
Sampai sore hari, hujan juga belum berhenti reda. Mita semakin panik. Berkali-kali Mita meminta Azriel untuk menjemput kerabatnya supaya menemaninya mereka di rumah itu. Tapi karena hujan masih deras. Azriel masih duduk tenang sambil bermain game offline. Mita gusar. Melihat keadaan desa ini yang jauh dari kota kecamatan. Mita percaya bahwa hukum adat itu benar benar ada.
Mita tidak bisa membayangkan jika warga menangkap mereka berdua di rumah ini dan menikahkan mereka. Membayangkan itu terjadi Mita merasakan tidak enak di hatinya. Mita menggelengkan kepalanya untuk meyakinkan hatinya sendiri jika hal itu tidak akan pernah terjadi.
Mita sengaja duduk agak jauh dari Azriel. Mita berjaga jaga jika ada warga yang datang tidak curiga atau salah paham kepada mereka berdua. Sedangkan Azriel tidak terlalu perduli. Dia larut dalam permainan itu. Di saat seperti ini. Mita kembali mengingat Willy. Tapi Mita akhirnya berhasil menguatkan hatinya untuk melupakan Willy. Mita sadar. Cinta Willy yang terbagi membuat Mita rela akan melepas pria itu. Mita berpikir. Willy lebih pantas untuk rujuk dengan Keyla. Bagaimanapun diantara dua manusia itu ada anak yang membutuhkan kasih sayang orang tua yang utuh. Sedangkan Mita dirinya merasa masih bebas.
Di tengah-tengah rasa sakit hatinya. Mita masih bisa berpikir positif. Setelah bercerai dengan Willy statusnya memang akan menjadi janda. Tapi Mita masih bersyukur. Kelak, jika dia menemukan tambatan hati yang bisa menerima keadaannya status jelas. Status janda lebih bagus daripada status gadis tapi tidak gadis lagi.
Kedepannya Mita hanya harus menjaga sikap sebagai seorang janda muda yang harus menjaga harga dirinya. Mita berjanji dalam hati tidak akan mudah jatuh ke pelukan pria manapun. Mita akan lebih berhati hati untuk berdekatan dengan laki lakinya manapun.
Mita tersebut kecut dan memukul kepalanya. Apa yang ada di pikirannya berbanding terbalik dengan keadaan sekarang. Bahkan Mita merasa menyesal karena meminta bantuan Azriel yang membawa dirinya terdampar di desa ini. Andaikan dari desa ini dekat ke kota, Mita Ingin berlari sejauh mungkin untuk menghindari berduaan seperti ini. Niatnya memang akan bercerai dari Willy. Tapi Mita juga merasa bersalah dengan keadaan ini. Tidak seharusnya dia berduaan dengan Sahabatnya laki laki sedangkan status masih istri dari Willy.
Mita menghembuskan nafasnya. Mita menyadari dirinya ternyata belum dewasa. Bersamaan dengan itu, Azriel menoleh ke Mita. Azriel menghentikan permainannya dan berjalan mendekat ke arah Mita.
"Berhenti sampai disitu Riel," kata Mita panik. Dia bahkan melayangkan pandangannya ke luar lewat jendela. Azriel merasa bingung tetapi tidak berhenti melangkah. Dia duduk di hadapan Mita yang semakin terlihat gusar.
"Jaga jarak Riel. Ada orang bisa salah paham nanti."
__ADS_1
"Tenang Mita. Hujan lebat seperti ini. Tidak akan ada orang yang akan datang kemari. Lagian kita hanya duduk berdua kok."
Azriel tidak perduli. Dia duduk di hadapan Mita dan mengajak wanita itu bercerita. Azriel bercerita tentang cita cita untuk menjadi pengusaha seperti kakek dari ayahnya. Kakeknya memang mempunyai lahan kelapa sawit yang tersebar di dua pulau di negeri ini. Kakek masih memegang perusahaan itu belum berniat mewariskan ke anak anaknya. Termasuk ke ayahnya Azriel yang merupakan anak sulung.
Mita mendengarkannya cerita Azriel dengan seksama. Di sekolahnya memang terkenal dengan siswa dari anak anak orang kaya. Tetapi tidak menyangka diantara orang kaya itu. Azriel termasuk di dalamnya. Selama ini Azriel terkesan sederhana dan tidak pernah membawa mobil ke sekolah. Azriel selalu membawa motor besarnya.
"Semangat Riel. Kamu siswa yang cerdas. Aku sangat yakin jika kamu pasti bisa mewujudkan cita-cita kamu," kata Mita.
"Aku tidak tahu. Apa kamu juga akan memberi semangat kepada aku untuk cita cita kedua aku," kata Azriel sambil menunduk.
"Cita cita apa itu?"
"Mita," kata Azriel seakan menuntut kata semangat yang keluar dari mulut Mita.
"Kamu mengeluarkan rayuan di waktu yang tidak tepat Azriel."
"Waktu yang tidak tepat ya," jawab Azriel sedikit gugup. Dia memijit hidungnya untuk menutupi kegugupan itu supaya Mita tidak menyadarinya.
__ADS_1
"Siapa yang datang?" tanya Mita panik dan menjauhkan dirinya dari Azriel ketika mendengar suara mobil berhenti. Azriel berdiri dan melangkah ke arah pintu. Dia mengerutkan keningnya ketika melihat mobil om nya ber
henti. Azriel heran. Hari ini adalah hari Senin. Biasanya om nya tidak pernah singgah di rumah ini selain hari Sabtu.
"Siapa," tanya Mita pelan yang sudah berdiri di balik pintu.
"Tenang saja. Yang datang om dan Tante ku," jawab Azriel. Mita menarik nafas lega. Dia berharap jika om dan Tantenya Azriel menginap di rumah ini. Mereka akan terhindar dari warga sekitar. Tapi semakin Mita mengingat hukum adat itu, Mita merasakan jantungnya berdegup kencang dan terkadang gugup.
Mita semakin gugup, ketika mendengar suara pintu mobil ditutup dan mendengar suara om dan Tante Azriel yang mengenali pemilik mobil yang sudah terparkir sebelumnya di halaman rumah itu.
"Azriel."
Mita menduga yang memanggil nama Azriel itu adalah om Riel. Azriel menjawab dan membuka pintu rumah lebar.
"Kamu punya payung di mobil?. Tante kamu demam dan tidak boleh kena hujan," teriak om dari luar mengalahkan suara hujan.
"Punya om. Ini kuncinya. Tangkap om. Ada juga kotak obat di mobil," kata Azriel sambil melemparkan kunci mobilnya ke om. Hingga beberapa menit kemudian om dan Tantenya Azriel sudah duduk di rumah. Om Azriel yang bernama Restu itu terlihat terkejut melihat Mita. Tapi si om lebih memprioritaskan mengurus istrinya daripada bertanya tentang Mita. Dan setelah Azriel bertanya, Azriel mengetahui alasan om Restu singgah di rumah hari ini. Dia tidak bisa membawa istrinya pulang semalam dari ladang karena kondisi istrinya yang sakit. Tapi melihat istrinya semakin lemah. Om Restu memutuskan membawa pulang istrinya ke kota hari ini dan ternyata terjebak hujan deras.
__ADS_1
Mita membantu om Restu mengurus istrinya. Memasak air dan membuatkan bubur. Persediaan makanan lengkap di rumah itu. Mita terlihat telaten. Sebelum buburnya matang. Mita membuatkan teh terlebih dahulu buat restu dan istrinya.
"Azriel. Duduk disini. Kita bicara. Ajak teman wanita kamu kemari," kata om Restu tegas. Mita yang merasa aman setelah kedatangan om Restu dan istrinya seketika merasa gelisah tak menentu. Jantungnya seperti hendak melompat mendengar suara yang amat tegas itu.