Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Beda Penderitaan


__ADS_3

Melihat Willy memilih mengambil ponsel di sakunya daripada meneruskan kegiatan panas itu membuat Keyla kecewa. Tinggal beberapa detik lagi mereka akan merengkuh kenikmatan tetapi dering ponsel itu membatalkan Willy untuk berpetualang. Keyla masih mengawasi gerak-gerik Willy yang agak susah mengambil ponsel tersebut.


Willy kembali memasukkan ponsel itu ke sakunya. Dalam situasi seperti ini tidak mungkin baginya untuk menghubungi Mita. Suara yang serak karena gairah akan membuat Mita curiga. Apalagi Mita jelas tahu bahwa Keyla ikut berlibur bersamanya.


Keyla kembali melancarkan serangannya. Melihat Willy kembali menyimpan ponsel tersebut. Keyla menduga bahwa Willy lebih ingin menuntaskan hasratnya. Keyla mendekat dan membelai tubuh Willy. Tapi di luar dugaan. Willy justru mendorong keras tubuh Keyla. Matanya memerah dengan sorot yang tajam. Keyla sampai bergidik ngeri melihat sorot mata itu.


Willy berlari meninggalkan Keyla menuju villa. Saat ini yang terpenting adalah bagaimana mengatasi caranya menghilang efek obat perangsang itu. Dia tidak mau berlama lama dengan Keyla walau hanya sekedar marah.


Willy masuk ke dalam kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan siraman air berharap efek obat itu berkurang. Tapi sial bagi Willy. Hampir satu jam dia berdiri di bawah guyuran shower, tapi hasrat itu tetap ada. Bahkan tidak berkurang sedikitpun. Tidak ada pilihan lain, akhirnya Willy bermain solo dan berfantasi. Itu lebih baik daripada harus bermain dengan Keyla. Tapi lagi lagi sial, usaha Willy tetap juga tidak berhasil. Akhirnya Willy kembali berdiri dibawah shower. Mengguyur tubuhnya dengan air.


Sedangkan Leo, setelah berlalu dari pantai itu. Dia mencari taksi. Di menyuruh supir taksi untuk membawanya ke clubs terdekat. Setiba di clubs, Leo mendekat ke salah satu wanita malam yang duduk menyendiri di sudut ruangan. Melihat pakaiannya, Leo yakin bahwa wanita itu wanita yang bisa dipake.


"Bisa minta tolong," tanya Leo dengan suara yang serak.


"Minta tolong di kantor polisi bung, bukan disini," jawab wanita itu cuek. Dengan santai wanita tersebut mengisap rokoknya dan menghembuskan asapnya ke arah Leo.


"Maksud aku, aku minta bantuan kamu untuk membebaskan aku dari rasa ini. Seseorang telah memberi aku dan sahabatku obat perangsang," kata Leo memohon. Tangannya sudah bergerak aktif di bagian tubuhnya sendiri.


"Aku bukan orang baik yang bisa membantu kami tanpa imbalan. Tarif aku sangat mahal di clubs ini," jawab wanita itu sombong. Leo mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Hanya wanita ini yang tersisa yang berpakaian seksi.


"Baiklah. Kamu tidak perlu khawatir tentang tarif. Aku seorang pengusaha. Berapa pun aku sanggup membayar kamu," jawab Leo masih dengan suara yang serak. Jelas dia berbohong tapi yang terpenting bagi Leo adalah terbebas dari rasa yang menyiksanya sekarang. Urusan bayar membayar tarif itu belakangan.


Wanita itu, tentu saja percaya. Karena melihat sepatu Leo adalah sepatu keluaran terbaru dari merek ternama. Sebagai wanita yang sudah sering melayani pria pria kaya. Dia tahu merek apa saja yang harga mahal dan tidak mahal. Beruntung Leo salah memakai sepatu Willy sebelum datang ke clubs ini.


"Ikut aku," kata wanita itu tanpa bertanya lebih banyak. Serasa mendapat lampu hijau, Willy langsung merangkul wanita itu sambil berjalan menuju kamar tempat mereka akan bertarung nikmat.


Lain Willy dan Leo. Lain pula dengan Keyla. Setelah memakai bajunya kembali. Dia tidak berlalu dari tempat itu. Willy meninggalkannya sendiri dengan kemarahan. Keyla memandang lautan luas dalam kegelapan. Dia membiarkan tubuhnya diterpa angin malam. Entah kesedihan apa yang ada di dalam hatinya. Keyla kini menagis. Tangisannya begitu menyayat bagi siapa saja yang mendengarnya.

__ADS_1


Keyla tidak menyadari bahwa tangisannya sampai terdengar ke villa tempatnya menginap. bahkan Willy dalam guyuran shower pun bisa mendengar tangisan itu.


Alda merasa heran dengan adanya tangisan yang menyayat hati itu. Pertama kali mendengar Alda merinding. Tetapi semakin lama tangisan itu nyata. Alda memberanikan diri melihat dari balkon villa itu. Walau remang remang, Alda bisa melihat bahwa itu adalah Keyla bundanya. Darahnya terbersit. Bagaimanapun Keyla adalah bundanya. Alda mengabaikan perintah ayahnya dan berlari keluar dari villa. Sebesar apapun rasa benci dan dan rasa kesalnya kepada Keyla. Tetap saja hatinya terpanggil dan merasa kasihan kepada Bundanya itu.


"Bunda," panggil Alda pelan. Keyla yang duduk membelakanginya menoleh. Keyla berdiri dan berlari menuju Alda.


"Alda, maaf kan bunda. Ini adalah kesalahan kedua yang terbesar yang bunda lakukan untuk ayah kamu," kata Keyla sambil menangis. Alda sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Keyla.


"Kesalahan apa bunda?" tanya Alda bingung dan takut. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar pantai. Dia mengira Willy tenggelam dan Keyla adalah penyebabnya.


"Dimana ayah aku bunda," teriak Alda histeris.


"Ayah kamu sudah masuk ke dalam Villa,"


"Jadi kesalahan apa yang bunda lakukan ke ayah?" tanya Alda penasaran.


"Aku masih belum mengerti,"


"Aku memberi ayahmu obat perangsang," jawab Keyla pelan.


"Tega kamu bunda," kata Alda marah. Dia berlari meninggalkan Keyla di pantai itu. Walaupun umurnya masih enam belas tahun. Dia paham apa itu obat perangsang. Alda semakin kecewa dengan perbuatan bundanya.


Besok paginya, Alda sengaja bangun cepat. Selain siang hari mereka harus kembali. Alda juga ingin mengetahui keadaan ayahnya. Alda tergesa menuju kamar ayahnya.


Alda mengetuk pintu itu berkali kali. Tetapi sahutan dari dalam untuk menyuruh masuk belum juga terdengar. Akhirnya Alda memberanikan diri membuka kamar tersebut. Alda terkejut dan berlari mendekat ke Willy. Willy terletak di lantai dekat ranjang di dengan pakaian yang belum mengering. Sadar tidak dapat berbuat banyak, Alda berteriak minta tolong.


Dua petugas villa berlarian masuk ke kamar yang ditempati Willy. Alda minta petugas villa itu untuk mempersiapkan mobil untuk membawa Willy ke rumah sakit. Walau denyut nadi Willy masih ada, Alda sangat ketakutan. Takut terjadi sesuatu terhadap ayahnya.

__ADS_1


"Panggil om Leo," kata Alda ketika melihat Keyla muncul di depan pintu. Keyla cepat menuju kamar yang ditempati Leo. Keyla kembali ke kamar Willy dengan tangan hampa.


"Jangan sentuh ayahku" teriak Alda ketika Keyla hendak memeriksa denyut nadi Willy. Bersamaan dengan itu petugas villa masuk ke kamar itu dan menggotong tubuh Willy menuju mobil.


Di mobil, Alda menangis. Dia menutup tubuh Willy dengan selimut yang sempat diambilnya dari kamar itu. Alda melarang Keyla untuk ikut ke rumah sakit. Karena dialah yang menyebabkan ayahnya mengalami seperti ini.


Dokter mendiagnosa Willy terkena hipotermia. Willy kehilangan suhu panas tubuhnya karena keinginan. Willy memang kelamaan berdiri di bawah shower. Walau Willy sudah ditangani dokter. Tapi Willy belum tersadar juga. Hal itu menyebabkan Alda terus menangis.


Sementara itu, di villa Keyla juga ikut menangis. Walau Willy membencinya. Dia juga tidak menginginkan itu terjadi. Kalau seandainya dia tahu akan seperti ini, Keyla juga tidak akan nekat menjalankan rencananya. Keyla terus memukul dadanya karena menyesal. Dalam hati, Keyla terus berdoa untuk kesembuhan Willy.


Sementara itu, Di sebuah kamar di clubs, Leo tertahan. Dia tidak sanggup membayar wanita itu. Wanita itu meminta uang sekian juta. Jangankan setengah, seperempatnya saja Leo tidak sanggup membayar.


"Kalau tidak punya uang jangan ingin bermain ke clubs ini. Selera tinggi tapi kantong bolong," kata wanita itu sambil menghadang pintu. Uang Leo yang tidak seberapa juga sudah di tangan wanita itu. Tapi karena masih kurang. Leo masih di kamar itu.


"Jangan gila kamu wanita. Uang yang kamu terima itu sudah cukup banyak untuk satu malam saja," jawab Leo kesal.


"Banyak kamu bilang. Uang segini hanya untuk menyicip bibir. Beda lagi kalau menyicip ini. Apalagi ini. Dan kamu ingat. Entah berapa ronde tadi malam. Sampai lecet begini bukannya memberi tip yang ada tidak sesuai tarif," kata wanita itu kesal. Dia menunjuk bibir, dada dan inti tubuhnya. Melihat wanita itu menunjuk semua titik penting tubuhnya. Tubuh Leo kembali menegang. Tetapi tidak mungkin dia meminta dilayani kembali. Yang semalam saja belum lunas.


"Oke baiklah, berikan nomor rekening kamu. Aku akan mentransfernya nanti," kata Leo akhirnya. Berdebat dengan wanita itu hanya menambah sakit kepalanya saja.


"Transfer sekarang,"


"M' banking aku di ponsel yang satu lagi. Sampai di villa aku akan mentransfernya," kata Leo lembut. Dia berharap kali ini, wanita itu membiarkannya keluar dari kamar itu.


"Oke, sebagai jaminan. Tinggalkan KTP asli kamu," jawab wanita tajam. Dia menengahkan tangan untuk meminta KTP asli milik Leo. Leo menelan ludahnya susah payah. Dia hanya ingin keluar dari kamar ini dan hanya berusaha meyakinkan. Karena sesungguhnya uangnya hanya tinggal beberapa lembar lagi di dompet. Jika dia meninggalkan KTP asli. Akan terkendala nanti di bandara.


"Tidak bisa begitu. KTP itu sangat penting. Bagaimana kalau terjadi sesuatu menuju villa," jawab Leo beralasan.

__ADS_1


"Kalau begitu. Aku akan ikut ke villa kamu. Tapi kamu harus meninggalkan sepatu itu sebagai jaminan," kata wanita itu sambil menunjuk sepatu yang belum dipakai Leo. Belum Leo menjawab. Wanita itu sudah mengambil sepatu itu dan membuka pintu kamar. Wanita itu mempersilahkan Leo berjalan duluan dan wanita itu mengikuti. Sebelum mengikuti Leo menuju villa, wanita tersebut menitipkan sepatu itu ke satpam clubs.


__ADS_2