
Setelah Willy keluar dari kamarnya. Mita langsung melompat dari ranjang. Melihat tubuhnya di cermin untuk memastikan apa yang dikatakan Willy tadi. Mita menarik nafas lega. Tidak ada tanda tanda di tubuhnya bekas ciuman.
Baru saja Mita memikirkan perbuatan Willy, yang dipikirkan sudah membuka pintu. Pria itu tidak merasa canggung atau merasa bersalah. Willy duduk di tepi ranjang dan memainkan ponselnya tanpa sebelumnya melirik ke Mita yang masih terlihat kesal. Dari cermin, Mita melirik Willy yang jarinya lincah menari nari di atas ponsel.
Tidak ingin ketahuan melirik pria menyebalkan itu. Mita beranjak dan masuk ke kamar mandi dan membawa ponselnya. Mita sengaja berlama lama di kamar mandi untuk menghindari Willy. Mita berharap Willy bosan menunggu dan segera pergi ke kantor.
Mita berselancar di media sosialnya. Status teman temannya yang memposting tempat baru untuk menimba ilmu ke jenjang yang lebih tinggi membuat Mita merasakan niat menggebu untuk segera mendaftarkan dirinya di salah satu universitas. Tapi sayangnya, universitas yang diinginkan Mita ada di luar kota. Tujuannya hanya satu. Untuk pergi dari Willy sejauh mungkin.
Mita mengetikkan beberapa kata mengomentari salah satu status temannya yang mendaftarkan diri di universitas yang diinginkan Mita. Mita menarik nafas lega. Balasan dari temannya, jika pendaftaran di universitas tersebut masih buka untuk dua Minggu kemudian. Itu artinya, masih ada waktu bagi Mita untuk mewujudkan impiannya kuliah di tempat itu.
Mita masih betah berlama-lama di kamar mandi itu. Duduk di atas closet sambil memainkan ponselnya. Mulai dari melihat status teman temannya kini Mita sudah membaca novel online. Awalnya dia hanya membaca sinopsis novel tersebut. Hingga akhirnya tertarik membaca bab demi bab. Mita tidak menyadari jika dirinya sudah lama di kamar mandi. Mita masih saja asyik dengan bacaannya hingga perutnya minta diisi. Mita akhirnya membersihkan dirinya. Mita melihat layar ponselnya. Sudah hampir jam delapan. Mita sudah berada di kamar mandi itu selama satu jam lebih. Mita sangat yakin jika Willy sudah berangkat ke kantor. Setelah membuka pintu kamar mandi dan memastikan jika Willy tidak ada di kamar itu. Mita akhirnya keluar dengan hanya menggunakan handuk yang dililitkan sebatas dada hingga paha. Mita langsung menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti.
"Ngapain saja di kamar mandi. Lama banget baby."
Mita menghentikan tangannya yang sedang memilih pakaian yang hendak dipakainya. Di depan pintu kamar, Willy sedang berdiri dengan kedua tangannya terletak di dada dan menyandarkan tubuhnya di kusen pintu. Bibirnya menyunggingkan senyum manis. Bukanya mengagumi senyuman manis itu, yang ada Mita kembali kesal. Perkiraannya salah. Willy masih di rumah itu dan belum berangkat ke kantor.
Dengan cepat, Mita mengambil pakaian apa saja yang bisa menutup tubuhnya. Karena tergesa, beberapa pakaian terjatuh tapi Mita tidak perduli. Dia hanya fokus ke pakaian yang hendak dipakainya dan melangkah masuk ke kamar mandi tanpa menjawab pertanyaan Willy. Mita tidak sudi, jika Willy melihat tubuhnya. Di kamar mandi, Mita masih bisa mendengar suara Willy yang tertawa.
"Aku menunggu kamu lama baby. Aku harus ke kantor sekarang. Kamu bisa serapan sendiri kan?.
Mita keluar dari kamar mandi disambut Willy dengan kata kata yang sok perhatian. Mita sebenarnya ingin muntah mendengar perkataan Willy. Caranya berbicara seperti tidak ada masalah diantara mereka.
"Aku bisa serapan sendiri. Aku bisa hidup sendiri. Berhenti bersikap seperti itu. Bawa sekalian koper itu. Mataku sakit melihat koper itu dan pemiliknya. Jangan pernah kembali lagi," jawab Mita marah sambil menunjuk koper milik Willy yang masih terletak di tempat semula. Rasa lapar dan tingkah Willy membuat Mita tidak bisa menahan amarahnya.
"Jangan marah gitu donk sayang. Nanti cantiknya hilang," goda Willy sambil terkekeh. Mita semakin kesal dan menatap Willy dengan tajam. Willy terkekeh. Cara Mita menatapnya membuat Willy semakin gemas. Mita terlihat semakin cantik di matanya.
__ADS_1
"Sering sering menatapku seperti itu sayang. Aku suka. Kamu makin cantik dan manis jika menatap suamimu ini seperti itu."
Willy tersenyum setelah mengucapkan kata kata itu. Mita menghentakkan kakinya karena perkataan Willy selalu membuatnya ingin mencakar wajah pria itu.
"Ralat. Bukan suami. Tapi calon mantan suami."
"Tidak ada calon mantan suami. Yang ada suami Mita yaitu Willy si pria tampan."
"Sayangnya, aku tidak melihat kamu tampan lagi setelah mengetahui semua sikap kamu itu. Mungkin hanya Sofia yang masih bisa melihat ketampanan kamu itu."
"Ah ternyata kamu sangat menggemaskan sayang. Daripada berdebat. Bagaimana kalau kita bercinta sebelum aku ke kantor. Yuk, sayang."
"Jangan mendekat," teriak Mita yang melihat Willy sudah beranjak dari duduknya. Willy terkekeh dan menurut duduk kembali di tepi ranjang itu.
"Tolong, jangan seperti ini om. Aku mohon. Lepaskan aku," kata Mita pelan dan memohon. Mita ingin segara berpisah dari Willy dan kembali melanjutkan pendidikan.
"Mita."
"Aku hanya ingin bercerai baik baik om. Tanpa drama. Tanpa seperti yang om lakukan sekarang ini. Aku mohon om. Aku ingin melanjutkan pendidikan aku."
Mita terisak sambil menunduk. Dia benar-benar ingin berpisah dari Willy. Sampai saat ini, hatinya belum bisa berterima tentang semua sikap Willy yang terang terangan mengaku masih mencintai mantan istrinya. Yang paling tidak bisa diterima oleh Mita adalah ketika Willy kembali memakai jasa Sofia untuk memuaskan dirinya. Mita sangat kecewa. Kepercayaan sudah terkikis habis tak bersisa.
"Bagaimana, kalau kamu hamil Mita. Seharusnya, sebelum memutuskan bercerai. Aku harus memastikan bahwa dirimu benar benar tidak hamil. Aku tidak ingin kejadian Keyla dan Billy terulang kepada wanita yang aku cintai," jawab Willy. Sama seperti Mita. Willy juga kecewa terhadap dirinya sendiri karena tidak bisa menahan amarahnya sehingga meminta bantuan Sofia untuk melampiaskannya. Willy berharap Mita hamil, dengan begitu dia punya alasan untuk menahan Mita di sisinya.
"Sudah berapa kali aku katakan om. Itu tidak akan terjadi. Aku sudah memakan pil KB pagi itu. Tidak akan mungkin hamil om," bentak Mita marah. Mita kesal mendengar alasan Willy yang itu itu saja.
__ADS_1
"Tapi aku sangat mencintaimu sayang."
"Tapi aku tidak mencintai kamu lagi om."
Willy menarik nafas panjang. Usahanya untuk membuat Mita kembali bersama dengan Mita sudah gagal. Melihat amarah dan keputusan Mita untuk tetap bercerai. Membuat Willy tidak bisa berkata kata lagi.
"Mencintai tidak harus memiliki om. Aku anggap semua perjalanan hidup bersama om adalah pelajaran berharga untuk membuatku lebih dewasa. Aku menyerah. Aku tidak bisa menjalani pernikahan yang tidak sehat seperti ini. Sekali berkhianat akan ketagihan untuk berkhianat. Aku tidak ingin tersakiti lagi. Mungkin karena aku masih terlalu kecil untuk menjadi istri jadi tidak sanggup menghadapi cobaan rumah tangga seperti ini," kata Mita. Dia sudah menatap Willy yang kini gantian menunduk. Tidak ada yang bisa dilakukan Willy selain mengacak rambutnya karena frustasi. Usahanya sia sia di awal perjuangan.
Willy menegakkan kepalanya melihat Mita yang sudah duduk di bangku. Willy dapat merasakan jika Mita juga merasa hancur sama seperti dirinya. Mereka sama sama hancur sekarang. Mita hancur karena merasa dikhianati sedangkan Willy hancur karena perjuangannya tidak membutuhkan hasil.
"Pikirkan sekali lagi Mita. Aku akan ke kantor. Nanti sore aku akan pulang ke rumah ini untuk mendengar apapun keputusan kamu," kata Willy lagi. Dia masih berharap Mita akan mengubah keputusannya.
"Tidak perlu untuk berpikir lagi om. Keputusanku sudah bulat. Kita harus bercerai. Raihlah kebahagiaan kamu om. Jika kebahagiaan itu ada dalam diri Tante Keyla. Aku akan turut mendoakan kalian supaya cepatk rujuk."
Mita mengulas senyum di bibirnya. Dia ingin menunjukan jika Mita sudah ikhlas akan semua yang terjadi kepadanya.
"Aku baru tahu, ternyata kamu keras kepala Mita," jawab Willy kesal. Perkataan dan bujukan tidak berpengaruh sama sekali. Mita hanya tersenyum mendengar kekesalan Willy. Willy kembali menunduk dan terlihat sedang berpikir.
"Baiklah. Jika keputusan kamu sudah bulat. Aku akan meminta pihak pengadilan untuk memproses gugatan yang sudah kamu daftarkan," kata Willy akhirnya setelah beberapa menit berpikir. Hatinya berat untuk mengatakan ini. Tapi melihat keras kepala Mita untuk bercerai darinya. Willy memilih mengabulkan permintaan Mita.
"Terimakasih om," jawab Mita. Keinginan sudah dikabulkan oleh Willy. Bibirnya tersenyum tapi hatinya merasakan hal aneh.
"Kita mengawali hubungan ini dengan berciuman di mobil. Jika kamu masih ingat itu. Aku juga ingin mengakhiri dengan berciuman juga. Ini terdengar konyol. Tapi aku mohon. Kamu bersedia. Hanya ciuman bibir. Tidak lebih dari itu," kata Willy membuat Mita terkejut. Dimana mana orang yang akan bercerai akan saling menjaga jarak. Tapi Willy tidak seperti itu. Mita menatap Willy yang masih menatapnya dengan sorot mata memohon. Mita menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak setuju dengan permintaan Willy. Willy lesu dan kembali menunduk.
"Baiklah. Aku pergi. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan setelah perceraian kita. Semoga kamu mendapatkan laki laki yang setia dan bisa menerima kamu apa adanya. Terima kasih Mita. Karena sudah memberikan kebahagiaan kepada aku dan bersedia menjadi istriku," kata Willy. Dia sudah pasrah jika rumah tangga tidak bisa diselamatkan lagi. Willy beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kopernya terletak. Dia menoleh ke Mita sebelum memegang koper tersebut. Mita masih seperti tadi. Wajahnya menjelaskan jika keputusan sudah tepat. Mereka sudah sepakat untuk bercerai.
__ADS_1
****
Yang ingin melihat Mita berbahagia. Ikutin terus ya.