Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
I Love You Too


__ADS_3

Willy memandang Mita yang masih membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut. Willy tersenyum. Walau tidak tidur seranjang tidak membuatnya kecewa. Rasa cintanya ke Mita lebih besar dibandingkan rasa kesal karena tidak bisa seranjang. Cukup lama Willy memandangi Mita, serasa tidak ada pergerakan dari Mita, Willy bangkit dari sofa. Dengan pelan dan hati hati Willy membuka selimut yang menutupi tubuh Mita. Lagi lagi tidak ada pergerakan. Willy tersenyum dengan pelan dia berbaring di samping Mita dan masuk ke dalam selimut.


"Om curang," kata Mita pelan dengan mata tertutup. Spontan Willy terduduk dan menatap wajah Mita. Mata Mita masih juga tertutup. Willy yang mengira Mita mengigau, kembali merebahkan badannya di samping Mita.


"Pindah ke sofa om," kata Mita lagi. Matanya masih juga tertutup. Willy terkekeh dan langsung mencium bibir Mita. Willy tidak memberi kesempatan kepada Mita untuk protes.


"Hanya ciuman, om tidak akan meminta lebih. Tapi dibalas ya?" pinta Willy setelah melepaskan bibirnya dari bibir Mita.


"Om tidak bisa dipercaya. Awalnya memang ciuman, tapi ujung ujungnya merayap juga tuh tangan,"


Willy terkekeh. Willy membelai wajah Mita dan menatapnya lekat.


"Iya, janji,"


"Aku tidak tanggung jawab ya om, kalau itunya bengkak. Aku tidak mau membantu om mengecilkannya. Tangan pegal loh om," kata Mita polos. Willy mengangguk. Mita langsung mendekatkan wajahnya ke Willy dan langsung menyambar bibir Willy. Willy tentu saja sangat senang. Kekasih kecilnya itu bertindak duluan. Willy mengingat janjinya dan tangannya bisa dikondisikan. Cukup lama mereka berciuman hingga akhirnya Willy menyerah dan beranjak dari ranjang ke kamar mandi.


"Om, ngapain di dalam," teriak Mita jahil. Dia tahu apa yang diperbuat Willy di dalam kamar mandi.


"Bermain dengan sabun mandi, mau bantuin?" jawab Willy tiba tiba. Dia berdiri dekat pintu kamar mandi tetapi masih bisa di lihat Mita dari ranjang. Mita seketika melihat Willy. Tonjolan di celana Willy membuat Mita bergidik.


"Tidak om, terima kasih. Silahkan bermain sendiri om," jawab Mita sambil terkekeh dan mengejek Willy. Bukannya marah Willy ikut terkekeh dan masuk ke kamar mandi.


"Silahkan ke sofa om," kata Mita sangat sopan dengan tangan menunjuk ke sofa. Willy yang masih di depan pintu kamar mandi hanya bisa tersenyum.


"Baik cintaku, sayangku," jawab Willy setelah mendekat ke ranjang. Dia mencubit pelan wajah Mita. Mita mendorong pelan tubuh kekasihnya. Mita kembali merebahkan tubuhnya di ranjang sedangkan Willy masih duduk di sofa dan membuka laptopnya.


Besok paginya, Mita terbangun. Mita duduk dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Sofa tempat kekasihnya berbaring tadi malam juga kosong. Menduga Willy di kamar mandi, akhirnya Mita kembali merebahkan tubuhnya di ranjang.


Ceklek.


Mita menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka. Willy dengan senyuman yang manis berjalan ke arahnya dengan nampan berisi sarapan di tangan Willy.

__ADS_1


"Selamat pagi baby," sapa Willy. Dia meletakkan nampan tersebut di atas sofa dan mendekat ke tepi ranjang.


"Kita sarapan,"


"Aku mandi dulu om," kata Mita dan melompat dari tempat tidur. Willy hanya tersenyum dan merapikan tempat tidur.


"Om, aku tidak biasa sarapan pakai ini," kata Mita ketika sudah duduk di sofa di kamar Willy.


"Loh, kenapa?" tanya Willy heran. Baginya sarapan mereka biasa saja. Hanya sandwich dan susu.


"Om lupa siapa aku?, aku cuma rakyat jelata om, yang tidak terbiasa makan roti pake keju apalagi pakai selada seperti ini. Biasa makan nasi goreng rasa bawang. Aku makan telornya aja ya," kata Mita sambil mencolek telor dari lipatan roti. Willy hanya memandangi wajah Mita. Kemudian mengangguk dan membelai rambut Mita penuh kasih.


"Baiklah baby. Nanti di sekolah jangan lupa sarapan yang bergizi. Bubur atau apalah. Minum susunya. Om akan mengantarmu,"


"Jangan om, biar aku naik taksi saja. Aku takut Alda melihat kita,"


"Makanya kita berangkat lebih cepat dari putriku,"


"Tetap aja om, aku naik taksi saja," jawab Mita ngotot. Dia tidak mau diantar Willy pagi ini.


"Pak, katakan kepada Alda. Temannya Nino datang," kata Nino akhirnya. Satpam itu masuk ke dalam rumah.


"Siapa pak?, Nino?," tanya Alda seakan tidak percaya. Dia sampai meletakkan susu yang di tangannya. Pak satpam mengangguk.


"Suruh dia masuk pak, Oya pak. Apa ayah pulang tadi malam?" tanya Alda sopan.


"Aku kurang tahu non, aku baru ganti shift dengan satpam yang jaga tadi malam. Aku juga tidak tahu mobilnya yang mana yang dipakai pak Willy," jawab satpam itu. Willy mempunyai banyak mobil di garasi sehingga satpam tersebut tidak bisa mengetahui Willy pulang atau tidak berdasarkan mobil. Andaikan Willy hanya mempunyai satu mobil, si satpam pasti bisa menjawab pertanyaan Alda.


"Ya sudah pak, terima kasih ya. Selamat bekerja," kata Alda sopan. Satpam itu undur diri dari hadapan Alda. Alda memang biasa bersikap sopan dengan para pekerja rumahnya. Tidak heran jika para pekerjanya rata rata sudah tua. Karena mereka betah bekerja dengan sifat baik Willy dan Alda.


Nino masuk ke dalam rumah Alda dengan wajah berseri. Seakan tahu Alda di meja makan, Nino langsung menuju ke sana.

__ADS_1


"Pagi Alda, calon kekasih," sapa Nino senang. Tanpa disuruh duduk, Nino menarik bangku dan mendudukinya.


"Mau ngapain kamu?" tanya Alda ketus.


"Menjemput kamu,"


"Aku punya mobil dan supir. Jadi tidak perlu repot repot menjemput aku," jawab Alda lagi ketus. Nino meraih segelas susu yang diperuntukkan untuk Willy.


"Kamu tidak sopan ya. Itu untuk ayahku. Aku khusus membuatkannya untuk ayahku bukan untuk kamu," larang Alda kesal. Susu itu untuk ayahnya tetapi tanpa berdosa Nino meminumnya sampai habis.


"Aku sudah meminta ijin kepada om untuk menjemput kamu pagi ini. Om memberi ijin.Dan kata om tadi dia tidak di rumah. Om di apartemen. Daripada susunya dibuang kan lebih bagus aku minum," jawab Nino masih santai. Mengetahui ayahnya di apartemen, Alda menjadi kesal. Alda mengira ayahnya bersama Sofia.


"Sekalian saja makan sama rotinya. Harus habis," kata Alda. Nino membulatkan matanya. Meminum susu yang seharusnya untuk Willy saja membuatnya sangat kenyang. Apalagi tadi dari rumahnya dia juga sudah sarapan.


"Tidak mau?, ya sudah. Aku tidak mau naik mobil kamu," kata Alda membuat Nino bersemangat. Dia mengambil roti bakar itu dan memakannya.


"Satu lagi!" kata Alda melihat masih ada satu lagi roti bakar. Sungguh Nino sudah sangat kenyang. Tapi demi Alda, Nino akhirnya berhasil menghabiskan sarapan yang seharusnya untuk Willy.


Nino berkali kali merapikan rambutnya. Sambil berjalan menuju mobilnya, Nino tersenyum dan bersemangat. Alda yang berjalan di depannya tidak menyadari kalau Nino sangat senang.


"Nino, aku naik mobilku saja ya," kata Alda ketika Nino sudah mau membuka pintu mobil. Seketika terlihat rasa kecewa di wajah Nino. Alda tersenyum.


"Emang enak dikerjain?" tanya Alda terkekah. Dia merasa senang bisa membuat Nino kecewa. Alda membuka pintu mobil Nino. Alda masuk dan Nino pun kembali tersenyum.


"Perlu bantuan?" tanya Nino ketika melihat Alda mau memakai sabuk pengaman.


"Aku bukan anak kecil. Pakai aja sabuk pengaman kamu. Kita harus cepat ke sekolah," jawab Alda ketus.


"Ketusnya balik lagi,"


"Apa kamu bilang?"

__ADS_1


"I love you,"


"I love you too. Eh salah, maksud aku I hate you," kata Alda tergagap. Nino tertawa terbahak-bahak.


__ADS_2