kasar. Apa yang dikatakan oleh Azriel adalah benar. Willy akan mencarinya ke sana.
"Aku sebenarnya ingin pergi jauh Riel. Tapi aku tidak tahu mau kemana. Aku ingin bersembunyi sejauh mungkin dari om Willy."
"Baiklah kalau begitu kita ke luar kota sekarang. Aku akan membantu kamu mewujudkan keinginan kamu itu. Tapi sebenarnya lebih bagus seandainya kamu langsung menggugat om Willy cerai. Kalau seperti ini status kamu gantung Mita," kata Azriel sambil tersenyum. Jika Mita menyadari. Senyuman itu penuh makna.
"Aku akan mengurus itu secepatnya. Aku hanya ingin pergi jauh dulu. Nanti aku minta ayahku saja untuk mengurus itu. Kita mau kemana ini?" tanya Mita ketika mereka sudah memasuki area jalan tol.
"Ternyata selain bodoh. Kamu juga tuli ya Mita. Kan aku sudah bilang tadi kita ke luar kota."
"Iya jangan diingatkan lagi kebodohan itu Azriel."
"Azriel, kamu bersedia membantu aku sampai sejauh ini. Terimakasih ya," kata Mita senang. Dia tidak menyangka jika Azriel membantunya sampai seperti ini. Awalnya Mita meminta Azriel hanya menjemputnya. Untuk melancarkan acara kabur pagi ini. Tapi tidak disangka Azriel justru bersedia membantunya sampai sejauh ini. Membawa Mita jauh dari kota.
"Sama sama Mita. Jika kamu butuh seseorang untuk membantu dirimu untuk melupakan om Willy. Aku bersedia," jawab Azriel sambil menatap Mita sekilas.
"Maksud kamu apa Azriel?" tanya Mita sedikit gugup.
"Andaikan aku sepintar om Willy merayu kamu Mita. Kamu pasti tidak jatuh ke pria egois itu," kata Azriel serius. Di setiap canda yang diucapkannya dulu kepada Mita adalah ungkapan hatinya yang sebenarnya. Tapi Mita terlalu jauh untuk dijangkau. Azriel merasa jika Mita menganggap candaan itu sebagai hal biasa. Mita tidak tahu. Kabar pernikahannya dulu adalah berita buruk untuk Azriel.
Mita menunduk. Dia tidak tahu harus menjawab apa untuk menjawab perkataan Azriel. Dia sudah tahu sebelumnya jika Azriel menyukai dirinya. Tapi pesona Willy membuat Mita tidak berkutik. Dia tidak tertarik sama sekali dengan Azriel. Mita hanya menganggap semua teman sekelasnya adalah sahabat.
__ADS_1