
"Kalian harus dinikahkan," kata seorang warga setelah mendengar pengakuan Azriel dan Mita yang mandi hujan bersama. Azriel dan Mita terkejut. Mita menggelengkan kepalanya jika itu tidak boleh terjadi. Azriel juga menggelengkan kepalanya.
"Jangan sembarangan bicara pak. Aku bisa bersumpah jika kami tidak melakukan hal yang melampaui batas," jawab Azriel marah. Dia menatap tajam warga yang ada di rumah itu secara bergantian.
"Itu adalah peraturan di desa ini. Kalian sebagai pendatang harus mematuhinya."
Azriel semakin geram. Dia menoleh ke om Restu yang belum memberikan pembelaan kepada mereka.
"Maaf pak. Kalau karena mandi hujan tadi adalah kesalahan. Kami minta maaf," kata Mita sambil menunduk. Dia menceritakan tentang statusnya yang sudah menjadi istri. Dan juga alasan keberadaannya mereka di rumah ini. Tidak ada yang disembunyikan oleh Mita. Dia menceritakan semuanya kepada om Restu dan warga. Om Restu dan warga lainnya terlihat terkejut. Mereka mengamati Mita dari kepala sampai ke kaki. Mereka seakan tidak percaya jika wanita muda yang ada di hadapannya mereka sudah menjadi seorang istri. Untuk meyakinkan mereka. Mita menunjukkan foto pernikahannya yang ada di ponsel. Om Restu dan yang lainnya akhirnya percaya.
"Baiklah, kami tidak bisa memaksa jika ternyata kamu adalah wanita bersuami. Tapi perlu kamu ingat cara kamu menyelesaikan masalah dengan suamimu seperti ini adalah salah," kata salah satu warga. Dan warga lain juga ikut menasehati Mita. Mita menunduk. Hikmah dibalik kedatangan ke rumah ini. Mita banyak mendapat nasehat dari om Restu dan warga.
Malam menjelang, Mita memikirkan banyak nasehat yang sudah di terimanya dari warga. Sifat plin plan nya kembali muncul. Mita menyesal karena kembali bersifat kekanakan. Mita membuka ponselnya dan membaca semua pesan dari Willy. Belum semua pesan itu terbaca. Ponselnya sudah berdering. Mita buru buru menonaktifkan ponsel tersebut. Dia belum ingin berbicara apalagi melihat wajah Willy.
Sementara di apartemen, Willy seperti mendapat keberuntungan ketika melihat pesan yang dikirimkan ke Mita berubah menjadi centang dua. Kemudian berubah warna menjadi warna biru. Karena rasa senang, tangannya bergetar memanggil kontak Mita. Tapi kemudian wajahnya terlihat sedih karena panggilan itu terus memanggil. Willy berharap panggilan itu berdering. Tetapi sampai beberapa menit. Panggilan itu masih saja memanggil.
"Baiklah baby. Tetap berada di tempatmu. Aku akan menemukan mu," gumam Willy sambil memainkan ponselnya dan kemudian menghubungi seseorang. Willy setengah berlari keluar dari apartemennya.
Besok harinya. Mita terbangun dari tidurnya. Mita terganggu dengan suara berisik dari luar. Mita dengan mengucek matanya keluar dari kamar. Mita terkejut. Mita melihat Willy berdiri di samping mobil dengan berbicara kepada om Restu. Mita mundur dari pintu. Seperti pencuri yang ketahuan. Mita merasakan badannya gemetar dan gugup. Mita kembali masuk ke kamar. Dia tidak menyangka Willy bisa mengetahui keberadaannya di rumah ini. Mita menduga jika Azriel telah menghubungi Willy.
Suara langkah yang semakin mendekat membuat Mita semakin takut. Dia sangat yakin jika Willy datang bukan kebetulan tetapi karena dirinya. Mita juga yakin jika langkah itu milik Willy.
"Masuk saja. Dia istrimu. Mungkin dia masih tidur."
Mita mendengar apa yang diucapkan om Restu. Mita semakin takut. Entah bagaimana nanti Willy melampiaskan kemarahannya apalagi dia kemari bersama dengan Azriel. Mita menutup tubuhnya dengan selimut sampai ke kepala. Derap langkah itu semakin mendekat membuat detak jantung Mita berdetak lebih cepat dan kencang.
Mita bisa mendengar Willy yang menarik nafas panjang. Mita juga dapat merasakan pergerakan di tempat tidur. Willy berbaring di belakang tubuhnya.
"Maafkan aku baby," bisik Willy sambil memeluk pinggang Mita. Lagi lagi Mita terkejut. Willy tidak marah melainkan meminta maaf. Mita membuka selimut itu dari kepalanya.
__ADS_1
"Maafkan aku baby," ulang Willy lagi. Willy meminta maaf atas luka yang diberikannya kepada Mita. Mita masih diam. Dan tidak berniat untuk membalikkan tubuhnya. Dan juga tidak berniat untuk melepaskan tangan Willy dari pinggangnya. Mita membiarkan Willy berbuat seperti itu yang penting jangan meminta lebih.
"Mita, kenapa harus pergi seperti ini dengan Azriel?" tanya Willy lagi. Dia sebenarnya sangat marah setelah mendengar dari Restu jika Mita ke rumah ini bersama Azriel. Willy berusaha menahan amarahnya supaya Mita bersedia kembali bersamanya pulang ke kota. Willy sangat cemburu membayangkan Mita dan Azriel berduaan dengan waktu yang lama bersama Azriel. Apalagi tempat ini terpencil dari rumah warga lain. Willy sudah menduga yang tidak tidak antara Azriel dan Mita.
"Kenapa menyusul aku om?" tanya Mita akhirnya.
"Aku sangat mengkhawatirkan kamu baby. Andaikan kamu lebih cepat mengaktifkan ponsel mu. Aku pasti bisa lebih cepat menemukan kamu sayang," kata Willy.
"Panggil Mita saja om tanpa embel-embel baby atau sayang. Toh kita akan secepatnya berpisah."
Willy menarik tangannya dari pinggang Mita. Dia tidur telentang sambil menatap langit langit rumah itu. Perkataan Mita membuat hatinya berdenyut nyeri. Bukan perkataan seperti ini yang ingin dia dengar.
"Kamu masih menginginkan kita berpisah?" tanya Willy.
"Pasti om. Om akan lebih bahagia bersama Tante Keyla. Alda dan Billy akan melengkapi kebahagiaan kalian."
"Baiklah jika itu kemauan kamu. Aku akan menandatangani surat gugatan cerai itu satu bulan dari sekarang."
"Aku juga akan menandatangani surat itu dengan persyaratan," kata Willy lagi membuat Mita mengerutkan keningnya.
"Persyaratan apa?"
"Selama satu bulan kita akan tinggal di apartemen. Dan kita juga selayaknya sebagai suami-istri. Jika kamu tidak bersedia. Selamanya tidak akan ada tanda tangan yang kamu minta."
"Tidak bisa begitu om. Aku mau tanda tangan itu secepatnya dan tidak ingin tinggal di apartemen," jawab Mita marah. Mita duduk dari tempat dan bersandar. Keinginan untuk bercerai dari Willy secepatnya sudah bulat. Mita tidak sabaran harus menunggu satu bulan lagi.
"Kalau begitu selamanya kamu tidak akan memberikan tanda tangan. Kamu tidak ingin tinggal dengan aku di apartemen tapi dengan Azriel kamu berduaan sampai sejauh ini," kata Willy tenang. Tapi hatinya entah bagaimana sekarang. Marah yang tertahan dan berusaha tenang. Itulah yang dirasakan Willy saat ini. Willy juga ingin memastikan jika Mita hamil atau tidak. Dia tidak ingin kejadian kepada Billy terulang jika Mita hamil.
"Om, jangan egois donk."
__ADS_1
"Ya aku memang egois. Lalu kamu disebut apa?. Kamu yang menyarankan kepada Keyla dan aku untuk rujuk dengan semua kata kata manis kamu itu. Tapi kamu berbuat seperti ini seakan akan kamu adalah korban perselingkuhan kami. Keyla juga sudah menolak dengan tegas. Tetapi kamu menyarankan aku untuk rujuk dengannya. Kamu kira dengan semua saran kamu dan penolakan Keyla membuat aku tenang. Yang ada aku semakin stress Mita. Aku mengejar Keyla karena merasa bahwa apa yang kamu sarankan itu adalah sebuah ketulusan. Aku di tolak, aku dibenci olehnya. Dan Kamu seenaknya minta cerai dan kabur seperti ini. Aku bertanya kepada kamu sekarang. Apa maksud kamu melakukan ini semua?" tanya Willy juga yang sudah duduk. Dia tidak perduli jika om Restu dan yang lainnya mengetahui permasalahan rumah tangga mereka. Dia mengungkapkan semua kemarahan di hatinya. Melihat sikap Mita yang seperti ini, Willy merasa dipermainkan.
"Jawab Mita. Apa maksudmu kamu?. Ingin melihat aku gila?. Ini yang kamu namakan cinta. Aku sudah mengatakan sebelumnya. Jika aku akan mencintai Keyla dengan cara aku sendiri. Tapi kamu malah terkesan memaksa aku untuk mengejarnya."
Mita masih terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa atas semua pertanyaan Willy. Benar dirinya yang meminta Willy rujuk dengan Keyla dan berjanji tidak akan pergi dari Willy. Tetapi belum juga Willy dan Keyla rujuk Mita sudah meminta cerai dan kabur seperti ini.
"Tolong jawab Mita," kata Willy pelan.
"Aku hanya sakit hati om ketika mengetahui bahwa kamu mencintai aku hanya setengah hati," jawab Mita pelan. Mita jujur dari hatinya. Perkataan secara tidak langsung mengatakan jika Mita menginginkan cinta Willy utuh untuknya.
"Kalau hanya itu alasan kamu. Aku kira tidak sepantasnya sampai meminta cerai dan kabur seperti ini. Kita pulang sekarang. Kita masih bisa mencari jalan keluar untuk itu," ajak Willy sambil berdiri. Dia menarik tangan Mita tapi Mita masih bertahan duduk di tempat tidur itu.
"Baiklah jika kamu tidak ingin pulang bersama aku. Mungkin kamu lebih nyaman pulang bersama Azriel. Jika kamu setuju dengan persyaratan yang aku minta. Kamu datanglah ke apartemen. Malam ini aku menunggu kamu di sana," kata Willy kecewa. Willy melangkah keluar dari rumah itu.
Willy masih berdiri di samping tempat tidur itu. Willy berharap Mita mengucapkan sebuah kata untuk menahan pergi dan pulang bersamanya. Tetapi Mita masih bungkam. Willy berjalan keluar kamar dengan lesu.
"Terimakasih pak, aku langsung pulang saja," kata Willy kepada Restu yang berdiri di dekat pintu.
"Sebaiknya istrinya diajak pulang. Aku juga tidak mau keponakan aku membawa wanita status masih istri kamu."
Willy kembali berpikir untuk mengajak Mita untuk pulang bersama. Willy mengangguk dan kembali masuk ke dalam kamar.
"Mita, pulang bersama aku sekarang sayang. Ayo," bujuk Willy lembut. Mita menggelengkan kepalanya. Mita benar benar tidak ingin bersama Willy apalagi harus satu mobil bersama Willy untuk beberapa jam kemudian.
"Pulanglah om. Aku kemari bersama Azriel dan pulang juga bersama Azriel," jawab Mita pasti. Willy menggelengkan kepalanya menghadapi sikap Mita yang sangat keras kepala.
"Aku kecewa Mita. Banyak di luar sana. Seorang suami berselingkuh dan menikah diam diam Tapi masih mempunyai kesempatan kedua. Aku hanya menuruti apa permintaan kamu. Tapi kamu menghukum aku sampai seperti ini. Kamu sakit hati. Kamu kira aku tidak sakit hati. Tolong renungkan awal dari masalah ini. Kalau bukan kamu yang menyarankan aku juga tidak mengejar Keyla. Tapi mulut manis mu membuat aku percaya dan ternyata menjadi masalah dalam rumah tangga kita."
Willy melangkah keluar setelah mengucapkan kata kata itu. Dia tidak perlu untuk membujuk atau menunggu Mita. Setelah menunduk hormat kepada Restu. Willy keluar dari rumah. Bahkan dia belum bertemu dengan Azriel. Laki laki yang sudah membantu istrinya sampai sejauh ini.
__ADS_1
Willy masuk ke dalam mobil. Dia menyuruh sang supir untuk menjalankan mobilnya.