Mencintai Ayah Sahabatku

Mencintai Ayah Sahabatku
Restu Alda


__ADS_3

Nino masih tertawa terbahak-bahak. Jawaban Alda yang jujur kemudian meralat jawabannya membuat Nino merasa lucu. Selain itu hatinya juga senang dan berbunga bunga. Sejak menginjakkan kakinya di bangku sekolah menengah atas, Nino sudah menaruh hati ke Alda. Tetapi baru baru ini, Nino menunjukkan rasa sukanya. Sedangkan Alda yang duduk di sampingnya, selain malu juga dia terlihat kesal. Otak dan mulutnya tidak dapat diajak bekerja sama dengan baik.


Alda juga membenarkan dalam hatinya, kalau pesona Nino terlalu berharga untuk ditolak. Walau selama ini dia bersikap cuek dan ketus kepada Nino, itu untuk menutupi perasaannya yang sesungguhnya. Dia takut perasaannya diketahui orang banyak dan Nino menolaknya sehingga menjadi ejekan bagi teman temannya. Apalagi Nino adalah cowok impian di sekolahnya.


Siapa yang tidak ingin menjadi kekasih Nino. Cowok berpostur tinggi, putih dan wajah tampan. Selain itu Nino juga tergolong pintar dan terkenal sebagai orang berada di sekolah mereka. Nino juga aktif di organisasi kesiswaan. Pesona cowok itu memang membuat hati para wanita meleleh.


Nino juga terkenal sebagai play boy. Walau untuk seusia mereka pacarannya hanya sebatas menonton ke bioskop dan nongkrong di kafe. Tetap saja Alda merasa ragu untuk menunjukkan rasa sukanya ke Nino. Apalagi hampir setiap Minggu Nino selalu membonceng wanita yang berbeda. Dan wanita tersebut pasti akan mengaku sebagai pacar Nino. Dan Nino juga tidak pernah membantah ucapan para gadis yang menyebut sebagai kekasih Nino. Membuat Alda semakin ragu. Alda berprinsip cinta tidak harus memiliki. Alda lebih memilih memendam cintanya.


Itu dulu, sebelum Nino mengucapkan kata kata cinta untuk Alda. Setelah insiden pelemparan sepatu kemarin dan Nino menyatakan cinta. Alda sering melamun dan tersenyum sendiri mengingat Nino. Pagi ini, Alda bahkan keceplosan membalas pernyataan cinta Nino.


"Masih tertawa atau kita terlambat ke sekolah," kata Alda kesal yang masih melihat Nino tertawa. Nino seketika berhenti tertawa. Dia memandang Alda dan tersenyum.


"Jadi gimana nih?" tanya Nino. Nino masih menatap wajah Alda lekat membuat Alda sedikit kikuk.


"Gimana apanya?"


"Kita sudah resmi pacaran kan?"


"Tidak," jawab Alda cepat.


"Loh, tadi kan sudah bilang i love you."


"Itu tadi lidah aku yang kepeleset. Jangan geer kamu,"


"Aku tidak mau tahu. Bagaimana pun mulai hari ini kita sudah resmi pacaran," jawab Nino. Nino menghidupkan mesin mobilnya dan kemudian keluar dari gerbang rumah Alda.


"Jangan maksa donk,"


"Kalau tidak memaksa, sampai lulus SMA aku pasti masih jomblo.


"Jomblo. Bukannya kamu play boy cap Kampak.


"Boleh diganti tidak capnya. Seram tahu dengar kata Kampak.


"Kamu maunya diganti apa capnya?"


"Cap kuda terbang deh. Biar keren,"

__ADS_1


"Terlalu keren kalau pake cap itu.


"Ya udah tidak usah pakai cap. Karena mulai hari ini. Hanya Alda yang akan menghuni hatiku."


"Gombal. Tidak percaya."


"Apa yang harus aku lakukan supaya kamu percaya," tanya Nino serius. Alda memandang wajahnya Nino untuk membuktikan keseriusannya.


"Tidak perlu membuktikan apapun Nino," jawab Alda pelan. Entah kenapa Alda masih ragu dengan keseriusan Nino.


"Kamu mencintai aku kan?" tanya Nino. Membuat Alda menunduk. Untuk menjawab tidak, jelas tadi dia membalas perkataan Nino. Tetapi untuk mengatakan iya juga Alda tidak mau. Alda malu dan ragu.


"Ayolah. Kita sudah mau tamat. Sudah layak untuk memikirkan pasangan hidup," kata Nino lagi.


"Nino," panggil Alda pelan. Nino menoleh ke Alda.


"Apa sayang,"


"Kamu serius?"


"Sangat serius. Percaya pada Nino sayang. Kamu tidak akan rugi berpacaran dengan cowok tampan ini," jawab Nino sambil menepuk dadanya pakai tangan kirinya.


"No ***," jawab Alda. Nino menoleh ke Alda dan tersenyum. Jawaban itu cukup bagi Nino.


"Baiklah kita sepakat, no ***. Tapi lulus SMA langsung nikah," jawab Nino terkekeh. Alda cemberut manja dan menatap Nino.


"Tumben bawa mobil, biasa naik motor," kata Alda mengalihkan pembicaraan. Alda sedikit grogi ketika Nino membahas pernikahan. Terlalu dini bagi Alda. Bukan karena mereka baru jadian terapi umur mereka yang masih belasan tahun.


"Aku tidak mau kamu naik motor seperti wanita wanita sebelumnya. Kamu terlalu berharga kalau harus kena angin," jawab Nino tersenyum. Alda semakin merona.


"Gombal,"


"Tulus dari hati," jawab Nino sambil membelokkan setir mobilnya. Berbincang di mobil membuat keduanya tidak menyadari sudah di depan gerbang sekolah.


"Nino, lihat! Sepertinya itu mobil ayahku deh," tanya Alda. Dia bisa melihat mobil ayahnya baru berhenti di pekarangan sekolah. Alda sampai membuka pintu mobil untuk melihat plat mobil. Begitu juga dengan Nino. Dia juga melihat mobil yang ditunjuk Alda dengan teliti.


"Yang itu kan?" tunjuk Nino. Alda mengangguk.

__ADS_1


"Jangan masukkan dulu mobil kamu Nino, aku mau lihat siapa yang turun dari mobil ayahku. Aku ingin tahu siapa peliharaan ayahku di sekolah ini," kata Alda geram. Dia merasa tak sabaran ingin melihat siapa yang diantar ayahnya.


"Jangan langsung berpikiran buruk sayang, lebih bagus ditanyakan dulu ke om. Jika ada sesuatu yang tidak pas di hatimu."


Nino menasehati Alda dengan bijak. Alda tidak begitu mendengar apa yang dikatakan Nino. Perhatiannya fokus ke mobil ayahnya. Alda merasa jantungnya berhenti ketika pintu mobil ayahnya terbuka dan sepasang kaki terlihat turun dari mobil.


"Mita?" pekik Alda sambil menutup mulutnya tidak percaya. Di sana Mita terlihat menutup pintu. Sama seperti Alda. Nino juga merasa tidak percaya dengan penglihatannya. Alda langsung membuka pintu mobil dan berlari ke pekarangan sekolah menuju mobil ayahnya.


"Ayah," panggil Alda sambil mengetuk pintu mobil Willy. Di dalam mobil Willy juga terlihat terkejut melihat putrinya. Willy berusaha tenang dan dengan santai membuka pintu mobilnya.


"Selamat pagi tuan putri ayah," sapa Willy sambil memeluk Alda. Tangan kirinya memegang ponsel.


"Ayah ngapain ke sekolah aku?" tanya Alda tanpa membalas sapaan ayahnya. Rasa penasarannya yang tinggi membuat Alda hampir tidak mendengar sapaan ayahnya.


"Ayah tadi melihat Mita di persimpangan. Ayah menawari untuk mengantarnya," jawab Willy tenang. Alda merasa lega tetapi tidak langsung percaya seratus persen.


"Baiklah ayah, aku masuk dulu," kata Alda akhirnya. Willy mencium pucuk kepala putrinya. Setelah Alda mencium punggung tangan Willy. Willy menarik nafas lega dan memandang punggung putrinya yang berjalan menuju kelas.


"Pagi om," sapa Nino sopan. Dia tadi menyusul Alda menjumpai Willy.


"Pagi Nino, jadi kamu menjemput Alda?"


"Iya om, kami bersama tadi,"


"Baiklah Nino, om berangkat dulu," kata Willy pamit. Nino menunduk hormat ke Willy.


Masuk ke kelas. Alda melihat Mita yang sudah duduk di bangkunya.


"Mita, tadi kamu diantar ayahku ya, kok bisa?" tanya Alda tanpa basa basi. Wajahnya juga datar tanpa senyum


"Tadi aku di persimpangan menunggu angkutan umum, kebetulan om Willy lewat. Om menawari aku di antar ke sekolah. Aku takut terlambat akhirnya aku menerima tawaran om Willy," jawab Mita menunduk. Jawaban yang sama dengan Willy membuat Alda dan merasa lega. Alda tersenyum kemudian duduk di bangkunya. Mita merasa bersyukur karena Willy mengirimkan rekaman pembicaraan Alda dan Willy tadi.


"Aku sempat marah dan berpikiran buruk tadi loh Mita, aku kira kamu salah satu peliharaan ayahku," bisik Alda. Seketika Mita gugup dan terkejut. Dia memang bukan wanita peliharaan Willy. Tapi dia kekasih Willy. Mita menelan ludahnya kasar memandang Alda sekilas yang sudah bermain ponsel.


"Peliharaan, maksudnya apa Alda?" tanya Mita kepo.


"Peliharaan itu artinya sugar baby-nya ayahku. Ayahku tampan dan kaya. Siapapun pasti mau jadi peliharaannya,"

__ADS_1


"Kalau ada, apa kamu tidak marah?" tanya Mita hati hati.


"Kalau hanya peliharaan, aku tidak marah. Asal jangan menjadi istri ayahku. Aku masih menunggu bundaku untuk bersatu dengan ayahku," jawab Alda membuat Mita menunduk. Mita merasa sedih mendengar jawaban Alda. Itu artinya restu dari Alda untuk hubungannya dengan Willy sangat sulit.


__ADS_2