
"Bu mertua, duluan ya!. Mau nungguin pak mertua ya!" bisik Nino ketika melewati Mita. Mita masih betah duduk dan tidak terlihat seperti mau pulang. Siswa lain sudah berhamburan keluar kelas. Mita membulatkan matanya tidak percaya akan bisikan Nino. Mita langsung melihat Alda yang masih beberapa langkah berjalan. Di saat seperti ini Nino masih bisa menjahili.
Mita menjadi takut ketika Alda menoleh ke arahnya. Nino masih berdiri dekat Mita. Mita takut Alda semakin membencinya karena Nino dekatnya dengannya. Walaupun sebelum Alda dan Nino resmi berpacaran. Nino sudah dekat dengan Mita.
"Nino. Cepat," panggil Alda ke Nino. Nino menepuk punggung Mita.
"Duluan ya Mita,"
Mita menganggukkan kepala. Dia sengaja belakangan keluar dari kelas. Karena sudah janji dengan Willy. Willy akan menjemputnya setengah jam dari jam pulang sekolah. Itu artinya dia harus menunggu Willy setengah jam lagi.
Mita memasukkan buku bukunya ke dalam tas. Mita mengawasi halaman sekolah. Tinggal beberapa lagi mobil yang terparkir dan Mita mengenali mobil itu adalah mobil kepala sekolah dan guru guru lainnya.
Dengan lesu dan tidak bersemangat, Mita keluar dari kelas. Sudah tidak ada lagi siswa yang berkeliaran. Hanya tinggal dirinya yang tersisa di sekolah itu. Mita merasa aman. Jika Willy datang menjemputnya tidak ada satu siswa pun yang melihat. Sedangkan guru, walaupun melihat Willy nanti, Mita percaya guru tidak seheboh siswa yang akan bergosip.
Mita terus berjalan di halaman sekolah itu. Tinggal beberapa menit lagi dia akan bertemu Willy. Jantungnya berdegup kencang membayangkan pertemuan dan rencananya.
Mita berhenti tepat di gerbang sekolah itu. Tidak berapa lama dia melihat sebuah mobil mendekat dan dia tahu itu mobil kekasihnya.
Mita mengisyaratkan ke Willy untuk tidak turun. Setengah berlari dia menuju pintu mobil dan membukanya. Setelah duduk di mobil, Mita menarik nafas lega. Sedangkan Willy menatap Mita penuh kerinduan. Selain itu Willy juga merasa bersalah akan sikap putrinya Alda terhadap Mita.
"Baby," kata Willy sambil memberikan air mineral yang sudah terbuka tutup botolnya. Kebetulan Mita haus, dia meraih botol minuman itu dan menghabiskannya hampir setengah.
"Terima kasih om," kata Mita dan memberikan botol itu ke Willy. Willy menenggaknya tetapi matanya tidak beralih dari wajah Mita.
"Kamu lapar?. Aku sudah membelikan ini untukmu," kata Willy lagi. Dia menunjukkan kotak makanan cepat saji. Mita mengangguk karena dia memang sudah lapar.
"Cuci tangan pakai ini," kata Willy sambil memberikan botol sisa mineral tadi yang belum habis. Mita membuka pintu mobil sedikit dan mencuci tangannya.
"Om sudah makan?"
"Sudah tadi. Tapi kalau kamu mau menyuapi om. Om dengan senang hati menerimanya,"
"Kalau sudah makan, jangan makan lagilah om. Nanti gendut melebar kesamping dan ke depan. Mau?" tanya Mita sambil membuka. kotak makanan tersebut.
"Om tidak mau baby. Makanlah. Ini sudah lewat jam makan siang," jawab Willy sambil membelai rambut Mita. Mita tersenyum dan mulai memasukan makanan tersebut ke mulutnya.
Willy sabar menunggu Mita makan. Mata terus mengawasi kegiatan Mita. Mulai mengambil makanan, memasukkan ke mulut sampai mengunyah makanan tersebut. Willy tersenyum. Dalam keadaan bagaimanapun, kekasihnya itu tetap terlihat cantik.
"Sudah om," kata Mita sambil membuka pintu mobil lagi. Dia kembali mencuci tangannya. Kotak makanan tadi di lemparkannya ke tong sampah terdekat. Setelah Mita menutup pintu mobil, Willy meraih tangan Mita. Dia mengecupnya lama. Mita hanya menatap Willy.
"Baby, aku minta maaf atas kejadian semalam. Maafkan Alda," pinta Willy lembut. Tatapannya memohon. Mita mengamati wajah Willy.
__ADS_1
"Tidak apa apa om, anggap saja itu tidak pernah terjadi. Ayo om. Kita pergi dari sini," ajak Mita sambil menarik tangannya dari genggaman Willy. Willy pun akhirnya menjalankan mobilnya. Bagi Mita melupakan kejadian semalam adalah hal yang harus dilakukannya sekarang. Mengingat itu hanya untuk membuat sakit hati. Mita memang bukan pendendam.
Tidak seperti biasanya. Willy merasa Mita berbeda hari ini. Walau Mita menjawab dan menurut sedari tadi. Tapi Willy tahu bahwa Mita tidak dalam keadaan baik.
"Bagaimana sikap Alda kepada kamu hari ini?" tanya Willy setelah mereka terdiam beberapa saat.
"Baik om, seperti biasa," jawab Mita datar. Willy seketika menoleh ke Mita.
"Aku tidak menginginkan liburan itu baby. Tapi jika kamu tidak mengijinkan. Aku akan membatalkan,"
"Pergilah om. Aku tidak apa apa. Jangan sampai tidak jadi. Alda akan membenci aku jika om tidak memenuhi permintaannya," jawab Mita datar. Pandangannya masih lurus ke depan.
"Asal kamu tahu, sebenarnya aku sangat ingin kamu ikut. Tapi Alda hanya menginginkan kami bertiga. Aku harap kamu tidak berpikiran macam macam,"
"Om, jangan ke apartemen. Aku tidak mau," kata Mita cepat ketika Willy membelokkan setirnya. Mita mengenali jalan ini arah jalan menuju apartemen Willy.
"Om, aku mohon," kata Mita lagi. Tatapan sendu. Dia sudah duduk menyamping menghadap ke Willy.
"Kenapa baby?"
"Om, tolong. Alda sudah mencurigai kita. Sebaiknya kita tidak ke apartemen," kata Mita lagi. Mita takut Alda tiba tiba datang ke apartemen Willy dan melihatnya di sana. Mita tidak ingin memperkeruh suasana.
"Om, waktu kita ke pantai itu, ternyata Nino juga di sana. Dan dia melihat kita. Tadi dia mengatakan di kelas," kata Mita pelan. Willy kembali menoleh ke Mita. Tapi tidak memberi tanggapan apapun.
"Aku takut dia mengatakan hal itu ke Alda om. Apa sebaiknya kita putus saja om?. Aku tidak ingin persahabatan aku hancur dengan Alda om," kata Mita membuat Willy mengerem mobilnya tiba tiba. Untung mereka berada di paling pinggir jalan.
"Tidak pernah ada kata putus di antara kita Mita," jawab Willy tegas. Seperti Mita dia juga sudah duduk menyamping. Mereka kini sudah saling berhadapan.
"Tapi om?"
"Tidak ada tapi tapian, kalau aku mau. Sekarang juga aku bisa menikahi kamu. Tapi aku sangat menghargai kamu karena kamu wanita yang paling aku cintai. Aku menunggu kamu setelah lulus ujian seperti yang pernah kita bicarakan. Setelah itu Alda terima atau tidak terima aku akan tetap menikahi kamu. Tentang persahabatan kalian hancur, itu karena keegoisan putriku bukan karena hubungan kita ini. Kita berdua berhak berbahagia. Dan aku juga yakin. Cepat atau lambat Alda pasti bisa menerima kamu sebagai istriku," jawab Willy lagi. Dia menarik tubuh Mita dan secepat kilat menyambar bibir mungil itu. Hanya sebentar kemudian Willy melepaskannya.
"Kita kemana om?" tanya Mita setelah Willy kembali menjalankan mobilnya. Willy hanya diam.
"Om,"
"Panggil aku dengan sebutan sayang. Kalau tidak aku akan membawa kamu ke apartemen ku,"
"Kita mau kemana sayang?" tanya Mita lembut. Mendengar kata sayang dari mulut Mita rasa marah yang sempat memenuhi hatinya kini tidak ada lagi. Willy tersenyum.
"Kita mau ke taman baby. Kamu perlu melihat warna warni bunga supaya hati kamu kembali berbunga bunga," jawab Willy sambil tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah sayang ku, Aku senang mendengarnya," kata Mita lagi membuat hati Willy berbunga-bunga sebelum melihat bunga. Willy gemas akan suara Mita yang mendayu dayu. Willy kembali menghentikan mobilnya.
"Ini belum di taman saya...,"
Mita belum menyelesaikan perkataannya. Bibir Willy sudah menempel di bibir Mita. Dia menarik tubuh Mita hendak memangkunya. Mita berontak.
"Ini tempat umum sayang. Sabar lah. Tinggal sebentar lagi ujian berakhir," kata Mita supaya Willy melepaskan dirinya. Dan benar saja Willy melepaskan tubuh Mita dan kembali menjalankan mobilnya.
"Di tempat umum. Tidak ada sentuhan apapun. Baik itu pegangan tangan atau pelukan," kata Mita setelah mobil berhenti di taman.
"Kenapa seperti itu?"
"Aku takut ada yang mengenali kita di sini om. Dan bisa jadi Alda di sekitar sini,"
"Baiklah, ayo kita keluar," jawab Willy dengan berat hati. Keduanya sudah turun dari mobil dan berjalan ke arah bangku taman.
Sementara itu di dalam sebuah mobil tidak jauh dari taman. Alda mengepalkan tangannya melihat Mita dan ayahnya keluar dari mobil. Di tengah jalan tadi dia melihat mobil ayahnya dan menyuruh Nino untuk mengikuti mobil Willy.
"Benar dugaan aku Nino, ternyata Mita si kurang ajar itu menusuk aku dari belakang. Kebaikan dia selama ini ternyata hanya untuk menarik perhatian aku. Dia mau bersahabat dengan aku ternyata karena ada maunya," kata Alda marah. Tangannya terkepal dan rahangnya mengeras.
"Jangan langsung mengambil kesimpulan. Bisa mereka tidak sengaja bertemu," jawab Nino. Walaupun dia sudah tahu tentang Willy dan Mita. Nino tidak berusaha untuk mengompori Alda.
"Tidak Nino. Aku yakin mereka sepasang kekasih. Semalam saja ayah aku keceplosan memanggil Mita dengan sebutan baby,"
"Namanya juga manusia Alda. Bisa saja om Willy salah ngomong. Lagi pula kalau meraka berpacaran kan tidak apa apa. Om Willy duda dan Mita juga wanita lajang, kan tidak ada yang keberatan,"
"Aku yang keberatan Nino. Karena dia adalah ayah aku. Bunda aku masih hidup dan aku mau mereka bersatu," jawab Alda jengkel.
"Biarkan om Willy berbahagia Alda. Sudah cukup lama dia menyendiri. Kalau Mita yang bisa membuat om Willy bahagia sebaiknya kamu mendukung mereka,"
"Jadi kamu memihak mereka atau aku?. tanya Mita dengan suara yang meninggi.
"Aku tidak memihak siapa pun. Aku hanya memberi pendapat. Kalau kamu tidak berterima. Itu tergantung kamu," jawab Nino datar.
"Sampai kapanpun, aku tidak mendukung mereka,"
"Terserah. Sebaiknya kita pergi dari sini," kata Nino.
"Jangan dulu, aku mau ke sana," kata Alda sambil menunjuk taman. Dari mobil ini, Alda masih bisa melihat Mita dan Willy yang sudah duduk di bangku.
"Jangan Alda, om Willy adalah pengusaha. Kedatangan kamu di sana hanya akan mempermalukan om Willy. Bagaimana kalau ada yang mengenal om Willy melihat kamu ribut di sana. Bisa saja orang menduga bahwa om Willy mempunyai dua wanita peliharaan," kata Nino supaya Alda tidak ke sana. Nino takut Alda lepas kendali dan marah marah ke Mita dan Andre.
__ADS_1