
Keyla mendengus kesal. Pesawat yang harus membawanya ke tempat liburan harus ditunda keberangkatannya. Itu artinya dia harus tiga jam menunggu di bandara tanpa teman. Keyla sudah tahu bahwa Alda dan Willy sudah di sana. Dan hal itu sangat membuat Keyla sangat kecewa.
Berkali kali Keyla menghubungi pihak villa yang sudah dibooking. Bertanya apakah Alda dan Willy sudah di villa. Jawaban dari sana membuat kening Keyla berkerut. Jelas Alda sudah mengirim pesan bahwa mereka sudah di daerah itu. Keyla menghubungi Alda. Tetapi panggilannya tidak terjawab sama sekali.
Keyla berselfie ria, wajahnya tidak terlepas dari senyuman. Melihat hasil tangkapan kameranya, kemudian Keyla mengunggah di media sosial. Komentar dan pujian yang membanjiri statusnya di media sosial membuat Keyla tersenyum dan berbangga diri. Hal ini sedikit mengurangi rasa bosan yang menderanya.
Keyla kembali menghubungi Alda. Tetapi seperti tadi. Panggilannya tetap tidak dijawab. Keyla mendengus kesal. Dia menjentikkan jarinya ke bangku. Kemudian Keyla menghubungi pihak villa. Tetap saja jawaban dari sana membuat Keyla tidak puas. Walau Willy dan Alda belum di villa. Keyla tetap memberi perintah yang akan dilakukan pihak villa jika Willy dan Alda sudah di sana.
Setelah beberapa jam berada di pesawat akhirnya Keyla tiba di bandara sudah larut malam. Hal yang tidak diprediksinya sama sekali. Keyla berpikir bersama Willy, dia akan terima beres termasuk transfortasi menuju villa. Tapi malam ini, selain dirinya ditinggalkan. Keyla harus mencari taksi sendiri.
Di dalam taksi, Keyla berkali kali melirik jam tangannya. Malam sudah sangat larut. Keyla berpikir bahwa Willy dan Keyla pasti sudah tertidur. Tidak lama kemudian Keyla tersenyum sendiri.
Keyla tidak sabar ingin secepatnya turun dari taksi. Koper kecilnya bahkan sang supir yang mengantar sampai ke halaman villa. Dia setengah berlari mendekat ke villa. Dua orang yang petugas villa yang masih bersantai di pendopo halaman villa itu mendekat dan membukakan gerbang.
"Mereka sudah tidur pak?" tanya Keyla setelah masuk ke halaman villa.
"Mereka bahkan belum datang Bu," jawab petugas itu membuat Keyla terkejut. Dia cepat merogoh tas dan mengambil ponsel. Dia kembali menghubungi ponsel Alda. Tetapi tetap juga tidak dijawab. Seketika Keyla takut dan khawatir. Takut terjadi apa apa terhadap Willy dan Alda. Keyla kemudian membuka media sosial milik Alda. Keyla menarik nafas lega. Alda memposting sebuah foto bersama anak berumur 13 tahun di media sosialnya tiga jam yang lalu.
Keyla masuk ke dalam Villa. Angin malam yang berhembus sangat menusuk ke pori pori tubuhnya. Dalam situasi seperti ini, Keyla teringat akan kisahnya dengan Willy semasa sekolah dulu. Kisah yang menghadirkan Alda ke dunia ini.
Flashback on
Keyla dan Willy berlarian saling mengejar di tepi pantai. Mereka berada di sini karena wisata ilmiah yang diadakan pihak sekolah. Sudah tiga malam mereka di sini dan Ini adalah malam terakhir bagi mereka di pantai ini Mereka saling tertawa sedangkan teman teman mereka tidak jauh dari mereka sedang mengelilingi api unggun. Dan sebagian ada yang bernyanyi dan memetik gitar.
Keyla semakin berlari jauh dari api unggun. Dan Willy pun mengejarnya. Hingga mereka tidak sadar bahwa mereka sudah jauh. Walau api unggun masih terlihat dari tempat mereka tetapi bisa dipastikan bahwa teman temannya tidak akan melihat mereka di tempat ini.
Karena sudah lelah berlari akhirnya Keyla duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu. Willy pun mengikuti duduk. Sebagai manusia yang baru berpacaran tentu saja Willy dan Keyla ingin berdekatan. Tetapi selanjutnya bukan hanya duduk berdekatan. Keduanya pun sudah saling memeluk dengan bibir yang saling bertautan. Darah muda yang menggelora. Keyla dan Willy pun akhirnya mempunyai pengalaman yang baru mereka peroleh yaitu bercinta untuk yang pertama pertama kalinya.
Bukan hanya sekali mereka melakukan di bangku panjang itu. Berkali kali. Hingga api unggun padam baru mereka menyusul teman temannya masuk ke penginapan di tepi pantai itu.
Seperti mempunyai telepati. Tengah malam Willy dan Keyla terbangun. Mereka sama sama ke dapur. Keduanya kembali mengukir kenangan di dapur penginapan itu.
Hingga satu bulan kemudian. Keyla dinyatakan hamil dan Willy harus bertanggung jawab.
Flashback off
__ADS_1
Keyla tersenyum mengingat kenangannya bersama Willy. Hanya mengingat saja, tubuhnya berdenyut. Dia ingin mengulang kisah itu di pantai ini. Dia merasa yakin, Willy juga pasti mengingat kisah mereka jika berada di pantai seperti ini.
Pagi hari, Keyla terbangun oleh suara Alda. Keyla keluar dari kamar. Keyla menuruni tangga dan tersenyum. Orang yang diharapkannya sejak semalam di villa itu kini sudah duduk dengan santai di ruang tengah villa itu. Alda berteriak girang dan langsung memeluk bundanya.
"Bunda, kok ditinggalin sih. Bunda bosan tahu nunggu sampai tiga jam di bandara," kata Keyla setelah menciumi wajah Alda. Ekor matanya melirik ke Willy yang memandang ke arah luar.
"Ayah ada urusan dengan temannya bunda. Kami menginap di sana tadi malam," jawab Alda sambil menarik tangan bundanya untuk duduk dekat Willy.
"Kenapa tidak kemari?. Kamu juga tidak mengabari bunda. Bunda kan bisa menyusul ke sana tadi malam," kata Keyla. Willy tidak tertarik dengan pembicaraan Alda dan bundanya. Bahkan Willy tersenyum sinis mendengar perkataan Keyla.
"Aku yang ketiduran Bun, lelah kebanyakan berenang di pantai sama Terry." jawab Alda. Keyla yang mengelus kepala Alda menoleh ke arah suara kaki yang masuk ke dalam Villa.
Keyla menatap malas kepada Leo yang baru masuk. Leo tersenyum. Keyla membalasnya.
"Hai key. Apa kabar. Aku tidak menyangka kita bisa bertemu di sini setelah beberapa tahun," kata Leo sambil mendekat ke Keyla. Dia mengulurkan tangan hendak menjabat tangan Keyla dan Keyla menyambut tetapi tidak menjawab sapaan Leo.
"Alda, aku naik dulu mau mandi. Setelah itu kita sarapan bersama,"
"Kami sudah sarapan bunda,"
"Tapi nanti kita makan siang bersama bunda. Mandi sana bunda. Kita harus memanfaatkan liburan ini dengan baik," jawab Alda tersenyum. Keyla naik ke lantai dua untuk mandi.
Empat orang itu akhir pergi ke toko toko suvenir yang ada di tempat itu. Keyla dan Alda berbelanja sangat banyak. Sejujurnya Willy keberatan uangnya dipakai untuk membayar belanjaan Keyla. Tetapi Keyla sangat pintar. Dia memberikan belanjaan kepada Alda. Mau tidak mau Willy harus membayar semuanya. Tidak mungkin baginya memisahkan barang belanjaan Keyla dan barang belanjaan Alda. Willy juga membeli beberapa suvenir unik untuk Mita. Dalam hati Willy berandai andai. Andaikan Mita ikut bersama mereka saat ini.
Setelah puas berbelanja. Alda dan Keyla mengajak Willy dan Leo ke museum terdekat. Willy menurut. Dia ingin mewujudkan impian putrinya. Belanjaan yang banyak tadi diantarkan terlebih dahulu ke villa.
Alda sangat berbahagia. Dia sangat antusias melihat benda benda bersejarah di museum itu. Terkadang Alda meminta ayahnya untuk memfoto dirinya bersama Keyla. Dan begitu juga sebaliknya. Keyla memfoto Alda bersama Willy.
"Om Leo. Minta tolong. Fotoin donk," kata Alda kepada Leo. Alda masih memeluk Willy dan melambai ke Keyla untuk mendekat ke mereka berdua. Setelah Keyla dekat. Dengan tangan kirinya dia memeluk Keyla sedangkan tangan kanannya memeluk Willy. Keyla dan Alda tersenyum sangat manis sedangkan Willy tersenyum karena terpaksa.
Willy melotot ke Leo. Pria itu seperti sengaja mengerjainya. Leo bahkan mengajari Alda untuk membuat gaya berfoto yang terlihat lucu. Dengan senang hati Alda mengikuti saran Leo. Akhirnya acara foto foto itu pun memakan waktu beberapa menit tapi bagi Willy itu sudah seperti Berjam jam.
"Terima kasih om Leo," kata Alda tulus setelah ponselnya dikembalikan Leo.
"Sama sama Alda cantik," jawab Leo juga tulus.
__ADS_1
Sore hari Alda dan Keyla berjemur di pantai. Alda merasa bahagia sedangkan Keyla merasa kurang puas dengan liburannya kali ini. Sangat terasa hambar. Sifat cuek yang ditunjukkan Willy sungguh membuat dia tidak nyaman. Dari pagi sampai sore bersama, tetapi satu patah kata pun tidak keluar dari mulut Willy untuk berbicara dengannya. Dia hanya bisa memandangi Willy dan Leo yang sedang berenang.
Keyla terus menatap Willy. Tubuh Willy yang berotot sangat terlihat karena Willy hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan. Apalagi ketika Willy tertawa. Sungguh Keyla sangat menyesal pernah meninggalkannya dulu. Tubuh dewasa yang terlihat kekar itu, mengapung di air.
Keyla menelan ludahnya kasar. Hanya berjarak sepuluh meter dari tempatnya berjemur. Dia melihat Willy mendekat ke salah satu bangku panjang kosong di pantai itu. Tidak lama kemudian Willy kembali berlari ke arah pantai karena Leo memanggilnya. Demi apa pun. Keyla menggilai tubuh Willy yang sudah pernah dirasakannya. Apalagi tubuh Willy yang bergoyang karena berlari. Keyla ingin merasakan tubuh Willy yang bergoyang di atas tubuhnya. Hanya membayangkan saja. bisa membuat Keyla tersenyum
"Alda, berenang yuk," ajak Keyla. Keinginan berenang sudah sejak tadi ditahannya. Sejak melihat Willy dan Leo berenang. Dia menunggu Alda untuk berenang dulu, lama menunggu sepertinya Alda tidak ada niat untuk berenang.
"Malas bunda. Semalam hampir tiga jam aku berenang bersama Terry. Kalau bunda mau berenang. Berenang saja. Tuh ayah dan Om Leo masih berenang," jawab Alda santai sambil menunjuk ayahnya. Keyla terlihat sangat kecewa tapi Alda tidak menyadarinya. Karena dia fokus memandangi lautan luas.
"Itu kan semalam sayang. Sekarang beda. Apa gunanya kita kemari kalau tidak berenang. Ayolah Alda. Temani bunda berenang," ajak Keyla lagi. Dia berharap Alda mau. Kalau hanya sendiri menghampiri Willy dan Leo yang berenang. Keyla merasa malu.
"Aku lelah bunda. Tadi sudah lelah jalan di toko suvenir dan museum. Besok saja sebelum pulang berenang lagi," tolak Alda lagi. Alda dengan santai meneguk jus jeruk yang ada di tangannya.
"Yeah gak jadi deh bunda berenang," kata Keyla penuh kekecewaan.
"Bunda ingin rujuk dengan ayah. Tapi yang aku lihat bunda tidak ada usaha untuk mendekatkan diri ke ayah. Ini saatnya bunda. Sana berenang!. Kalau tidak sekarang kapan lagi. Besok siang kita sudah harus balik lagi. Bunda tidak ada berbicara sepatah kata apapun yang aku dengar,"
"Ayah kami yang hatinya keras, sekeras besi. Dingin seperti es batu," gerutu Keyla kesal.
"Makanya usaha donk bunda. Ayah sangat sakit hati e bunda. Harusnya bunda lebih pintar untuk membuat ayah sembuh dari luka hatinya,"
"Makanya kamu bantuin donk,"
"Aku sudah berusaha bunda. Tapi bunda lihat sendiri kan. Bahkan keberadaan bunda seperti tidak ada disini. Siapa suruh meninggalkan aku sewaktu bayi. Jadi dapat balasan kan sekarang," kata Alda sewot.
"Kamu kok ngomong begitu sih Alda. Bunda tahu itu salah. Makanya bunda kembali. Bunda ingin menebus kesalahan bunda yang dulu,"
"Murni karena itu?. Bukan kerena harta ayah?" tanya Alda lagi. Alda tidak suka dengan cara bundanya ketika berbelanja tadi. Memilih barang barang mahal dan membebankan ke dirinya yang otomatis Willy yang membayar.
"Ya ampun Alda. Kamu kok berpikiran seperti itu. Aku murni karena ingin menebus kesalahan aku Alda. Tidak ada motivasi yang lain. Percaya sama bunda Keyla," kata Keyla dengan mimik yang serius.
"Baiklah bunda aku percaya. Sana berenang," kata Alda sambil mendorong pelan tubuh bundanya. Keyla melepas sarung pantai yang melekat di pinggangnya dan berjalan ke arah pantai.
Leo menyentuh lengan Willy. Willy menoleh dan Leo mengarahkan kepalanya ke arah Keyla yang sudah mendekat.
__ADS_1
"Aku mau keluar. Kalau kamu masih berenang silahkan!" bisik Willy ke Leo. Dia berenang mendekat ke bibir pantai. Sebelum Keyla menginjakkan kakinya ke air. Willy sudah keluar dari air dan melewati Keyla yang hendak masuk ke dalam air. Keyla berbalik menoleh Willy. Lagi lagi Keyla kecewa. Keyla masuk ke dalam air. Sama seperti Willy, Leo juga sudah mendekat ke bibir pantai dan keluar dari dalam air. Keyla memukul air itu dengan kuat melampiaskan rasa kecewanya yang teramat dalam. Bukan karena itu, Liburannya juga terasa hambar kerena Alda juga mencurigakan dirinya.