Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Pengumuman


__ADS_3

Para pembaca novel mencintai ayah sahabatku. Saya berterima kasih karena sudah membaca novel ini sampai tuntas. Saya sudah membuat novel baru yang berjudul. Cinta, Berpihak lah kepadaku. Sebuah novel yang menceritakan seorang wanita yang rela mengorbankan kehamilannya demi kebahagiaan suaminya. Di bawah ini. Saya sertakan cuplikan dari Bab pertama. Saya mengajak kalian untuk singgah di novel tersebut.


Di kamar mandi, Anggita membayangkan ekspresi suaminya setelah mengetahui dirinya hamil. Anggita berpikir jika kehadiran seorang anak adalah anugerah dalam setiap rumah tangga tidak terkecuali dengan rumah tangganya bersama Evan. Anggita mengembangkan senyumnya membayangkan kebahagiaan yang akan terlihat nantinya di wajah suaminya.


"Duduk," perintah Evan setelah Anggita keluar dari kamar mandi. Evan juga sudah duduk di sofa di kamar itu. Di tangannya sudah ada beberapa berkas.


"Tanda tangani ini," kata Evan sambil meletakkan berkas itu tepat di hadapan Anggita.


"Berkas apa ini?" tanya Anggita bingung.


"Matamu masih cukup bagus untuk membaca. Baca, pahami dan tanda tangani."


Anggita menatap wajah suaminya yang lebih dingin dari biasanya. Kemudian Anggita membaca berkas itu dengan seksama. Terkejut dan kecewa, itulah yang dirasakan oleh Anggita setelah membaca surat itu. Surat yang berisi tentang perceraian mereka dan semua kompensasi yang didapatkan oleh Anggita setelah perceraian tersebut.

__ADS_1


Bagi wanita matre, melihat angka angka itu. Anggita pasti sudah membubuhkan tanda tangan di atas kertas tersebut. Tapi tidak untuk Anggita. Ada amanah yang harus dijaga. Bagi Anggita amanah itu adalah harga mati baginya.


"Selama kakek masih hidup. Aku tidak akan menandatangani surat perceraian ini," jawab Anggita berusaha tenang. Tapi tidak dengan hatinya. Bisa bisanya Evan menyuruh dirinya menandatangani surat perceraian setelah menikmati tubuhnya. Apakah dia tidak pernah berpikir jika kecebong kecebongnya akan menjadi janin seperti sekarang ini?. Anggita merasa terjatuh ke jurang yang paling dalam menghadapi kenyataan yang dihadapi sekarang ini. Anggita mengira jika Evan akan membicarakan kelangsungan hubungan rumah tangga mereka ternyata dia justru mendapat kenyataan jika hubungan rumah tangga mereka sudah diambang perceraian.


Mengingat kehamilannya, Anggita merasakan sakit yang teramat dalam di hatinya. Seharusnya hatinya saat ini tenang tanpa masalah supaya janinnya bertumbuh dengan baik. Tapi yang terjadi saat ini, Anggita harus menelan pil pahit dalam berumah tangga. Satu hal yang tidak diinginkan oleh warna di dunia ini adalah menjadi janda. Anggita merasakan matanya sudah memanas hendak menangis. Tapi Anggita menahan air matanya itu untuk tidak meluncur bebas di pipinya.


Jika perceraian itu harus terjadi. Setidaknya Anggita akan berusaha membuat Evan luluh semasa hidup sang kakek. Jika tidak. Anggita akan menerimanya sebagai takdir. Bukankah sebelum menikah mereka sudah menandatangani surat perjanjian. Pernikahan mereka hanya untuk menyenangkan hati sang kakek yang menjodohkan mereka. Jika dua bulan ini hubungan mereka layaknya seperti suami istri yang normal itu karena melenceng dari perjanjian. Walau tidak dapat dipungkiri jika Anggita sudah berharap banyak akan waktu berharga yang mereka habiskan selama dua bulan ini. Tapi tidak dengan Evan. Perjanjian tetaplah perjanjian.


"Kalau begitu, aku menandatanganinya setelah kakek meninggal. Aku hanya ingin menepati janjiku kepada kakek." Anggita bersikeras untuk tidak menandatangani surat perceraian itu. Dia ingin berjuang untuk rumah tangga dan juga janinnya.


"Setelah pemakaman kakek nantinya. Semuanya sudah berakhir." Sang kakek masih hidup tapi Evan sudah membicarakan tentang pemakaman. Anggita hanya menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Evan.


Anggita merasakan hatinya sangat hancur berkeping-keping. Selain perceraian itu sudah di depan mata juga karena kesehatan kakek yang semakin memburuk. Mengingat sang kakek, air mata yang sudah ditahan tidak terbendung lagi. Banyak kebaikan yang dia terima dari kakek yang bernama kakek Martin itu. Kebaikan yang tidak bisa dibalas selain bersedia menjadi istri dari seorang Evan.

__ADS_1


"Kakek, maafkan aku," gumam Anggita di sela tangisnya.


Berbeda dengan Anggita yang merasakan kesedihan, Evan justru bersikap tenang. Pria itu mengambil kertas dari atas meja dan memasukkan ke dalam laci. Kemudian pria itu berjalan menuju ranjang. Membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata.


"Mas Evan. Sebenarnya aku...."


Anggita tidak meneruskan perkataannya lagi melihat Evan yang sibuk mencari ponselnya yang berdering.


Pria itu berjalan keluar dari kamar sambil menjawab panggilan di ponselnya. Anggita terus memandangi punggung suaminya hingga tidak terlihat lagi. Tangannya tidak berhenti mengelus perutnya yang masih rata. Menyadari dirinya terus tidak berhasil untuk mengungkapkan kehamilannya. Anggita merasa jika saat ini belum waktu yang tepat bagi Evan untuk mengetahui kehamilannya.


Anggita membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Sebagai wanita, Anggita juga makhluk yang lemah. Anggita menarik selimutnya hingga menutup kepalanya. Di balik selimut itu. Anggita menangis sesenggukan. Anggita berusaha menghentikan tangisannya setelah mendengar suara pintu kamar yang berderit.


Anggita merasakan hidungnya tersumbat karena menahan tangisnya. Semakin ditahan semakin sesak hidungnya bernafas. Anggita menyingkapkan selimutnya dan langsung duduk. Melalui ekor matanya dia dapat melihat Evan sudah tertidur pulas. Anggita beranjak dari duduknya. Dia membuka kamar dan menuju kamar tamu. Di kamar itu, Anggita bebas mengeluarkan tangisannya. Dia sangat yakin jika Evan tidak akan mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2