
Mita menyandarkan punggungnya ke sofa. Hari ini adalah hari perjanjiannya dengan sang rentenir. Walau rentenir belum datang ke rumahnya. Mita resah, sebab Willy juga belum berada di rumahnya. Keadaan nenek yang kurang baik juga menjadi beban pikiran Mita. Nenek mengalami penurunan kesehatan. Sudah dua hari dia tidak jualan, Mita sudah menjelaskan bahwa Willy bersedia membantu nya tetap aja nenek sedih.
Nenek tidak percaya, Willy membantu Mita tanpa imbalan. Dan nenek menduga Willy hanya mengincar tubuh cucunya yang masih ranum. Apalagi dia pernah memergoki Willy mencium bibir Mita, membuat nenek semakin yakin bahwa Willy tidak tulus membantu.
Sejak dua hari yang lalu, Rudi ayah Mita juga tidak menampakkan batang hidungnya. Ajakan untuk membawa Mita bersembunyi hanya isapan jempol semata. Mita menghela nafas. Mengingat ayahnya membuatnya mengingat bundanya. Kalau sudah menyangkut bundanya. Mita selalu berandai andai.
Mita bangkit dari duduknya, melihat kondisi nenek dan memberinya air hangat. Dengan lemah, wanita tua itu berusaha duduk.
"Nek, nenek harus kuat. Nenek, aku tidak punya siapa siapa lagi selain nenek," ucap Mita sedih kemudian membaringkan nenek di tempat tidur. Nenek hanya mengangguk lemah. Jauh di lubuk hatinya dia juga berharap hidup lebih lama lagi. Melihat Mita bersanding dengan pria yang benar benar bertanggungjawab. Itulah harapan dan doa nenek.
"Percaya sama aku nek, om Willy orangnya baik. Dia ayah dari sahabat ku. Dia tidak akan macam macam sama Mita," ucap Mita lagi meyakinkan neneknya.
"Dia tidak macam macam sebelum memberi kamu bantuan. Tetapi sesudah itu, dia akan meminta hal berharga yang ada padamu," jawab nenek dengan lemah.
"Jadi apa yang bisa kulakukan nek, apakah aku pasrah menjadi istri rentenir itu?" tanya Mita sendu. Nenek juga sedih. Kata kata Mita yang seakan pasrah membuat nenek merasa tidak berguna.
"Katakan pada Willy, kita meminjamnya. Bukan dengan menerima cuma cuma. Mintalah tenggang waktu yang lama. Biar kita bisa menyicil sedikit demi sedikit," saran nenek. Mita hanya mengangguk. Menyicil uang tiga ratus juta dengan pendapatan mereka yang minim, kapan lunasnya?. Tetapi demi membuat hati nenek tenang, Mita mengiyakan saran nenek.
"Jangan banyak berpikir nenek, aku akan meminta hal itu kepada om Willy. Nenek harus cepat sembuh," kata Mita kemudian keluar dari kamar nenek.
__ADS_1
Mita kembali menghempaskan tubuhnya di sofa tua itu, hari sudah hampir malam. Tetapi baik rentenir dan Willy belum juga menunjukkan tanda tanda akan muncul.
Mita berdiri dari duduknya ketika mendengar suara mobil. Melihat Willy turun dari mobil, membuat Mita senang, kegelisahan hatinya berkurang. Willy dengan sejuta pesonanya turun dari mobil, melihat Mita yang sudah berdiri di pintu, Willy mendekat setelah menutup pintu mobil.
"Nenek mana?" tanya Willy berbisik setelah dekat dengan Mita. Matanya memandang ke dalam rumah.
"Di kamar, nenek sakit," jawab Mita dengan berbisik juga.
"Udah berobat?" tanya Willy lagi dengan berbisik. Wajahnya sengaja didekatkan ke wajah Mita. Mita hanya mengangguk dan mendorong wajah Willy menjauh dari wajahnya.
"Kangen," bisik Willy lagi. Mita hanya tersenyum manis membuat Willy gemas dan mencubit pipi Mita pelan.
"Masuk dad!" ajak Mita tidak berbisik. Mita Willy senang dipanggil Daddy oleh Mita. Pria itu mengikuti langkah Mita masuk ke dalam.
"Jangan pergi om, bagaimana kalau rentenir itu datang, aku takut om. Tolong jangan pergi," pinta Mita memohon kepada Willy.
"Baiklah honey,"
Sementara di rumah sang rentenir, terjadi perdebatan hebat antara rentenir dan Rudi. Rudi mempunyai bukti bahwa uang yang dipinjam Farida tidak sampai lima ratus juta. Rudi juga tidak akan membiarkan rentenir memperistri putrinya. Rudi ngotot, sang rentenir harus meminta pertanggungjawaban ke Farida bukan dirinya.
__ADS_1
"Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkanmu memperistri putriku. Farida yang meminjam maka seharusnya kamu mengejar Farida bukan aku atau putriku," kata Rudi marah. Rudi sengaja menjumpai rentenir untuk menahannya supaya tidak ke rumah Mita. Bagaimanapun caranya Rudi berjanji akan melindungi putrinya Mita.
Sang rentenir dengan santai menghisap rokoknya. Dia tidak terpengaruh dengan kata kata Rudi. Melihat kemolekan Mita, dia tidak akan melepaskannya begitu saja.
"Putrimu terlalu cantik untuk dilepaskan, kamu jangan khawatir. Aku akan membahagiakannya!" ucap rentenir santai. Rudi semakin murka mendengar ucapan rentenir. Tangannya terkepal. Matanya memerah menahan amarah. Kedatangannya sia sia, rentenir bersikukuh untuk memperistrinya putrinya.
"Mau kemana kamu?, kita belum selesai bicara," tanya Rudi ketika melihat Rudi berdiri.
"Menjemput calon istriku. Mereka pasti tidak sanggup menyediakan uang sebesar itu dalam tiga hari. Sebagai calon menantu yang baik, aku juga akan memberimu uang yang lebih banyak lagi," jawab rentenir itu santai.
"Aku mohon, jangan lakukan itu, putriku masih terlalu kecil untukmu," kata Rudi memohon tetapi rentenir itu tidak perduli, malah dengan santai dia melewati Rudi. Rudi melihat rentenir itu berjalan mendekati pintu rumah. Dengan cepat Rudi berlari dan memukul rentenir dengan vas bunga keramik yang lumayan besar.
Mendapat serangan tiba tiba, rentenir itu terjatuh bersamaan dengan pecahan vas bunga keramik berhamburan di lantai. Melihat itu, Rudi meninju dada dan lengan rentenir. Rudi meluapkan amarahnya kepada rentenir itu dengan meninju dan menendangnya. Rentenir diam tidak berkutik dan tidak bisa melawan.
"Lebih baik aku di penjara daripada menyerahkan putriku kepadamu brengsek. Aku akan mengirim mu ke neraka," kata Rudi berapi api. Kakinya tidak berhenti menendang sekujur tubuh rentenir.
"Kalau kamu sayang dengan nyawa dan hartamu. Maka memohon lah!" kata Rudi lagi. Rentenir itu merintih tetapi tidak juga memohon. Rudi mengambil secarik kertas dari atas meja kemudian mengambil pulpen dari saku kemeja rentenir. Memaksa rentenir itu menandatangani kertas kosong. Rudi kemudian mengambil jempol rentenir, membasahinya dengan darah yang mengucur dari hidung rentenir.
"Aku akan menuliskan di kertas ini, bahwa aku tidak akan bertanggung jawab dengan uang yang dipinjam Farida. Dan aku juga berjanji bila bertemu Farida akan membawanya ke hadapanmu," kata Rudi melewati tubuh rentenir.
__ADS_1
"Kamu bodoh, kamu lupa bahwa di sini ada Cctv. Putrimu tidak bisa lepas dariku," teriak rentenir sambil merintih. Rudi berhenti tepat didepan pintu dan menoleh ke rentenir.
"Kamu yang bodoh, Cctv itu sudah rusak," jawab Rudi tenang. Rudi setengah berlari ke mobilnya. Penjaga rumah Rudi yang berjaga dekat gerbang dan tidak merasa curiga. Malah dengan tersenyum membuka gerbang untuk Rudi. Mereka menduga bahwa Rudi adalah tamu biasa bagi bos mereka. Rudi menjalankan mobilnya dengan kencang menuju rumah Mita.