
Willy keluar dari dalama air dengan kesal. Niatnya masih ingin berenang. Sangat jarang dia mempunyai waktu seperti ini. Kalau tidak karena rengekan Alda. Bisa dipastikan saat ini dia berkutat dengan pekerjaan. Tapi demi menyenangkan hati putri kesayangannya, Willy rela meninggalkan pekerjaannya. Bagi Willy masa depan Alda yang terutama. Ketika Alda mengancam tidak mau ikut ujian nasional jika tidak berlibur bertiga bersama Keyla.
Willy telah selesai membersihkan tubuhnya di kamar mandi yang disediakan pengelola pantai. Tak lama kemudian, Willy melihat Leo juga keluar dari kamar mandi yang lain. Tanpa menyapa Leo. Willy terus berjalan dan tujuannya adalah tempat dimana putrinya berada. Willy ingin menemani putrinya walau hanya melihat lautan luas. Willy semakin mendekat dan Alda melihat.
"Gak berenang?" tanya Willy setelah duduk di bangku panjang yang diduduki Alda. Alda yang awalnya berbaring akhirnya duduk.
"Tidak ayah, aku lelah," jawab Alda manja. Willy tahu apa yang menyebabkan putrinya lelah. Berjalan mengelilingi toko suvenir beberapa jam dan mengelilingi museum. Willy juga merasa lelah.
"Ayah, apa ayah sangat membenci bunda?" tanya Alda pelan. Matanya menatap bundanya yang berenang bersama pengunjung lain.
"Ayah tidak membenci. Hanya saja ayah tidak bisa melupakan kesalahannya tuan putri,"
"Bagaimana kalau bunda berubah?"
"Biarkan bunda kamu berubah untuk kamu sebagai putrinya. Tapi tidak untuk ayah. Mau berubah menjadi malaikat pun, ayah tidak bisa kembali kepadanya. Ayah hanya ingin menikahi wanita biasa yang kesalahan juga biasa biasa bukan seperti bunda kamu kesalahannya yang luar biasa. Tega meninggalkan bayinya yang masih berusia tiga bulan,"
"Baiklah ayah, aku tidak akan memaksakan kehendak untuk kembali kepada bunda. Makin kesini aku juga tidak melihat ketulusan bunda untuk kembali kepada ayah. Aku melihat bunda seperti hanya untuk memanfaatkan harta ayah,"
"Kenapa kamu bisa berkata seperti itu tuan putri," tanya Willy terkejut dengan perubahan yang ditunjukkan Alda. Setelah bertemu Keyla, Alda selalu berupaya untuk mendekatkan dirinya dan Keyla. Tapi hari ini putrinya itu bahkan terkesan tidak menyukai bundanya.
"Aku tidak suka ketika berbelanja tadi ayah, Bunda belum berbuat sesuatu untuk menyenangkan hati ayah dan hati aku tapi sudah berani membebankan belanjaan kepada aku. Kan ayah yang bayar jadinya. Udah gak mikir tentang harga. Asal comot saja. Aku tidak suka cara bunda ayah,"
"Anak pintar. Ternyata kamu bisa membedakan mana yang tulus sama yang tidak tulus. Apa kamu bahagia dengan liburan ini tuan putri?"
"Sangat ayah," jawab Alda tersenyum. Dia bahkan merentangkan tangannya. Melihat Alda tersenyum. Willy juga tersenyum dan meraih Alda ke dalam pelukannya. Willy bersyukur, liburan ini tidak hanya menyenangkan hati Alda tapi juga bisa melihat seperti apa hati bundanya yang sebenarnya.
"Apa ayah juga bisa menikmati liburan ini?" tanya Alda balik bertanya.
"Menurutmu?"
"Aku tidak melihat ayah begitu menikmati liburan ini ayah," kata Alda sedih. Sebagai wanita yang sudah beranjak dewasa. Alda sudah bisa membedakan mana yang benar bahagia dan bahagia yang di buat buat. Alda juga menyadari bahwa bundanya juga tidak menikmati liburan ini. Alda berpikiran. Itu karena sikap Willy yang tidak menganggap keberadaan Keyla. Bisa dikatakan, hanya Alda yang begitu bahagia dengan liburan ini.
__ADS_1
"Kamu tahu tuan putri, ini ayah lakukan hanya untuk menyenangkan mu,"
"Terima kasih ayah,"
"Lihat, menurut kamu apa orang yang penyakit kanker bisa berenang seperti itu?"
"Siapa yang penyakit kanker ayah,"
"Bunda kamu. Bahkan kepalanya sudah botak. Apa dia tidak cerita ke kamu?" tanya Willy. Alda terkejut dan sekaligus tidak percaya. Akhir akhir ini dia dekat dengan bundanya tetapi bundanya tidak mengeluh sama sekali.
"Rambutnya botak. Itu rambutnya masih ada,"
"Dia datang ke kantor ayah. Dan menunjukkan kepala botaknya. Seperti mau mati saja," kata Willy kesal. Melihat Keyla berenang bebas di pantai itu. Willy yakin bahwa Keyla memang tidak sakit. Willy semakin yakin bahwa akan ada rencana besar untuknya dari Keyla malam ini.
Alda terdiam mendengar perkataan ayahnya. Dia tidak menyangka bundanya sampai mencari alasan seperti itu hanya untuk berlibur. Sedangkan Willy, dia sengaja menunjukkan kesalahan Keyla. Bukan maksud supaya Keyla untuk membenci bundanya tetapi Willy bermaksud untuk membuka mata Alda seperti apa sebenarnya Keyla. Alda kecewa kepada Keyla yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya.
Keyla keluar dari dalam air. Dari dalam air, Dia melihat Willy dan Alda yang berbincang. Ketika Willy memeluk Alda, itu juga tidak luput dari perhatiannya.
"Kamu mau berbicara dengan aku dengan berpakaian seperti itu?. Seperti wanita murahan saja," kata Willy ketus. Dia berkata tanpa memandang ke Keyla.
"Mandilah dulu bunda, di sana kamar mandi wanita," kata Alda datar. Dia menunjukkan kamar mandi yang khusus wanita. Dia pun tidak suka dengan sikap ibunya yang seakan memamerkan kemolekan tubuhnya kepada Willy. Alda merasa malu.
"Baiklah. Kalian tunggu di sini," kata Keyla sambil bergegas ke kamar mandi yang tadi ditunjuk Alda.
"Siapa dia?. Kenapa harus kita menunggu. Tidak penting," kata Willy sinis. Willy menarik tangan Alda untuk kembali ke villa. Sambil berjalan Alda melihat ayahnya dari belakang yang hanya berjarak satu langkah dengan dirinya.
"Ayah, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Alda sopan. Tangannya masih dipegang oleh Willy.
"Bertanya apa?"
"Apakah gebetan baru ayah itu adalah Mita?"
__ADS_1
Willy menghentikan langkahnya. Pertanyaan yang tak terduga dari Alda membuat Willy tidak langsung menjawab. Sedangkan Alda, dia menunggu jawaban dari Willy dengan hati yang berdebar. Dia berharap jawaban Willy adalah tidak. Bila Willy menjawab tidak maka saat ini juga. Alda siap meminta maaf kepada Mita.
"Apakah kamu ingin mengetahui kekasih ayah," tanya Willy pelan. Dia kembali menarik tangan Alda untuk berjalan.
"Iya ayah. Aku juga ingin yang terbaik untuk ayah. Mencintai ayah dengan tulus dan tidak karena harta. Bagaimanapun aku tidak bisa selamanya bersama ayah. Suatu saat nanti aku akan menikah dan ikut suami. Dan bila saat itu tiba. Ayah pasti sudah bertambah tua. Dan harus ada seseorang yang tulus menjaga kamu ayah."
Willy kembali menghentikan langkahnya. Dia terharu dengan perkataan putrinya. Apa yang dikatakan Alda, itu semua benar. Dia tidak butuh seorang istri yang berpendidikan tinggi atau wanita dengan karir yang cemerlang. Dia sudah memiliki banyak harta. Willy hanya butuh istri yang tulus mencintainya bukan karena harta. Dan itu Willy temukan dalam diri Mita. Willy menarik Alda kembali ke pelukannya. Dia tidak menyangka bahwa Alda memikirkan dirinya sampai sejauh itu.
"Alda, ayah juga ingin jujur kepada kamu. Kekasih ayah itu sebenarnya Mita Sahabat kamu," kata Willy pelan. Dia memperhatikan raut wajah Alda. Tidak ada perubahan mimik di wajah Alda. Alda juga tidak terkejut mendengar kejujuran Willy karena sejak mendengar Willy memanggil Mita dengan sebutan baby. Alda sudah sangat yakin bahwa Ayah dan Sahabatnya punya hubungan khusus.
"Ayah, aku akui Mita adalah orang baik. Aku sudah lama mengenalnya. Tetapi aku kecewa kepadanya ayah. Kami bersahabat. Mengapa menyembunyikan hal ini dari aku. Sedangkan aku. Aku selalu terbuka tentang apapun kepadanya. Dengan menyembunyikan hubungan kalian dari aku. Aku merasa dia tidak menganggap aku sebagai sahabatnya," kata Alda kecewa. Matanya sudah berkaca kaca karena merasa tidak dianggap oleh Mita.
"Jangan salahkan Mita tuan putri. Ayah yang menyuruh dia untuk tidak buka mulut. Ayah hanya menunggu waktu yang pas memberi tahu kamu,"
"Aku juga kecewa kepada ayah. Aku tidak melarang atau mendukung Mita yang akan istri ayah. Aku juga tidak yakin persahabatan kami bisa seperti semula lagi ayah," jawab Alda terisak. Dia sudah menangis, sedih karena merasa tidak dianggap oleh sahabat yang sangat disayanginya selama ini. Sahabat rasa saudara. Sementara Alda, dia sangat tulus dan membantu Mita semampunya.
"Jangan menangis tuan putri. Ayah yang salah. Bukan Mita. Selamanya kalian akan menjadi sahabat."
Willy berusaha menghibur Alda. Dia tahu Alda sangat menyayangi Mita. Enam tahun bersama membuat keduanya sangat dekat. Tapi rasa cinta yang hadir di hati Mita dan Willy membuat persahabatan mereka ternoda.
"Kalau ayah ingin menikah dengan Mita. Menikahlah ayah. Ayah harus bahagia," kata Alda lagi dengan terisak. Selain nasehat Nino. Alda juga tidak ingin melihat ayahnya dalam kesendirian apalagi harus jatuh ke dalam dosa karena berzinah dengan wanita yang bukan istrinya.
"Apakah kamu serius tuan putri. Apakah ayah bisa mengartikan ini sebagai restu dari putri ayah untuk hubungan kami," tanya Willy senang. Dia mengusap air mata Alda dan tersenyum.
"Seperti yang aku katakan tadi ayah. Aku tidak mendukung dan tidak melarang. Jika ayah mengartikan itu sebagai restu. Silahkan," jawab Alda sambil tersenyum samar. Ini adalah keputusannya. Melihat bundanya yang tidak tulus lebih baik ayahnya menikah dengan Mita yang jelas jelas sudah tahu hatinya baik.
"Aku akan menganggap ini sebagai restu dari kamu tuan putri," kata Willy lagi.
"Silahkan ayah. Aku hanya ingin ayah bahagia,"
"Maafkan ayah tuan putri,"
__ADS_1
Alda mengangguk. Sejak tadi dia memikirkan hal ini. Setelah mengungkapkannya. Alda merasa lega. Walau rasa kecewanya kepada Mita sangat dalam.